Tampilkan postingan dengan label Nusantara News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara News. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

Makanan Impor Bikin Goblok !!!

"Ojo pisan pisan nebang wit ringin pinggir sendang. Kui ono sing nunggu"
(Jangan coba coba menebang pohon beringin pinggir telaga. Karena itu ada penunggunya)

"Ojo bengak bengok tengah alas, mengko mundak kesurupan"
(Jangan berteriak di tengah hutan, nanti kamu kesurupan)

"Ojo mbuwang siso panganan, mengko anak turunmu podo padudon".
(Jangan membuang sisa makanan, nanti keturunanmu akan saling bertengkar)

"Ojo nganggo klambi karo mlaku, mengko gegayuhanmu ora kelaksanan".
(Jangan memakai baju sambil berjalan, nanti cita citamu tidak terlaksana)

Sambal Petai, makanan khas Indonesia (Pict : eatingasia.typepad.com )

Pernah mendengar nasehat nasehat seperti di atas ?.
Yang terkesan tidak masuk akal, berbau mistis dan asal asalan ?.
Ya. Ada banyak sekali nasehat nasehat yang oleh orang orang tua dulu di berikan kepada anak cucunya. Bagi kita yang hidup di era modern, di mana ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat, nasehat nasehat itu terkadang di anggap sesuatu yang remeh temeh. Bahkan tak jarang sebagian kita menganggapnya sebagai bagian ajaran mistis, bid'ah atau malah musyrik yang bertentangan dengan ajaran agamanya. Sebagian lagi, yang menggandrungi pendidikan sekuler lagi menganut budaya modern dengan nada sinis mencerca "hare gene percaya klenik ??".

Memang, hak setiap orang untuk percaya atau tidak percaya dengan hal hal demikian. Karena apapun dan dari manapun sebuah petuah itu berasal, jika tidak menghasilkan manfaat, maka akan sia sia belaka. Jadi bukan klenik atau tidak, syar'ie atau tidak, bid'ah atau tidak, tapi apa yang di hasilkan dari sebuah peristiwa. Ibarat orang hendak bepergian, apapun kendaraan dan sarananya, asal bisa sampai tujuan, maka ia boleh di sebut telah menuju ke tempat yang tepat.

Dalam agamapun, sebuah tradisi seringkali di bangun dari sebuah pemahaman yang di anggap irrasional. Pengharaman babi misalnya, ternyata memiliki sejarah yang unik. Dahulu kala, babi merupakan makanan yang lezat dan menjadi favorit bangsa Yahudi. Mereka yang mengkonsumsi babi di anggap memiliki kelas dalam strata masyarakat. Kenapa ?. Karena tidak semua orang bisa merasakan lezatnya daging binatang itu. Selain harganya yang relatif lebih mahal, untuk mendapatkannya juga susah. Babi tidak bisa di pelihara di tempat tinggal mereka. Babi harus di datangkan dari daerah luar seperti Syria ataupun Mesir. Mahalnya daging babi inilah yang membuat para tetua Yahudi kemudian memutuskan untuk mengharamkan daging babi.

Jadi tidak seperti yang selama ini banyak di dengungkan orang. Yang keharamannya lebih di sebabkan karena bahaya yang terkandung dalam daging babi. Melainkan memiliki sejarah yang secara ilmiah sebenarnya bisa di jelaskan. Sayangnya, sedikit dari kita yang mau menyelidiki dengan bijak maksud dari pengharaman daging babi. Mereka yang kurang kreatif hanya sekedar beralasan bahwa itu perintah Tuhan.

Sama halnya dengan nasehat nasehat orang dulu yang oleh banyak anak anak muda sekarang di anggap sebagai sebuah kepercayaan kuno dan mistis. Sebagian kita tidak bersedia menelisik lebih jauh tentang maksud dari semua petuah itu.

Misalnya nasehat untuk tidak menebang pohon di pinggir telaga. Nasehat itu tidak sekedar di landaskan pada ada atau tidaknya roh halus penunggu hutan. Tetapi karena sudah melewati penelitian dan pengalaman yang panjang. Dalam teori ilmu modern, keberadaan pohon di sekitar oase memiliki peranan yang sangat vital. Akar dari pohon itu berfungsi sebagai alat radar pencari sumber air. Akar pohon selalu bergerak menuju tempat di mana cadangan air melimpah. Dia juga berfungsi sebagai pembuka jalur aliran air. Jadi kalau pohonnya di tebang dan mati, jalur air akan terhenti dan telaga lambat laun akan menyusut.

Lantas kenapa menasehatinya dengan cara yang tidak masuk akal dan cenderung menakut nakuti ?. Seperti yang kita tulis di atas, bahwa yang utama adalah tujuannya. Bukan proses atau alat yang di pakai untuk mencapai tujuan. Orang orang dulu masih terbelakang. Ilmu pengetahuan belum berkembang. Mereka cenderung lebih patuh jika di takut takuti daripada di jelaskan secara ilmiah. Berbeda kondisinya dengan jaman sekarang. Yang semua hal menuntut penjelasan logik.

Sekali lagi, yang terpenting adalah tujuan. Penjelasan yang rasional belum tentu mengantarkan sesuatu pada tujuan sebab masih banyak faktor yang membuat seseorang terpaksa melanggar. Ambil contoh kasus pembalakan hutan. Siapa yang tidak tahu kalau penggundulan hutan akan mengakibatkan bencana bagi umat manusia ?. Semua orang tahu, tapi nyatanya perusakan hutan tetap di lakukan. Maka dalam kasus ini, penjelasan ilmiah ternyata juga bisa gagal. Sementara orang dulu dengan cara sederhana dan sedikit menggunakan sentuhan mistis, nyatanya berhasil. Jangankan menebang hutan, berteriak atau sekedar bersiulpun tidak boleh. Karena mereka takut terkena kutukan dari perbuatannya. Penjelasan irrasional dalam kasus tertentu nyatanya lebih efektif.

Kaitannya jargon di atas. Makanan Impor Bikin Goblok. Ini hanya sekedar satu contoh sindiran saja. Agar kita mencari cara untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang swasembada pangan. Secara logika, semua dari kita paham bahwa masalah pangan bukan sesuatu yang rumit. Kita memiliki lahan luas, tanah subur, air cukup, yang memungkinkan kita untuk mandiri di bidang pangan. Namun demikian, ternyata segala pengetahuan yang logik itu tidaklah serta merta menjadikan kita mampu mewujudkannya, bukan ?.

Impor pangan masih terus berlangsung, kelangkaan bahan makanan masih menjadi momok bagi kita semua. Tak jarang kita justru merasa enjoy dengan mengkonsumsi barang barang impor yang manfaatnya kadang biasa biasa saja. Hanya karena merasa ada prestise saja, kita begitu menggilai produk asing. Padahal jika kita mau, kita bisa membuat produk itu dengan manfaat dan citarasa yang lebih hebat.

