Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2013

Mari, Selamatkan Pria Dengan Tidak berpoligami !!!


Ini tema usang yang sebenarnya sudah saya bahas berkali kali. Baik melalui catatan maupun postingan postingan status di facebook. Soal perlu atau tidaknya para pria berpoligami di tinjau dari segi rasio kependudukan. Beberapa kawan, terutama kaum pria sepertinya memang belum mau percaya dengan data statistik yang kita kemukakan.

Bukan hanya teman teman di facebook, akan tetapi pengingkaran fakta bahwa pria lebih banyak dari wanita juga seringkali kita dengar dari para dai, penceramah, ulama dan aktifis keagamaan lain. Nyaris belum pernah saya mendengar statemen mereka yang mengatakan bahwa jumlah penduduk dunia saat ini lebih banyak laki laki daripada perempuan. Entah karena tidak mengerti fakta statistik atau memang sengaja membohongi publik, yang jelas sebagian besar mereka selalu berbicara tanpa data dan fakta valid.

Para pria yang berdebat dengan saya dan berpendapat bahwa wanita lebih banyak dari pria, hampir semuanya tidak ada yang berargumen dengan menggunakan data dan fakta yang bisa di pertanggungjawabkan secara ilmiah. Misalnya, mereka hanya mengatakan di lokasi A wanitanya lebih banyak, di lokasi B wanitanya juga lebih banyak. Yang lucu, mereka mengajukan fakta di bangku sekolah SD dan begitu yakin mengatakan bahwa di sekolah dasar, anak perempuan lebih banyak. Ketika kita minta data akurat, tidak ada yang sanggup memberikan.

Justru saya menemukan data penting yang bisa di pertanggungjawabkan dan berasal dari institusi terkait. yaitu Kementerian Pendidikan. Di sana jelas tercatat bahwa siswa SD dengan jenis kelamin laki laki lebih banyak daripada perempuan. Berikut rinciannya :

Jumlah Siswa SD 2010

Laki laki : 12.497.003 siswa
Perempuan : 12.366.933 siswa
Total : 24.863.936 siswa
Selisih : 130.070 siswa


Sangat di sayangkan, opini yang selama ini sering di kembangkan justru membohongi publik. Dan itu di lakukan oleh aktifis aktifis keagamaan tanpa seorangpun berani membantah. Bahkan tidak sedikit pula aktifis keagamaan perempuan juga seringkali termakan opini dan ikut ikutan menyatakan bahwa wanita jumlahnya lebih banyak.

Mungkinkah ini di sengaja ?. Untuk kepentingan kelompok ?. Untuk menjustifikasi kebolehan berpoligami ?. Bisa saja. Tapi sepertinya lebih banyak karena mereka tidak memahami data kependudukan. Kalau ini alasannya, masih bisa di toleransi. Tapi kalau opini itu di lakukan dengan sengaja, agaknya kita punya PR penting. Yaitu membongkar motivasi di balik kebohongan itu.

Bicara rasio kependudukan, agaknya bukan hanya meliputi siswa SD atau yang berumur 7-12 tahun semata. Bahkan di semua strata umur, dari 0 - 65 tahun, jumlah penduduk laki laki di Indonesia tetap lebih banyak dari perempuan. Perempuan hanya lebih banyak dari pria di jenjang umur 65 tahun ke atas. Anda bisa melihat sendiri datanya di sini : http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?option=com_proyeksi&task=show&Itemid=172

Total Penduduk 2012 dalam ribuan

Laki laki : 119.689,9
Perempuan : 119.475,4
Selisih : 214,5

Ada surplus jumlah pria di semua strata umur, 200 ribu lebih. Selisih ini bisa lebih besar jika kita bandingkan satu persatu di setiap strata umur. Kecuali di umur 65 tahun ke atas yang jumlah wanitanya lebih banyak dari pria. Jika ini yang menjadi acuan, para pria yang hendak berpoligami sebaiknya menikahi saja wanita yang umurnya di atas 65 tahun. Inipun kalau di lakukan, masih tetap banyak pria yang tidak mendapat pasangan.

