Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2013

Mari, Selamatkan Pria Dengan Tidak berpoligami !!!


Ini tema usang yang sebenarnya sudah saya bahas berkali kali. Baik melalui catatan maupun postingan postingan status di facebook. Soal perlu atau tidaknya para pria berpoligami di tinjau dari segi rasio kependudukan. Beberapa kawan, terutama kaum pria sepertinya memang belum mau percaya dengan data statistik yang kita kemukakan.

Bukan hanya teman teman di facebook, akan tetapi pengingkaran fakta bahwa pria lebih banyak dari wanita juga seringkali kita dengar dari para dai, penceramah, ulama dan aktifis keagamaan lain. Nyaris belum pernah saya mendengar statemen mereka yang mengatakan bahwa jumlah penduduk dunia saat ini lebih banyak laki laki daripada perempuan. Entah karena tidak mengerti fakta statistik atau memang sengaja membohongi publik, yang jelas sebagian besar mereka selalu berbicara tanpa data dan fakta valid.

Para pria yang berdebat dengan saya dan berpendapat bahwa wanita lebih banyak dari pria, hampir semuanya tidak ada yang berargumen dengan menggunakan data dan fakta yang bisa di pertanggungjawabkan secara ilmiah. Misalnya, mereka hanya mengatakan di lokasi A wanitanya lebih banyak, di lokasi B wanitanya juga lebih banyak. Yang lucu, mereka mengajukan fakta di bangku sekolah SD dan begitu yakin mengatakan bahwa di sekolah dasar, anak perempuan lebih banyak. Ketika kita minta data akurat, tidak ada yang sanggup memberikan.

Justru saya menemukan data penting yang bisa di pertanggungjawabkan dan berasal dari institusi terkait. yaitu Kementerian Pendidikan. Di sana jelas tercatat bahwa siswa SD dengan jenis kelamin laki laki lebih banyak daripada perempuan. Berikut rinciannya :

Jumlah Siswa SD 2010

Laki laki : 12.497.003 siswa
Perempuan : 12.366.933 siswa
Total : 24.863.936 siswa
Selisih : 130.070 siswa


Sangat di sayangkan, opini yang selama ini sering di kembangkan justru membohongi publik. Dan itu di lakukan oleh aktifis aktifis keagamaan tanpa seorangpun berani membantah. Bahkan tidak sedikit pula aktifis keagamaan perempuan juga seringkali termakan opini dan ikut ikutan menyatakan bahwa wanita jumlahnya lebih banyak.

Mungkinkah ini di sengaja ?. Untuk kepentingan kelompok ?. Untuk menjustifikasi kebolehan berpoligami ?. Bisa saja. Tapi sepertinya lebih banyak karena mereka tidak memahami data kependudukan. Kalau ini alasannya, masih bisa di toleransi. Tapi kalau opini itu di lakukan dengan sengaja, agaknya kita punya PR penting. Yaitu membongkar motivasi di balik kebohongan itu.

Bicara rasio kependudukan, agaknya bukan hanya meliputi siswa SD atau yang berumur 7-12 tahun semata. Bahkan di semua strata umur, dari 0 - 65 tahun, jumlah penduduk laki laki di Indonesia tetap lebih banyak dari perempuan. Perempuan hanya lebih banyak dari pria di jenjang umur 65 tahun ke atas. Anda bisa melihat sendiri datanya di sini : http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?option=com_proyeksi&task=show&Itemid=172

Total Penduduk 2012 dalam ribuan

Laki laki : 119.689,9
Perempuan : 119.475,4
Selisih : 214,5

Ada surplus jumlah pria di semua strata umur, 200 ribu lebih. Selisih ini bisa lebih besar jika kita bandingkan satu persatu di setiap strata umur. Kecuali di umur 65 tahun ke atas yang jumlah wanitanya lebih banyak dari pria. Jika ini yang menjadi acuan, para pria yang hendak berpoligami sebaiknya menikahi saja wanita yang umurnya di atas 65 tahun. Inipun kalau di lakukan, masih tetap banyak pria yang tidak mendapat pasangan.

Saya tergelitik dengan pendapat salah satu teman yang mengatakan bahwa wanita wanita yang di poligami bisa di ambil dari 'jatah' para pemuka agama Katolik (yang sebagian mengharamkan pastur menikah). Sekilas masuk akal. Tapi menurut saya lucu juga. Bukankah para suster dan biarawati juga tidak boleh menikah ?. Jadi pria yang tidak menikah di kalangan agamawan nyatanya juga berbanding lurus dengan wanitanya yang sama sama tidak menikah.

Secara statistik, landasan poligami sangat tidak masuk akal. Justru ketika poligami di gelorakan, yang menjadi korban adalah kaum pria. Karena ada banyak pria yang terancam tidak mendapatkan pasangan. Kalau ini terjadi, bagaimana solusi yang di berikan agama ?.

Menjadi gay, di larang. Tapi para pria yang punya kemampuan finansial seenaknya saja menghabiskan stok perempuan. Menurut saya jargon : "MARI SELAMATKAN WANITA DENGAN POLIGAMI" harus di ubah. Menjadi "MARI SELAMATKAN PRIA DENGAN TIDAK BERPOLIGAMI".

Penulis : Salma Rugayya

Jumat, 21 Juni 2013

Rokok dan Perlawanan Terhadap Hegemoni Asing

Jum'at pagi kemarin (21/06) Team Polling Gubrak menggelar survey yang temanya tentang rokok, miras dan narkotika. Melalui sms kami mewawancarai tak kurang dari 75 Gubraker seIndonesia, dengan usia minimal 18 - 50 tahun. Dan hasilnya sebagai berikut :

A. Rokok

1. Perokok Aktif : 40%
2. Pernah Merokok : 20%
3. Tidak Pernah : 40%

B. Miras

1. Konsumen Aktif : 8%
2. Pernah Mengkonsumsi : 14%
3. Tidak Pernah : 78%

C. Narkotika

1. Konsumen Aktif : 5%
2. Pernah Mengkonsumsi : 10%
3. Tidak Pernah : 85%

*Pernah : Berarti pernah mengkonsumsi tapi saat ini tidak lagi.

Dari wawancara Tampoll Gubrak (Team Polling Gubrak) terungkap fakta bahwa rata rata konsumen rokok menghabiskan satu bungkus (12 batang) dalam satu hari. 94% mengkonsumsi rokok kretek (mengandung cengkeh), sisanya rokok impor atau rokok yang tidak menggunakan cengkeh sebagai bahan baku.

Temuan lain dari survey ini adalah pendapat tentang perlu atau tidaknya rokok di haramkan atau di larang. Pertanyaan ini terutama kami ajukan kepada mereka yang masuk kategori 'Tidak Pernah' mengkonsumsi rokok. Dan hasilnya, 60% responden yang bukan perokok menyatakan bahwa fatwa haram rokok tidak di perlukan. Alasannya karena agama tidak secara jelas melarang, dan juga faktor ekonomi di mana banyak sekali rakyat yang menggantungkan ekonominya dari industri rokok.

Untuk minuman keras dan narkotika, hampir kebanyakan responden menyatakan setuju itu di larang. Namun ada catatan penting mengenai apakah pemakai atau pengguna barang tersebut boleh di jerat hukum atau tidak. Untuk masalah ini (terutama narkotika), sebagian besar responden menyatakan bahwa konsumen tidak selayaknya di hukum. Yang harusnya di hukum adalah pengedar dan produsen barang barang itu.


 
Pict : kaskus.co.id
ROKOK, ASAP SURGA NAN MENGGIURKAN

Tidak jelas kapan pertama kali manusia mengenal tradisi merokok. Sumber tertentu mengatakan bahwa bangsa Indonesia pertama kali mengenal rokok ketika bangsa Eropa datang ke Indonesia. Namun bangsa Eropa sendiri konon bukanlah yang pertama kali mengkonsumsi rokok. Suku Maya di Amerika latin konon sudah mengenal tradisi merokok ribuan tahun lalu. Rokok oleh para tetua suku Maya di pakai untuk melakukan upacara upacara ritual. Apakah berarti suku Maya adalah manusia pertama yang mengkonsumsi asap temabakau itu ?. Belum tentu juga.

Terlepas dari persoalan di atas, industri rokok di Indonesia harus di akui sebagai salah satu industri terkemuka dan menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar untuk negara. Setiap tahun cukai rokok (pajak) menyumbang pemasukan bagi negara tak kurang dari 100 trilyun. Ini data resmi dari pemerintah. Riilnya bisa jadi akan lebih dari itu. Angka yang cukup menggiurkan, bukan ?.

Tapi besarnya sumbangan yang di berikan pada negara nyatanya tidak linier dengan kesejahteraan para petani tembakau maupun buruh rokok di tanah air. Sebagaimana nasib buruh dan petani pada umumnya, nasib petani tembakau dan buruh rokok tetap saja kurang mendapat perhatian. Apalagi dalam banyak kasus, upaya untuk menghapus atau setidaknya melemahkan industri rokok terus di lakukan oleh sebagian pihak dengan alasan alasan tertentu. Misalnya, rokok secara medis di katakan lebih banyak merugikan daripada memberi manfaat. Alasan ini tentu harus di uji secara teliti dan komprehensif. Jangan sampai karena kesalahan menganalisa efek rokok, justru merugikan pelaku industri rokok yang jumlahnya sangat besar.


Perang Bisnis Rokok

Selain besarnya konsumen rokok dalam negeri yang menurut taksiran mencapai 30% dari jumlah penduduk, atau 40% versi survey Gubrak, produk berbahan baku tembakau dan cengkih ini nyatanya juga menjadi favorit di luar negeri. Di Amerika misalnya, 90% lebih masyarakat Amerika menyukai rokok jenis kretek buatan Indonesia. Kondisi ini yang dulu sempat membuat pemerintah Amerika gusar dan mengeluarkan regulasi yang intinya melarang rokok kretek dan rokok beraroma lainnya beredar di sana. Hal yang sama juga akhirnya di lakukan oleh negara Brazil dan beberapa negara lain seperti Selandia Baru.

Terlepas dari alasan medis, pemboikotan produk Indonesia ini konon lebih bernuansa persaingan bisnis. Seperti kita tahu, Amerika dan Brazil merupakan negara produsen dan konsumen rokok terbesar di dunia. Masuknya rokok Indonesia di anggap sebagai ancaman nyata bagi industri rokok mereka. Kenapa ?. Karena seperti yang kami tulis di atas, rokok kretek lebih di sukai konsumen daripada produk dalam negeri mereka. Jika ini di biarkan, maka kemungkinan besar industri rokok mereka akan gulung tikar karena di hajar kretek.

Kebijakan itu bukan satu satunya cara yang di lakukan asing untuk meruntuhkan hegemoni rokok kretek di dunia. Ada beberapa kasus yang patut di duga sebagai upaya menghancurkan industri rokok Indonesia.

Pertama, kampanye anti rokok oleh ICW

Lembaga anti korupsi ini di duga menerima kucuran dana dari Bloomberg Initiative untuk program kampanye anti rokok di Indonesia. Rp 400 juta lebih dana dari lembaga yang berbasis di New York itu di kucurkan. Dugaan lain, Bloomberg konon juga menggelontorkan dana milyaran ke sebuah ormas keagamaan dengan agenda yang kurang lebih sama. Walaupun tudingan ini tidak bisa di buktikan, akan tetapi aroma pelemahan industri rokok nasional begitu kentara.

Kedua, penguasaan saham mayoritas perusahaan perusahaan rokok nasional oleh asing

Setidaknya hingga saat ini ada 3 perusahaan rokok besar Indonesia yang sahamnya sudah di kuasai asing. Yaitu PT HM Sampoerna Tbk yang 98% sahamnya di miliki Philip Morris International, PT Bentoel Internasional Investama Tbk (99% saham di pegang BAT) dan terakhir Trisakti Purwosari. Ketiga perusahaan ini setidaknya menguasai 1/3 pangsa pasar rokok tanah air. Keadaan ini sungguh ironis. Walaupun perusahaan itu masih beroperasi di Indonesia, tapi sahamnya di tangan asing. Dan secara otomatis keuntungan dari industri ini lebih banyak di nikmati asing.

Ketiga, membanjirnya impor tembakau ke Indonesia

Data dari kementerian pertanian menyatakan bahwa pada tahun 2011 impor tembakau kita mencapai angka 507 ton. Sementara ekspor tembakau kita hanya berkisar 147 ton. Tragisnya, nilai impor ini dari masa ke masa mengalami peningkatan pesat. Dan pihak pihak yang paling banyak mengimpor tembakau dari luar negeri adalah perusahaan perusahaan rokok milik asing yang beroperasi di Indonesia. Jadi walaupun rokok kretek kita sukses bersaing di level dunia, tapi bahan bakunya tidak sepenuhnya di dapat dari lahan pertanian tembakau dalam negeri.

Itu dari segi kacamata bisnis. Dari segi medis, kita selalu di takut takuti dengan bahaya bahaya rokok yang terkadang cenderung berlebihan. Rokok di anggap biang keladi timbulnya berbagai macam penyakit. Kanker, impotensi, gangguan janin, kehamilan dan lain sebagainya. Bisa jadi ada benarnya, tapi kami pikir bukan faktor utama. Ada baiknya anda baca artikel ini agar bisa lebih obyektif.



Penulis tidak bermaksud ingin mengajak pembaca untuk membudayakan atau melestarikan kebiasaan merokok. Harus di tegaskan bahwa rokok bukanlah barang konsumsi yang vital seperti halnya makanan. Merokok hanya sekedar kegiatan hiburan belaka. Karena sifatnya sekunder, maka yang paling di perhatikan tentu saja bujet. Kalau tidak ada anggaran untuk merokok karena masih banyak kebutuhan yang di perlukan, sebaiknya tidak perlu merokok. Terutama bagi kalangan pelajar yang belum bekerja, sebaiknya jangan merokok. Anda tetap bisa keren, bisa berkembang dan bisa bergaul dengan leluasa walaupun tanpa merokok. Catat ya....

Kamis, 20 Juni 2013

Makanan Impor Bikin Goblok !!!

"Ojo pisan pisan nebang wit ringin pinggir sendang. Kui ono sing nunggu"
(Jangan coba coba menebang pohon beringin pinggir telaga. Karena itu ada penunggunya)

"Ojo bengak bengok tengah alas, mengko mundak kesurupan"
(Jangan berteriak di tengah hutan, nanti kamu kesurupan)

"Ojo mbuwang siso panganan, mengko anak turunmu podo padudon".
(Jangan membuang sisa makanan, nanti keturunanmu akan saling bertengkar)

"Ojo nganggo klambi karo mlaku, mengko gegayuhanmu ora kelaksanan".
(Jangan memakai baju sambil berjalan, nanti cita citamu tidak terlaksana)

Sambal Petai, makanan khas Indonesia (Pict : eatingasia.typepad.com )

Pernah mendengar nasehat nasehat seperti di atas ?.
Yang terkesan tidak masuk akal, berbau mistis dan asal asalan ?.
Ya. Ada banyak sekali nasehat nasehat yang oleh orang orang tua dulu di berikan kepada anak cucunya. Bagi kita yang hidup di era modern, di mana ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, nasehat nasehat itu terkadang di anggap sesuatu yang remeh temeh. Bahkan tak jarang sebagian kita menganggapnya sebagai bagian ajaran mistis, bid'ah atau malah musyrik yang bertentangan dengan ajaran agamanya. Sebagian lagi, yang menggandrungi pendidikan sekuler lagi menganut budaya modern dengan nada sinis mencerca "hare gene percaya klenik ??".

Memang, hak setiap orang untuk percaya atau tidak percaya dengan hal hal demikian. Karena apapun dan dari manapun sebuah petuah itu berasal, jika tidak menghasilkan manfaat, maka akan sia sia belaka. Jadi bukan klenik atau tidak, syar'ie atau tidak, bid'ah atau tidak, tapi apa yang di hasilkan dari sebuah peristiwa. Ibarat orang hendak bepergian, apapun kendaraan dan sarananya, asal bisa sampai tujuan, maka ia boleh di sebut telah menuju ke tempat yang tepat.

Dalam agamapun, sebuah tradisi seringkali di bangun dari sebuah pemahaman yang di anggap irrasional. Pengharaman babi misalnya, ternyata memiliki sejarah yang unik. Dahulu kala, babi merupakan makanan yang lezat dan menjadi favorit bangsa Yahudi. Mereka yang mengkonsumsi babi di anggap memiliki kelas dalam strata masyarakat. Kenapa ?. Karena tidak semua orang bisa merasakan lezatnya daging binatang itu. Selain harganya yang relatif lebih mahal, untuk mendapatkannya juga susah. Babi tidak bisa di pelihara di tempat tinggal mereka. Babi harus di datangkan dari daerah luar seperti Syria ataupun Mesir. Mahalnya daging babi inilah yang membuat para tetua Yahudi kemudian memutuskan untuk mengharamkan daging babi.

Jadi tidak seperti yang selama ini banyak di dengungkan orang. Yang keharamannya lebih di sebabkan karena bahaya yang terkandung dalam daging babi. Melainkan memiliki sejarah yang secara ilmiah sebenarnya bisa di jelaskan. Sayangnya, sedikit dari kita yang mau menyelidiki dengan bijak maksud dari pengharaman daging babi. Mereka yang kurang kreatif hanya sekedar beralasan bahwa itu perintah Tuhan.

Sama halnya dengan nasehat nasehat orang dulu yang oleh banyak anak anak muda sekarang di anggap sebagai sebuah kepercayaan kuno dan mistis. Sebagian kita tidak bersedia menelisik lebih jauh tentang maksud dari semua petuah itu.

Misalnya nasehat untuk tidak menebang pohon di pinggir telaga. Nasehat itu tidak sekedar di landaskan pada ada atau tidaknya roh halus penunggu hutan. Tetapi karena sudah melewati penelitian dan pengalaman yang panjang. Dalam teori ilmu modern, keberadaan pohon di sekitar oase memiliki peranan yang sangat vital. Akar dari pohon itu berfungsi sebagai alat radar pencari sumber air. Akar pohon selalu bergerak menuju tempat di mana cadangan air melimpah. Dia juga berfungsi sebagai pembuka jalur aliran air. Jadi kalau pohonnya di tebang dan mati, jalur air akan terhenti dan telaga lambat laun akan menyusut.

Lantas kenapa menasehatinya dengan cara yang tidak masuk akal dan cenderung menakut nakuti ?. Seperti yang kita tulis di atas, bahwa yang utama adalah tujuannya. Bukan proses atau alat yang di pakai untuk mencapai tujuan. Orang orang dulu masih terbelakang. Ilmu pengetahuan belum berkembang. Mereka cenderung lebih patuh jika di takut takuti daripada di jelaskan secara ilmiah. Berbeda kondisinya dengan jaman sekarang. Yang semua hal menuntut penjelasan logik.

Sekali lagi, yang terpenting adalah tujuan. Penjelasan yang rasional belum tentu mengantarkan sesuatu pada tujuan sebab masih banyak faktor yang membuat seseorang terpaksa melanggar. Ambil contoh kasus pembalakan hutan. Siapa yang tidak tahu kalau penggundulan hutan akan mengakibatkan bencana bagi umat manusia ?. Semua orang tahu, tapi nyatanya perusakan hutan tetap di lakukan. Maka dalam kasus ini, penjelasan ilmiah ternyata juga bisa gagal. Sementara orang dulu dengan cara sederhana dan sedikit menggunakan sentuhan mistis, nyatanya berhasil. Jangankan menebang hutan, berteriak atau sekedar bersiulpun tidak boleh. Karena mereka takut terkena kutukan dari perbuatannya. Penjelasan irrasional dalam kasus tertentu nyatanya lebih efektif.

Kaitannya jargon di atas. Makanan Impor Bikin Goblok. Ini hanya sekedar satu contoh sindiran saja. Agar kita mencari cara untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang swasembada pangan. Secara logika, semua dari kita paham bahwa masalah pangan bukan sesuatu yang rumit. Kita memiliki lahan luas, tanah subur, air cukup, yang memungkinkan kita untuk mandiri di bidang pangan. Namun demikian, ternyata segala pengetahuan yang logik itu tidaklah serta merta menjadikan kita mampu mewujudkannya, bukan ?.

Impor pangan masih terus berlangsung, kelangkaan bahan makanan masih menjadi momok bagi kita semua. Tak jarang kita justru merasa enjoy dengan mengkonsumsi barang barang impor yang manfaatnya kadang biasa biasa saja. Hanya karena merasa ada prestise saja, kita begitu menggilai produk asing. Padahal jika kita mau, kita bisa membuat produk itu dengan manfaat dan citarasa yang lebih hebat.

Secara teoritis, jargon 'makanan impor bikin goblok' memang tidak rasional. Tapi jika kita pelajari lebih luas lagi, ada kebenaran di balik itu. Di sana ada nasehat tentang ketahanan pangan, di sana ada kepentingan ekonomi, dan di sana juga ada alasan yang menjelaskan secara medis.

Orang cerdik pandai bersabda :

Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kau tak melihatnya
Penyakitmu ada dalam dirimu tapi kau tak menyadarinya
Kau sangka dirimu materi yang mungil,
padahal di dalam dirimu terangkum alam yang besar

Kalimat di atas memiliki makna yang luar biasa luas. Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kau tak melihatnya. Penyakit dan obat di ciptakan berdampingan. Penawar bisa ular berada dalam diri ular. Demikian juga dengan penyakit yang lain. Obatnya sudah pasti berkaitan dengan sumber penyakit itu sendiri. Makanya ketika ada lalat masuk ke dalam minuman, kita di anjurkan untuk mencelupkan sekalian binatang itu sebelum kita buang keluar.

Maka, menjadi ironis ketika kita di cipta dari benih kedua orang tua, yang keduanya memakan hasil bumi di sekitarnya, meminum air dari sumber tanah sekitarnya, di sembuhkan dari segala penyakit berkat obat di sekitar, tetapi kita sendiri dengan begitu percaya dirinya mengkonsumsi sesuatu yang berasal dari luar tanah air kita. Karena obatmu ada dalam dirimu, maka ketika dalam dirimu sudah di cemari dengan apa apa yang berasal dari luar habitatmu, kemana lagi kamu mencari obatnya.

Air yang paling mujarab bukan air yang berasal dari pedalaman hutan amazon
Bukan pula dari aliran sungai Gangga di India
Atau dari pancaran oase negeri Mekah
Tapi air yang paling mujarab ada di sekitarmu

Makanan paling lezat dan membuat otakmu cerdas
Bukan pizza dari Italia
Bukan ayam yang di bumbui khas Amerika
Bukan apapun yang berasal dari luar sana
Tapi makanan yang akan membuatmu sentausa ada di sekitarmu

Obat yang paling manjur
Bukan yang berasal dari negeri tirai bambu
Bukan obat kimia yang di ciptakan ahli medis barat
Bukan....bukan...
Tapi obat yang manjur adalah yang berada di sekitarmu

Para cerdik pandai terdahulu
Yang menciptakan Borobudur dengan demikian megahnya
Yang melintasi satu samudra ke samudra lain
Yang merangkai pulau satu dengan yang lain
Yang membentuk kerajaan besar dan di segani dunia
Asupan dalam otaknya bukan berasal dari negeri seberang
Tapi dari hasil yang keluar di bumi sekitarnya

Lalu,
Masihkah kita gandrung dengan makanan asing ?

Selasa, 11 Juni 2013

Kita Ini Bangsa Apa ?

Kita ini bangsa apa ?
Punya industri kretek terbesar di dunia, tapi tembakaunya masih impor
Punya pabrik mie terbesar di dunia, bahan bakunya masih di pasok dari negeri seberang
Punya lahan subur nan luas, tapi urusan perut masih menggantungkan barang dari luar
Punya tambang melimpah ruah, tapi sistem energinya masih payah
Punya tanaman tanaman obat beraneka macam, tapi kalau sakit masih percaya dokter luar negeri

Kita ini bangsa apa ?
Memiliki kebudayaan yang adi luhung, tapi belajar etikanya mesti ke Yunani
Memiliki benteng lautan yang luas, tapi pembangunan sistem pertahanannya masih mengandalkan daratan
Memiliki sistem demokrasi yang stabil dan terbukti menyatukan, tapi masih ingin mengimpor demokrasi asing
Memiliki bahasa yang kaya, masih saja hoby menjiplak dan mencuri istilah istilah luar
Memiliki kesalehan yang tinggi, tapi agama saja masih impor

Kita ini bangsa apa ?
Melahirkan banyak petarung kuat,
Ada Wangsa Syailendra, yang membangun peradaban tanpa tanding
Ada Kertanegara di Kediri, yang nama besar klan Mongoliapun bukan hal yang menakutkan
Ada Gajah Mada yang namanya begitu di segani di kawasan Asia Tenggara
Ada Soekarno yang dengan gegap gempita dan tanpa rasa takut menghardik barat

Tapi....
Di sudut sudut kampus,
Di sudut sudut tempat diskusi
Di warung warung makan
Di jalanan
Di tempat tempat ibadah
Bahkan di istana istana mewah para politisi,
Yang sering di sebut justru nama nama yang asing
Hasan Al Banna
Sayyid Qutb
Karl Max
Hegel
Che Ghuevara
Dan semua orang yang sudah pasti tidak mengenal betul bangsa ini

Kita ini bangsa apa ?
Cara berfikirnya mengikuti pola pikir orang lain
Cara bertindaknya meniru orang lain
Cara berpakaiannya menjiplak orang lain
Cara berbicaranya mencontoh orang lain

Para bijak bestari selalu menasehati
Di saat orang masih takut dengan air, kita sudah menjadi penjelajah samudra yang handal
Di saat orang lain masih menyanjung batu yang berdebu, kita sudah memahat batu dengan sangat indah
Di saat orang lain bicara tentang surga dengan segenap keindahannya,kita sudah menjadi penghuni surga
Di saat orang sibuk kesana kemari mencari makanan, kita sudah punya lumbung

Kita ini bangsa apa ?

oleh : Wong Edan
Pict : fotopedia.com

Minggu, 02 Juni 2013

Percikan Masa Lalu Jakarta



“Ente bahlul! Belinya cepek, kok, dijual gocap….” Kalimat seperti itu tentunya bukan "barang" baru buat Anda yang lahir dan besar di Jakarta atau telah lama menetap di Jakarta. Setidaknya, sampai awal tahun 1990-an, orang-orang di Jakarta masih sering mendengar potongan percakapan semacam itu. Yang pertama, ente bahlul, sepenuhnya dipengaruhi oleh bahasa Arab, sementara yang kedua dipengaruhi oleh variasi bahasa dari negeri Tiongkok.

Masyarakat Jakarta tempo dulu, etnis Betawi khususnya, memang bukan baru kemaren sore bergaul sama masyarakat internasional. Sejarah mencatat, Bandar Sunda Kelapa di belahan utara Jakarta sudah diramaikan oleh kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia sejak berabad-abad lalu. Tak mengherankan jika kebudayaan Betawi banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dari negeri-negeri lain, mulai dari India, Arab, Eropa, sampai Cina. Belakangan, yang masih melekat kental dalam kebudayaan Betawi adalah pengaruh Arab, Cina, dan India. Setidaknya ini bisa dilihat dari pakaian pengantin adat Betawi dan musik tradisional, seperti gambang kromong dan rebana. ”Pakaian pengantin besar besar adat Betawi disebut Care Cine, cara Cina. Tapi, yang laki-laki mengenakan gamis lengkap dengan kopiahnya yang khas Arab, sementara yang perempuan mengenakan pakaian yang banyak dipengaruhi kebudayaan Cina. Selain pakaian pengantin adat besar Care Cine itu, masyarakat Betawi juga mengenal pakaian pengantin Cara Belande dan Care Hindustan, cara Belanda dan cara India,” ujar Anisa D.S., penggiat kebudayaan Betawi yang juga pemilik Sanggar Rias dan Busana Pengantin Yatmikasari di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Orang-orang Arab bertandang dan kemudian menetap di Betawi umumnya adalah kaum pedagang dan para penyebar agama Islam. Sementara itu, orang-orang Cina datang dan tinggal di Betawi kebanyakan karena "diculik" oleh para kapten kapal Belanda untuk dilelang sebagai kuli kontrak. Banyak juga yang sengaja didatangkan oleh para saudagar Cina sendiri. Pemerintah kolonial Belanda sendiri menunjuk seorang kapiten (kapten) untuk memimpin setiap kelompok etnis, mencontoh Portugis yang telah terlebih dahulu memberlakukan cara ini di berbagai daerah jajahannya.

Dalam perkembangannya­, etnis Cina di Betawi menjadi kuat, baik dari segi jumlah maupun ekonominya. Mereka pun mendapat keistimewaan dari pemerintah jajahan Belanda: mereka dipimpin oleh seorang dengan pangkat tertinggi mayor. ”Namun, pangkat tertinggi mayor ini hanya terbatas di tiga kota besar, Batavia, Semarang, dan Surabaya. Di lain tempat, pimpinan etnis ini hanya seorang kapiten yang dibantu beberapa letnan,” ungkap Alwi Shahab dalam bukunya, Robinhood Betawi.

Menurut Willard A. Hanna, orang Amerika yang menulis buku tentang Jakarta, Hikayat Jakarta, kapiten Cina ini hidup mewah seperti raja-raja Mandarin. Mereka menerima hak untuk menerima pajak dari masyarakatnya. Kapiten Cina pertama di Batavia adalah Kapiten Souw Beng Kong, yang diangkat oleh Gubernur Jenderal J.P. Coen pada Oktober 1619.

Souw Beng Kong sebelumnya merupakan seorang pengusaha di Banten. Ia memang telah cukup lama berteman dengan J.P. Coen, yang kemudian mengajaknya ke Batavia. Beng Kong pun lalu datang ke Batavia bersama dengan pengikutnya, yang berjumlah hampir 200 orang. Arsip kolonial Belanda mencatat, jumlah pengikutnya membengkak menjadi lebih dari tiga ribu jiwa dalam waktu 30 tahun.

Berkat kedekatannya dengan penguasa nomor satu di tanah jajahan itu, usaha Souw Beng Kong memang sangat berkembang pesat di Batavia, sehingga ia menjadi salah seorang orang terkaya pada masanya. Bisnisnya mulai dari perdagangan umum, konstruksi, sampai perkebunan di sekitar Batavia.

Hidupnya semakin bergelimang kemewahan ketika ia diangkat menjadi kapiten. Pundi-pundinya semakin banyak karena ia mendapat hak untuk menarik pajak dari masyarakat Cina yang ia pimpin, mulai dari pajak jalinan rambut panjang, pajak kuku panjang, pajak judi. Sampai pajak candu. ”Candu, yang merupakan suatu jenis narkoba, pada masa penjajahan Belanda memang merupakan barang yang legal,” ujar Veronica Colondam dari Yayasan Cinta Anak Bangsa, lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada pencegahan penyebaran narkoba di masyarakat. Dalam buku Konglomerat Oei Tiong Ham juga disinggung, kedudukan sebagai penarik pajak dan kesempatan memonopoli perdagangan membuat para keluarga peranakan Cina dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyak­nya.

Souw Beng Kong wafat pada tahun 1644. Ia dimakamkan di daerah Kota, sekarang tepatnya di Jalan Taruna (dulu bernama Jalan Souw Beng Kong), sekitar satu kilometer dari Stasiun Kereta Api Beos. ”Makam kapiten Cina ini hanya tinggal batu nisannya. Seluruh bagian makam itu sudah menyatu dengan rumah penduduk,” ujar Alwi Shahab. Beberapa tahun lalu, sebuah komunitas pemerhati sejarah membeli rumah itu dan membenahi kembali makam Souw Beng Kong.

Jumlah orang Cina di Batavia semakin membengkak dari tahun-tahun. Pada awal abad ke-18 tercatat ada jumlah penduduk berkebangsaan Cina di kota dan sekitarnya berjumlah 80 ribu jiwa. Banyak di antara mereka yang bekerja di perkebunan-perk­ebunan tebu, pabrik gula, dan perusahaan perkayuan yang didirikan di luar kota, seperti di Tanah Abang, Jatinegara, dan Sawah Besar—yang disebut kota ketika itu memang hanya seputar Museum Sejarah Jakarta dan Pasar Ikan sekarang.

Namun, ribuan pendatang dari Tiongkok itu juga banyak yang kurang beruntung. Mereka tak mendapat pekerjaan dan akhirnya menjadi gelandangan, juga pelaku kriminal. Pemerintah kolonial Belanda pun gerah dan kemudian melakukan aksi penangkapan orang Cina besar-besaran, untuk dibuang ke Sri Lanka.

Keresahan pun merebak di mana-mana. Pada 9 Oktober 1740, kerusuhan terjadi di Glodok, setelah sehari sebelumnya Belanda memukul mundur serangan balasan orang-orang Cina di pinggir kota. Makin siang, kerusuhan semakin tak terkendali. Gedung-gedung dan rumah-rumah orang Cina di Glodok dibakar. Orang-orang berhamburan di jalan dan para serdadu Belanda dengan entengnya menembaki mereka.

Willard A. Hanna menulis, semua orang Cina tanpa kecuali, pria, perempuan, dan anak-anak diserang. ”Baik wanita hamil maupun bayi yang sedang menyusui tidak luput dari pembantaian yang tidak mengenal perikemanusiaan­. Ratusan tahanan yang dibelenggu disembelih, seperti menyembelih domba,” tulis Hanna. Belakangan diketahui, sekitar 10 ribu orang Cina, termasuk tahanan dan pasien rumah sakit, dibunuh oleh tentara Belanda, 500 orang luka parah, dan 700 rumah dirusak serta barang-barang mereka dirampok.

Selain Arab dan Cina, sisa kebudayaan Portugis juga sampai sekarang masih bisa ditemukan di Jakarta, antara lain di Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Di sana masih banyak warga keturunan Portugis, yang menggunakan nama-nama keluarga yang berasal dari Portugis. Leluhur mereka adalah orang Portugis tawanan VOC Belanda.

Ceritanya, karena penjara di Batavia penuh, mereka ditempatkan di Kampung Tugu, yang waktu itu masih berupa hutan. Awalnya mereka beragama Katolik, tapi kemudian dipaksa untuk menjadi Protestan oleh Kompeni (VOC). Setelah menjadi Protestan, mereka pun menjadi mardijker (orang yang telah dimerdekakan) atau di-vriye indlanders. Status mereka disamakan dengan pribumi. Dari sinilah lahir jenis musik keroncong Tugu yang terkenal itu. Ini dia si jali-jali.... (Pedje, Sutradara Teater Pohon)

Pakaian Adat Betawi

Ada beberapa pakaian adat Betawi untuk perempuan, yakni baju none, baju krancang atau baju encim, dan baju enyak atau baju panjang. ”Baju none biasanya dipakai untuk gadis-gadis yang belum menikah. Modelnya kebaya panjang, yang biasanya dipakai oleh peserta lomba None Jakarta. Bahannya dari bahan tembus pandang polos, dengan daleman-nya kutang nenek atau kamisol. Kainnya batik Lasem yang motif tumpal, lalu memakai pending, peniti rantai tiga, anting seketel, konde cepol, dan berbagai aksesori lain,” ungkap Anisa D.S. Kalau baju kerancangan atau baju encim itu kebaya untuk ibu-ibu muda, yang dibordir bolong-bolong, karawang. ”Kainnya batik Lasem juga, cuma tumpalnya berbeda, tumpalnya boleh buket, pagi-sore, atau belah ketupat,” ujar Anisa. Sementara itu, baju enyak atau baju panjang sama dengan baju none tapi bahannya bermotif, misalnya kembang-kembang­, dan kainnya juga sama.

Untuk pakaian pengantinnya untuk rias besarnya memakai baju care cine. ”Ini karena pakaian perempuannya, kebaya, banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Cina, misalnya kerahnya tinggi dan ditutupnya menyerong atau tuaki. Terus pakai rok, dengan gambar naga, bunga, atau burung hong. Juga pakai cadar jarang seperti pengantin perempuan Cina. Untuk yang lelakinya memakai gamis atau jubah dan mengenakan alpiye atau kopiah ala Arab,” tutur Anisa D.S. Biasanya, waktu akad menikah, pengantin akan didandani dengan gaya rias bakal. ”Yang perempuannya memakai baju kurung dengan kain songket, biasanya songket palembang, dan memakai selendang,” kata Anisa lagi. 
Catatan : (Pedje, Sutradara Teater Pohon)

Minggu, 05 Mei 2013

Menanti Tuah Megawati Di Pilgub Bali

Sempat memenangkan Pilgub DKI, lalu berturut turut jagonya kandas di beberapa ajang pilkada (semisal Jawa Barat dan Sumatera Utara) sepertinya tak membuat Megawati merasa jera untuk terus memasang calon calon kepala daerah yang berasal dari kader internal. Hingga hari ini,Megawati tak henti hentinya mempertontonkan akrobat politik yang terkadang di mata banyak orang di anggap kurang kalkulatif dan gegabah. Pilgub Jawa Barat adalah salah satu contoh, di mana ‘kengototan’ Megawati dalam mengusung kader internal dan tanpa partner koalisi pula akhirnya berujung pada kekalahan jago PDI Perjuangan. Yang lebih tragis lagi, perolehan suara cagub – cawagub usungan PDI Perjuangan hanya terpaut beberapa persen dari pemenang pilkada.

Saya sendiri membayangkan, andaikata Megawati bersedia kompromi dengan kekuatan politik lain semisal Gerindra saja, situasinya bisa jadi akan berbeda. Rieke Dyah Pitaloka dan pasangannya berpeluang besar untuk menang. Apalagi seperti kita tahu, sejak awal Prabowo sangat bernafsu mengusung Teten Masduki. Belajar dari pilkada DKI, kehadiran Gerindra sebagai partner PDI Perjuangan nyatanya menghasilkan sebuah kolaborasi yang begitu dahsyat dan secara luar biasa membalikkan prediksi banyak kalangan.

Tapi nyatanya fakta berkata lain. Entah karena trauma dengan kejadian di DKI, dimana PDI Perjuangan merasa di ‘tipu’ oleh Gerindra ataukah ada visi lain yang jauh lebih besar, yang jelas pada even even selanjutnya, Megawati sebagai pemimpin tertinggi partai tampak makin ngotot untuk mengusung kadernya sendiri. Terlepas apakah hasilnya memuaskan atau mengecewakan.

Lalu apa kira kira yang melatar belakangi langkah langkah taktis PDI Perjuangan dan Megawati di ajang ajang pilkada itu ?
Megawati Soekarnoputri (shnews.co)

Pertama, Megawati sepertinya ingin membuat garis batas yang tegas antara dia dan lawan lawan politiknya. Ini penting untuk melindungi partai dari pengaruh dan intervensi kekuatan politik lain yang mungkin saja masuk dan mengambil keuntungan. Megawati tak ubahnya Achilles dalam film Troy yang walaupun ikut serta menyerbu kota Troya, tapi menolak unit militernya di kooptasi oleh penguasa di atasnya. Ia dan pasukannya memilih diam ketika ribuan tentara Yunani lainnya menggedor benteng Troya. Tapi ketika situasi memungkinkan, ia bergerak sendiri tanpa harus menunggu komando atasannya. Petarung sejati semacam ini yang saya pikir jarang kita temukan di negeri ini. Sebagian politisi hanya mengedepankan oportonity. Dalam bahasa lain, hanya mementingkan kemenangan semata.


Kedua, Megawati ingin menguji kekuatan dan kesiapannya untuk merebut kembali kemenangan yang pernah di raihnya di tahun 1999. Pilkada bagi semua partai politik di anggap sebagai ajang pemanasan dalam merebut supremasi sebagai kampium pemilu. Maka prestasi prestasi di tingkat lokal bisa di katakan sebagai indikasi awal bagaimana sesungguhnya peluang sebuah partai di kancah nasional. Megawati tampaknya sangat serius menggarap even even lokal seperti ini. Berbeda dengan Partai Demokrat yang walaupun merupakan pemenang pemilu dan pemilik kursi terbanyak di legislatif pusat hingga daerah, tapi dalam banyak ajang nyatanya kurang percaya diri. PDI Perjuangan cukup unik. Dia hanya bersedia koalisi jika kursi di DPRD tidak memungkinkan untuk mengusung sendiri, tapi kalau di rasa cukup, PDI Perjuangan lebih memilih melaju sendirian. Tidak ada rasa takut sedikitpun, walau akhirnya harus di keroyok oleh gabungan partai partai politik.

Ketiga, Megawati ingin memberikan pelajaran berharga bagi perpolitikan tanah air. Sejelek apapun, sekorup apapun, partai politik tetaplah merupakan wadah utama bagi proses kaderisasi calon calon pemimpin bangsa. Dari partai politik inilah masa depan sebuah bangsa di tentukan. Negara yang kuat haruslah di topang oleh partai politik yang kuat, solid, terstruktur dan di kelola dengan baik. Partai yang buruk secara organisasi, mustahil akan melahirkan calon pemimpin yang handal. Apa yang di lakukan oleh Megawati, adalah pelajaran yang sangat berharga. Dalam politik, opportunity kadang menguntungkan, minimal untuk jangka pendek. Tapi menina bobokan dalam jangka panjang. Mereka yang di didik melalui proses berjenjang dalam sebuah organisasi tentu berbeda dengan calon pemimpin yang tiba tiba masuk lalu menduduki posisi penting. Kemelut di partai Demokrat saya pikir bisa di jadikan referensi bagi kita semua. Partai yang di bangun tanpa melalui proses kaderisasi yang baik, nyatanya dalam sekejap bisa hancur lebur di landa konflik. Ibarat sebuah tim sepakbola, taburan bintang ternyata tidak selamanya menjamin kemenangan jika pengorganisasiannya di lakukan secara buruk.


Pilgub Bali, Pembuktian Kapasitas Megawati ?

Setelah kekalahan PDI Perjuangan di Jawa Barat dan Sumut, partai yang komandani Presiden ke 5 RI ini kembali mengusung sendirian jagonya di ajang pilgub Bali. Adalah Anak Agung Puspayoga – Sukrawan, yang merupakan kader internal PDI Perjuangan yang di gadang gadang bisa menjungkalkan sang petahana Made Mangku Pastika – Ketut Sudikerta. Hampir semua partai politik yang memiliki kursi di DPRD I Bali berada di kubu Pasti Kerta (Pastika – Sudikerta), sementara pasangan Puspayoga (wagub Bali sekarang) dan Sukrawan hanya di usung sendirian oleh PDI Perjuangan.

Secara matematis, pasangan Puspayoga – Sukrawan (PAS) memiliki modal 43,63%. Itu jika di lihat dari perolehan kursi DPRD I PDI Perjuangan pada pemilu 2009 silam. Sementara lawannya, Pastika – Sudikerta  di usung hampir semua partai pemilik kursi DPRD I (Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional , Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasional Benteng Kerakyatan, Partai Karya Perjuangan, Partai Karya Peduli Bangsa, dan Partai Pakar Pangan) memiliki kursi DPRD I Bali sejumlah 30 kursi (54,5%). Mengacu pada perimbangan kursi di legislatif, tentu kubu Pasti Kerta lebih unggul. Akan tetapi seperti halnya pilkada di tempat lain, faktor partai bukanlah satu satunya penentu kemenangan. Figur kandidat biasanya juga menjadi acuan penting bagi kemenangan calon.

Secara kecil kecilan kami mengadakan survey melalui jejaring sosial (facebook) untuk mengukur elektabilitas calon. Responden kami ambil secara acak. Sebagian adalah responden yang berteman dengan akun kami, sebagian lagi tidak. Jumlah responden tidak banyak. Hanya 51 responden. Ini di karenakan ajang Pilgub Bali tidak termasuk dalam rencana kerja utama Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak). Pun demikian, hasil polling ini semoga saja bisa menjadi gambaran bagaimana sesungguhnya pertarungan antar dua calon di Bali.

Berikut Hasil Polling yang di lakukan Team Polling Gubrak pada tanggal 22 April – 4 Mei 2013



1. Ngurah Puspayoga - Sukrawan : 25 atau 49,01%

Afiliasi Politik Responden
1. PDIP : 15 (60%)
2. Gerindra : 2 (8%)
3. Hanura : 1 (4%)
4. Tidak Tahu : 7 (28%)

2. Mangku Pastika –Sudikerta : 15 atau 29,41%

Afiliasi Politik Responden
1. Golkar : 6 (40%)
2. PDIP : 2 (13,33%)
3. Gerindra : 2 (13,33%)
4. Hanura : 1 (6,66%)
5. Demokrat : 1 (6,66%)
6. PKPI : 1 (6,66%)
7. Tidak Tahu : 2 (13,33%)

3. Belum Menentukan : 11 atau 21,56%

Total : 51
Margin Error : 5 %

Dari survey yang walaupun jumlahnya belum bisa di katakan memenuhi syarat, akan tetapi ada yang menarik bagi kami. Yaitu pertempuran antara PDI Perjuangan dan Partai Golkar. 60% pemilih pasangan PAS adalah pendukung PDI Perjuangan, sementara 40% pemilih pasangan Pasti Kerta adalah simpatisan Partai Golkar. Rivalitas ini kemungkinan akan berlanjut di pemilu 2014. Dimana Golkar tetap menjadi rival terdekat bagi PDI Perjuangan dalam berebut pengaruh di Bali. Namun demikian, ini hanya sekedar polling. Bukan hasil resmi. Segala sesuatunya bisa saja berubah di detik detik terakhir.

Bagi Megawati, Bali adalah salah satu lumbung strategis dan basis tradisional PDI Perjuangan. Di tempat ini PDI Perjuangan selalu menang. Bali boleh di bilang sebagai tempat yang pas untuk menguji kemampuan mesin PDI Perjuangan dalam mengamankan basisnya. Pilkada kali ini juga menjadi pintu masuk bagi perhelatan selanjutnya di tempat lain semisal Jawa Tengah. Di mana PDI Perjuangan juga mengusung calonnya tanpa koalisi. Kalau PDI Perjuangan sukses mengunci Bali, boleh jadi partai ini juga memiliki peluang mengunci Jawa Tengah. Tap jika gagal, kans Ganjar Pranowo – Heru Sudjatmoko di Jateng kemungkinan juga terancam. Dan imbas lainnya bisa jadi juga akan mengancam peluang calon usungan PDI Perjuangan di Jawa Timur.


Oleh : Dhan Gubrack, analis Politik Gubrak dan Direktur Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak)