Tampilkan postingan dengan label Kongkow Bareng Gus Nuril. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kongkow Bareng Gus Nuril. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juni 2013

Ketika Nabi Menangis

Oleh : Gus Nuril Arifin

Rahasia di balik Rahasia Ilmu Semesta

Sahabat Bilal bin Rabbah adalah bekas seorang budak hitam yang dibebaskan oleh sayyidina Abubakar dari bekas tuannya Muawiyah Abu Shofyan. Ketulusan hati dan keimanannya ternyata membuat dirinya di muliakan Allah dan nabinya. Dan suara emasnya justru menjadi keajaiban dunia. Sehingga konon Neil Amstrong ketika di bulan sempat merekam sebuah suara adzan yang demikian mendayu dayu. Yang akhirnya  menggerakan hati sang astronot AS itu masuk 'Islam'. 

Pagi itu hati Bilal gelisah. Biasanya sebelum adzan di kumandangkannya, Bilal sudah menemukan rasul di masjid nabawi dan sudah i'tikaf serta sholat beberapa kali. Namun kali ini adzan sudah hampir habis dia tidak menemukan sosok junjungannya. Bahkan setelah selesai adzan subuhpun rasul belum muncul untuk mengimami sholat. Setelah ditunggu bersama sahabat yang lain seperti Sayidina Abu bakar, Umar, Ali juga Abu Hurairoh beliau juga tidak muncul, beberapa sahabat  kemudian mengutus Bilal menjenguk rasul.

Sang pemilik suara emas itu beberapa kali mengetuk pintu rumah nabi yang tidak begitu jauh dari masjid Nabawi. Selang beberapa saat rasul membukakan pintu dan terlihatlah wajah nabi yang sembab berlinang air mata. Bilal yang khawatir dengan keadaan nabi kemudian bertanya :

" Ada apa ya rasulullah ?".

Dia tidak tidak pernah melihat rasul berperilaku demikian. Ketika anak kesayangan wafat, ketika sahabat sahabat yang dicintainya gugur sebagai syuhadapun beliau tidak menangis berlebihan. Paling hanya menitikan air mata di pipi dan lalu di hapusnya.

Sejurus kemudian rasulullah berkata : "aku menerima wahyu yang berkaitan dengan ilmu dan alam ini wahai sahabat. Dan betapa kandungan wahyu itu demikian dahsyatnya"




      

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (190)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (191)

Bilal yang baru mendengar wahyu itu bertanya tanya tak mengerti, apa gerangan yang membuat nabi menangis. Toh makna dari wahyu itu biasa biasa saja ?

Asror (Rahasia Ilmu)

Saudaraku...
Dari sini saya mulai menyadari kenapa sayidina Abbas Ra, paman rasulullah memohon kepada rasul untuk didoakan agar mengenal sir dan asror nya ayat Al Qur'an. 

Maka dengan doa "allahumma faqqih hu fi addiini wa 'allamahu ta'wila", tidak seorangpun mushonif berani menulis buku tanpa bertanya kepada sayyidina Abbas. Juga tak seorang mufasir berani menafsirkan al Qur'an tanpa bertanya kepada beliau. Karena ternyata kandungan ayat ayat al qur'an itu tidak bisa di jamah dengan artikulasi keilmuan biasa. Seseorang tidak mungkin mampu menafsirkan ayat al Qur'an secara sempurna kendatipun menggunakan tujuh benua sebagai kertasnya dan tujuh lautan samudera sebagai tintannya. Oleh sebab itu tafsir akan ayat ayat Allah ini akan berkembang,dan Allah sendiri membuka pintunya untuk melakukan ijtihad.

Membatasi tafsir dan terlalu membelenggu maknanya hanya akan merendahkan kandungan Al Qur'an. Karena memang rahasia ayatnya hanya Nabi yang tercintalah yang mampu menafsirkannya. Nabi adalah pembawa berita. Menjadi logos dan perantara Allah dalam menyapaikan kalam kalam sucinya. Sementara itu kita dan para ulama setelahnya hanya mampu meraba dari tafsir yang ada dan menambah atau menyesuaikan dengan kondisi kekiniannya.

Selama banyak diperdebatkan oleh kalangan ulama yang memegang teguh atas tafsir nash nash alqur'an berdasarkan tafsir kitab kitab kuning (kuno) tentang boleh tidaknya membuka pintu ijtihad. Dan harus diakui semenjak munculnya dominasi Sunni atas Mu'tazilah, perkemabangan ilmu tafsir di dunia Islam nyaris mengalami kemandegan. Kota kota besar yang merupakan ladang keilmuan seperti Basrah, Iran serta Mesir juga kota lain di jazirah arab dulu sempat melahirkan imam imam besar seperti Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ibnu Hambal dan Imam Ibnu Abu Hanifah nyaris beku. Apalagi pasca dinasti Abbasiyah dan Kesulthanan Usmani di hancur leburkan oleh Inggris dan Perancis atas bantuan anak kandung Khawarij, yang belakangana dikenal denagan sebutan Wahabiyah.

Pengembaraan ilmu sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Syafi'i sudah jarang terjadi. Khasanah khasanah madrasah keilmuan sebagaimana yang dibuka oleh Imam Abu Hanifah juga jarang muncul. Tulisan ini tidak atau belum membahas soal ini, melainkan untuk menuju kepada proses keilmuan wahyu yang di turunkan Allah kepada Rasul, sehingga sahabat bilal heran melihat bekas air mata nabi yang demikian menyiratkan ketakutan dan kenyerian. Apalagi sahabat Bilal paham dengan ketahanan fisik dan batin rasul. Ketika mengalami luka parah dalam perang Uhud, ketika harus di asingkan oleh kaum musyrik Makah dan bahkan ketika ditinggal oleh sang istri tercinta Siti Khadijah serta pamannya, Abu Tholib,  rasul tidak menampakan wajah menderita seperti itu.

Bagi Nabi, ayat di atas memiliki arti yang dahsyat. Penciptaan bumi yang di kemukakan Allah ini kelak akan melahirkan ilmu bumi dan astronomi dan ilmu ilmu yang lain. Mulai pertambangan, pertanian hingga ilmu ilmu yang belum terkuak waktu itu. Allah sudah menunjukannya dalam bentuk kalam, tersirat dan tersurat beserta  rahasia rahasiaNya. Betapa Allah mengemas bubur panas perut bumi yang memiliki tingkat panas luar biasa dengan bumi yang berlapis lapis. Di dinginkan dengan lautan yang berjumlah tujuh samudera diatasnya. Kemudian ketika mendapatkan panas dari matahari yang menjadi poros bumi, lahirlah uap yang menggumpal di angkasa, kemudian jatuh ke bumi berupa hujan yang menyuburkan tanah. Allah juga mempusakai bumi dengan gunung gunung agar tidak goncang akibat perputaran bumi itu sendiri dan juga ketika berputar mengelilingi matahari. 


Rahmat Di Balik Ayat Pergatian Siang dan Malam

Surat Ali Imron ayat 190-191 tersebut memang bagi Bilal biasa saja. Apalagi bagi ulama ulama biasa dan orang awam. Karena hanya menyebutkan sebuah siklus yang setiap hari terjadi. Sejak zaman Nabi Adam bahkan barangkali sebelum ada penciptaan manusia, pergantian siang dan malam itu adalah hal yang wajar. Bahwa siang ada sinar matahari bersinar, yang tingkat panasnya bergantung musim. Jika musim panas maka bisa saja panasnya mencapai 58 derajad celsius, semisal daerah Mekah. Kemudian kalau musim dingin bisa sampai minus 5 derajad. Bahkan di Beijing pada bulan Desember bisa mencapai minus 11 derajad celcius. Hingga saking dinginnya melahirkan salju. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di daerah tropis yang hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kering.

Namun bagi nabi tafsirannya sangat berbeda. Nabi yang pernah diperjalankan oleh Allah melintasi galaksi, menembus atmosfir bumi hingga ke langit lapis tujuh ini menakwilkan ayat di atas dengan frame of reference yang demikian dalam. Perjalannan menembus alam semesta yang dikehendaki Allah sebagaimana ayatnya :
 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ   ( - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-isra-ayat-1-11.html#sthash.8vMQKyRD.dpuf
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-isra-ayat-1-11.html#sthash.8vMQKyRD.dpuf
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-isra-ayat-1-11.html#sthash.8vMQKyRD.dpuf
Rasul yang di perjalankan atas kehendak Allah untuk melihat secara syar'i, haqiqi dan ma'rifati kejadian pembuatan alam lewat perlintasan perjalanan dalam kecepatan cahaya.

Tentu saja perjalanan serupa ini sudah menjadi jamak di zaman sekarang. Terlebih setelah diketemukannya pesawat ulang alik, sistem komunikasi yang demikian canggih sampai pada batas batas yang samar. Tetapi pada zaman itu ayat yang menjelaskan isro' wal mi'roj ini sangat di luar akal sehat. Hanya seorang sahabat nabi sekelas Abu Bakar yang di tempeli pohon iman yang tangguh dan besar sajalah yang mempercayainya.
 
Penciptaan Bumi
  
Berbeda dengan Nabi yang memiliki tingkat pemahaman seorang rasul bahkan menjadi imamnya para Nabi, semua kejadian alam dan proses penciptaan alam ini terserap dalam perjalanan suci ke sidrotul Munthaha itu ilmu pengetahuan kemudian semakin memperkaya penafsiran dan membenarkan semua itu. Sehingga kita menjadi faham kenapa sahabat Bilal khawatir, kenapa Nabi menangis. Dia mengira nabi agung itu mendapatkan teguran dari Allah. Padahal sebenarnya Nabi di bawa oleh Allah dari awal penciptaan hingga akhirnya kelak. Dan pada pemahaman kejadian bumi yang demikian hebat itu, nabi menyampaikan dengan cara sederhana. Hanya disertai pesan. Jika engkau mewarisi dua hal, kitabullah dan sunnahm maka keselamatan akan menyertaimu.

Pesan ini banyak melahirkan tafsir pula, tetapi demi melihat ayat Alqur'an : "yarfa'illahul ladzina amanu minkum waladzina uthul ilma darojad" maka titik berat dari pesan nabi itu justru kepada kalimat yang membukakan pintu ijtihat dan ilmu untuk menafsirkan secara mendetail. Kenapa tidak dijelaskan pada saat sepulang Nabi dari isro' wal mi'roj ?

Tentu semua itu menjadi pertimbangan Nabi yang bijaksana. Masyarakat saat itu mendengar isro' wal mikroj saja menganggap sebagai berita bohong dan penuh isapan jempol. Apalagi menjelaskan ilmu pengetahuan yang bertele tele. Kalau dengan cara cara yang mudah dan masuk akal saja nabi dianggap sebagai gila,tukang sihir dan julukan yang buruk bagaimana kalau menjelaskan dengan kaidah pengetahuan modern yang banyak membutuhkan penelitian ?

Maka kaum Muslimin dan bangsa dunia ini patut bersyukur atas ilmu pengetahuan yang senantiasa ditambahkan Allah kepada manusia sehingga menemukan pemahaman yang sangat memajukan kehidupan mereka di dunia ini. Sebagaimana di fahami lebih dari 6 milyar manusia yang hidup di alam semesta (bumi) ini yang menemukan bahwa bumi tidak datar, melainkan cenderung lonjong atau bulat yang tidak sempurna. Kemudian manusia membagi dan menamai bagian atasnya dengan sebutan Kutub Utara dan bagian bawahnya di sebut Kutub Selatan. Namun ada yang berpendapat pembagian kutub ini sudah berubah tempat dan kedudukan,.beberapa ayat dari Surat Alqur'an menyebutkan adanya pergeseran. (insya Allah di bahas mendatang)

Bumi yang berputar kencang dan berporos pada dirinya sendiri itu memiliki kecepatan kurang lebih 1.669 km/jam nya. Namun selain berpusing pada dirinya juga mengitari matahari sebagai pusat galaksi dengan kecepatan 107.000 km/jam dengan jarak 150 000 000 km.  Nabi melihat itu dengan angka angka yang jlimet dan jarak yang demikian teratur. Bagaimana kalau seandainya jarak putar bumi dengan matahari lebih pendek sebagai mana Mars atau Venus. Pasti kita bakal melihat bumi akan membara sebagaimana hasil penelitian  ilmuan bahwa Mars tidak mungkin di huni manusia,karena demikian panasnya.

Dan Bumi melakukan gerakan ajaib ini sesungguhnya karena bertasbih kepada Allah. Para ilmuwan memahami ini sebagai bentuk ikatan tali ajaib yang tak tampak atau di kenal sebagai gravitasi. Dengan ikatan tak tampak itulah matahari menjadi sentra pengembaraan alam semesta galaksi Bimasakti. Lengkap dengan planet  planetnya yang bernama Merkurius, Mars, Venus, Bumi, Saturnus, Uranus, Yupiter dan Neptunus serta Pluto.

Dalam ilmu fisika ini kita banyak menerima informasi bahwa planet terdekat matahari adalah Mars atau Mercurius. Demikian panasnya sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan dan tidak ada air. Kalaupun ada, maka air itu akan menguap sedemikian cepatnya. Sedangkan sebaliknya di planet Pluto kita juga tidak atau belum menemukan kehidupan karena beku. Jika manusia di kirim ke Pluto tanpa alat bantu, tentu akan membeku. Apalagi manusia itu terdiri dari darah dan daging yang kandungan zat cairnya mencapai 60-80%. Bisa anda bayangkan bangaimana darah kita membeku dan membekukan jantung kita ?

Dan ternyata galaksi kita tidak sendirian di alam semesta. Jalur penerbangan yang di lewati nabi memiliki milyaran bahkan trilyunan atau malah trilyun trilyun galaksi. Ilmuwan mengelompokan galaksi galaksi itu dalam sebuah cluster yang berisi satu milyar galaksi. Satu milyar cluster kemudian disebut super cluster, selanjutnya bisa saja dinamai mega cluster dana seterusnya.

Pelacakan Ibrahim

Maka Alqur'an menganjurkan kita untuk mempelajari ciptaan Allah. Sering memandang ke langit mengikuti jejak sang pencari Tuhan, Ibrahim As. Ibrahim juga tidak langsung faham. Karena begitu melihat Matahari yang demikian hebat sinarnya sehingga mampu membagi cahayannya dengan rata, menumbuhkan tanaman dan memberikan energi tiada terkira, menganggapnya sebagai Tuhan. 

Namun 'Tuhan' itu ternyata kalah ketika rembulan muncul. Maka Tuhan Ibrahim menjadikan rembulan yang demikian eloknya, memberikan sinar dengan indah tanpa sengatan yang menghitamkan kulit sebagai perwujudan Tuhan. Namun ketika pagi menjelang dan cahaya yang elok itu sirna oleh pancaran matahari, Ibrahimpun berpikir bahwa itu bukan Tuhan. 

Dan benar Ibrahim mengambil kesimpulan bahwa pembuat matahari dan bulanlah Tuhan yang besar dan benar. Pengalaman ini menunjukan bahwa manusia sekelas Ibrahimpun mengalami proses pencarian dengan angka kesalahan juga. Bagi kita sekarang dan ilmu pengetahuan menampilkan fakta bahwa melalui pandangan mata telanjang, terlihat bintang sebagai pelengkap matahari dan rembulan itu kecil. Hingga cahanaya hanya sebatas kerlap kerlip. Tapi hakekat sebenarnya tidaklah kecil. Bintang bintang itu sebenarnya adalah titik titik sentral galaksi yang bernama matahari. Yang ukurannya mungkin jauh lebih besar dari matahari kita. Bahkan ada matahari dari galaksi tetangga yang ukuran mataharinya mencapai 1.500 kali matahari kita. Dan jumlahnya dalam satu galaksi tidak hanya satu. Tetapi kenapa kelihatan kecil ?. Bukankah besarnya mencapai ratusan ribu kali lipat bumi kita ?. Ilmu pengetahuan menjawab bahwa jarak terdekat galaksi kita dengan galaksi lainya sekitar 8 tahun cahaya.

Bayangkan kecepatan cahaya adalah 300.000 km /detik, kalau di kalikan 8 tahun berapa jaraknya ?. Kira kira sekitar 75 trilyun kilometer. Maka sesungguhnya ketika matahari atau bintang yang kita lihat hari ini sesungguhnya bukan matahari hari ini, karena mereka sudah berjalan sekian trilyun kilo meter. Hebat bukan ?

Oleh sebab itu Allah memuji dirinya sendiri dengan menyebut Subhanalladzi asro bi abdihi. Karena kesucianNyalah yang mampu menggerakan hambaNya dalam sehari semalam menempuh waktu tempuh yang sangat spektakuler. 

Semua yang saya jelaskan diatas itu adalah langit langit bumi. Belum menjangkau langit ketujuh. Kalau menempuh perjalanan ke galaksi atau bintang terdekat saja 8 tahun cahaya, lalu berapa tahun kalau dilakukan perjjalanan sampai menembus langit ketujuh.

Baiklah sebagai ilustrasi kita bikin hitung hitungan kalau 8 tahun cahaya saja membutuhkan jarak 75 trilyun km (8 th x365 harix24 jamx60 menit x 60 detik x300 km) berarti kalau kita menempuhnya dengan kecepatan pesawat terbang supersonik atau chalenger sekalipun yang kecepatan maksimalnya adalah 20.000 km/jam, maka membutuhkan waktu 75 trilyun km di bagi 20.000. 428 tahun lebih. Sampai di tujuan sana kah anda ?

Di sini Allah tidak sombong, bahkan kalau sombongpun boleh (karena memang namanya sendiri adalah Mutakabir). Allah layak sombong karena waktu yang demikian jauh menjadi tidak berarti ketika rasul di perjalankan bukan hanya menembus jarak antar galaksi, tetapi melewati semesta bumi yang terdiri dari bermilyar milyar galaksi, menuju semesta langit kedua lapis ketiga hingga lapis terakhir, dan di hadapkan oleh Allah sendiri pada singgasana suci, Sidrathul Muntaha. Subhanallah...

Betapa Rosul tidak menangis diingatkan kembali menjelang akhir hayatnya dengan ringkasan perjalanan luar biasanya ini ?.
Bagaimana denganmu ?
Sudahkan anda melakukan perjalanan serupa ?
Sudahkan anda menjadikan sholatmu sebagai mikrojul lil mukminin ?
Bagaimana rasul tidak menangis ketika Allah menyediakan sarana menuju ke Sidrotul Muntaha itu tanpa bersusah payah bagi umat Muhammad yakni dengan sholat saja ?.

"Ash sholatu mi'rojul lil mukminin"

Bagaimana rasul tidak menangis, ketika di hadapan segala berkah dan nikmat. Mendapat dekapan hangat dengan ucapan mesra sang Kholiq: "Assalamu alaika ayyuhan nabiyu warohmatullahi wabarakatu" ?

Sang Musa yang memiliki 14 mu'zizat, bahkan ikan asin saja bisa hidup kembali. Tapi tidak tahan melihat cahaya dan hijab Allah. Musa bahkan pingsan ketika menerima the ten commandemen (10 perintah Allah). Tetapi Nabi Muhammad tidak. Bahkan beliau berdialog. Sehingga memperoleh sebuah jalan kehormatan bagi hambannya untuk bermi'roj kepadaNya, yaitu lewat sholat. Subhanallah...

KH Nuril Arifin

Sabtu, 08 Juni 2013

Bunga Revolusi (1)



Saudaraku... 
Lelaki manis, kecil, lincah, cerdas, banyak akal dan sedikit kejam. Sengaja aku tulis surat ini untukmu,. Sekedar penyambung rindu dan silaturahmi. Karena sejak engkau menjadi wakil ketua DPR RI apalagi setelah menjadi menteri,nyaris terputus sambung rasa itu.

Terus terang aku kangen, dengan gaya berjalanmu yang mendongak keatas dengan senyum manis tanpa dosa itu. Tetapi sungguh saya kaget dengan perubahan perangaimu,yang dulu manis tiba tiba jadi garang, mengejutkan.

Ho..ho..ho..ho
Kenapa engkau ini...
Sekarang kok demen sekali bicara panjang lebar di setiap simposium,
Di setiap rapat rapat pergerakan,
Di setiap pengajian,
Bahkan di Gereja, Kuil, Vihara dan even lainnya ?

Ah, engkau ini setiap hari menulis status memprovokasi orang untuk bergerak. Dengan dalih dan atas nama perlawanan. Dengan segenggam alasan yang memang nampak sangat rasional untuk segera melakukan revolusi. Engkau memaparkan betapa para pendahulu kita berjuang dengan jiwa dan raga, tidak peduli tubuhnya semakin renta.
  
Engkau sampaikan betapa simbah KH Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon, atas permintaan Hadratusy syeikh KH wahid Hasim, simbah Bisri Sansuri, Simbah KH wahab Hasbullah, KH Hasyim Asy'arie dan Syaikhona Kholil Bangkalan merestui untuk di lakukan perlawanan. Maka lahirlah Resolusi Jihad . Betapa perang berbau mawar mewangi yang diperingati denagan sebutan hari Pahlawan 10 November itu diatandai dengan di kalahkannya tentara sekutu dengan kematian Jendral Malaby.

Engkauy tambahkan betapa heroiknya anak anak santri waktu itu. Dengan bakyak dan sandal bandol ,berbekal semangat untuk mengenyahkan penjajah dan sebilah bambu runcing yang di asma'i, mampu mengalahkan tentara sekutu yang bermoral tinggi. Tentara kampiun juara dunia yang pernah memenangkan perang dunia ke II. Lalu Bung Tomo di perintah oleh Kyai Wahid Hasyim dan Bisri Mustofa untuk menggelorakan semangat arek arek Surabaya di corong radio, dengan teriakan gegap gempita kalimat takbir,

Allahu Akbar Allahu Akbar.....

Lihat betapa lihainya engkau, 
Mengumpulkan para jendral yang kecewa dengan anak buah, adik , kakak, dan saudara seangkatan nya di AKABRI waktu itu. Engkau juga rekrut pemuda pemuda yang memang militan sejak lahir untuk melakukan perlawanan sejak dini hari. Bahkan mungkin mereka diciptakan Allah sebagai patriot penyeimbang kedholiman. Tidak ketinggalan, para kyai muda dan tuapun engkau berikan lagi nutrisi semangat juang demi perlunya Revolusi. Kirab Resolusi jihad pun engkau lakukan sepanjang pantai utara pulau Jawa. Engkau semangati mereka dengan mengerahhkan lembaga NU Ma'arif untuk mengerahkan siswa. Padahal di sisi lain, banser dan Ansornya belum juga tandang. Engkau mobilisasikan dengan gegap gempita. Sementara kyai yang lain hanya melihat,dengan wajah tidak mengerti.

Kalau saja semua ini engkau lakukan dengan tulus, wahai keponakanku yang kecil, lincah lagi cerdas membaca politik. Sehingga mampu memenangkan setiap pertarungan di lembaga pengadilan yang penuh dengan mafia dan rampok keadilan itu, saya sangat salut. Politik memang begitu. Makanya di namakan Siasah Syar'iyyah. Mengadu kelicikan dan strategi. Sampai sampai saking kentalnya engkau menjadi pejuang partai dan machiavelis, semua rumah politik yang di dirikan ulama ikhlas engkau kuasai dengan mudah.

Engkau kalahkan Naga Hijau. Padahal dulu Naga Hijau itu tidak bisa di bunuh atau ditaklukan oleh pemimpin berdarah Mataram Islam dari Yogyakarta. Meskipun sang Raja berkuasa 33 tahun, tapi susah mengalahkannya. Dia hanya berhasil mencederainya dalam tiga kali percobaan pembunuhannya. Tetapi engkau beda. Meskipun bukan tandingan, meski ibarat engkau ini timun wungkuk me lawan durian, tetapi sejarah menunjukan dengan hebatnya diplomasimu. Sampai SBY dan menkumham, engkau " ketiaki" dan engkau giring dalam para pusaranmu sendiri. 

Ah kalau saja parade resolusi jihad kemarin bukan karena siasat belaka...


 Prasyarat Revolusi

Sesungguhnya saat ini prasyarat untuk terjadinya revolusi sudah sangat komplit.  Maka tanpa engkau gulirkan kembali ingatan untuk menuntut hak merdeka, lewat review Pawai resolusi Jihad. Rakyat sudah mulai gerah, muak dan ingin segera mencabut senjata. Ibarat reaksi kimia, engkau hanya menjadi katalisator. Yang mempercepat reaksi dua bahan kimia, tapi sementara engkau sendiri tidak terlibat didalamnya. Atau bahkan engkau akan terkejut dan tak menduga ketika gelegar resolusi jihad itu berbalik arah bukan menghadapi Belanda, Nica serta tentara sekutu, melainkan menghadapi regim yang berkuasa sekarang termasuk dirimu yang selama ini ikut malang melintang di sana. 

Lihat, 
betapa teriakan "Ganti rezim ganti sistem" sudah menjadi hal biasa. 
Lihat anak anak Bendera, juga sudah berani jibaku,
meski dihadapkan ancaman untuk dihukum dia tidak peduli,
lihat ada pemuda pejuang Ham bahkan rela menjadi martir dengan membakar diri di depan istana.
Lihat kelakuan tentara dan polisimu yang di gaji rakyat, di belikan peluru oleh rakyat,
malah peluru itu di gunakan untuk menembaki rakyatnya sendiri,
atas nama hak dan bendera sebuah perusahaan yang menjadi milik asing.

Jika dulu Soekarno mengirimkan empat marinir yang salah satunya adalah kakakku sendiri Oesman Janatin. Yang dengan gagah berani menyusup ke Malaysia, kemudian tertangkap dan di gantung di sana untuk membela sebuah martabat dan nama baik ataupun kemerdekaan dan kedaulatan bangsa besar . Bangsa yang berjaya sejak 3000 tahun sebelum masehi atau sebelum Isa lahir. Dengan jargon terkenalnya 'Ganyang Malaysia', gantung Tengku Abdurahman, dan jadikan Malaysia sebagai propinsi Nusanatara kembali, sebagaimana zaman Gajah Mada dan 350 tahun kejayaan Majapahit. Tapi sekarang malah tentara dan Polisi di bawah rezim yang engkau dukung, membunuhi rakyatnya sendiri atas nama malingSia. Sungguh ironis dan tidak tahu malu.

Para pejuang angkatan 45 atau angkatan pesantren menawarkan darah dan kehormatan untuk meraih kehormatan yang lebih besar. Hubbul wathon minal iman. Mempertaruhkan nyawa untuk berjihad dengan penjajah karena negaranya di kuasai bangsa lain, tapi engkau malah menjadi antek petani asing ,antek penjajah negeri sendiri. Engkau bukakan pintu bagi penjajah dan engkau nglesot di depan pintunya dengan senjata terhunus, dengan senapan terkokang siap di tembakan untuk rakyat yang seharusnya engkau bela.

Apa sih yang engkau harapkan dalam hidup ini sehingga puluhan rakyat MESUJI enagkau korbankan sekaligus engkau meterei sebagai negara atau daerah jajahan Malaysia ?

Lapindo memang kasus biasa. tetapi ini menjadi syarat kedua perlunya revolusi.

Coba bayangkan kalau ada seorang memakai sepatu masuk masjid. Kalau ada orang yang tidak faham agama pakai sandal masuk masjid tanpa di lepas sandalnya engkau akan marah dan umat islam akan marah. Karena tidak dihargai Rumah Allah. Kalau ada pabrik di bakar orang atau dilempari tahi, pasti pemiliknya dan tenaga kerja yang bekerja didalamnya akan marah. Karena menghina dan menganggu ketenangan tempat karyawan mencari nafkah. Tawasul rejeki dari Allah dalam menghidupi anak istri. Kalau ada sekolah yang mendidik anak anakmu tiba tiba disiram air kencing, engkaupun menjadi uring uringan dan engkau tuding yang menyiram itu biadab atau sekurang kurangnya sudah gendeng alias gila.

Kalau ada rumah rumah penduduk yang di cicil dari serupiah dua rupiah karena memang sebagian besar rakyat ini tidak mampu membeli rumah sendiri secara cash ,meskipun sudah bekerja siang malam, meski sudah merdeka katanya 60 tahun. Tiba tiba rumah itu di lempari batu pasti makan marah. Lebih marah lagi kalau engkau yang dipilih olehnya, sebagai representatsi rakyat di legislatif yang terhormat tidak berbuat apa apa. Malah diam membisu seribu basa. Dan itu belum seberapa. Yang terjadi di Sidoharjo, tempat kerajaan Ken Arok bermahkota. Bukan hanya dilempari kotoran, air kencing atau sepatu yang berdebu, tetapi di semua di tenggelamkan. Rumah tempat bercengkerama dengan keluarga, sekolah tempat menimba ilmu pengetahuan dan juga masjid tempat Allah menyapa makhlukNya.

Masalah Century, ini syarat ketiga revolusi bisa di gulirkan.

Masih teringat dengan jelas, malam kemarin ketika mendengar kabar PKBN tidak di setujui (tanggal 17 Desember), setelah mendampingi Ning Yennie jumpa pers sekaligus menguak kebobrokan Menkumham dan dobel gardannya dalam meloloskan hak berserikat, saya langsung terbang di Jombang. Tahlil dan melaporkan ke Guru Bangsa Gus Dur. Tetapi justru disini terkuak memori. Betapa bangsa ini memperlakukan rakyat dan putranya sendiri denagan sangat tidak adil. Gus Dur yang mendapatkan zakat dari pemerintah Brunai Darussalam dituduh dengan tudingan menyakitkan, Bruneigate. Meniru skandal presiden Amerika Woltergate. Dan di lengserkan dengan semena mena. Padahal tuduhan itu tidak terbukti, tetapi kursinya sudah dirampas.

 Saya waktu itu sudah mengepung istana dan DPR dengan 350.000  pasukan berani mati yang berasal dari seluruh pelosok negeri. Dari pesantren sampai tukang kayu, tukang becak, buruh dan soopir angkot sampai pedagang asongan. Ada kyai, Banser, Pagar Nusa serta anak anak BMNU dan Forwanu. Nyaris memporak porandakan pranatan. Mayor Jendral TNI Tubagus Hasan Nudin (sekarang wakil ketua Komisi 1 DPR RI) dan Kapoldanya Sofyan Yacob (Kapolda Metrojaya) serta Kolonel Habib Agil dari Brimob pengaman DPR dan Mayjen Marinir Soeharto, sudah berhadapan di ring satu. Saling memperjuangan tugas di benak masing masing. 

Dan saya malah di telepon Gus Dur, "Gus pun di terusaken. Kulo memang di fitnah lan kulo engkang leres dalam hal skandal bulog atau Brunay, niki mung rekayasa mawon. Tetapi nek sampaian  ngamuk negarane bubar. Kulo mboten ngijini indonesia runtuh. Saya suaka kebenaran tetapi lebih suka kemerdekaan dan ketentraman. Pun kersane kursi kulo di angge rayahan Megawati, Amin Rais, Arifin Panigoro, Akbar Tanjung, Mathori Abdul Jalil  lan nak anak PKB engkang khianat. Sejarah nanti membuktikan kulo engkang leres" kata sang Maestro sahabat langit dan bumi itu.
Dan akhirnya kita pulang tapa kerusuhan.

Untungnya itu Gus Dur. Tetapi yang jadi masalah fitnah yang dilontarkan ke Gus Dur hanyalah angka  Rp 19 milyar. Dan itupun tidak benar. Coba badingkan dengan Century yang 6,7 trilyun ?. Dan mengalirnya kemana jelas, dibayarkan untuk siapa jelas, mengalir ke partai apa juga jelas. Dan itu rakyat tahu. DPR sendiri memutuskan bahwa ini kasus besar yang melibatkan Istana dan partai yang berkuasa. Tetapi tidak ditangani secara benar. Padahal janji temannmu itu ketika datang ke Magelang di rumah Simbah KH Abdurahman Khudhori dan didampingi banyak calon menteri adalah akan menjadi panglima pemberantasan korupsi. Dan sayapun berjanji siap menghunus pedang dalam memberantas korupsi. Tapi buktinya mana ?

Belum lagi kasus sang besan, kasus Miranda Gulthom. Semua mengarah kesana. Maka jangan sembarangan menggulirkan gerakan kalau engkau hanya setengah setengah. Rakyat sudah jengkel. Jendral Ryamizard Ryacudu ketika aku sambangi di rumahnya juga mengeluhkan. Indonesia ini jatuh seperti piring yang jatuh dari lantai tiga. Tanpa rem akan hancur. Begitulah kalau terjadi revolusi tanpa pemimpin. Saya masih ingat benar kata kata ini. Di ucapkan jendral yang tegas dan baik ini namun nasibnya justru disingkirkan. Di rumahnya yang di pampang patung Mahapatih Gajah Mada itu, sang jendral dengan santun mengantarkan aku pulang sampai di pinggir mulut gang. Meskipun sudah saya tolak dan saya larang dia tetap nmengantarkan sampai ke mobil pinjamanku yang diparkir cukup jauh. Gerimis kecil tidak menghalanginya.

Waktu itu saya memintanya untuk turun gunung. Kalau engkau tahu, jendral yang menjadi menantu Wapres Try Soetrisno, kalau revolusi tanpa pemimpin membuat negeri ini terjun seperti piring jatuh dari lantai tiga kenapa engkau tidak turun gunung ?. Saya siap mengerahkan massa saya lagi, kataku. Tetapi sang jendral masih ragu. Saya juga sampaikan hal ini kepada jendral Harsudiono Hartas di perpustakaan negara jalan Salemba.

Waktu itu Gerakan Revolusi Nurani yang dikomandoi oleh Jendral Tyasno Soedarto, Om Tomi (adik Pahlawan peta Supriyadi), Ki Sunardi serta almarhum ketua keluarga besar Marhein, DR Hadori Yunus mengumpulkan jendral jendral tua yang gigih. Mulai dari Jendral Soeprapto, Jendral Saiful Sulun, Jendral Ian Santoso, sampai sekretaris Bung Karno Pak Pramoe Alm. Saya katakan, "anda semua adalah anak anak bangsa, putra terbaik bangsa. Dan sudah menularkan virus patriotisme, virus kebangsaan di pesantren pesantren yang dulu menjadi ladang pembibitan tentara dan Polisi pembela tanah air. Kalau sekarang anda melihat negera dalam keadaan rusak kok diam saja. Padahal andalah yang memulai mengajarkan semangat bela bangsa dan bela tanah air, maka saya akan usulkan kepada Allah agar sampean di hukum di neraka.

Jendral dan tentara tidak ada kata pensiun. Pembela tanah air dan patriot tidak kenal waktu dan usia. Setiap tarikan nafasnya adalah perjuangan dan kemenangan untuk rakyat. Kalau melihat keadaan sudah sedemikian rusak anda menegakkannya, maka saya dan semua santri di tanah air juga akan menegakkan  dan mendoakan anda tidak masuk neraka.

Masih teringat benar,Pak Harsudiono,mendekatiku. Dia tetap tegas dan gagah di usia tuannya. saya memang dekat dengan beliau sejak menjadia Pandam IV Diponegoro yang kasdamnya adalah TB Silalahi. Saya sering diajak diskusi di Puriwedari (kediaman setiap pejabat panglima Kodam). Atau kadang beliau mampir ke pesantren. Maka saya agak kecut ketika dia melangkah siagap menuju kepadaku begitu aku turun panggung .Wah, Jendral yang saya hormati ini marah batinku. Ternyata tidak. Dia memeluku seraya membisiki telingaku. "Aku bangga denganmu Gus. Engkau benar. Jendral atau tentara tidak kenal pensiun dalam membela bangsa dan negaranya. Membela rakyat dan bapak ibunya sendiri. Teruskan perjuanganmu . Engkau laksana singa podium. Semoga pidatomu menggugah macan macan tidur, gus ".

Mendengar bisikan ini kontan air mataku jatuh. Menangis sesengukan, karena merasa menemukan bapak. Menemukan jendral yang berhati patriot. Karena selama ini kami semua merasa sendirian. 

Duh." Rawe rawe rantas malang malang putung, gus. 
Ada darah yang mengalir deras.
Darah perlawanan karena melihat kedzoliman.

Jumat, 10 Mei 2013

Bersiap Ke Kurusetra

Khrisna dan Arjuna di Padang Kurusetra (Pict : wikipedia.com)

Ibarat cerita pewayangan, pihak Pandawa sudah mulai kehilangan kesabaran setelah segala upaya untuk menegakkan keadilan selalu menemui jalan buntu. Guru Durna, sang guru bijak yang bisa di harapkan mengatasi kemelut Hastina nyatanya tidak lagi bisa di harapkan. Mentor bangsa Kuru ini seolah menelan ludah sendiri ketika dulu ia mengatakan sangat menyayangi Pandawa, namun faktanya hanya sekedar manis di mulut belaka. Ketika di hadapkan pada kenyataan politik yang ada, sang Durna tak beda jauh dengan para elite politik Hastina yang lebih mengedepankan oportunity. Begitu juga dengan Resi Bisma. Orang paling berpengaruh di Hastinapura dan di anggap sebagai teladan bagi wangsa Kuru. Ketika ia di tanya, akan membela siapa dalam sengketa politik antara Pandawa dan Kurawa ?. Jawabannya sungguh membuat anak anak Pandu Dewanata merasa sakit hati. Bisma dengan tegas bersumpah untuk berdiri di belakang penguasa Hastina.

Kabar lain yang tak kalah tragisnya adalah keputusan Prabu Salya. Paman kandung dari Nakula dan Sadewa (anggota Pandawa) yang di harapkan bisa bersikap adil dalam mengatasi sengketa politik, nyatanya juga cenderung berpihak pada Kurawa. Penderitaan Pandawa makin lengkap, ketika ibu Pandawa Dewi Kunti yang berusaha membujuk Karna agar tidak memusuhi Pandawa juga menemui kegagalan. Adipati Awangga, Basukarna yang sejatinya adalah saudara kandung Pandawa itu sedikitpun tidak mau berpaling pada mereka.

Pandawa kini merasa seperti sendirian di hutan belantara nan gelap. Mereka yang sejatinya paling berhak atas tahta Hastina, justru kini menjadi pihak yang seolah paling di salahkan dan paling ingin di singkirkan oleh penguasa Hastina. Pada situasi inilah kemudian muncul Prabu Kresna. Sahabat Pandawa sekaligus raja Dwarawati ini menawarkan bantuan pada keluarga Pandawa.

"Kalau memang tidak ada cara lain untuk menegakkan kebenaran, kenapa tidak kalian coba menyusun kekuatan dan merebut hak kalian dengan cara yang lebih tegas lagi ?".

Begitu kira kira sang Batara Kresna memprovokasi Pandawa. Sebenarnya Pandawa tidak menginginkan adanya konfrontasi, akan tetapi mereka juga tidak punya pilihan lain yang logis untuk di lakukan. Jalur diplomasi sudah mentok. Bahkan bandul politik kian hari kian tidak berpihak pada mereka. Jika demikian, haruskah Pandawa tetap diam menunggu waktu dan membiarkan segalanya hancur lebur di tangan Kurawa ???.

Cerita di atas hanya sekedar ilustrasi semata dari penulis. Sebagai penggambaran yang mungkin saja mirip dengan situasi Indonesia saat ini. Di mana kita tidak saja di hadapkan pada degradasi moral para elite politik, akan tetapi juga di hadapkan pada bencana hilangnya kemampuan bangsa Indonesia untuk survive. Ini pula yang rupanya menjadi keprihatinan beberapa elemen nasionalis yang berkumpul dalam diskusi kebangsaan yang di gelar di Sokotunggal Rawamangun Jakarta Timur.

Seperti yang di kemukakan oleh salah satu panelis, Aditya Hanafi. Aktifis yang pernah turut serta menumbangkan rezim Orba itu mengatakan bahwa sistem yang ada sekarang ini sudah sangat melenceng dari garis perjuangan para founding father. UUD 45 yang di buat melalui pemikiran yang matang dan sudah teruji membuat sistem bernegara kita lebih stabil, kini telah di obrak abrik sedemikian rupa sehingga tidak lagi menampakkan wajah aslinya. UUD yang ada di tangan kita adalah produk 4 kali amandemen 2002 yang sudah banyak di susupi oleh kepentingan asing. Tidak itu saja, turunan turunannya semisal UU Migas, UU Minerba dan lain sebagainya jelas sekali mengindikasikan adanya kekuatan luar yang sengaja ingin melumpuhkan kekuatan Indonesia. Ini yang kemudian mengubah watak konstitusi kita menjadi lebih kapitalistik dan hanya menguntungkan segelintir pihak.

Panelis lain, Alamsyah mengemukakan bahwa sistem pengelolaan keuangan kita masih jauh dari kata baik. Dia menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan almarhum Gus Dur soal bagaimana mengelola keuangan negara. Gus Dur mengatakan bahwa sebenarnya pengelolaan anggaran yang lebih mendekati konsep negara kesejahteraan adalah konsep zakat. Sebuah konsep yang sebenarnya sudah di usung oleh Islam. Konsep ini kurang lebih intinya menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan yang sangat mendasar bagi masyarakat semisal kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Namun demikian, distribusi zakat juga bisa di peruntukkan untuk pembangunan, pertahanan dan lain sebagainya. Mantan pegawai Bank Dunia ini mengatakan, andai saja pengelola keuangan negeri ini mau mengambil spirit dari konsep itu, rasanya kemiskinan bisa di tekan seminimal mungkin.

Sementara itu Adhie M Massardi (mantan juru bicara Presiden Gus Dur) menggambarkan bagaimana pengelolaan anggaran di negeri ini. Ketika anggaran di ajukan ke parlemen saja indikasi korupsinya sangat kentara. Angkanya cukup fantastis. Bisa sampai 30% dari jumlah anggaran. Begitu juga pada tahap implementasi. Hampir di semua tingkatan kekuasaan berusaha untuk merampoknya. Makanya banyak proyek negara yang amburadul. Ketua Gerakan Indonesia Bangkit ini menegaskan bahwa kesalahan utama ada di tingkat pemimpin nasional. Kalau pemimpin nasionalnya berani bertindak tegas, maka korupsi bisa di tekan. Adhie Massardi mencontohkan bagaimana Gus Dur dulu memimpin Indonesia. Gus Dur orang yang tidak segan segan untuk mencopot pejabat pejabat bawahannya yang bahkan baru di isukan korupsi sekalipun. Anggota Fraksi PKB yang ada di parlemenpun tidak bisa berbuat seenaknya menyelewengkan anggaran. Karena pemimpinnya tegas. Di segmen terakhir Adhie Massardi menghimbau, sebaiknya rakyat bersatu padu untuk melakukan blocking terhadap partai partai politik yang jelas jelas terindikasi sebagai sarang koruptor. Rakyat harus berani bersatu untuk menghukum partai politik korup. Memang, tidak ada parpol yang bersih bersih amat. Tetapi setidaknya rakyat bisa mengambil pilihan yang tingkat kerusakannya tidak terlalu berat. Pilih partai yang mencalonkan figur figur baik, atau setidaknya mereka yang mengusung calon presiden dengan track record baik.

Di segmen lain, Gus Nuril yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sokotunggal mengingatkan pada kita semua untuk tidak terlena dengan wacana wacana. Carut marut yang sudah tidak karuan juntrungnya ini mesti di sikapi dengan tindakan kongrit. Semua elemen, baik yang ada di luar sistem maupun orang orang baik yang ada di partai politik harus bersatu padu untuk menyelamatkan bangsa. Tidak harus revolusi. Apapun itu, intinya adalah bagaimana perubahan ini bisa berjalan cepat dan terukur. Umat Islam juga di himbau untuk tidak terlalu banyak mengurusi hal hal yang kurang penting. Utamakan bagaimana ikut ambil bagian dalam memperbaiki bangsa.


Jakarta, 9 Mei 2013
Di ramu dari diskusi Kebangsaan di Sokotunggal, Rawamangun

Senin, 29 April 2013

'Demokrasi' kok Boros ???

"Ucapan ulama sepertinya tidak lagi manjur. Banyak sekali kandidat yang di dukung oleh kyai, nyatanya malah kalah. Kenapa ?. Karena biasanya yang sowan ke kyai adalah kandidat yang notabene tidak punya uang. Pemilih lebih melihat uang daripada memilih taat pada fatwa ulama".

"Dulu, para caleg yang maju dalam kontestasi adalah mereka yang dalam masyarakat sudah terbukti memiliki pengabdian. Maka itulah masyarakat mendukungnya untuk maju. Tapi sekarang, rasanya hal seperti itu sudah sangat langka. Mereka lebih mementingkan pencitraan, mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk memoles dirinya agar di pilih. Dan bukan karena melalui pengabdian pada masyarakat".
Diskusi rutin di Sokotunggal, Rawamangun Jakarta Timur

Ungkapan ini saya kutip dari pernyataan salah satu pentolan MKRI (Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia), Adie Massaedi beberapa saat lalu pada sebuah diskusi rutin yang di gelar di padepokan Sokotunggal Rawamangun, Jakarta. Pernyataan yang saya pikir bukan sekedar isapan jempol semata. Faktanya yang terjadi di lapangan memang demikian. Demokrasi yang di gagas oleh para 'reformis' pasca 98 setidaknya menyisakan bara api yang makin hari makin membakar seluruh struktur yang ada. Masyarakat mendadak di hadapkan kepada sebuah sistem yang sangat kapitalis. Yang semua kegiatan politik selalu bertumpu pada segi materi.

Pernyataan ini juga di amini oleh sohibul bait, Gus Nuril Arifin. Menurut salah satu Dewan Khos Pagar Nusa ini, untuk menjadi caleg DPR RI di sebuah dapil, untuk biaya saksi saja, seorang caleg harus mengeluarkan uang tak kurang dari 300 juta rupiah. Ini belum termasuk biaya alat peraga, biaya kampanye, biaya survey dan biaya biaya lain yang tentu saja angkanya lebih dahsyat lagi. Padahal gaji seorang anggota parlemen tidaklah sebanding dengan pengeluaran yang di korbankan caleg untuk menggapai kursi kekuasaan. Maka tidak heran jika kemudian,  mereka yang menduduki jabatan itu berlomba lomba untuk mengeruk uang rakyat demi mengembalikan modal yang sudah di keluarkan. Politik kapitalis ini bukan saja telah merusak tatanan pemerintahan yang ada, akan tetapi sudah sedemikian masif menghancurkan tatanan sosial di masyarakat. Bahkan sudah masuk ke lembaga keagamaan yang sudah seharusnya steril dari intrik intrik kepentingan.

Dalam kesempatan yang sama, Ratna Sarumpaet, seniman sekaligus Ketua MKRI kurang lebih menyatakan keprihatinan serupa. Aktifis yang sudah malang melintang dalam memperjuangkan demokrasi, kesetaraan dan keadilan ini mengaku heran dengan respons masyarakat yang sangat minim. Jelas jelas ketidak adilan sudah merusak semua nilai di sekitarnya, tapi mereka hanya bisa diam.


Kita Butuh Pressing Group Yang Kuat

Sepertinya memang begitu. Reformasi yang sudah di bangun oleh para pendahulu, nyatanya malah menyeret kondisi bangsa ini ke dalam jurang kapitalistik nan kejam. Persaingan dalam memperebutkan kekuasaan sudah tidak lagi di pijakkan pada pola right man on the right job, akan tetapi lebih bertumpu pada pemilik modal. Partai Politik yang seharusnya menjadi pabrik bagi calon calon kader bangsa, justru menjadi pelopor merebaknya politik kapitalis. Kita bisa melihat bagaimana proses pencalegan yang di lakukan partai politik. Fenomena masuknya puluhan pekerja hiburan yang tanpa melalui kaderisasi layak, fenomena caleg berbau nepotisme, masuknya para pemilik modal sebagai tulang punggung partai dan lain sebagainya.

Dalam demokrasi memang sah sah saja. Setiap warga masyarakat berhak untuk memilih dan di pilih. Akan tetapi sudah seharusnya kepentingan masyarakat yang nanti akan di pimpin menjadi dasar pokok untuk maju. Bisa di bayangkan, apa yang terjadi nanti, ketika seseorang yang sama sekali buta terhadap persoalan masyarakat, tiba tiba tampil menjadi pemimpin ?. Bukankah ini justru akan menjadi malapetaka bagi bangsa ?.

Kondisi yang demikian carut marutnya, sudah saatnya mendapat penanganan serius. Seperti kata Ratna Sarumpaet, masyarakat sebagai pemilik sah negeri ini tidak boleh hanya diam dan jadi penonton. Harus ada gerakan nyata untuk melawan hegemoni kapitalis.

(Di saring dari diskusi rutin malam Jum'at di Pondok Pesantren Sokotunggal Rawamangun, Jakarta)
Penulis : Komandan Gubrak

Kamis, 11 April 2013

PREMANISME, NARKOTIKA dan KEHANCURAN SEBUAH BANGSA

"Dadi ben ketok nyambut gawe ngono loh, ora gur cangkem thok!!!"
(Jadi biar kelihatan bekerja gitu loh, bukan cuma ngomong doang!!!)

Saya mencatat, kalimat ini beberapa kali di ungkapkan oleh Gus Nuril Arifin dalam berbagai kesempatan. Sebuah nasehat atau lebih tepatnya sindiran bagi kita semua, bahwa sudah saatnya kita tidak hanya mengetengahkan wacana belaka. Harus ada tindakan nyata dalam mengaktualisasikan sebuah gagasan. Sebab problematika yang ada di depan mata sudah berlangsung begitu masif, akut, bertaut kelindan dan sangat merusak sendi sendi kehidupan.

Kasus penembakan di Lapas Cebongan misalnya, peristiwa itu tidak bisa di pandang hanya kasus kecil berbau balas dendam. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih besar lagi di balik peristiwa itu. Pertarungan antara mafia narkoba yang melibatkan beking beking kuat di belakangnya. Baik itu beking dari oknum korp baju coklat maupun korp baju hijau yang kesemuanya ingin mengambil keuntungan dari legitnya bisnis haram narkoba. Demikian statemen pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal itu dalam menanggapi isu mutakhir mengenai peristiwa Cebongan.

Lebih lanjut Gus Nuril mengatakan, omset dari peredaran narkoba di Indonesia ini nilainya tidak tanggung tanggung. 50 trilyun per tahun. Sebuah angka yang tentu saja lebih besar dari alokasi APBN yang di kucurkan ke setiap departemen kementerian yang ada kecuali Kementerian Pertahanan (77,27T), Kementerian PU (69,14 T) dan Kementerian Pendidikan (66 T). Sementara anggaran institusi kepolisian yang merupakan aparat paling depan dalam pemberantasan kejahatan narkoba hanya berkisar di angka 43,4T. Maka tidak heran jika kemudian banyak aparat penegak hukum lebih senang berkongkalingkong dengan para bandar narkoba daripada melaksanakan tugasnya. Sebab, apa yang di dapat dari para bandar angkanya lebih menggiurkan. Ironisnya, para penegak hukum yang terlibat dalam bisnis haram ini levelnya tidak lagi kelas bawah, tapi sudah menjangkiti hingga tingkat atas. Bahkan kejahatan ini konon juga melibatkan tangan tangan asing yang menginginkan Indonesia terus mengalami kemunduran.

Apa yang terjadi di China di tahun 1800 an adalah contoh nyata, di mana untuk melaksanakan niatnya menguasai negeri Tiongkok, bangsa Eropa menggunakan narkotika sebagai alat yang sangat efektif untuk melemahkan semangat dan mentalitas bangsa China. Mereka memperkenalkan barang haram itu tidak saja pada kalangan atas, tapi juga pada kalangan rakyat. Maka yang terjadi adalah kehancuran moral, ekonomi dan tatanan sosial di masyarakat. Pada titik inilah kemudian bangsa Eropa (Inggris) menyatakan perang terhadap China. Dan bisa di duga, hanya dalam tempo 8 tahun, daratan China jatuh ke tangan Inggris. Ini sebenarnya yang di inginkan pihak asing pada Indonesia.

Catatan BNN di periode 2012 menyatakan bahwa 2 dari 100 penduduk Indonesia adalah pengguna narkotika. Artinya dari 250 juta penduduk Indonesia, 5 juta (setara dengan jumlah penduduk di Provinsi Aceh) di antaranya adalah konsumen narkotika. Sebuah angka yang sangat mengkhawatirkan. Tidak saja merusak kader kader bangsa, akan tetapi juga menggerus ekonomi kita.

Oleh sebab itu di butuhkan tindakan nyata dari seluruh elemen anak bangsa. Tidak sekedar berwacana atau memberi saran kepada pemerintah saja, akan tetapi harus berani mendesak atau kalau perlu memaksa pemerintah untuk melakukan tindakan yang paling keras untuk memerangi kejahatan ini. Pelaku kriminalnya mesti di berantas, mereka yang berada di belakang para bandar, baik itu elite politik, birokrat maupun aparat penegak hukum harus di bersihkan.





Quote : "Jika pengadilan di meja hukum tidak berjalan dengan semestinya, maka yang akan terjadi adalah pengadilan jalanan" (KH Buchorie Masruri) 

Penulis : Dhan Gubrack
Photografer : Badut Semprul

Minggu, 17 Maret 2013

Layanan Gratis Sms Bangun Subuh GUBRAK!!!

Ini adalah program gratis dari GUBRAK dimana anda akan mendapatkan servis berupa Sms Sangun Subuh setiap hari sepanjang tahun tanpa perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Program ini mulai mengudara pada tanggal 13 Maret 2010 hingga sekarang dan menyasar 700 lebih pengguna ponsel seantero Indonesia.
Layanan ini di gawangi oleh relawan relawan terbaik Gubrak.
Dengan bergabung di program SBS, anda berkesempatan untuk menambah pengetahuan tentang ke Indonesiaan melalui sms sms yang kami kirim ke HP anda.
Selain itu, anda juga berkesempatan untuk membangun korespondensi sesama Gubraker (sebutan anggota GUBRAK) melalui program tukar nomer HP, tukar email facebook dan lain lain.
Sms subuh makin seru dengan sisipan sisipan sms LUCU terkini yang sudah pasti membuat anda ngakak...
Ketik : SBS/Nama Akun FB (email)/Tanggal Lahir/Domisili/Nomer HP
Contoh : SBS/Komandan Gubrak(gubrakkomandan@rocketmail.com)/20-09-79/Jakarta/08123456789

Untuk mendaftakan teman agar dapat layanan Sms Bangun Subuh
Ketik : Akunmu/SBS/Email (akun FB teman)/Tanggal Lahir Teman/Domisili Teman/Nomer HP Teman
Contoh :Komandan Gubrak/SBS/Paijo88@yahoo.com (Paijo Stres)/19-07-87/Aceh/08181818XXX

Kirim ke :
085776412809 
(Hafidz)
085645049578 
(Lestari)
* untuk pengguna Indosat
081946850869 
(Harun)
081913443080 
(Imam)
* untuk pengguna XL
085203071071
(Yuyun)
* untuk pengguna Telkomsel

083899037416
(Komandan Gubrak)
* untuk pengguna Axis, Esia, Fren dll

*Hanya yang sudah terdaftar sebagai Gubraker yang boleh mendaftarkan temannya
*Khusus bulan Ramadhan, sms di kirim sesuai jadwal sahur anda
Selamat bergabung....

Senin, 27 Agustus 2012

Kerusuhan SARA dan Problem Berbangsa

Tiba tiba semua tersentak, kerusuhan di Banten belum reda, muncul kerusuhan di Temanggung. Daerah yang adem ayem, tentram dan  ijo royo royo, yang di sana banyak ulama besar semisal kyai Parak (abahnya KH Muhaimin Gunardho) berdakwah, membangun pesantren dan masyarakat. Temanggung yang tenang tiba tiba di datangi pasukan yang entah dari mana. Ada yang mengatakan dari Solo, ada yang mengatakan dari bogor, bahkan ada isu bahwa  mereka ini digerakkan oleh tokoh Jakarta. Ada pula yang menyebut berasal dari Mindanao, kelompok ini di duga hendak melakukan aksi balas dendam atas kematian beberapa gembong teroris akhir akhir ini dan juga atas pengadilan terhadap terdakwa kasus terorisme yang masih hidup.

Kerusuhan ini tak pelak mengisyaratkan betapa loyonya para penegak hukum sehingga dengan mudahnya orang orang luar masuk ke Temanggung dan membuat keonaran tanpa bisa di cegah lagi. Polisi mungkin tidak mau di cap telah kecolongan, akan tetapi nyatanya kejadian ini sungguh telah merobek dan mencederai hak asasi manusia bahkan telah membongkar system trias politika yang di anut negara demokrasi bernama Indonesia ini. Dan yang lebih menyesakkan dada adalah, pelakunya dengan garang dan tanpa sungkan sungkan lagi melabeli perbuatannya dengan agama.

Tulisan ini sebenarnya sebagai refleksi dari pertanyaan para wartawan cetak dan elektronik, mereka menanyakan hal hal yang mengarahkan kepada kasuistis parsial, maka saya katakan saya tidak mau berkomentar kalau anda semua menanyakan yang parsial parsial.

Kenapa ?.

Kejadian buruk yang tidak saja mencoreng nama baik agama, khususnya Islam, juga mencoreng nama baik bangsa dimata dunia. Bahwa pemerintah ternyata tidak mampu melaksanakan undang undang dasar 45. Pemerintah yang berkewajiban melindungi segenap tanah tumpah darah dan menyelenggarakan kesejahteraan umum, gagal. Pemerintah hanya bertutur dan berkomentar, atau paling banter mengutuk. Saya bilang, tugas Menko Polkam dan Presiden itu bukan mengutuk atau melaknat kejadian yang sangat biadab itu. Sebab mengutuk itu perilakunya nenek sihir.

Pemerintah harusnya segera menugaskan pejabat keamanan untuk melakukan tindakan nyata. Mas Joko tidak cukup berwacana, tetapi menegur dan memerintahkan anak buahnya baik TNI maupun Polri untuk segera melakukan tindakan nyata. Tangkap dan adili pelaku kerusuhan. Tidak usah bingung mencari payung hukum segala sebagaimana yang di pidatokan SBY. Negara ini negara hukum, dan Pancasiala serta UUD 45 adalah hukum tertinggi kita. Dari sini sudah cukup menangkap para pelaku kerusuhan atas nama agama itu.

Allah dalam kitab suci mengatakan ‘wa idza akromna ala bani adam’ (Allah meninggikan derajad anak cucu Adam). Maka tidak boleh dibantai sebagaimana membantai anjing atau kucing. Bahkan ayam ketika disembelihpun menggunakan tatacara yang santun yang tidak menyakitkan. Padahal ini binatang.

Pemerintah sebenarnya sudah faham, intelnya banyak, mulai dari Koramil , Polsek sampai tingkat nasional. Alat bukti juga lebih dari cukup untuk melakukan tindakan. Yang di perlukan hanya keberanian dan kejujuran untuk membela bangsanya sendiri dari intervensi organisasi dan LSM LSM asing yang berusaha merusak pranata sosial.

 Azas Manfaat.

Selama ini semua kejadian demi kejadian tidaklah berdiri sendiri ini. Semua by design.  Ada kecurigaan, pemerintah SBY menggunakan kasus bernuansa SARA ini untuk menutupi dan mengalihkan isu. Selama ini rakyat melihat, begitu century akan terkuak, tiba tiba di munculkan penangkapan teroris. Demikian pula ketika kasus gurita Cikeas yang menghebohkan mencuat,  dimunculkanlah episode penangkapan terroris di Temanggung. Dan ketika sekarang Gayus lagi merdu merdunya menyanyi, lantas  DPR kepleset memperlihatkan belangnya dengan mengusir komisioner KPK (Bibit dan Candra) maka muncul kerusuhan Ahmadiyah di Cikeusik dan kerusuhan Temanggung.

Pola orde baru yang diterapkan rezim sekarang ini nampak nyata sekali. Maka wajar kalau kejadian demi kejadian mengesankan adanya pembiaran. Kan sangat lucu jika intel yang sebanyaknya itu tidak mampu mendapatkan laporan akurat untuk dijadikan bahan pengambilan keputusan. Orang membawa narkoba hanya beberapa gelintir saja dapat tercium, ini ribuan orang berbondong bondong dibiarkan. Dan pemerintah kenapa tidak berani tunjuk hidung bahwa FPI yang selama ini menjadi biangnya ?.  Kenapa ?.

Azas manfaat ini juga digunakan oleh musuh musuh SBY, untuk memancing emosional rakyat. Kelaparan, kemiskinan, pengangguran, tingginya harga kebutuhan pokok dan lain sebagainya menjadi peluru ampuh bagi kaum oposisi untuk  mendiskreditkan pemerintah. Jika ini di biarkan, maka kasus  revolusi Mesir bisa saja terjadi di Indonesia. Mereka yang menjadi musuh musuh SBY bisa saja menunggangi masalah masalah di atas untuk menggulingkan SBY.

Saya setuju saja dengan langkah lanagkah lawan SBY yang menghendaki pemerintah ini berhenti saja karena memang sudah demikian carut marut. Tetapi saya tidak setuju dan sangat menolak jika cara pengambilan kekuasaan itu mengorbankan rakyat kecil. Mengorbankan minoritas sebagai tumbal. Karena disamping sangat tidak elegan juga akan melahirkan cost sosial yang sangat besar. Disamping itu, kalaupun toh berhasil menggulingkan SBY, rehabilitasi untuk mengembalikan kehidupan yang plural, rukun dan senantiasa bernafaskan Bhineka tunggal ika, sangat susah. Artinya, keberhasilan itu tidak ada artinya.

Negara bangsa,

Rakyat dan para elite yang sudah kadung muak melihat jalannya pemerintahan ini sebaiknya berfikir jernih. Jangan terlalu tamak kekuasaan. Sebab kalau antara kedua belah pihak (pemerintah dan lawan lawan politiknya) tidak bisa menahan diri, dan terus memaksakan kehendaknya, yang menjadi korban tetap saja rakyat.

Kita harus kembalikan kesadaran rakyat dan bangsa ini, juga para pemimpin partai untuk kembali belajar kepada sejarah, belajar kepada komitmen kebangsaan, belajar kepada niat awal pendidirian negara bangsa ini. Bahwa NKRI adalah negara bangsa yang di susun dari berbagai suku bangsa, agama, adat dan kepercayaan. Ingatlah pada KH Wahid Hasyim dan Agus Salim, serta BPUPKI pada waktu merumuskan negeri ini bersama Bung Karno 60 tahun lalu. Karena komitmen mereka Indonesia adalah negara bangsa, maka ketika Mr Maramis akan memisahkan diri  jika 7 suku kata dalam pembukaan UUD 45  (piagam Jakarta) tidak dihapus, semua founding father waktu itu tersadarkan, kemudian luruh hatinya untuk lebih mengutamakan NKRI. Dan dihapuslah 7 suku kata itu.

Sekarang ini sudah tidak  ada yang faham tentang konsensus ini. Sehingga pemerintah masih membutuhkan payung hukum hanya untuk menindak gerakan yang nyata nyata berhadapan denagan Pancasila dan UUD 45. Kalau negeri ini negara Islam, silahkan rakyat boleh tidak terima dan menganeksasi pengadilan. Tapi negara ini negara Pancasila. Maka bukan hukum Islam yang diterapkan dalam kehiduapan bernegara dan berbangsa.

Jadi  jelas sudah, bahwa siapa yang anti pancasila dan sengaja akan menjungkirkan serta  mencoba kesaktian pancasila dengan menawarkan ideologi Islam, mengganti sistem konstitusi  dengan Khalifah. Tunggu apa lagi ?. Kalau memang tidak setuju dengan Pancasila dan UUD 45, kenapa tidak migrasi ke Arab saja?. Sehingga bisa bebas menerapkan hukum yang dikehendaki.

Bagi saya, kalau sekaliber Hadratusy Syeikh Hasyim asy A'ri yang telah terbukti menggelontorkan resolusi jihad demi menjaga kemerdekaan RI, dan memerintahkan santrinya melawan tentara sekutu sehingga muncul peringatan hari Pahlawan, bisa toleran terhadap sesama dan menerima NKRI sebagai sebuah solusi bersama. Maka janganlah coba coba budaya luhur ini digantikan dengan kebrutralan dan aroganitas. Masyarakat NU masih menunggu. Dan kalau memang tidak ada jalan lain, jangan heran kalau nanti demi keutuhan NKRI muncul resolusi jihad terhadap Wahabi dan kelompok kelompok radikal lainnya.

Akhirnya, mari kita semua ud'u ilallah bil hikmah wa mauidlotul khasanah. Jangan gunakan kekerasan. Negeri ini ada aturannya. Jangan jadi polisi sendiri, jadi hakim sendiri, jadi tentara sendiri. Semua orang dikaruniai keberanian oleh Allah. Hanya bedanya, ada yang pakai aturan atau aqidah dan ada yang berlabel aqidah tapi ora genah.

oleh : KH Nuril Arifin Husein

Pengasuh Pesantren Abdurahman Wahid Soko Tunggal
Ketua umum Forum Keadilan dan Hak Azasi Umat Beragama se Indonesia
Ketua Dewan Syuro Gubrak Indonesia

Rabu, 02 Mei 2012

Revolusi ala Gus Nuril

"Tidak ada satu pemimpinpun di dunia ini yang tidak diktator. Tidak ada.
Tentu, orang akan menilai miring soal ini. Tapi kalkulator Tuhan tidak akan salah sejauh sikap diktator itu untuk kesejahteraan rakyat"
 Kyai nyentrik yang satu ini memang doyan bicara blak blakan. Tak peduli apakah idenya di terima atau tidak bagi khalayak, dia tetap berjalan sesuai dengan apa yang ia yakini. Bagi Gus Nuril, ada batas batas tertentu dimana kita mengkompromikan ide, tapi untuk hal hal yang prinsip, tokoh yang di kenal sebagai orang dekat Gus Dur ini akan terus memperjuangkan hingga kapanpun.

Berikut segmen pertama hasil reportase team Gubrak Indonesia bersama Ketua Umum Gusdurian Nusantara, KH Nuril Arifin, MBA.

Gubraker :
Belakangan ini kita sering mendengar ide progresif anda soal Revolusi Taman Hati, seperti apa model revolusinya ?

Gus Nuril :

Ini revolusi yang soft. Revolusi tanpa kekerasan. Bukan revolusi yang di bangun dari proses pergulatan fisik yang banyak mengorbankan darah rakyat. Ini revolusi yang timbul dari keinginan terdalam dari rakyat Indonesia yang telah jenuh melihat ketidak adilan yang di lakukan oleh elite elite politik.

Gubraker :
Kenapa harus dengan revolusi ?. Apakah system yang ada tidak menjanjikan kemajuan bagi kehidupan rakyat ?.

Gus Nuril :
Ini yang membedakan saya dengan Gus Dur dalam memandang demokrasi. Gus Dur kompromi terhadap system demokrasi. Saya tidak. Tapi tidak masalah. Gus Dur menggunakan metode Nabi Isa yang lemah lembut, arif dan bijaksana. Saya menggunakan pendekatan Musa. Tegas. Dan itu hanya bisa di capai dengan revolusi !!!.

Gubraker :
Apakah itu artinya  anda menyetujui konsep kepemimpinan diktator ?

Gus Nuril :
Tidak ada satu pemimpinpun di dunia ini yang tidak diktator. Tidak ada.

Tentu orang akan menilai miring soal ini. Tapi kalkulator Tuhan tidak akan salah sejauh sikap diktator itu untuk kesejahteraan rakyat.

Ambil contoh, tembok China. Wanly Chang Cheng. Berapa banyak yang di korbankan oleh para penguasa China dari darah dan keringat rakyatnya ?. Ratusan ribu atau mungkin jutaan jiwa melayang mengiringi pembangunan tembok fenomenal itu.

Berapa banyak harta rakyat yang tersedot untuk mewujudkan itu ?. Jika kita menilainya pada saat itu, tentu apa yang di lakukan para penguasa China adalah perbuatan yang kejam. Mengorbankan begitu banyak energi negara. Tapi bagaimana dengan sekarang ?.

Bangsa China berbondong bondong menyanjung,  membanggakan hasil karya leluhurnya. Mereka begitu bangga, ketika tehnologi modern mengklaim bahwa ketika astronot singgah ke bulan kemudian menatap bumi, yang terlihat adalah liukan indah Tembok China.

Gubraker :
Artinya anda siap untuk tidak populer di mata rakyat ?

Gus Nuril :
Biar saja…!!!. Rakyat mengenang kita sebagai pemimpin yang kejam, pemimpin tirani, yang begitu banyak mengorbankan berbagai kepentingan. Tapi, seperti halnya Wanly Chang cheng, rakyat juga akan mengenang apa apa yang kita hasilkan. Pemerintahan yang bersih, pemerintahan yang meletakkan sebuah system yang mensejahterakan rakyat, pemerintahan yang peduli.

Gubraker :
Bagaimana cara untuk mencapai itu ?

Gus Nuril :
Mungkin revolusi itu akan terjadi 5 atau 10 tahun yang akan dating. Dan jika saya di percaya, saya hanya minta 1 periode. 6 bulan pertama, kita gilas koruptor.

Gubraker :
Bisa ?

Gus Nuril :
Bisa. Kenapa tidak ?. Beri saya 3000 pasukan terlatih. Kita hidupkan lagi Petrus (Penembakan misterius). Setiap kabupaten kita tempatkan 3-5 personel. Kita kawal lembaga hukum. Kalau pengadilan banyak di beli koruptor, petrus yang akan menghakimi koruptor. Hari ini di bebaskan, malam ini juga eksekusi. Kalau hakimnya nakal, kita dor mereka. Kasus kriminal yang tidak terselesaikan di meja pengadilan, biarlah kita selesaikan dengan cara kita. Beres….!.

Gubraker :
Bagaimana dengan pembangunan ekonomi ?

Gus Nuril :
Pembangunan ekonomi kita di dasarkan atas strategi ekonomi kelautan. Karena 70 % wilayah kita adalah laut. Kita bangun pelabuhan skala internasional di Semarang dan Pacitan dimana kapal kapal berukuran jumbo bisa merapat di situ. Kita juga akan membangun landasan pesawat  di sana untuk mendukung pertahanan kita dan untuk mendukung sarana transportasi.

Dari Semarang hingga Pacitan kita bikin sungai yang bisa di lewati kapal kapal besar, yang membelah pulau Jawa hingga dua bagian.

Kapal kapal dari Afrika dan Amerika latin tak perlu lagi menggunakan laut Somalia yang di sesaki bajak laut, tak perlu melewati selat Hormuz yang berbahaya untuk mengangkut barang dagangannya menuju Asia. Yang dari Amerika latin bisa menyusuri Pantai Selatan benua Afrika menuju Indonesia lalu ke Asia, dan sebaliknya. Yang dari Australia tak perlu mengelilingi pulau Jawa untuk menuju Asia. Cukup memotong jalur dengan menyusuri sungai Pacitan – Semarang lalu ke Asia. Dan lain sebagainya.

Bersambung
Pewawancara : Aang Arif Amrullah
Penyunting : Dainx Komandan Gubrak
Fotografi : Badut Semprul
Master Web : Epoy Van der Cleerk