Saya tergelitik dengan pendapat salah satu teman yang mengatakan bahwa wanita wanita yang di poligami bisa di ambil dari 'jatah' para pemuka agama Katolik (yang sebagian mengharamkan pastur menikah). Sekilas masuk akal. Tapi menurut saya lucu juga. Bukankah para suster dan biarawati juga tidak boleh menikah ?. Jadi pria yang tidak menikah di kalangan agamawan nyatanya juga berbanding lurus dengan wanitanya yang sama sama tidak menikah.

Secara statistik, landasan poligami sangat tidak masuk akal. Justru ketika poligami di gelorakan, yang menjadi korban adalah kaum pria. Karena ada banyak pria yang terancam tidak mendapatkan pasangan. Kalau ini terjadi, bagaimana solusi yang di berikan agama ?.

Menjadi gay, di larang. Tapi para pria yang punya kemampuan finansial seenaknya saja menghabiskan stok perempuan. Menurut saya jargon : "MARI SELAMATKAN WANITA DENGAN POLIGAMI" harus di ubah. Menjadi "MARI SELAMATKAN PRIA DENGAN TIDAK BERPOLIGAMI".

Penulis : Salma Rugayya

Minggu, 17 Maret 2013

Layanan Gratis Sms Bangun Subuh GUBRAK!!!

Ini adalah program gratis dari GUBRAK dimana anda akan mendapatkan servis berupa Sms Sangun Subuh setiap hari sepanjang tahun tanpa perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Program ini mulai mengudara pada tanggal 13 Maret 2010 hingga sekarang dan menyasar 700 lebih pengguna ponsel seantero Indonesia.
Layanan ini di gawangi oleh relawan relawan terbaik Gubrak.
Dengan bergabung di program SBS, anda berkesempatan untuk menambah pengetahuan tentang ke Indonesiaan melalui sms sms yang kami kirim ke HP anda.
Selain itu, anda juga berkesempatan untuk membangun korespondensi sesama Gubraker (sebutan anggota GUBRAK) melalui program tukar nomer HP, tukar email facebook dan lain lain.
Sms subuh makin seru dengan sisipan sisipan sms LUCU terkini yang sudah pasti membuat anda ngakak...
Ketik : SBS/Nama Akun FB (email)/Tanggal Lahir/Domisili/Nomer HP
Contoh : SBS/Komandan Gubrak(gubrakkomandan@rocketmail.com)/20-09-79/Jakarta/08123456789

Untuk mendaftakan teman agar dapat layanan Sms Bangun Subuh
Ketik : Akunmu/SBS/Email (akun FB teman)/Tanggal Lahir Teman/Domisili Teman/Nomer HP Teman
Contoh :Komandan Gubrak/SBS/Paijo88@yahoo.com (Paijo Stres)/19-07-87/Aceh/08181818XXX

Kirim ke :
085776412809 
(Hafidz)
085645049578 
(Lestari)
* untuk pengguna Indosat
081946850869 
(Harun)
081913443080 
(Imam)
* untuk pengguna XL
085203071071
(Yuyun)
* untuk pengguna Telkomsel

083899037416
(Komandan Gubrak)
* untuk pengguna Axis, Esia, Fren dll

*Hanya yang sudah terdaftar sebagai Gubraker yang boleh mendaftarkan temannya
*Khusus bulan Ramadhan, sms di kirim sesuai jadwal sahur anda
Selamat bergabung....

Jumat, 01 Maret 2013

Tehnologi Hancurkan Bakat Menulis Generasi Muda ?

Membaca surat cinta, yang tuan tuliskan
Ingat kisah cinta Siti Nurbaya
Merangkaikan pujian berperibahasa
Ku tahu maksudnya menyanjung diriku
Pandainya tuan pula membuat bahagia
Pada yang pertama mengenal cinta
Tak pernah sekalipun aku melupakan
Membaca suratmu, surat tanda cinta
Wajah cantik dan ayu siapa yang punya
Mata lentik dan sayu siapa yang punya
Ku yang bangga bahagia siapa yang punya
Kalau bukan tuan kekasih hati


Ada yang ingat lagu ini ?
Bagi yang hidup di era 80 - 90an, lagu ini tentu sangat akrab di telinga. Lagu yang di bawakan Nur Afni Oktavia ini dahulu di masa jayanya merupakan lagu favorit muda mudi kala itu. Bukan hanya suara biduannya yang enak di dengar, akan tetapi syairnya juga sangat indah.

Seperti yang tertulis dalam lirik di atas, dahulu kala sebelum ada tehnologi handphone, para remaja menggunakan media tulisan manual alias di atas kertas untuk sekedar berkirim kabar, menyatakan cinta, menulis puisi dan merayu pujaan hatinya. Mungkin bagi remaja sekarang, menulis surat untuk kekasihnya dengan metode itu sudah di anggap ketinggalan jaman. Selain proses untuk sampai tujuannya terlalu lama, tentu saja juga biayanya lebih mahal daripada kalau kita menulis pesan melalui handphone, jejaring sosial, BBM dan lain sebagainya.

Lalu, apa hubungannya narasi di atas dengan penurunan bakat menulis para remaja ?. Bukankah bakat menulis juga bisa di asah dengan menggunakan fasilitas tehnologi yang ada ?. Bukankah bertukar puisi, merayu pasangan dan merangkai kata kata indah juga bisa di lakukan di era modern ini ?. Bahkan dengan varian yang lebih luas. Melalui ponsel, melalui jejaring sosial, blog dan sebagainya.

Betul !!!. Tidak dapat di pungkiri, bahwa tehnologi yang sekarang ada masih sangat memungkinkan seseorang untuk mengasah kemampuannya dalam menulis. Bahkan segalanya menjadi lebih praktis dan simple.

Namun demikian menurut hemat penulis, tehnologi yang sekarang ada secara tidak sadar sebenarnya berpotensi mengikis bakat menulis generasi masa kini. Tehnologi mendorong manusia untuk melakukan segala aktifitasnya serba cepat dan terkadang tanpa melalui pemikiran yang matang dan terukur. Yang simple saja, remaja jaman dahulu untuk sekedar melakukan pedekate saja membutuhkan waktu yang relatif lama. Terutama bagi mereka yang pujaan hatinya berada nun jauh dari tempat tinggalnya. Berbeda dengan sekarang, karena tehnologi serba canggih, komunikasi serba cepat, untuk melakukan itupun tidak memerlukan waktu yang lama. Cukup pencet nomer, ngomong langsung dan rayu dia. Kalaupun tidak tersedia biaya, bisa di lakukan dengan cara mengirim pesan pendek. Praktis bukan ?.

Dari segi kepraktisan tentu saja iya. Akan tetapi dari segi kualitas belum tentu bisa di setarakan. Kenapa ?.

Bagi remaja jaman dulu, menulis surat bukan hanya wahana untuk sekedar mengungkapkan isi hati. Akan tetapi juga cara mengolah citarasa seni dalam dirinya. Tak heran, seseorang bisa berlama lama di depan secarik kertas, berfikir tentang apa yang layak dan tidak layak untuk di tulis, berupaya untuk meng indahkan guratan penanya serta berusaha sebisa mungkin apa yang ada di atas kertas itu bisa mewakili dirinya. Unsur seninya lebih variatif. Keindahan bahasa, keindahan tulisan, keindahan kertasnya dan lain sebagainya. Sesuatu yang nantinya akan di nilai oleh si penerima.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, tak jarang seseorang berulang ulang membuang tulisannya ke tong sampah, mengambil kertas baru, menulis lagi dan lagi.....!. Hingga di rasa sempurna. Tentu saja terlalu bertele tele. Akan tetapi jika kita kaji lebih mendalam, sebenarnya kegiatan kegiatan itu secara tidak langsung telah mengolah bakat kita sebagai seorang penulis.

Berbeda dengan era sekarang. Kita tak perlu berlama lama untuk berpikir. Cukup memulainya dengan menanyakan 'apa kabar, sudah makan belum, ada waktu luang atau tidak ?' dan lalu semuanya mengalir begitu saja dengan tempo cepat dan tanpa berfikir soal seni keindahan dalam menulis. Pedekatenya cepat, nembaknya cepat dan kalaupun putus juga berlangsung dengan cepat pula.

Maka, jangan heran jika manusia modern jaman sekarang lebih jarang yang memiliki kemampuan menulis. Bukan saja menulis panjang sudah tergantikan dengan pesan pendek, tapi juga pada akhirnya pesan pendekpun semakin terkikis dengan metode komunikasi langsung melalui suara. Yang terjadi kemudian adalah gejala makin banyaknya orang yang pandai berbicara tapi tidak bisa menulis. Karena memang dari awal sudah terbiasa dengan metode yang serba cepat seperti itu.

Menulis memang belum tentu lebih baik daripada berbicara. Karena yang terpenting adalah idenya tersampaikan dengan baik. Dengan menulis ataupun berbicara. Akan tetapi kita sering lupa, bahwa menulis memiliki keunggulan tersendiri di banding bicara. Yaitu mengenai keabadian dan kelangsungan sebuah ide. Tulisan lebih mudah di simpan dan di kenang dalam jangka waktu yang lama. Karena ada material yang bisa di simpan. Berbeda dengan berbicara. Hari ini kita bicara, mengemukakan pendapat maupun ide, namun ketika si pendengarnya berlalu dari hadapan kita, belum tentu ia akan terus bisa mengingat ucapan kita secara tepat dan sesuai dengan aslinya. Kalaupun ia adalah penghafal yang sangat cerdas, toh pesan itu hanya mampu bertahan di memori otaknya dalam waktu terbatas. Ketika ia meninggal atau memasuki masa pikun, pesan akan terkikis perlahan kemudian hilang.

Tapi tulisan masih terus bisa bertahan. Bisa di wariskan, di daur ulang sesuai dengan aslinya atau mungkin di modifikasi.

So, kalau anda ingin di kenang sepanjang masa, menulislah....!!!.

Senin, 18 Februari 2013

Anas dan SBY Menjebak KPK dan Pakta Integritas Tanpa Integritas

“Papi, jelaskan konspirasi Anas dan SBY terhadap KPK dan Pakta Integritas setia pada SBY. Mohon pencerahannya, Papi!” pinta Monahara remaja usia 17 tahun 5 bulan, cantik, seksi, bertakwa, iman, berjilbab, pandai berbahasa Arab, Prancis, Jerman dan Inggris kepada ayahnya Sabung tukang sabung ayam Bangkok tetangga saya.

Pakta Integritas tidak mengubah apapun dalam Partai Demokrat. Pakta Integritas hanyalah sandiwara politik pencitraan ala SBY di tengah integritas PD yang babak-belur, rating dan hasil survey menunjukkan PD sebagai partai gurem. SBY dan pengurus PD beserta petingginya melakukan pencitraan seolah-olah PD sedang mengalami krisis. Padahal ini hanya pencitraan politik biasa. Justru Pakta Integritas ini adalah jebakan Anas dan SBY terhadap KPK, sebuah Pakta Integritas tanpa integritas.
“Loh apa hubungannya?” tanya Monahara si jelita sambil membetulkan jilbabnya lagi.

Mengherankan, berbondong-bondong para orang cerdas cerdik pandai yang tergabung dalam gerbong politik Partai Demokrat menandatangani Pakta Integritas untuk bersetia kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Sepuluh butir isi Pakta Integritas itu pada intinya untuk memberikan jaminan bahwa para pengurus dan kader setia kepada partai. Para pengurus bersedia berlaku baik demi nama baik partai dan seterusnya. Namun senyatanya tak ada apa-apa antara Anas dengan SBY, yang ada adalah upaya penyelamatan baik untuk Anas dan buat SBY. Anas dan SBY tidak boleh pecah kongsi karena keduanya saling membutuhkan. Keduanya saling memegang kunci keselamatan.

“Papi, apakah maksud sesungguhnya dari Pakta Integritas Partai Demokrat ini? Apakah Pakta Integritas ini akan efektif untuk Partai Demokrat? Ataukah Pakta Integritas ini hanya pepesan kosong dalam ranah politik pencitraan gaya SBY?” tanya Monahara sambil melepaskan jilbab di depan ayahnya, aku ngintip lewat jendela rumah Sabung yang lebar.

Pertama, Pakta Integritas hanyalah upaya memerkuat posisi SBY dalam pertarungan perebutan peran politik menjelang 2014. SBY merasa Anas Urbaningrum semakin kuat. SBY harus bertindak karena dia tahu Anas memiliki kekuatan yang bisa mengubah tujuan SBY yang akan mendudukkan anggota keluarganya Ani Yudhoyono atau Pramono Edhie Wibowo sebagai calon presiden.

Kedua, SBY menyalip di tikungan dan memanfaatkan tuduhan terhadap Anas terkait kasus Hambalang dan korupsi lainnya yang hanya berdasarkan tudingan dan nyanyian M. Nazaruddin. Secara hukum Anas masih bersih dan tak tersangkut masalah hukum.

Ketiga, SBY gerah dengan kondisi Partai Demokrat yang semakin terpuruk akibat korupsi para kadernya. Para koruptor dari Partai Demokrat sungguh culun dan tidak professional cara mengorupsi uang. Partai demokrat seharusnya belajar dari korupsi PKS dan Golkar yang sudah sangat canggih sehingga sangat sulit untuk dilacak - kecuali apes atau sedang bad luck seperti yang menimpa Luthfi Hasan Ishaaq Presiden PKS terkait sapi impor yang dibumbui dengan gratifikasi seks dengan pelaku Ahmad F dan Maharany Suciono.

Keempat, Pakta Integritas itu ternyata juga tidak mengambil alih wewenang dan tugas serta fungsi Anas Urbaningrum. Pakta Integritas itu hanya jebakan bagi KPK oleh SBY dan Anas agar KPK melakukan langkah kejelasan dan tidak menyandera Partai Demokrat terkait kasus korupsi Anas yang dituduhkan oleh M. Nazaruddin. Buktinya Anas masih berkuasa di DPP dan hadir dalam setiap kesempatan. Dan, permintaan bahwa Anas disuruh berkonsentrasi menghadapi masalah hukum dengan KPK juga tidak ada apa-apa.

KPK yang dengan cepat merespons permintaan SBY terkait status hukum Anas dengan mengeluarkan Sprindik yang diyakini KPK sebagai upaya testing the water, namun justru menunjukkan KPK dikendaikan oleh SBY dan menjadi korban konspirasi Anas dan SBY. KPK dijebak untuk membuka diri dan SBY serta Anas ingin memastikan posisi KPK terkait nyanyian M. Nazaruddin. Kekhawatiran SBY dan Anas sangat beralasan karena jika Anas ditangkap KPK maka akan membawa konsekuensi hukum dan politik langsung kepada keluarga dan SBY sendiri. Hal ini disebabkan oleh Anas - dan juga Andi Nurpati - yang memegang kunci rahasia pemilu presiden 2004 dan 2009 yang memenangkan SBY sebagai presiden.

Jadi rangkaian antara pernyataan SBY mengenai Anas kepada KPK, kebocoran Sprindik Anas dari KPK, pernyataan Abraham Samad dan Johan Budi, juga pidato penyelamatan Partai Demokrat, dan Pakta Integritas adalah dagelan politik yang ditujukan kepada KPK agar status Anas jelas demi keselamatan Anas dan SBY. KPK telah menjadi korban politik tingkat tinggi Anas dan SBY.

Anas pun seolah menuduh SBY seperti dalam ungkapan ‘Sengkuni’ dan ‘Ojo Dumeh’ yang dinggap perlawanan terhadap SBY. Kini semuanya berjalan normal. KPK tidak melakukan penentuan atas status hukum Anas. Anas tetap memimpin Partai Demokrat. Tinggal KPK yang gigit jari dipermalukan karena terbukti telah diintervensi oleh SBY dan Anas. Memalukan.

Kini menarik apa yang akan dilakukan oleh KPK setelah dipermalukan dengan Sprindik - yang awalnya oleh KPK dibocorkan untuk mengetahui dukungan terhadap Anas atau SBY yang lebih kuat - ternyata antara SBY dan Anas melakukan langkah politik yang brilian. Bukti kelihaian Anas bermain politik.

“Papi, terima kasih!” kata Monahara si jelita sambil memeluk Sabung Bahtera Yudha (SBY) dengan mesra sebelum dia kabur keluar rumah menemui Pingkan, ibu muda cantik, seksi, anggun salah satu istri dari empat istri Dai yang telah menunggu di halaman dengan Ducati-700 cc-nya. Mereka akan shopping ke mall berdua.
Salam bahagia ala saya. 

Sumber : kompasiana

Kamis, 14 Februari 2013

Kebodohan Togog atau Ketogogan yang bodoh

 Sengaja Jum'at pekan ini media Gubraker mengangkat Tema Kebodohan Togog atau Ketogogan yang bodoh, semoga kita dapat mengambil hikmah di balik esai yang saya ambil dari Muhammad Ainun Nadjib

  • Togog selalu salah posisi sejarahnya, karena Tuannya tidak pernah mengakui dirinya raksasa, melainkan merasa yakin dirinya adalah satria halus luhur budi.
 
  • Togog telah membayarkan hampir seluruh hidup dan nasibnya, waktu, pikiran dan hartanya kepada proses kebenaran dan keadilan, namun di mata Tuannya maupun di anggapan banyak wong cilik teman-temannya sendiri ia adalah pencopet yang harus selalu diwaspadai.
 
  • Togog dilupakan oleh Tuan dan rekan-rekannya bahwa ia sesungguhnya adalah Dewa yang bisa dan berhak memiliki sangat banyak hal, yang toh hanya ia ambil sangat sedikit dari itu semua. Togog diwajibkan menjadi pengemis compang camping. Kebersahajaan Togog dianggap sebagai kewajiban, padahal itu adalah kemurahan hatinya. Kemelaratan dan kesengsaraan Togog melegakan hati mereka.
 
  • Togog “ada” tidak ada bedanya dengan Togog “tidak ada”, demikian pada pandangan Tuan dan rekan-rekannya. Bagi Togog itu adalah kegagalan diri. “Ada” yang tidak ada bagi Togog adalah dosa, maka ia berupaya untuk “tidak ada” yang semoga ada.
 
  • Togog berjongkok, orang memandang pantatnya dan merasa yakin bahwa itu adalah wajahnya. Orang mengintip Togog dari lubang di antara dua jari jemarinya, dan orang itu yakin bahwa Togog lebih kecil dibanding lubang di antara dua jari jemarinya. Perut Togog menutupi pandangan orang terhadap rembulan, dan orang yakin bahwa badan Togog lebih besar dari rembulan.
 
  • Togog bilang daun, yang didengar orang adalah waru: maka Togog dipersalahkan. Togog bilang sinar, yang didengar orang adalah lampu: maka Togog dibodoh-bodohkan. Togog omong tembakau, orang melaporkan yang diomongkan Togog adalah cengkeh karena orang lebih menyukai cengkeh dibanding tembakau: maka Togog dihardik.
 
  • Togog semalaman tertidur di tepi kuburan, paginya tersiar berita bahwa semalam suntuk Togog menelusuri kebun, memanjat kelapa, mencuri mangga dan tapa kungkum di telaga, karena kabar yang semacam ini yang lebih terasa manis di telinga.
 
  • Togog adalah gerobak pengangkut palawija yang dipetiknya dari sawah antah berantah. Palawija itu sangat dibutuhkan oleh orang sekampung, tapi mereka lebih tertarik mengerubungi gerobaknya yang kusam dan peyot, sehingga Togog melemparkan kembali tumpukan palawija itu ke sawah si empunya.
 
  • Togog bermurah hati menyediakan makan gratis bagi sejumlah fakir di depan rumahnya tiap pagi dan sore. Pada suatu hari Togog sibuk mengobati sakitnya rombongan fakir yang lain di kampung sebelah sehingga lupa menyediakan makanan: maka Togog didemonstrasi dan dituduh penipu.
 
  • Togog disuruh oleh orang seantero pasar untuk hampir tiap hari berkeliling pasar sehingga orang sepasar mengenalnya: disimpulkan Togog berupaya agar dikenal oleh orang sepasar dengan cara berkeliling pasar.
 
  • Togog diperah susunya siang malam dan ia dilarang makan maupun minum. Togog diperintahkan untuk mengangkut barang-barang dan ia dilarang memelihara kesehatan. Togog dituntut menjadi tanaman padi di sawah di mana orang beramai-ramai menuai, dan Togog dilarang menanam padi.
 
  • Togog diwajibkan kerja di sebuah pulau sepanjang pagi, sepanjang siang harus kerja lagi di pulau lain, juga sepanjang sore dan malamnya harus bekerja di pulau demi pulau yang lain. Untuk berpindah dari pulau ke pulau lain Togog harus merangkak dan berenang.
 
  • Togog adalah sepiring nasi. Seribu orang meminta masing-masing sepiring nasi dari Togog. Seratus orang menggugat kenapa minta nasi kok tidak diberi roti, seratus lainnya mengancam: awas kalau Togog ikut-ikut makan!
 
    Sumber :Kiai Kanjeng Caknun