Tampilkan postingan dengan label International News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label International News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

Penantang Itu Bernama Assad


Oleh : Komandan Gubrak

Umurnya baru 48 tahun. Usia yang relatif cukup muda bagi seorang pemimpin negara. Tapi prestasi yang di torehkan Assad dalam upaya melindungi negaranya dari anasir anasir dukungan asing tak di ragukan lagi. Banyak orang termasuk saya mengira setelah pecah revolusi Suriah, nasib Assad tak akan jauh beda dengan Muammar Khadafi, Mubarak, Ben Ali dan lain sebagainya. Apalagi seperti kita ketahui, revolusi Arab yang selama ini berlangsung nyatanya juga melibatkan kekuatan kekuatan besar dunia. Maka, apalah artinya Assad di banding dengan desakan publik yang luar biasa besar.

Namun rupanya saya harus sedikit menahan nafas menyaksikan kealotan putra Hafidz Assad ini. Kendati baru beberapa tahun semenjak ia mengambil alih tongkat kepemimpinan Suriah dari mendiang ayahnya, kemampuan dan kematangan Assad dalam menghadapi badai revolusi patut di acungi jempol. Memang, pemberontakan yang terjadi di Suriah tidak melibatkan secara langsung tentara reguler negara negara barat layaknya di Libya, akan tetapi keberadaan para jendral barat di belakang pemberontak di mana perannya adalah pelatih strategi sekaligus pemasok senjata tentu tak bisa di anggap enteng begitu saja.

Mari kita kembalikan ingatan pada peristiwa tahun 80an di mana Afghanistan mengalami pergolakan luar biasa. Di sana CIA memiliki peran penting dalam mengendalikan apa yang di sebut sebagai pemberontakan terhadap dominasi Soviet. CIA terlibat dalam pembinaan, pelatihan dan pengiriman jihadis jihadis asing ke Afghanistan. Operasi pinjam tangan ini nyatanya berakhir dengan kesuksesan dan menghasilkan kerugian tak terkira bagi Uni Soviet.

Apa yang di lakukan barat dan sekutunya pada Suriah kurang lebih sama dengan apa yang mereka lakukan di Afghanistan dulu. Mereka mengkoordinir, melatih dan mempersenjatai pemberontak untuk melawan rezim Bashar Assad. Yang membedakan adalah hasil akhir. Jika strategi yang di lakukan barat di Afghanistan berakhir dengan jatuhnya rezim tanpa perlu tentara amerika melibatkan diri secara langsung, nasib berbeda terjadi di Suriah. Kendati sudah mendapatkan dukungan penuh dari negara barat dan sekutu Arabnya, hingga lewat tempo 2,5 tahun kubu pemberontak tak juga mampu menjungkalkan Assad. Yang terjadi justru sebaliknya, Bashar Assad secara perlahan mulai menemukan celah menuju kemenangan.

Satu persatu daerah daerah yang dahulu di kuasai oposisi berhasil di rebut tentara Suriah. Di Provinsi Damaskus, tentara Suriah dengan gagahnya mengontrol hampir seluruh wilayah. Begitu juga dengan daerah yang berbatasan dengan Lebanon, Israel dan Yordania, balatentara Assad menampilkan kegagahannya dengan menutup akses yang bisa di manfaatkan oleh oposisi dalam menggalang dukungan dari luar. Di wilayah tengah, terutama di Homs, sebuah kawasan yang oleh pemberontak di juluki kota revolusi, setapak demi setapak mulai di kuasai tentara Assad. Terakhir distrik Khaldiyah yang merupakan benteng utama pemberontak jatuh pula ke tangan kubu pemerintah.

Ini rupanya yang membuat barat dan sekutunya mulai frustasi. Bukan saja Assad sukses memperkuat posisinya, tapi kubu koalisi oposisipun makin hari makin tak bisa di andalkan. Maka tak heran jika akhirnya Amerika Serikat sebagai dalang utama kerusuhan di Suriah memutuskan untuk membuka opsi intervensi militer.

Dalih yang di pakai adalah kasus tuduhan penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah. Akan tetapi menurut penulis, ini hanya alasan belaka. Faktanya, jauh hari sebelum terjadinya kasus itu, Amerika Serikat sudah mempersiapkan diri untuk berperang secara terbuka dengan Assad. Amerika secara kontinyu mulai mengirim kontingen militer ke negara negara tetangga Suriah. Di Yordania, keberadaan ribuan tentara Amerika tak terbantahkan lagi. Belakangan juga berhembus kabar Amerika telah mengirim kapal perangnya menuju laut Mediterania. Tak ketinggalan pemerintah Inggris, yang walaupun parlemennya menolak opsi militer ke Suriah, namun pemimpin negara itu tetap nekad menempatkan armada udaranya di pulau Siprus.

Bagi pemimpin lain, mungkin provokasi barat ini akan membuat mereka ciut nyali. Apalagi seperti yang kita tahu, hampir semua medan tempur di mana tentara Amerika terlibat, selalu berakhir dengan jatuhnya rezim. Kita bisa saksikan bagaimana nasib Saddam Husein yang dahulu di anggap paling kuat di Timur Tengah. Nyatanya invasi Amerika dan sekutunya tak bisa membuatnya bertahan. Begitu pula dengan Muammar Khadafi di Libya.

Penulis yakin, Bashar sangat paham resiko yang akan ia tanggung jika Amerika benar benar menyerang Suriah. Dari segi apapun, tentara Suriah bukan tandingan pasukan paman Sam. Walaupun nantinya Suriah, Iran dan China terjun langsung bahu membahu membela Assad, rasanya belum tentu mampu melawan kedigdayaan tentara sekutu.

Lalu apa yang membuat Assad seolah tak menunjukkan rasa gentar sedikitpun terhadap ancaman invasi itu ?. Bahkan dengan entengnya dia sesumbar akan membuat Suriah menjadi Vietnam bagi Amerika. Di kesempatan lain Assad seperti di kutip Islam Times menyemangati para petinggi seniornya dengan kalimat 'sejak lama kita menunggu musuh sejati Suriah'. Retorika ini menunjukkan bahwa Assad tidak bisa di gertak dan di takut takuti.