Secara teoritis, jargon 'makanan impor bikin goblok' memang tidak rasional. Tapi jika kita pelajari lebih luas lagi, ada kebenaran di balik itu. Di sana ada nasehat tentang ketahanan pangan, di sana ada kepentingan ekonomi, dan di sana juga ada alasan yang menjelaskan secara medis.

Orang cerdik pandai bersabda :

Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kau tak melihatnya
Penyakitmu ada dalam dirimu tapi kau tak menyadarinya
Kau sangka dirimu materi yang mungil,
padahal di dalam dirimu terangkum alam yang besar

Kalimat di atas memiliki makna yang luar biasa luas. Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kau tak melihatnya. Penyakit dan obat di ciptakan berdampingan. Penawar bisa ular berada dalam diri ular. Demikian juga dengan penyakit yang lain. Obatnya sudah pasti berkaitan dengan sumber penyakit itu sendiri. Makanya ketika ada lalat masuk ke dalam minuman, kita di anjurkan untuk mencelupkan sekalian binatang itu sebelum kita buang keluar.

Maka, menjadi ironis ketika kita di cipta dari benih kedua orang tua, yang keduanya memakan hasil bumi di sekitarnya, meminum air dari sumber tanah sekitarnya, di sembuhkan dari segala penyakit berkat obat di sekitar, tetapi kita sendiri dengan begitu percaya dirinya mengkonsumsi sesuatu yang berasal dari luar tanah air kita. Karena obatmu ada dalam dirimu, maka ketika dalam dirimu sudah di cemari dengan apa apa yang berasal dari luar habitatmu, kemana lagi kamu mencari obatnya.

Air yang paling mujarab bukan air yang berasal dari pedalaman hutan amazon
Bukan pula dari aliran sungai Gangga di India
Atau dari pancaran oase negeri Mekah
Tapi air yang paling mujarab ada di sekitarmu

Makanan paling lezat dan membuat otakmu cerdas
Bukan pizza dari Italia
Bukan ayam yang di bumbui khas Amerika
Bukan apapun yang berasal dari luar sana
Tapi makanan yang akan membuatmu sentausa ada di sekitarmu

Obat yang paling manjur
Bukan yang berasal dari negeri tirai bambu
Bukan obat kimia yang di ciptakan ahli medis barat
Bukan....bukan...
Tapi obat yang manjur adalah yang berada di sekitarmu

Para cerdik pandai terdahulu
Yang menciptakan Borobudur dengan demikian megahnya
Yang melintasi satu samudra ke samudra lain
Yang merangkai pulau satu dengan yang lain
Yang membentuk kerajaan besar dan di segani dunia
Asupan dalam otaknya bukan berasal dari negeri seberang
Tapi dari hasil yang keluar di bumi sekitarnya

Lalu,
Masihkah kita gandrung dengan makanan asing ?

Rabu, 19 Juni 2013

Petani Kapan Bisa Kaya ?


Oleh : Komandan Gubrak

BBM naik, kebutuhan lain juga kemungkinan akan naik. Begitu kira kira kekhawatiran yang kini di rasakan sebagian masyarakat kita. Belum naik saja harga harga bahan pangan sudah merangkak, bagaimana jika nanti BBM benar benar di putuskan untuk naik ?.

Kekhawatiran yang tentu saja masuk akal. Apalagi bagi masyarakat yang secara ekonomi berada di bawah garis kemiskinan. Kenaikan harga pangan, barang dan jasa tentu akan membuat mereka lebih menderita lagi. Begitu juga dengan masyarakat yang masuk dalam kategori hampir miskin. Efek kenaikan harga di atas sudah pasti akan melemahkan daya beli mereka. Dan jika tidak di tangani dengan baik bakal berakibat pada makin besarnya jumlah warga miskin di Indonesia.

Kenaikan harga BBM atau pengurangan subsidi memang kebijakan yang dilematis. Ibarat simalakama, di makan bikin penyakit, tidak di makan perut melilit. Di naikkan, efeknya luar biasa bagi daya tahan masyarakat. Tidak di naikkan, beban subsidi yang di tanggung negara akan semakin berat. Tahun ini saja subsidi energi kita sudah di atas 200 trilyun pertahun. Dan tahun tahun selanjutnya di pastikan akan terus mengalami pembengkakan akibat pertumbuhan jumlah kendaraan dan faktor harga minyak dunia yang juga terus meningkat.

Bagi negara negara yang memiliki cadangan minyak berlebih, kenaikan harga minyak tentu bukan masalah besar. Kenaikan harga minyak mentah bagi mereka justru merupakan berkah tersendiri. Karena dari situ pundi pundi pemasukan negara bisa terus di tingkatkan. Namun berbeda halnya jika itu menyangkut negara negara yang kebutuhan minyak dalam negerinya lebih besar dari cadangan yang di miliki. Kenaikan harga minyak berarti malapetaka. Itu yang kini menimpa bangsa Indonesia.


KEBIJAKAN ENERGI YANG SALAH

Jika dari awal para pemangku negeri ini serius menyelesaikan masalah energi, tentu keadaannya tidak separah ini. Inflasi tinggi, daya beli melemah, kemiskinan merajalela, APBN dalam bahaya, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah masalah stabilitas politik dan keamanan. Momen kenaikan harga BBM seringkali hanya mengundang protes masyarakat, memicu kekerasan dan salah salah menjadi momentum bagi kejatuhan sebuah pemerintahan.

Sejak awal tahun 2000an Indonesia bukan lagi menyandang status eksportir minyak, tapi importir minyak. Dan itu setiap tahunnya mengalami kenaikan secara signifikan. Sayangnya, respons pemerintah menghadapi krisis semacam ini sangat lambat. Padahal kita memiliki energi alternatif lain yang bisa di kembangkan tanpa harus di pusingkan dengan minimnya cadangan minyak. Kita memiliki cadangan gas yang di perkirakan mencapai 90 milyar barel dan mampu mensuplai kebutuhan energi dalam negeri dalam kurun waktu 18 tahun. Kita juga punya cadangan batubara 12 milyar ton dan menjadi negara penghasil batubara terbesar ke 13 di dunia. Dan apabila kita tidak mau memanfaatkan sumber energi yang berasal dari perut bumipun, kita masih memiliki cadangan energi lain yang melimpah lagi terbaharui. Ada energi panas bumi yang potensinya mencapai 40% dari total energi panas bumi yang ada di dunia. Energi angin, matahari, energi yang berasal dari tumbuh tumbuhan. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan bukan ?.

Masalahnya tinggal bagaimana pemerintah mengolah dan mengkonversikan saja. Ambil contoh konversi minyak tanah ke gas, walaupun awalnya masyarakat masih sanksi, toh kebijakan itu hingga detik ini cukup efektif. Minimal kita tidak perlu mengimpor gas seperti halnya impor minyak. Seharusnya ini juga bisa di lakukan. Pemerintah bisa memaksa pabrikan kendaraan untuk membuat kendaraan yang berbahan bakar gas atau berbahan apa saja yang tersedia melimpah di negara ini. Daripada harus di pusingkan dengan masalah kenaikan BBM yang efeknya memukul perekonomian masyarakat.


BBM NAIK, SEMBAKO NAIK

Dahulu kala, jumlah petani Indonesia adalah yang terbesar di antara profesi lain. Sekitar 60%. Namun seiring laju pertumbuhan sektor industri, jumlah petani kita terus menerus tergerus. Dan sekarang tinggal 35%. Inipun SDMnya memprihatinkan karena sebagian besar petani kita adalah mereka yang umurnya rata rata di atas 40 tahun. Sangat jarang kita temui anak anak muda yang mau menjadi petani. Belum lagi masalah tehnologi pertanian kita yang seolah tidak ada peningkatan signifikan. Padahal di sisi lain, kebutuhan akan pangan setiap saat terus meningkat.

Sejak jaman nenek moyang, negeri ini sudah menjadi negara agraris. Tanah yang subur, air yang melimpah dan sumber daya manusia yang cukup. Tapi nyatanya untuk memenuhi kebutuhan pangan, kita selalu saja mengalami masalah. Ibarat ayam mati di lumbung padi. Negeri yang subur ini dalam banyak kasus terpaksa harus mengimpor bahan makanan dari luar negeri. Alasannya macam macam. Serangan hama, pengairan yang sulit, gagal panen dan sebagainya.

Tragis sekali.  Kelangkaan bahan makanan, solusinya adalah dengan cara mengimpor dari negara lain. Pemerintah seolah sudah cukup merasa nyaman jika barang tersedia di pasaran dengan harga murah pula. Tapi di sisi lain tidak pernah berfikir bahwa kebijakan itu sesungguhnya telah mematikan pelan pelan industri pertanian kita. Kenapa ?

Pertama, impor pangan menghancurkan semangat bertani masyarakat kita. Mereka yang semula gembira karena hasil jerih payahnya di hargai tinggi terpaksa harus gigit karena ketika panen produk mereka di jatuhkan oleh barang impor. Dan ini bukan hanya sekali dua kali. Tapi berkali kali. Pemerintah lebih mementingkan kepentingan kaum mampu daripada memberi kesempatan pada kaum petani menikmati keuntungannya. Kalau begini caranya, sangat wajar jika semakin hari semakin berkurang warga masyarakat yang menjadi petani.

Kedua, impor pangan secara tidak langsung melestarikan urbanisasi. Rendahnya penghasilan sebagai petani tentu saja akan memaksa masyarakat pedesaan yang notabene petani untuk mencari lahan pekerjaan lain yang di anggap mampu menaikkan taraf hidupnya. Dan tujuan utama mereka adalah tempat tempat dengan sumber ekonomi lebih layak. Dan salah satunya adalah perkotaan.

Ketiga, impor pangan mematikan kreatifitas di bidang pertanian. Pepatah mengatakan, kesulitan membuat otak kita jalan dan kemudahan hanya menghasilkan kemandegan. Sulitnya pasokan air sudah tentu mendorong kita untuk mencari cara bagaimana air tersedia. Minimnya hasil pertanian akan mendorong manusia untuk kreatif membuat riset untuk menciptakan sistem bercocok tanam yang bisa memberi hasil maksimal. Dan masih banyak lagi.

Kaitannya dengan kenaikkan harga BBM yang kemungkinan besar akan memicu kenaikkan harga pangan. Tentu kita harus berfikir obyektif. Logika yang mudah saja, semahal mahalnya pangan, jika itu di hasilkan oleh para petani kita, bukankah itu akan meningkatkan kesejahteraan petani kita juga ?. Kalau bertani adalah pekerjaan yang menggiurkan, bukankah secara otomatis akan mengurangi urbanisasi ?. Jika di desa, perekonomiannya terkatrol akibat moncernya hasil produk pertanian, bukankah itu berarti pembangunan akan lebih merata ?.

Di negara yang bertitel negara industri, mereka yang bekerja di bidang industrilah yang menikmati kemapanan. Di negara yang bertitel negara jasa, pekerja jasa adalah kelas masyarakat yang bertaraf hidup layak. Bahkan di tempat yang bertitel kawasan judi, para penyelenggara perjuadianlah yang makmur. Tapi kenapa di negeri yang agraris, justru petaninya yang paling miskin ??

Selasa, 11 Juni 2013

Kita Ini Bangsa Apa ?

Kita ini bangsa apa ?
Punya industri kretek terbesar di dunia, tapi tembakaunya masih impor
Punya pabrik mie terbesar di dunia, bahan bakunya masih di pasok dari negeri seberang
Punya lahan subur nan luas, tapi urusan perut masih menggantungkan barang dari luar
Punya tambang melimpah ruah, tapi sistem energinya masih payah
Punya tanaman tanaman obat beraneka macam, tapi kalau sakit masih percaya dokter luar negeri

Kita ini bangsa apa ?
Memiliki kebudayaan yang adi luhung, tapi belajar etikanya mesti ke Yunani
Memiliki benteng lautan yang luas, tapi pembangunan sistem pertahanannya masih mengandalkan daratan
Memiliki sistem demokrasi yang stabil dan terbukti menyatukan, tapi masih ingin mengimpor demokrasi asing
Memiliki bahasa yang kaya, masih saja hoby menjiplak dan mencuri istilah istilah luar
Memiliki kesalehan yang tinggi, tapi agama saja masih impor

Kita ini bangsa apa ?
Melahirkan banyak petarung kuat,
Ada Wangsa Syailendra, yang membangun peradaban tanpa tanding
Ada Kertanegara di Kediri, yang nama besar klan Mongoliapun bukan hal yang menakutkan
Ada Gajah Mada yang namanya begitu di segani di kawasan Asia Tenggara
Ada Soekarno yang dengan gegap gempita dan tanpa rasa takut menghardik barat

Tapi....
Di sudut sudut kampus,
Di sudut sudut tempat diskusi
Di warung warung makan
Di jalanan
Di tempat tempat ibadah
Bahkan di istana istana mewah para politisi,
Yang sering di sebut justru nama nama yang asing
Hasan Al Banna
Sayyid Qutb
Karl Max
Hegel
Che Ghuevara
Dan semua orang yang sudah pasti tidak mengenal betul bangsa ini

Kita ini bangsa apa ?
Cara berfikirnya mengikuti pola pikir orang lain
Cara bertindaknya meniru orang lain
Cara berpakaiannya menjiplak orang lain
Cara berbicaranya mencontoh orang lain

Para bijak bestari selalu menasehati
Di saat orang masih takut dengan air, kita sudah menjadi penjelajah samudra yang handal
Di saat orang lain masih menyanjung batu yang berdebu, kita sudah memahat batu dengan sangat indah
Di saat orang lain bicara tentang surga dengan segenap keindahannya,kita sudah menjadi penghuni surga
Di saat orang sibuk kesana kemari mencari makanan, kita sudah punya lumbung

Kita ini bangsa apa ?

oleh : Wong Edan
Pict : fotopedia.com

Rabu, 22 Mei 2013

PKS, Wanita dan Kekuasaan

Beberapa saat sebelum Pemilihan Raya ke 13 (Pru 13), publik Malaysia di gemparkan dengan munculnya video berdurasi 25 detik yang berisi adegan seronok seorang pria yang di duga sebagai salah satu pimpinan parpol oposisi dengan seorang wanita. Kasus ini sempat menjadi buah bibir warga Malaysia bukan karena semata muncul menjelang pemilu, akan tetapi figur yang ada dalam video itu di duga merupakan salah satu kader penting sebuah partai berhaluan Islam (PAS, Pan Islamic Malaysian Party). Seperti yang banyak di ketahui publik, PAS adalah partai berhaluan Islam yang cukup memiliki pengaruh kuat di Malaysia dan merupakan salah satu tulang punggung oposisi Malaysia. Dan entah karena pengaruh munculnya skandal sex yang di duga melibatkan petinggi PAS atau tidak, nyatanya di ajang pemiluraya 13 silam partai pimpinan Datuk Seri Hadi Awang ini harus kehilangan 2 kursi parlemen. Sebuah hasil yang cukup kontras, mengingat dua partai oposisi lain, yaitu PKR dan DAP justru mengalami peningkatan pesat.

Pada tahun 2000an publik Amerika Serikat juga di hebohkan dengan sebuah skandal sex yang melibatkan pucuk pimpinan negeri adidaya tersebut, Presiden Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Tak lama setelah muncul drama skandal itu, Partai Demokrat akhirnya gagal merebut kembali kursi gedung putih setelah dua periode sukses mereka genggam. Di Italia, kita juga menyaksikan bagaimana Berlusconi harus mundur teratur dari kursi Perdana Menteri akibat terlibat skandal seks dengan PSK di bawah umur. Michael Palmer, Ketua Parlemen Singapura dan merupakan kader dari partai berkuasa (Partai Aksi Rakyat) terpaksa harus mundur dari jabatannya karena terlibat skandal seks dengan wanita bukan pasangan sahnya. Dan masih banyak lagi cerita skandal seperti di atas yang akhirnya mengubah segalanya.
Darin Mumtazah (Pict : putracenter.blogspot.com)

Baru baru ini publik Indonesia juga di suguhi cerita menarik dari salah satu mantan petinggi partai yang juga terkait dengan persolan wanita wanita di sekelilingnya. Walaupun sebenarnya kisah kisah semacam ini bukan pertama kalinya menyangkut moralitas para pemimpin kita, akan tetapi kisah paling mutakhir ini rupanya cukup menyita perhatian khalayak.

Adalah Luthfi Hasan Ishaq, Presiden Partai Keadilan Sejahtera. Namanya akhir akhir ini selalu menghiasi pemberitaan di media. Baik media massa, media elektronik hingga menjadi buah bibir di jejaring sosial. Kasus yang di awali operasi tangkap tangan KPK dengan dugaan terlibat kasus korupsi impor daging sapi ini kemudian berubah menjadi bola liar yang tidak saja menghancurkan karir LHI, akan tetapi juga berpotensi menghancurkan struktur PKS yang selama ini oleh banyak pihak di anggap sebagai partai dengan sistem pengkaderan rapi.

Kasus yang menimpa pria kelahiran Malang itu nyatanya tidak saja terkait dengan korupsi semata, akan tetapi juga menyangkut keberadaan para wanita wanita di sekitar LHI. Penulis sengaja tidak akan membahas sepak terjang orang dekat LHI, Ahmad Fathanah. Walaupun peranan pria yang konon pernah satu almamater dengan LHI ini di nilai cukup besar, namun penulis menganggap ia hanyalah komandan lapangan berpangkat biasa dan di belakangnya masih ada sederet nama yang secara wewenang dan kekuasaan jauh lebih besar dari dirinya.

Pada bulan Maret 2011, salah satu pendiri PKS Yusuf Supendi melansir tudingan bahwa di internal PKS setidaknya ada 3 elite yang telah melakukan poligami. Tifatul Sembiring, Mahfudz Shidiq dan Luthfi Hasan Ishaq. Dalam laporan itu Yusuf Supendi mengatakan bahwa poligami yang di lakukan oleh ketiga petinggi PKS itu di anggap bertentangan dengan syariah. Luthfi Hasan Ishaq misalnya, di tuding telah menikah lagi tanpa mendapat persetujuan terlebih dulu dari istri pertamanya. Oleh sebab itu dewan syariah selaku pengawas dan penjaga moral politisi PKS akhirnya memutuskan untuk tidak merestui poligami LHI.

Informasi awal yang di sampaikan KH Yusuf Supendi ini bagi penulis adalah petunjuk dasar bagaimana mengenali karakter sosok yang kemudian di daulat sebagai Presiden PKS itu. Kata pepatah, awal yang salah akan menghasilkan akhir yang salah pula. Nabi Muhammad bilang, segala sesuatu itu di mulai dari niat. Maka dalam hal ini kami menganggap apa yang di lakukan oleh LHI kala itu adalah cerminan niat dan awal yang salah. Pria yang berpoligami dengan niat baik tidaklah mungkin berani mengorbankan kepentingan yang lebih besar, yaitu keluarga dari istri pertamanya. Kenekatan LHI yang menikah tanpa memperhatikan persetujuan istri pertama dan tanpa memandang hasil sidang dewan syariah partai adalah bukti bahwa pria ini memang hanya peduli dengan kesenangan dirinya.

Kendati apa yang di lansir Yusuf Supendi kala itu di anggap angin lalu, baik oleh LHI sendiri maupun petinggi PKS lainnya, namun seiring perjalanan waktu sepak terjang LHI dengan wanita wanita cantik perlahan terkuak. Nama Darin Mumtazah, siswa kelas XII SMA yang sebentar lagi akan lulus sekolah muncul dalam daftar saksi kasus korupsi daging impor. Perempuan belia dengan body seksi ini konon merupakan salah satu wanita yang dekat dengan LHI. Ada yang mengatakan Darin istri siri, ada yang mengatakan wanita simpanan, atau justru hanya wanita yang sekedar di bayar untuk di tiduri. Beberapa saksi yang tinggal di sekitar kediaman DM mengatakan bahwa LHI sering berkunjung ke rumah DM. Mereka juga mengatakan bahwa LHI oleh orang tua DM di kenalkan sebagai suami dari DM.