Orang bijak mengatakan, perang yang tanpa tujuan tidak akan menghasilkan kemenangan. Di sini Bashar secara cerdas memanfaatkan situasi. Sebesar apapun invasi yang akan di lakukan Amerika nanti, jika di lihat dari segi tujuan, maka Amerika nyaris tak memiliki tujuan pasti. Dalam bahasa sederhana, Amerika sendiri masih galau mau di apakan Suriah jika nantinya Bashar jatuh.

Peta politik Suriah menunjukkan bahwa kekuatan dominan di kubu pemberontak justru berada di tangan kelompok kelompok garis keras yang selama ini getol memusuhi Amerika. Maka kalaupun Amerika berhasil menggusur Assad, ia akan di hadapkan pada sebuah masalah yang tak kalah peliknya. Yaitu jatuhnya Suriah ke tangan orang orang fundamentalis. Jika ini terjadi, maka itu sama saja Amerika melahirkan lawan baru bagi Israel yang tak kalah garangnya dengan militan Hizbullah.

Itu kalau Amerika berhasil menghabisi Assad. Kalau Amerika gagal mengeksekusi Assad, problem lain yang tak kalah pelik juga akan menimpa Amerika. Kegagalan Amerika mengintervensi langsung Suriah bisa jadi akan memicu gelombang perlawanan lain terhadap hegemoni Amerika di Timur Tengah.

Kartu truf lain yang di miliki Assad adalah situasi regional yang cukup menguntungkan dia. Faktanya Assad di kelilingi oleh negara negara dengan dominasi syiah yang cukup kuat. Mereka adalah sekutu potensial yang sewaktu waktu bisa di ajak Assad untuk berperang di pihaknya. Jalinan ini nyatanya sudah lama di rajut Assad. Konon ribuan gerilyawan Syiah baik dari Lebanon maupun Irak dan Iran secara aktif ikut terlibat membantu Assad. Invasi Amerika ke Suriah, mau tidak mau akan berakibat perang merembet kemana mana. Tidak hanya di Suriah, tapi juga di Irak, Lebanon dan tentu saja Israel. Lihat saja statemen Hizbullah baru baru ini. Jika Amerika menyerang Suriah, maka Hizbullah bertekad untuk melakukan perang habis habisan dengan Israel.

Dus, agaknya Amerika Serikat perlu berfikir ulang jika ingin bertanding melawan Assad. Setidaknya negeri paman sam harus memperhitungkan untung ruginya jika perang terbuka terjadi.

Sabtu, 01 Juni 2013

Hizbut Tahrir di Ujung Kepunahan


Pagi ini saya mendengar kabar bahwa salah satu organisasi transnasional bernama Hizbut Tahrir Indonesia akan menggelar muktamar di Gelora Bung Karno. Mereka mengklaim akan mengumpulkan tak kurang dari seratus ribu anggotanya di tempat itu demi meneguhkan kembali cita citanya mendirikan kekhalifahan dunia.

Banyak yang salut dengan gerakan berideologi asing ini karena nyatanya mereka terlihat sangat solid dan mampu bertahan di tengah negeri yang semi sekuler. Tapi juga banyak pula yang bernada khawatir menyaksikan sepak terjang organisasi yang di bentuk di Al Qud Palestina ini. Bagi penulis pribadi, sepanjang pengamatan kami di berbagai belahan dunia, sepak terjang Hizbut Tahrir tidaklah terlalu istimewa. Simak saja di media media online maupun media massa. Porsi pemberitaan tentang Hizbut Tahrir tidak pernah mendominasi, terutama dalam hal hal yang positif. Kecuali media media milik mereka sendiri. Berita Hizbut Tahrir di media media indpenden lebih banyak bercerita tentang penangkapan aktifis HT, pembubaran organisasi itu dan konflik HT dengan organisasi islam lain.

Dari segi kemampuan mencapai tahapan tahapan cita cita politik, HT juga terkesan biasa biasa saja, bahkan terus menerus  mengalami kemunduran. Kita bisa melihat di ajang revolusi yang marak di Timur Tengah. Mulai dari Tunisia, Yaman, Mesir, Libya dan lain sebagainya. Memang, dalam beberapa bagian, HT juga turut serta dalam aksi menggulingkan pemerintah. Akan tetapi peranannya tidaklah terlalu signifikan. Bahkan terkesan hanya membonceng revolusi. Itupun tidak sampai ke tempat tujuan. Ketika kaum revolusioner berhasil menumbangkan pemerintah, tetap saja HT tidak di libatkan. Bahkan adakalanya malah kader kadernya di tangkapi oleh pemerintah yang baru.

Absennya HT dalam pemerintahan baru hasil revolusi sudah jelas membuktikan kekuatan HT tidak seberapa. Ini juga yang kemudian di akui oleh juru bicara HT Mesir, Mahmud Tarsyubi. Bahwa HT telah gagal meyakinkan segenap komponen masyarakat Islam untuk membentuk kekhalifahan. Pasca revolusi, Tunisia menggunakan sistem demokrasi. Begitu juga dengan Mesir, Libya dan sebagainya. Sebuah sistem yang selama ini di tolak mentah mentah oleh HT.

HT tidak pernah punya sejarah besar. Berbeda dengan Hamas yang menguasai Gaza, Ikhwanul Muslimin yang sukses di Mesir atau An Nahdla di Tunisia. Bahkan di ajang terakhir, yaitu Suriah, HT sama sekali tak terdengar perannya. Mereka hanya berkoar koar di media saja, mengklaim ini dan itu seperti yang biasa mereka lakukan, dan tak sekalipun tampil di depan untuk bertarung.

Kami fikir HT ini seperti anak kecil yang menonton tayangan Power Ranger. Hanya menonton sambil mencaci kalau jagoannya kalah, tanpa pernah berfikir kapan mereka menjadi sosok yang di tontonnya. Penulis sampai bosan membaca statemen HT. Waktu revolusi Tunisia pecah, mereka mengklaim khilafah akan datang. Begitu juga dalam revolusi Mesir, Libya dan lain sebagainya. Selalu begitu. Dan akhirnya tetap saja khilafah tidak berdiri. Yang terjadi malah demokrasi. Kalau khilafah tidak berdiri, itu sudah sewajarnya. Karena HT sendiri tidak pernah mengangkat senjata layaknya pejuang pejuang anti Khadafi di Libya, demonstran anti Mubarak di Mesir atau FSA dan Front Nusra di Suriah.


Judul judul berita seperti di atas tak terhitung jumlahnya. Baik yang mereka gembar gemborkan di media online hingga selebaran selebarannya. Dan kami berani bertaruh bahwa HT akan kembali membohongi kadernya. Dulu bilang Mesir menuju khilafah, ternyata tidak. Libya menuju khilafah, nyatanya dusta. Kalaupun pemberontak Suriah menang, tak mungkin ada khilafah. Mereka tetap akan mengikuti jejak Mesir dan lain lainnya. Atau jikapun faksi Front Nusra yang mendominasi konsepnya tidak akan mengusung kekhalifahan.

Anak TKpun tahu, bahwa sebesar dan sebanyak apapun suporter dalam sebuah pertandingan sepakbola, pemegang pialanya tetaplah pemain. Bukan penonton. Oleh sebab itu, muktamar di Senayan hari ini tak perlu di anggap serius. HTI tak punya mental pemain. Mereka hanya sekedar ingin jadi cheer leader dalam perpolitikan kita. Tidak pernah memenangkan pertandingan, bahkan mencicipipun tidak.

Selamat bermuktamar ya....
Jangan lupa sarapan dulu..

Kamis, 16 Mei 2013

Mengapa Syria Tak Kalah Juga ?




Wartawan media Lebanon Almanar, Sadeq Khanafer dan Hussein Mallah telah menulis artikel bersambung berjudul "Mengapa Assad Tidak Bisa Dikalahkan?" Pada tulisan pertama dipaparkan gambaran umum negara Syria, disusul kemudian dengan tulisan tentang aspek ekonomi Syria yang menunjang kekuatan regim Syria. Pada tulisan ketiga kedua penulis memaparkan aspek militer dan yang keempat membahas aspek politik dan kepemimpinan nasional Syria. Kedua tulisan terakhir inilah yang menjadi dasar penulisan artikel ini.
Tidak bisa dibantahkan bahwa militer Syria telah menjadi tulang punggung perlawanan bangsa Syria terhadap konspirasi zionis internasional yang saat ini tengah menggoncangnya. Dan sampai sejauh ini militer Syria telah menunjukkan kinerja yang menakjubkan, tidak saja di mata rakyat Syria sendiri namun juga di mata internasional.

Tentara reguler Syria mempunyai panglima tertinggi yang tidak lain adalah Presiden Bashar al Assad dan deputinya Menhan Fahd Jassem Al-Freij. Dalam kemiliteran Bashar menyandang pangkat Letnat Jendral. Tentara Syria merupakan salah satu satuan tentara terkuat di Timur Tengah dengan jumlah pasukan 320.000 personil dan diperkuat oleh 200.000 tentara cadangan dan 42.000 perwira.

Tentara Syria berdiri sejak tgl 1 Agustus 1946, yaitu tanggal dimana pemerintah berdaulat Syria mengambil alih otoritas penjajahan Perancis. Tentara Syria telah berulangkali terlibat peperangan melawan zionisme dan kekuatan imperialis asing: Perang Maysaloun (melawan Perancis), Perang 6 Hari (tahun 1967 melawan Israel), Perang September Hitam (tahun 1973 melawan Jordania dan membela Palestina), Perang Yom Kippur (tahun 1973 melawan Israel), dan Perang Lebanon (tahun 1982 melawan Israel dan Amerika).


Pada tahun 1976 Syria menempatkan pasukan di Lebanon atas perintang Liga Arab demi menegakkan ketertiban di negara yang tengah dilanda perang saudara itu. Pasukan tersebut ditarik tahun 2005 setelah peristiwa Revolusi Cedar. Pasukan Syria juga terlibat dalam koalisi internasional membebaskan Kuwait dari pendudukan tentara Irak tahun 1991.


Tentara Syria terbagi dalam 5 Seksi, yaitu AD, AU, AL, unit inteligen militer serta unit organisasi. AD Syria dianggap sebagai tulang punggung tentara Syria terdiri dari sekitar 300.000 tentara reguler dan 200.000 milisi. AU Syria terbagi dalam dua bagian, yaitu AU dan pertahanan udara. Kekuatannya termasuk yang terbesar di tanah Arab dengan kekuatan sekitar 900 pesawat tempur. AL Syria bermarkas di Latakia dengan pangkalan-pangkalan berada di Latakia, Al-Mina Al-Bayda, Tartous, dan Banias; memiliki jumlah personil 10.000 tentara, 2 kapal selam, 2 frigat, 2 kapal anti kapal selam, 4 kapal penebar ranjau, 3 kapal ampibi pendarat, serta 25 kapal perang berbagai ukuran.

Tentara Nasional
Untuk memperkuat pertahanan negara, terutama setelah terjadinya krisis, pemerintah Syria memebentuk National Defense Army. Terdiri dari milisi relawan pria dan wanita dari berbagai usia. Tugas utamanya adalah melidungi kawasan dari serangan pemberontak. Mereka mendapat gaji bulanan, seragam, dan berjumlah puluhan ribu tersebar di beberapa propinsi.


Jenjang Kepangkatan dan Dinas Kemiliteran

Jenjang kepangkatan dalam ketentaraan Syria terbagi dalam 3 kelompok: individual, perwira muda dan perwira. Pangkat tertinggi adalah Letnan Jendral.

Syria menerapkan wajib militer yang cukup unik bagi warganegaranya. Semua warga negara laki-laki berumur di atas 18 tahun dan memiliki saudara laki-laki, diwajibkan mengikuti dinas ketentaraan selama 18 bulan.

Tentara Syria terlibat dalam pembangunan infrastruktur di Syria seperti membangun jalan, jembatan, sebagaiman juga terlibat dalam industri, farmasi dan kedokteran serta riset. Militer Syria melarang anggotanya terlibat urusan politik atau memiliki pekerjaan sampingan. Anggota militer juga dilarang memperlihatkan perlengkapannya di luar wilayah kerja terkecuali dalam peperangan atau konfrontasi.


Persenjataan dan Taktik

Tidak ada data akurat tentang persenjataan militer Syria karena pemerintah sengaja menjaga kerahasiaannya. Namun diyakini bahwa Syria memiliki senjata-senjata rudal terkuat di kawasan yang bisa menjangkau seluruh wilayah Israel dan target-target lain di kawasan. Di antara rudal-rudal itu adalah "Scud" yang bisa dimodifikasi sebagai senjata kimia.


Syria juga memiliki ribuan tank berbagai tipe dan ukuran yang menjadikan militer Syria sebagai satu kekuatan regional yang paling diperhitungkan.

Sebagai tulang punggung kekuatan regim, militer Syria telah menjadi target utama pemberontakan sejak awal sekaligus memaksa militer terlibat dalam berbagai konflik yang intensif. Dalam hal ini seorang pakar militer Lebanon, Salim Harba, mengungkapkan bahwa mengatakan:

"Tentara Syria sejak mulai terjadinya krisis telah menjadi sasaran utama pemberontak. Mereka menghadapi serangan bertubi-tubi tidak saja di lapangan, namun juga di media massa melalui berita-berita dan yang tidak fair demi untuk memecah belah anggotanya dan menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun itu semua hanya berdampak kecil bagi keutuhan, koheren, kekuatan dan kepercayaan diri tentara."


Sedangkan mantan kepala "Directorate of Orientation in the Lebanese Army" Brigjen (purn), Elias Farhat menyatakan bahwa "tentara Syria telah berusaha untuk menjauhi kekerasan dengan melarang anggotanya membawa senjata dan menembak hingga beberapa insiden membuat beberapa anggotanya mengalami luka-luka dan terbunuh. Sejak peristiwa pembantaian Jisr Al-Shgour dimana sebanyak 200 tentara terbunuh, militer baru diijinkan menggunakan senjata."

Mengingat yang dihadapi adalah perang gerilya, militer Syria melakukan berbagai teknik perang gerilya yang sesuai dengan kondisi medan perang. Menurut Salim Harba militer Syria telah mempersiapkan diri menghadapi perang gerilya berdasarkan fakta bahwa ancaman utama Syria adalah pendudukan Israel. Sebagian besar tentara Syria telah dipersiapkan untuk berperang di daerah-daerah padat penduduk. Dan sejauh ini strategi tersebut telah dijalankan dengan baik oleh tentara Syria, meski yang dihadapi bukan tentara Israel melainkan pemberontak.

Menurut seorang perwira menengah yang menjadi komandan lapangan tentara Syria di medan perang Baba Amro mengungkapkan bahwa militer Syria telah mempersiapkan beberapa satuan khusus perang gerilya, dan setelah 2 tahun peperangan seluruh personil militer telah memiliki kemampuan tinggi untuk menghadapi medan perang gerilya yang diterapkan pemberontak.


"Jika kami mengatakan bahwa kami tidak merasa lelah dan bisa mengatasi para pemberontak di berbagai wilayah dengan mudah, itu semua tidak terjadi secara kebetulan melainkan setelah melalui berbagai ujian dan pengalaman," kata perwira tersebut kepada Almanar


"Sebagai contoh, kami membekali prajurit dengan perlengkapan dan bekal yang lebih banyak agar mereka bisa bertahan dalam kepungan hingga bantuan tiba. Para prajurit kini telah mengenal dengan baik setiap jengkal wilayah di sekitar mereka. Mereka telah mengetahui kemana harus bergerak dan menyelamatkan diri. Mereka juga telah lebih stabil emosinya dan tidak mudah terintimidasi oleh musuh setelah mengenal mereka lebih banyak," tambahnya.


Kontrol dan Kepemimpinan

"Sistem kepemimpinan dan kontrol dalam ketentaraan Syria adalah koheren dan kepemimpinan serta prioritas dalam militer adalah tetap. Perpecahan memang terjadi dan sebagian tidak bersemangat untuk berperang, namun jumlahnya hanya antara 10% atau 15%. Tidak ada komandan yang membelot kecuali beberapa perwira eselon kedua," kata Farhat seraya menyatakan bahwa tentara Syria menyadari betul kepentingan yang dihadapi negaranya.

"Mereka terlatih dan tersenjatai dengan profesional untuk mempertahankan negara dan rakyatnya. Mayoritas tentara Syria memiliki rasa nasionalisme Arab yang tinggi yang anti-zionisme," tambahnya.

Sang kolonel di medan perang Baba Amro menambahkan: "2 tahun setelah peperangan, kini menjadi jelas di mata pakar militer bahwa mereka yang mampu bertahan dan pertempur di ribuan medan perang dan di berbagai lokasi geografis, bergerak maju untuk melindungi negerinya dari kekalahan, terbukti telah menjadi tentara terkuat di dunia. Tentara Syria, meski menghadapi berbagai bentuk agresi dan pembunuhan terhadap pemimpin-pemimpinnya, masih percaya diri dan menakutkan bagi semua musuhnya, terutama Israel."




Untuk mengetahui kondisi medan perang yang sesungguhnya, ahli strategi militer Lebanon Salim Harba mengatakan kepada "Al-Manar": "setelah 2 tahun situasinya sangat menguntungkan tentara Syria karena  pemberontak teroris mengalami kegagalan dan mereka tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk merubah keseimbangan kekuatan di medan perang, tidak juga bisa melakukan serangan dadakan ataupun melakukan inisiatif di medan peperangan, terutama setelah kemajuan tentara secara kasat mata bisa dilihat semua orang di wilayah Rif Dimashq dari Darayya ke arah timur hingga Ghouta dimana tentara tengah melaksanakan satu operasi yang menjanjikan dengan menerapkan strategi perang gerilya yang telah mereka kuasai sepanjang pertikaian."

Sedangkan Brigjen Elias Farhat mencatat: "tentara Syrian mampu menjaga titik-titik strategis di seluruh negara sebagaimana pintu-pintu perbatasan, jalan raya dan bandara-bandara utama seperti di Damascus, Aleppo, dan Latakia, selain juga pangkalan-pangkalan militer utama. Hanya bandara-bandara kecil yang dikuasi pemberontak."

Menurut keterangan militer Syria, kondisi medan perang saat ini adalah sbb:

Aleppo: Tentara Syria telah menguasai lebih dari separo kota serta jalan layang Hama-Aleppo sehingga bandara internasional Aleppo bisa tetap beroperasi dengan aman. Peperangan sengit kini berpusat di beberapa bagian kota dimana pasukan teroris Al-Nusra Front dan brigade Al-Tawhid Ikhwanul Muslimin berbasis. Selain itu di beberapa kawasan di luar kota pemberontak FSA masih menguasai wilayah.

Idlib: Pusat kota sepenuhnya dikuasai tentara ditambah beberapa kawasan di luar kota. Pemberontak masih menguasai sebagian besar wilayah di luar kota yang diabaikan oleh tentara. Satu kawasan di dalam kota bernama Ma'arat An-Numan juga masih dikuasai pemberontak.

Ar-Raqqah: Satu kota yang agak terpencil dan kurang strategis yang menjadi tujuan para pengungsi, dikuasai sepenuhnya oleh pemberontak terutama dari kelompok Al-Nusra Front.

Al-Hasakah: Pusat kota dikuasai penuh oleh tentara dengan beberapa wilayah luar kota dikuasai pemberontak, termasuk pintu perbatasan dengan Turki.

Deir Az-Zour: The center of the city is under the army's control. Militants are

Hama: Pusat kota dan sebagian besar kawasan luar kota dikuasai oleh tentara sementara pemberontak hanya berada di beberapa kawasan luar kota.

Homs: 75% dari kota telah dibersihkan oleh tentara dari para pemberontak. Kawasan Al-Khalediya dan sekitarnya masih dikuasai pemberontak.

Daraa: Pusat kota dan sebagian besar wilayah dikuasai tentara.

Suwaidaa: Sepenuhnya dikuasai tentara.

Latakia dan Tartus: Kawasan-kawasan utama dikuasai tentara Syria kecuali beberapa kawasan di antara Latakia dan Aleppo.

Damascus dan Rif Dimashq: Pertempuran paling hebat tengah berlangsung di Rif Dimashq di luar kota Damaskus dengan tentara Syria kini berada di atas angin.
Tentang kondisi di medan perang Rif Dimashq, seorang kolonel menuturkan kepada "Al-Manar" sbb:

"Di Rif Dimashq saja ada beberapa laporan yang menyebutkan tentara berhasil membunuh lebih dari 10.000 personil pemberontak dalam beberapa waktu terakhir. Di Aleppo pemberontak yang tewas juga besar jumlahnya. Itulah sebabnya mereka menjadikan penduduk sipil sebagai sasaran sebagai bentuk balas dendam."

Prospek Pertempuran
Menurut perhitungan Farhat peperangan di Syria akan berlangsung lama selama Turki masih menjadi basis logistik dan suplai bagi pemberontak. Menurutnya tentara akan mampu bertahan dari infiltrasi pemberontak namun perbatasan sepanjang 800 km antara Syria dan Turki sangat sulit untuk diblokir oleh tentara.
"Jika Turki tidak merubah sikapnya, maka perang akan berlangsung lama."

Masih sulit untuk mengatakan bahwa peperangan telah mencapai klimaks, namun tentara Syria tetap memegang kendali pertempuran dan menebarkan kekuatannya di seluruh wilayah. Mundur dari satu daerah atau daerah lain-lainnya bukan berarti kalah dalam perang. Ada skala prioritas yang ketat dalam pertempuran. Jalur logistik dan kota-kota adalah prioritas utama dan wilayah lain memiliki prioritas sendiri. Waktu akan membuktikan bahwa strategis militer Syria adalah tepat.





Perang ekonomi tidak kalah penting dibanding pertempuran bersenjata, setidaknya hal itu terjadi di Syria. Pada masa-masa awal konflik negara-negara Arab, Turki, negara-negara barat hingga utusan-utusan khusus PBB dan Liga Arab melakukan bujukan hingga ancaman bertubi-tubi kepada pemerintah Syria untuk melepaskan diri dari poros "perlawanan" anti-Israel yang dibentuk Syria bersama Iran, Hizbollah dan Hamas. Bujukan dan ancaman tersebut tidak digubris oleh Presiden Bashar al Assad meski akibatnya Syria harus mengalami "cobaan" yang sangat berat berupa mengalirnya ribuan teroris bersenjata berat ke negeri yang sebelumnya aman dan damai tersebut.

Dalam pidato politik pertamanya setelah konflik bersenjata pecah, Presiden Bashar mengakui adanya beberapa kekurangan yang dilakukan pemerintah terutama dengan terlambatnya implementasi reformasi politik yang telah dirancang sejak tahun 2000. Bashar menyebutkan beberapa faktor yang membuat rencana tersebut terlambat diimplementasikan seperti invasi Amerika di Afghanistan dan Irak, pembunuhan mantan perdana menteri Lebanon Rafiq Hariri disusul dengan Revolusi Cedar di Lebanon yang memaksa penarikan ribuan tentara Syria dari Lebanon.

Untuk mengendalikan krisis, Bashar al Assad meluncurkan serangkaian program reformasi politik seperti penyelenggaraan dialog-dialog politik di berbagai provinsi yang disusul dengan pengesahan konstitusi baru yang mengurangi kekuasaan partai berkuasa, penyelenggaraan pemilihan parlemen dan kepala-kepala daerah, penerapan UU kebebasan pers hingga pemberian amnesti kepada para pemberontak.

Namun semua langkah tersebut tetap tidak memuaskan kekuatan-kekuatan politik yang tidak menginginkan Syria bergabung dengan Iran dan "perlawanan". Tekanan-tekanan politik pun terus ditimpakan terhadap Syria selain pengerahan ribuan teroris bersenjata ke dalam wilayah Syria: sanksi ekonomi dan politik Amerika dan Uni Eropa, penarikan duta-duta besar negara-negara Arab, hingga pembekuan Syria dari Liga Arab.

Saudi dan Qatar juga banyak menggelontorkan dananya untuk membujuk para pejabat militer dan birokrat sipil Syria untuk membelot. Dalam beberapa kasus hal ini mampu menggoyahkan keteguhan para pejabat Syria hingga terjadi beberapa kasus pembelotan pejabat-pajabat dan personil militer Syria. Namun secara keseluruhan jumlahnya tidak terlalu signifikan untuk meruntuhkan pemerintahan Syria.

Deputi Menteri Informasi Syria Khalaf Al-Moftah mengatakan kepada Al-Manar bahwa di segala sektor baik politik, birokrasi pemerintahan, kebudayaan, sosial, pendidikan dan militer, keutuhan pemerintahan tetap terjaga. Hal tersebut disebabkan oleh nasionalisme yang kuat ditambah kemauan bertahan hidup serta kesadaran bersama tentang apa yang sebenarnya terjadi, yaitu adanya konspirasi zionisme internasional untuk menghancurkan Syria sebagai bangsa yang berani melawan Israel.

"Sadar dengan bahaya yang mengancam, rakyat Syria bersatu padu untuk melawan," kata Al-Muftah

Salah satu unsur bangsa Syria yang mampu bertahan dari serangan konspirasi zionis adalah korps diplomat Syria yang menjadi representasi negara Syria di luar negeri. Dubes Syria untuk Turki Nidal Qabalan mengungkapkan kepada Al-Manar alasan-alasan yang membuat Syria mampu bertahan dari konspirasi global sementara pemerintah negara-negara tetangganya seperti Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman berjatuhan dalam hitungan minggu atau bulan.

"Rahasianya adalah struktur masyarakat Syria secara sosial politik, intelektual, budaya, dan idiologi, yang telah ditanamkan oleh mantan Presiden Hafez al Assad. Beliau membangun idiologi tentara yang melintasi batasan agama, sekte hingga partai politik dengan satu pandangan yang kuat, Dataran Golan, dan perlawanan di Lebanon, Palestina, Irak serta semua negara Arab yang wilayahnya diduduki musuh," kata Qabalan.

Qabalan menyebutkan Syria saat ini tengah membayar "pajak kemuliaan". "Kami, baik pemerintah maupun rakyat, telah biasa untuk membayar. Jadi Syria tidak akan menyimpang dan akan semakin kuat mendukung gerakan perlawanan (anti zionisme) hingga tercapai tujuana terbesar yaitu membebaskan Palestina dan seluruh wilayah Arab yang diduduki zionis.


TEKANAN DAN NASIONALISME

Para diplomat Syria di luar negeri mengungkapkan besarnya tekanan yang mereka hadapi untuk melakukan pembelotan. Selain ancaman, mereka juga mendapat bujukan dengan imbalan sejumlah besar uang serta jabatan yang menggiurkan.

"Di seluruh dunia Syria memiliki 65 kedutaan dan kanto-kantor misi internasional dan sekitar 60 konsulat. Korps diplomatik adalah sangat kompak, perpecahan bisa diabaikan di antara 1.500 pejabat diplomatik yang ada," kata Qabalan.

Pimpinan Redaksi koran Al-Thawra Ali Qassem mengatakan kepada Al-Manar bahwa nasionalisme rakyat Syria tidak bisa dinegosiakan, dan hal inilah yang membuat Syria selama ini tetap bertahan.

"Rasa nasionalisme rakyat Syria berakar pada kebudayaan kuno Syria yang telah berusia 7 ribu tahun. Seluruh rakyat Syria terikat dengan tanah airnya serta dengan tujuan nasional bersama. Kekompakan korps diplatik Syria merupakan hal yang wajar, terutama saat terjadinya berbagai intimidasi, dan tekanan pada masa-masa awal krisis," kata Qassem.

Menurut Qassem, tekanan terhadap korps diplomat Syria terbagi melalui tiga bentuk:

Pertama: intimidasi, kebohongan dan pembesar-besaran isu.
Kedua: pemerasan, ancaman, hingga ancaman fisik.
Ketiga: fabrikasi atau rekayasa.

Qassem menyebutkan bahwa keteguhan para diplomat Syria merupakan cerminan dari keteguhan rakyat Syria yang membuat konspirasi hebat selama 2 tahun lebih tidak mampu mengalahkan Syria.

"Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa korps diplomatik Syria telah terlatih baik dan memiliki kualitas dan telah lama terlibat dalam pertempuran diplomatik di tingkat Arab dan dunia dalam berbagai bentuk," tambah Qassem.
 
Sumber :  http://www.satumedia.info/2013/05/mengapa-syria-tak-kalah-juga.html#.UZTsiUrPN_8

Sabtu, 04 Mei 2013

Arab Spring dan Peluang Indonesia Menjadi Kiblat Muslim Dunia

 Pict : http://www.shnews.co/

"Terlepas dari masalah korupsi dan lain sebagainya, kita harus mengakui bahwa Indonesia jauh lebih baik dari negara negara 'islam' lainnya, dalam hal demokrasi"

(Hasibullah Satrawi, Pengamat Timur Tengah)

Menarik sekali apa yang di ucapkan salah satu pengamat politik Timur Tengah ini mengenai pencapaian Indonesia dalam membangun sistem demokrasi yang stabil dan jauh dari konflik kekerasan. Tentu ada beberapa bagian yang harus terus menerus kita perbaiki, tetapi kemajuan yang di capai bangsa Indonesia adalah sesuatu yang layak di syukuri.

Dalam ceramahnya di acara diskusi bulanan Gusdurian, Satrawi menjelaskan bahwa masa transisi sebuah rezim di Timur Tengah pada umumnya hanya di tempuh melalui dua hal. Pertama melalui pergolakan revolusi yang seringkali berdarah darah, dan kedua transisi berdasarkan faktor keturunan. Timur Tengah tak ubahnya merupakan kumpulan kerajaan kerajaan yang di sana kebebasan berpendapat sangat di batasi, tidak ada demokrasi dan segala sesuatunya di tentukan oleh penguasa tunggal. Baik yang murni berbentuk kerajaan, maupun negara negara yang mengadopsi sistem lain.

Revolusi Tunisia, Mesir dan Libya misalnya, adalah sebuah contoh di mana transisi kekuasaan harus di tempuh dengan cara yang sangat radikal, alot, berdarah darah dan terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama. Itupun dalam perjalanan di fase selanjutnya, mereka harus melalui konflik demi konflik yang terkadang sulit untuk di kontrol. Mesir pasca revolus misalnya, gesekan antar faksi yang dulu bersatu menggulingkan Mubarak masih sangat kentara. Terutama antara kubu konservatif yang di wakili Ikhwanul Muslimin dan sekarang memegang kekuasaan, dan kubu moderat yang berada di kubu oposisi. Pergulatan di antara kedua kekuatan ini di lapangan juga masih menyisakan letupan letupan berupa kekerasan fisik. Begitupun yang terjadi di Irak, Libya dan sebagainya.


Benang Kusut Suriah

Dua tahun sudah berlalu sejak pecah demonstrasi rakyat Suriah yang akhirnya berujung pada perang saudara. 100.000 nyawa melayang sia sia, jutaan lainnya hidup tak menentu di kamp kamp pengungsian. Hingga hari ini tidak satupun orang yang bisa memastikan kapan konflik itu akan segera berakhir. Revolusi Suriah menurut Satrawi tak ubahnya sebuah revolusi yatim dimana tak ada satupun kekuatan yang sanggup mengontrolnya.

Konflik itu nyatanya tidak sekedar melibatkan Bashar Al Asad dan kubu oposisi, akan tetapi sudah melebar kemana mana. Ada Saudi dan beberapa sekutunya yang terlibat membantu oposisi dalam hal pendanaan dan penyediaan tempat latihan. Ada Turki yang di duga memasok peralatan tempur dan mengendalikan milisi milisi anti Assad. Ada Amerika dan sekutu Eropanya yang diam diam mengirimkan ahli strateginya untuk membantu kaum oposisi. Sementara di kubu Assad, banyak pihak yang juga membantunya, seperti Iran dan Rusia.

Di medan tempur, selain tentara Suriah dan pasukan oposisi (FSA) yang terlibat pertarungan sengit, hadir pula petempur petempur yang datang dari luar Suriah. Al Qaeda misalnya, konon sudah memerintahkan anggotanya yang ada di Irak, Libya, Afghanistan dan lain sebagainya untuk menjadikan Suriah sebagai ladang jihad utama. Seperti yang kita tahu, Al Qaeda merupakan organisasi militan yang sudah banyak makan asam garam pertempuran. Mereka sangat kuat dan berpengalaman. Sementara di kubu seberang, ada petempur Hizbullah yang berbasis di Libanon dan terlibat langsung di medan perang.

Situasi inilah yang menurut Satrawi menjadikan Suriah berbeda dengan revolusi lain. Bahkan Amerika Serikat yang biasanya tegas dalam mengambil sikap, kini di landa kegamangan. Memang, Amerika sejatinya menginginkan Bashar Assad turun dari singgasananya. Lenyapnya Assad dari Suriah setidaknya bagi Amerika akan sangat mengurangi pengaruh Iran, musuh bebuyutannya. Akan tetapi untuk membantu oposisi secara total, Amerika juga dalam posisi dilematis. Sebab di sana ada  Al Qaeda yang juga menjadi momok bagi Amerika. Menyerbu Suriah bisa jadi akan melapangkan jalan radikalis menguasai Suriah. Makanya taktik yang di pakai oleh Amerika adalah dengan menarik ulur konflik. Dia hanya akan memberikan sedikit bantuan jikalau posisi pemberontak Suriah sudah mulai terdesak. Tapi ketika kedua belah pihak mencapai posisi seimbang, Amerika akan memilih diam.


Indonesia Punya Kesempatan

Secara umum, konflik di Suriah dan negara Timur Tengah lainnya tidak memberikan dampak besar pada masyarakat Indonesia. Kalaupun ada, eksesnya sangat kecil dan tidak sampai menimbulkan gesekan fisik antara yang pro pemerintah Suriah dan lawannya. Kenapa ?.

Karena setidaknya yang sekarang ini berkonflik adalah dua kekuatan yang selama ini justru seringkali membuat repot mainstream muslim di Indonesia. Satu pihak adalah kaum salafi dukungan Saudi dan sekutunya. Yang di Indonesia sering berbuat onar. Sementara di lain pihak ada kubu Syiah yang juga tak kalah merepotkannya. Maka tidak ada gunanya bagi Indonesia untuk memihak salah satu dari kedua kubu.

Yang mestinya di lakukan bangsa Indonesia, baik umat Islam maupun pemerintah adalah memanfaatkan situasi yang terjadi di Timur Tengah untuk menaikkan daya tawarnya di kancah internasional. Minimal di mata negara negara berpenduduk Islam lainnya. Yang dalam bahasa Hasibullah Satrawi, target yang masuk akal untuk kita adalah menjadikan Indonesia sebagai kiblat bagi negara negara Islam.

Di dunia Islam, sedikit sekali negara yang boleh di katakan mengusung demokrasi yang stabil dan kokoh. Satrawi menyebut, hanya ada 3 negara 'islam' yang bisa di anggap mapan dalam demokrasi. Iran, Turki da Indonesia.

Iran adalah negara yang sistem demokrasinya relatif stabil. Namun memiliki sedikit kelemahan. Yaitu faktor ke'syiah'an Iran. Kelompok ini di dunia Islam adalah kelompok yang relatif kecil. Jadi cukup mustahil kalau negara negara lain bersedia menjadikan Iran sebagai kiblat politik. Yang kedua adalah Turki. Negara yang wilayahnya berada di dua benua ini di kenal memiliki sistem demokrasi yang mapan dan teruji stabil. Akan tetapi Turki juga bukan tanpa kelemahan. Negara ini sejak awal sudah memproklamirkan diri sebagai negara sekuler. Di mana mereka memisahkan sama sekali antara agama dan negara. Di mata negara sekuler lain, baik Amerika maupun Eropa, mungkin Turki adalah bentuk ideal, akan tetapi sepertinya tidak akan di terima oleh banyak negara negara Islam. Oleh sebab itu, mustahil juga negara negara Islam bersedia mengadopsi Turki sebagai model. Dan paling mungkin adalah Indonesia. Negara yang tidak secara tegas menjelma sebagai negara sekuler maupun agama. Akan tetapi mengakomodir keduanya ke dalam sebuah sistem.

Selain daripada itu, Indonesia juga berpeluang menjadi barometer, menjadi kiblat bagi negara negara Islam lainnya dalam hal mengelola konflik sektarian. Namun begitu, tergantung kepada kita semua dan terutama pemerintah Indonesia, apakah mampu memanfaatkan celah ini atau tidak.


Jakarta, Mei 2013
Di ramu dari acara diskusi Jum'at Pertama Gusdurian di Kantor Wahid Institute, Matraman, Jakpus

Minggu, 17 Maret 2013

Layanan Gratis Sms Bangun Subuh GUBRAK!!!

Ini adalah program gratis dari GUBRAK dimana anda akan mendapatkan servis berupa Sms Sangun Subuh setiap hari sepanjang tahun tanpa perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Program ini mulai mengudara pada tanggal 13 Maret 2010 hingga sekarang dan menyasar 700 lebih pengguna ponsel seantero Indonesia.
Layanan ini di gawangi oleh relawan relawan terbaik Gubrak.
Dengan bergabung di program SBS, anda berkesempatan untuk menambah pengetahuan tentang ke Indonesiaan melalui sms sms yang kami kirim ke HP anda.
Selain itu, anda juga berkesempatan untuk membangun korespondensi sesama Gubraker (sebutan anggota GUBRAK) melalui program tukar nomer HP, tukar email facebook dan lain lain.
Sms subuh makin seru dengan sisipan sisipan sms LUCU terkini yang sudah pasti membuat anda ngakak...
Ketik : SBS/Nama Akun FB (email)/Tanggal Lahir/Domisili/Nomer HP
Contoh : SBS/Komandan Gubrak(gubrakkomandan@rocketmail.com)/20-09-79/Jakarta/08123456789

Untuk mendaftakan teman agar dapat layanan Sms Bangun Subuh
Ketik : Akunmu/SBS/Email (akun FB teman)/Tanggal Lahir Teman/Domisili Teman/Nomer HP Teman
Contoh :Komandan Gubrak/SBS/Paijo88@yahoo.com (Paijo Stres)/19-07-87/Aceh/08181818XXX

Kirim ke :
085776412809 
(Hafidz)
085645049578 
(Lestari)
* untuk pengguna Indosat
081946850869 
(Harun)
081913443080 
(Imam)
* untuk pengguna XL
085203071071
(Yuyun)
* untuk pengguna Telkomsel

083899037416
(Komandan Gubrak)
* untuk pengguna Axis, Esia, Fren dll

*Hanya yang sudah terdaftar sebagai Gubraker yang boleh mendaftarkan temannya
*Khusus bulan Ramadhan, sms di kirim sesuai jadwal sahur anda
Selamat bergabung....

Jumat, 15 Februari 2013

Detik-detik Meteorid terjun bebas di Rusia

 
Sebuah ledakan meteorit udara telah membuat kekacauan di Ural Rusia. Ledakan ini menyebabkan kepanikan warga rusia dan mencari bantuan media di kota Ural Rusia. Beberapa bangunan rusak, serta ribuan jendela pecah.

Beberapa video amatir muncul di youtube, menunjukkan bola api besar terbang bebas di atas bangunan dan meledak dengan ledakan yang sangat kuat, seperti yang di beritakan Rusian Today sebuah pabrik seng di kota setempat terkena dampak terparah dengan dinding yang runtuh. 

Setidaknya ada sekitar 900 orang yang terkena luka-luka dari insiden Asteroid yang membentuk ledakan Fireball. berikut detik - detik kronologi dari berita Rusian today : 

19:23: Video rekaman dari lubang 6 meter yang dibuat oleh puing-puing meteorit di Danau Chebarkul di wilayah Chelyabinsk

18:48 GMT: Ini adalah kedua kalinya meteor telah jatuh di wilayah Chelyabinsk Rusia. Pada Juni 1949 sebuah meteor yang disebut 'Kunashak' mendarat di daerah tersebut, sekitar 20 buah, dengan berat total 200 kg. Namun, 'Kunashak', atau puing-puing nya, belum pernah ditemukan di danau.
17:50 GMT: Pihak berwenang di wilayah Chelyabinsk menilai kerusakan dari meteorit pada 1 miliar rubel, kata Gubernur Mikhail Yurevich.
17:49 GMT: Kementerian Darurat mengatakan bahwa setidaknya 300 rumah rusak, 297 bangunan terisolasi, dan 3 stasiun distribusi gas terputus dan mengganggu pasokan lebih dari 2000 orang.
17:34 GMT:
menurut Juru bicara Kementerian Dalam Negeri mengatakan "Akibat dari jatuhnya meteorid sekitar 1200 orang terluka di wilayah Chelyabinsk"

16:19: Bola api yang melanda di Rusia merupakan batu terbesar yang jatuh di bumi sejak tahun 1908. Majalah Nature mengatakan. Ledakan itu bahkan lebih kuat daripada tes terbaru nuklir Korea Utara, tambah jurnal Inggris. Berbeda dengan Russian Academy of Science, diperkirakan bahwa massa pecahan meteoid sekitar 40 ton sebelum memasuki atmosfer. dan para ilmuwan Rusia menempatkan massa pada 10 ton.


Berikut Foto yang berhasil di dapat media gubrak :



Kerusakan yang terjadi setelah pecahan meteoid menghantam bumi

FOTO AMATIR DETIK -DETIK METEROID JATUH
  
Lintasan meteroid yang terekam kamera