Bagi kader kader PKS yang secara struktur tidak melarang poligami mungkin saja adalah sesuatu yang biasa dan tidak perlu di besar besarkan. Akan tetapi masyarakat luas sudah pasti memiliki persepsi lain. Apalagi sebelumnya masyarakat juga di suguhi tingkah polah orang kepercayaan LHI, Ahmad Fathanah yang doyan perempuan. Dalam pikiran masyarakat, LHI pun kemungkinan juga memiliki kebiasaan buruk yang sama.


Seorang kawan bijak mengatakan, "lelaki itu makin berkuasa cenderung makin nakal, sementara wanita makin nakal makin berkuasa". Memang tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Banyak contoh yang mengisyaratkan demikian. Di gedung DPR misalnya, konon petugas kebersihan seringkali menemukan adanya kondom yang berasal dari tempat sampah di ruangan para legislator. Begitu juga ketika ada pejabat yang berkunjung ke daerah maupun plesir ke luar negeri, aroma mesum seringkali muncul mengiringi tingkah laku mereka. Itu belum termasuk kasus lain yang menyangkut moralitas para pemimpin semisal penggunaaan narkoba, judi dan lain sebagainya.

Sebaliknya, wanita semakin nakal semakin berkuasa. Di balik kemolekan tubuhnya, Monica Lewinsky sukses menghancurkan karir Bill Clinton dan juga mengakhiri dominasi Partainya di gedung putih. Di balik suara merdu penjaja cinta, perdana menteri Italia sekaligus presiden AC Milan tersungkur dari kursinya. Dan banyak lagi. Wanita terbukti tidak sekedar makhluk lemah yang mudah di tindas, tapi ada kalanya wanita tak ubahnya seperti Tuhan. Dia bisa menentukan kapan kekuasaan pria harus terus di pertahankan, dan kapan harus di akhiri.


ARJUNA, PLAYBOY SUKSES

Berbeda dengan nasib banyak politisi yang akhirnya hancur berkeping keping karena di dera masalah perempuan, tokoh pewayangan yang satu ini di anggap sebagi playboy yang sukses. Kisah hidup tokoh Pandawa ini dari awal hingga akhir nyatanya tidak pernah sepi dari isu perempuan perempuan di sekitarnya. Bahkan kalau di bandingkan dengan LHI, kenakalan Arjuna masih jauh di atas. Siapa saja wanita yang pernah dekat dengan LHI masih bisa di telusuri, tetapi Arjuna ?. Bahkan dalangpun tidak ada kata sepakat berapa jumlah wanita yang pernah dekat dengan titisan Wisnu itu. Karena saking banyaknya.

Lalu kenapa nasib Arjuna lebih mujur dari LHI  ?

Pertama, soal kejujuran. Dalam dunia wayang, Arjuna di anggap sebagai sosok ksatria yang jujur. Baik dalam hal keperwiraan maupun dalam kehidupan sosial. Oleh sebab itu ia di juluki Whibatsu, yang artinya petarung yang jujur. Bukti kejujuran Arjuna yang lain juga bisa kita tengok dari nama nama panggilan yang di sematkan oleh orang lain kepada Arjuna dan itu di terima sang pemanah terbaik dunia wayang ini tanpa banyak protes atau tersinggung. Dia tidak marah ketika orang menyebutnya sebagai Janaka. Yang artinya pria yang memiliki banyak istri. Ini berbeda dengan politisi kita yang sudah jelas ketahuan memiliki banyak istri tapi masih saja membantah kalau ia berpoligami. Arjuna juga seringkali di ledek dengan sebutan Danasmara, yang artinya perayu ulung. Tapi tidak pernah Arjuna protes dengan sebutan itu. Karena memang itu fakta sebenarnya. Ini berbeda dengan politisi kita yang di depan orang banyak bicara moral, di belakang dia jatuh terjerembab dalam pelukan wanita. Sifat jujur ini yang tidak di miliki LHI. Jangankan kepada masyarakat luas, kepada istrinya dan keluarganya saja tidak jujur.

Kedua, kemampuan spiritual. Dalam hal ini boleh jadi Arjuna bukan tandingan LHI. Walaupun Arjuna di kenal sebagai figur penggila wanita, akan tetapi ia memiliki pengalaman spiritual yang jauh lebih kuat. Arjuna oleh banyak dalang di sebut sebagai tokoh yang hoby bertapa. Senang bermeditasi dari satu tempat ke tempat lain. Dari hutan satu ke hutan yang lain, dari gunung satu ke gunung yang lain demi melatih mental spiritualnya. Ia sanggup bertahun tahun jauh dari keramaian dan publistas. Ia sanggup bertahun tahun menjadi manusia buangan yang terusir dari negerinya. Ia sanggup tidak makan berhari hari bahkan konon bertahun tahun. Ini berbeda dengan para politisi kita yang penggemblengan spiritualnya sebagian besar hanya berkisar masalah teori, jargon keagamaan dan lain sebagainya. Tanpa di iringi lelaku prihatin. Bayangkan saja, seorang tokoh menyerukan kepada pengikutnya untuk bertaubat, tapi di sisi lain ia sendiri hidup dengan fasilitas mewah dan kehidupan yang serba hedonis. Ibarat bertarung, belum menang saja sudah foya foya.

Ketiga, kemandirian. Kendati Arjuna memiliki banyak istri dan simpanan, tapi ia adalah pribadi yang mandiri. Ia bukan pria yang mudah di kendalikan oleh wanita. Pikirannya tetap fokus pada tujuan awal. Yaitu memenangkan pertarungannya dengan Kurawa. Dan itu di genggamnya erat erat. Bagi Arjuna, wanita hanyalah alat, dan bukan tujuan. Oleh sebab itu tidak heran ketika pecah Baratayuda, istri istri dan anak anak Arjuna berdiri tegak di bekalang Arjuna. Srikandhi di daulat sebagai panglima perang, Larasati bertugas sebagai kepala keamanan Madukara, Wara Sembadra mengurusi logistik. Bahkan Banowati (istri Suyudana) yang merupakan selingkuhan Arjunapun ikut ambil bagian dalam memasok informasi demi kepentingan kubu Pandawa. Apakah hal ini juga terjadi pada para politisi kita ?


Saran penulis untuk PKS, sebaiknya elite elite PKS belajar dari tokoh pewayangan seperti Arjuna. Jangan hanya menggelar wayang kulit semalam suntuk saja tanpa mau belajar bagaimana seorang tokoh menjalani kehidupannya. Kalau memang ada yang suka berpoligami, jujur saja. Kalau memang kasus itu melibatkan banyak elite partai, sebaiknya secara jujur di akui saja. Untuk jangka pendek memang menyakitkan, akan tetapi untuk jangka panjang itu bermanfaat besar dalam mencapai cita cita.

Selain itu, elite elite PKS dan juga elite politik lainnya, teruslah melatih kemampuan spiritual. Banyak prihatin. Berlakulah sederhana, merakyat dan apa adanya. Hindari hal hal berbau kemewahan yang itu membuat rakyat merasa di dholimi. Ketika banyak rakyat susah payah mencari sesuap dua suap nasi, politisi kita justru seenaknya menghamburkan uang negara. Kebiasaan ini tidak akan mencetak kader bangsa yang handal. Sampai kapanpun.

Terakhir, para calon pemimpin mesti bisa mandiri. Kalau memang partai dananya sedikit, jalankan saja sebatas kemampuannya. Jangan berlebihan, apalagi sampai mengorbankan uang rakyat. Terkadang pertarungan memang butuh waktu yang panjang, lama dan berdarah darah. Tapi kemandirian dari sebuah institusilah yang di akhir cerita menjadi kunci dari sebuah kemenangan.


Quote : Ketika ternyata dalam sebuah permainan, Pandawa mengalami kekalahan, mereka dengan serta merta mengakui itu dan meningalkan negaranya kemudian hidup bertapa di hutan belantara untuk kembali memupuk semangat dan kemampuan daya juangnya. Maka, tidak ada salahnya kalau kader kader PKS sepakat meninggalkan partainya atau kalau perlu bubarkan saja, lalu kembali ke habitat awal sebagai gerakan dakwah sembari mempersiapkan diri untuk kompetisi jangka panjang.


Oleh : Komandan Gubrak

Jumat, 10 Mei 2013

Bersiap Ke Kurusetra

Khrisna dan Arjuna di Padang Kurusetra (Pict : wikipedia.com)

Ibarat cerita pewayangan, pihak Pandawa sudah mulai kehilangan kesabaran setelah segala upaya untuk menegakkan keadilan selalu menemui jalan buntu. Guru Durna, sang guru bijak yang bisa di harapkan mengatasi kemelut Hastina nyatanya tidak lagi bisa di harapkan. Mentor bangsa Kuru ini seolah menelan ludah sendiri ketika dulu ia mengatakan sangat menyayangi Pandawa, namun faktanya hanya sekedar manis di mulut belaka. Ketika di hadapkan pada kenyataan politik yang ada, sang Durna tak beda jauh dengan para elite politik Hastina yang lebih mengedepankan oportunity. Begitu juga dengan Resi Bisma. Orang paling berpengaruh di Hastinapura dan di anggap sebagai teladan bagi wangsa Kuru. Ketika ia di tanya, akan membela siapa dalam sengketa politik antara Pandawa dan Kurawa ?. Jawabannya sungguh membuat anak anak Pandu Dewanata merasa sakit hati. Bisma dengan tegas bersumpah untuk berdiri di belakang penguasa Hastina.

Kabar lain yang tak kalah tragisnya adalah keputusan Prabu Salya. Paman kandung dari Nakula dan Sadewa (anggota Pandawa) yang di harapkan bisa bersikap adil dalam mengatasi sengketa politik, nyatanya juga cenderung berpihak pada Kurawa. Penderitaan Pandawa makin lengkap, ketika ibu Pandawa Dewi Kunti yang berusaha membujuk Karna agar tidak memusuhi Pandawa juga menemui kegagalan. Adipati Awangga, Basukarna yang sejatinya adalah saudara kandung Pandawa itu sedikitpun tidak mau berpaling pada mereka.

Pandawa kini merasa seperti sendirian di hutan belantara nan gelap. Mereka yang sejatinya paling berhak atas tahta Hastina, justru kini menjadi pihak yang seolah paling di salahkan dan paling ingin di singkirkan oleh penguasa Hastina. Pada situasi inilah kemudian muncul Prabu Kresna. Sahabat Pandawa sekaligus raja Dwarawati ini menawarkan bantuan pada keluarga Pandawa.

"Kalau memang tidak ada cara lain untuk menegakkan kebenaran, kenapa tidak kalian coba menyusun kekuatan dan merebut hak kalian dengan cara yang lebih tegas lagi ?".

Begitu kira kira sang Batara Kresna memprovokasi Pandawa. Sebenarnya Pandawa tidak menginginkan adanya konfrontasi, akan tetapi mereka juga tidak punya pilihan lain yang logis untuk di lakukan. Jalur diplomasi sudah mentok. Bahkan bandul politik kian hari kian tidak berpihak pada mereka. Jika demikian, haruskah Pandawa tetap diam menunggu waktu dan membiarkan segalanya hancur lebur di tangan Kurawa ???.

Cerita di atas hanya sekedar ilustrasi semata dari penulis. Sebagai penggambaran yang mungkin saja mirip dengan situasi Indonesia saat ini. Di mana kita tidak saja di hadapkan pada degradasi moral para elite politik, akan tetapi juga di hadapkan pada bencana hilangnya kemampuan bangsa Indonesia untuk survive. Ini pula yang rupanya menjadi keprihatinan beberapa elemen nasionalis yang berkumpul dalam diskusi kebangsaan yang di gelar di Sokotunggal Rawamangun Jakarta Timur.

Seperti yang di kemukakan oleh salah satu panelis, Aditya Hanafi. Aktifis yang pernah turut serta menumbangkan rezim Orba itu mengatakan bahwa sistem yang ada sekarang ini sudah sangat melenceng dari garis perjuangan para founding father. UUD 45 yang di buat melalui pemikiran yang matang dan sudah teruji membuat sistem bernegara kita lebih stabil, kini telah di obrak abrik sedemikian rupa sehingga tidak lagi menampakkan wajah aslinya. UUD yang ada di tangan kita adalah produk 4 kali amandemen 2002 yang sudah banyak di susupi oleh kepentingan asing. Tidak itu saja, turunan turunannya semisal UU Migas, UU Minerba dan lain sebagainya jelas sekali mengindikasikan adanya kekuatan luar yang sengaja ingin melumpuhkan kekuatan Indonesia. Ini yang kemudian mengubah watak konstitusi kita menjadi lebih kapitalistik dan hanya menguntungkan segelintir pihak.

Panelis lain, Alamsyah mengemukakan bahwa sistem pengelolaan keuangan kita masih jauh dari kata baik. Dia menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan almarhum Gus Dur soal bagaimana mengelola keuangan negara. Gus Dur mengatakan bahwa sebenarnya pengelolaan anggaran yang lebih mendekati konsep negara kesejahteraan adalah konsep zakat. Sebuah konsep yang sebenarnya sudah di usung oleh Islam. Konsep ini kurang lebih intinya menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan yang sangat mendasar bagi masyarakat semisal kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Namun demikian, distribusi zakat juga bisa di peruntukkan untuk pembangunan, pertahanan dan lain sebagainya. Mantan pegawai Bank Dunia ini mengatakan, andai saja pengelola keuangan negeri ini mau mengambil spirit dari konsep itu, rasanya kemiskinan bisa di tekan seminimal mungkin.

Sementara itu Adhie M Massardi (mantan juru bicara Presiden Gus Dur) menggambarkan bagaimana pengelolaan anggaran di negeri ini. Ketika anggaran di ajukan ke parlemen saja indikasi korupsinya sangat kentara. Angkanya cukup fantastis. Bisa sampai 30% dari jumlah anggaran. Begitu juga pada tahap implementasi. Hampir di semua tingkatan kekuasaan berusaha untuk merampoknya. Makanya banyak proyek negara yang amburadul. Ketua Gerakan Indonesia Bangkit ini menegaskan bahwa kesalahan utama ada di tingkat pemimpin nasional. Kalau pemimpin nasionalnya berani bertindak tegas, maka korupsi bisa di tekan. Adhie Massardi mencontohkan bagaimana Gus Dur dulu memimpin Indonesia. Gus Dur orang yang tidak segan segan untuk mencopot pejabat pejabat bawahannya yang bahkan baru di isukan korupsi sekalipun. Anggota Fraksi PKB yang ada di parlemenpun tidak bisa berbuat seenaknya menyelewengkan anggaran. Karena pemimpinnya tegas. Di segmen terakhir Adhie Massardi menghimbau, sebaiknya rakyat bersatu padu untuk melakukan blocking terhadap partai partai politik yang jelas jelas terindikasi sebagai sarang koruptor. Rakyat harus berani bersatu untuk menghukum partai politik korup. Memang, tidak ada parpol yang bersih bersih amat. Tetapi setidaknya rakyat bisa mengambil pilihan yang tingkat kerusakannya tidak terlalu berat. Pilih partai yang mencalonkan figur figur baik, atau setidaknya mereka yang mengusung calon presiden dengan track record baik.

Di segmen lain, Gus Nuril yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sokotunggal mengingatkan pada kita semua untuk tidak terlena dengan wacana wacana. Carut marut yang sudah tidak karuan juntrungnya ini mesti di sikapi dengan tindakan kongrit. Semua elemen, baik yang ada di luar sistem maupun orang orang baik yang ada di partai politik harus bersatu padu untuk menyelamatkan bangsa. Tidak harus revolusi. Apapun itu, intinya adalah bagaimana perubahan ini bisa berjalan cepat dan terukur. Umat Islam juga di himbau untuk tidak terlalu banyak mengurusi hal hal yang kurang penting. Utamakan bagaimana ikut ambil bagian dalam memperbaiki bangsa.


Jakarta, 9 Mei 2013
Di ramu dari diskusi Kebangsaan di Sokotunggal, Rawamangun

Minggu, 05 Mei 2013

Menanti Tuah Megawati Di Pilgub Bali

Sempat memenangkan Pilgub DKI, lalu berturut turut jagonya kandas di beberapa ajang pilkada (semisal Jawa Barat dan Sumatera Utara) sepertinya tak membuat Megawati merasa jera untuk terus memasang calon calon kepala daerah yang berasal dari kader internal. Hingga hari ini,Megawati tak henti hentinya mempertontonkan akrobat politik yang terkadang di mata banyak orang di anggap kurang kalkulatif dan gegabah. Pilgub Jawa Barat adalah salah satu contoh, di mana ‘kengototan’ Megawati dalam mengusung kader internal dan tanpa partner koalisi pula akhirnya berujung pada kekalahan jago PDI Perjuangan. Yang lebih tragis lagi, perolehan suara cagub – cawagub usungan PDI Perjuangan hanya terpaut beberapa persen dari pemenang pilkada.

Saya sendiri membayangkan, andaikata Megawati bersedia kompromi dengan kekuatan politik lain semisal Gerindra saja, situasinya bisa jadi akan berbeda. Rieke Dyah Pitaloka dan pasangannya berpeluang besar untuk menang. Apalagi seperti kita tahu, sejak awal Prabowo sangat bernafsu mengusung Teten Masduki. Belajar dari pilkada DKI, kehadiran Gerindra sebagai partner PDI Perjuangan nyatanya menghasilkan sebuah kolaborasi yang begitu dahsyat dan secara luar biasa membalikkan prediksi banyak kalangan.

Tapi nyatanya fakta berkata lain. Entah karena trauma dengan kejadian di DKI, dimana PDI Perjuangan merasa di ‘tipu’ oleh Gerindra ataukah ada visi lain yang jauh lebih besar, yang jelas pada even even selanjutnya, Megawati sebagai pemimpin tertinggi partai tampak makin ngotot untuk mengusung kadernya sendiri. Terlepas apakah hasilnya memuaskan atau mengecewakan.

Lalu apa kira kira yang melatar belakangi langkah langkah taktis PDI Perjuangan dan Megawati di ajang ajang pilkada itu ?
Megawati Soekarnoputri (shnews.co)

Pertama, Megawati sepertinya ingin membuat garis batas yang tegas antara dia dan lawan lawan politiknya. Ini penting untuk melindungi partai dari pengaruh dan intervensi kekuatan politik lain yang mungkin saja masuk dan mengambil keuntungan. Megawati tak ubahnya Achilles dalam film Troy yang walaupun ikut serta menyerbu kota Troya, tapi menolak unit militernya di kooptasi oleh penguasa di atasnya. Ia dan pasukannya memilih diam ketika ribuan tentara Yunani lainnya menggedor benteng Troya. Tapi ketika situasi memungkinkan, ia bergerak sendiri tanpa harus menunggu komando atasannya. Petarung sejati semacam ini yang saya pikir jarang kita temukan di negeri ini. Sebagian politisi hanya mengedepankan oportonity. Dalam bahasa lain, hanya mementingkan kemenangan semata.


Kedua, Megawati ingin menguji kekuatan dan kesiapannya untuk merebut kembali kemenangan yang pernah di raihnya di tahun 1999. Pilkada bagi semua partai politik di anggap sebagai ajang pemanasan dalam merebut supremasi sebagai kampium pemilu. Maka prestasi prestasi di tingkat lokal bisa di katakan sebagai indikasi awal bagaimana sesungguhnya peluang sebuah partai di kancah nasional. Megawati tampaknya sangat serius menggarap even even lokal seperti ini. Berbeda dengan Partai Demokrat yang walaupun merupakan pemenang pemilu dan pemilik kursi terbanyak di legislatif pusat hingga daerah, tapi dalam banyak ajang nyatanya kurang percaya diri. PDI Perjuangan cukup unik. Dia hanya bersedia koalisi jika kursi di DPRD tidak memungkinkan untuk mengusung sendiri, tapi kalau di rasa cukup, PDI Perjuangan lebih memilih melaju sendirian. Tidak ada rasa takut sedikitpun, walau akhirnya harus di keroyok oleh gabungan partai partai politik.

Ketiga, Megawati ingin memberikan pelajaran berharga bagi perpolitikan tanah air. Sejelek apapun, sekorup apapun, partai politik tetaplah merupakan wadah utama bagi proses kaderisasi calon calon pemimpin bangsa. Dari partai politik inilah masa depan sebuah bangsa di tentukan. Negara yang kuat haruslah di topang oleh partai politik yang kuat, solid, terstruktur dan di kelola dengan baik. Partai yang buruk secara organisasi, mustahil akan melahirkan calon pemimpin yang handal. Apa yang di lakukan oleh Megawati, adalah pelajaran yang sangat berharga. Dalam politik, opportunity kadang menguntungkan, minimal untuk jangka pendek. Tapi menina bobokan dalam jangka panjang. Mereka yang di didik melalui proses berjenjang dalam sebuah organisasi tentu berbeda dengan calon pemimpin yang tiba tiba masuk lalu menduduki posisi penting. Kemelut di partai Demokrat saya pikir bisa di jadikan referensi bagi kita semua. Partai yang di bangun tanpa melalui proses kaderisasi yang baik, nyatanya dalam sekejap bisa hancur lebur di landa konflik. Ibarat sebuah tim sepakbola, taburan bintang ternyata tidak selamanya menjamin kemenangan jika pengorganisasiannya di lakukan secara buruk.


Pilgub Bali, Pembuktian Kapasitas Megawati ?

Setelah kekalahan PDI Perjuangan di Jawa Barat dan Sumut, partai yang komandani Presiden ke 5 RI ini kembali mengusung sendirian jagonya di ajang pilgub Bali. Adalah Anak Agung Puspayoga – Sukrawan, yang merupakan kader internal PDI Perjuangan yang di gadang gadang bisa menjungkalkan sang petahana Made Mangku Pastika – Ketut Sudikerta. Hampir semua partai politik yang memiliki kursi di DPRD I Bali berada di kubu Pasti Kerta (Pastika – Sudikerta), sementara pasangan Puspayoga (wagub Bali sekarang) dan Sukrawan hanya di usung sendirian oleh PDI Perjuangan.

Secara matematis, pasangan Puspayoga – Sukrawan (PAS) memiliki modal 43,63%. Itu jika di lihat dari perolehan kursi DPRD I PDI Perjuangan pada pemilu 2009 silam. Sementara lawannya, Pastika – Sudikerta  di usung hampir semua partai pemilik kursi DPRD I (Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional , Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasional Benteng Kerakyatan, Partai Karya Perjuangan, Partai Karya Peduli Bangsa, dan Partai Pakar Pangan) memiliki kursi DPRD I Bali sejumlah 30 kursi (54,5%). Mengacu pada perimbangan kursi di legislatif, tentu kubu Pasti Kerta lebih unggul. Akan tetapi seperti halnya pilkada di tempat lain, faktor partai bukanlah satu satunya penentu kemenangan. Figur kandidat biasanya juga menjadi acuan penting bagi kemenangan calon.

Secara kecil kecilan kami mengadakan survey melalui jejaring sosial (facebook) untuk mengukur elektabilitas calon. Responden kami ambil secara acak. Sebagian adalah responden yang berteman dengan akun kami, sebagian lagi tidak. Jumlah responden tidak banyak. Hanya 51 responden. Ini di karenakan ajang Pilgub Bali tidak termasuk dalam rencana kerja utama Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak). Pun demikian, hasil polling ini semoga saja bisa menjadi gambaran bagaimana sesungguhnya pertarungan antar dua calon di Bali.

Berikut Hasil Polling yang di lakukan Team Polling Gubrak pada tanggal 22 April – 4 Mei 2013



1. Ngurah Puspayoga - Sukrawan : 25 atau 49,01%

Afiliasi Politik Responden
1. PDIP : 15 (60%)
2. Gerindra : 2 (8%)
3. Hanura : 1 (4%)
4. Tidak Tahu : 7 (28%)

2. Mangku Pastika –Sudikerta : 15 atau 29,41%

Afiliasi Politik Responden
1. Golkar : 6 (40%)
2. PDIP : 2 (13,33%)
3. Gerindra : 2 (13,33%)
4. Hanura : 1 (6,66%)
5. Demokrat : 1 (6,66%)
6. PKPI : 1 (6,66%)
7. Tidak Tahu : 2 (13,33%)

3. Belum Menentukan : 11 atau 21,56%

Total : 51
Margin Error : 5 %

Dari survey yang walaupun jumlahnya belum bisa di katakan memenuhi syarat, akan tetapi ada yang menarik bagi kami. Yaitu pertempuran antara PDI Perjuangan dan Partai Golkar. 60% pemilih pasangan PAS adalah pendukung PDI Perjuangan, sementara 40% pemilih pasangan Pasti Kerta adalah simpatisan Partai Golkar. Rivalitas ini kemungkinan akan berlanjut di pemilu 2014. Dimana Golkar tetap menjadi rival terdekat bagi PDI Perjuangan dalam berebut pengaruh di Bali. Namun demikian, ini hanya sekedar polling. Bukan hasil resmi. Segala sesuatunya bisa saja berubah di detik detik terakhir.

Bagi Megawati, Bali adalah salah satu lumbung strategis dan basis tradisional PDI Perjuangan. Di tempat ini PDI Perjuangan selalu menang. Bali boleh di bilang sebagai tempat yang pas untuk menguji kemampuan mesin PDI Perjuangan dalam mengamankan basisnya. Pilkada kali ini juga menjadi pintu masuk bagi perhelatan selanjutnya di tempat lain semisal Jawa Tengah. Di mana PDI Perjuangan juga mengusung calonnya tanpa koalisi. Kalau PDI Perjuangan sukses mengunci Bali, boleh jadi partai ini juga memiliki peluang mengunci Jawa Tengah. Tap jika gagal, kans Ganjar Pranowo – Heru Sudjatmoko di Jateng kemungkinan juga terancam. Dan imbas lainnya bisa jadi juga akan mengancam peluang calon usungan PDI Perjuangan di Jawa Timur.


Oleh : Dhan Gubrack, analis Politik Gubrak dan Direktur Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak)