Tampilkan postingan dengan label Polling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Polling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2013

Polling : Berkah Berpeluang Jungkalkan Karsa

Seperti yang di prediksikan sejak awal, pertarungan memperebutkan kursi kepala daerah Jawa Timur kali ini sepertinya tak lebih dari ulangan pada ajang yang sama di tahun 2008. Antara pasangan Karsa dan Kaji (sekarang Berkah). Karsa di usung oleh Partai Demokrat dan puluhan partai lain baik yang memiliki kursi di DPRD maupun partai non kursi. Sementara Berkah di sokong oleh PKB dan 4 partai non parlemen dengan total modal suara 15% lebih sedikit. Kompetitor lain pasangan Bambang DH - Said Abdullah di usung PDI Perjuangan dan terakhir pasangan independen Eggy Sudjana - M Sihat.

Dalam survey yang di gelar Tampoll Gubrak (Team Polling Gubrak) sejak tanggal 12 – 25 Agustus 2013, dominasi dua pasang kandidat (Karsa – Berkah) tak terbantahkan lagi. Survey yang di ikuti 771 responden jejaring sosial (facebook) dengan metode pertanyaan tertutup ini menempatkan Karsa di posisi pertama dengan torahan angka 28,79%. Di posisi kedua menyusul Berkah dengan selisih sangat tipis, yaitu 27,1%. Kandidat yang di usung PDI Perjuangan Bangsa berada di posisi ketiga dengan raihan angka 13,61%. Terakhir Eggy Sudjana – M Sihat memperoleh dukungan responden sebesar 1,16%. Sementara pemilih yang belum menentukan berjumlah 29,31%.

Dari penguasaan wilayah dengan mengacu pada sistem dapil (daerah pemilihan), Berkah di prediksikan memenangkan setidaknya 6 dapil, Karsa 5 dapil. Dua pasangan lain di ramalkan hanya menjadi penggembira saja. Tapi jika kita mengacu pada peta kabupaten/kota, pasangan Karsa masih unggul dari Berkah dengan menguasai setidaknya 15 Kabupaten/Kota. Mengalahkan Berkah yang unggul di 11 Kabupaten/Kota. Sisanya 12 Kabupaten/Kota relative seimbang.

Daerah yang mungkin di menangkan Karsa

Di wilayah tapal kuda setidaknya Karsa unggul di Bondowoso, Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan dan kabupaten Sidoarjo. Karsa juga menang di Lumajang dan Jember. Wilayah dengan jumlah penduduk besar yaitu Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu di prediksikan juga di kuasai Karsa. Daerah lain yang menjadi lumbung suara Karsa adalah Mataraman. Pasangan ini setidaknya unggul di Trenggalek, Magetan, Madiun, Kota Madiun dan Tulungagung dengan keunggulan yang berbeda beda.

Daerah yang mungkin di menangkan Berkah

Pasangan yang mengusung jargon Jatim Berkah ini di prediksikan menguasai hampir semua kabupaten di pulau Madura. Mereka juga unggul di pesisir utara Jawa Timur seperti Gresik, Lamongan dan Tuban. Sementara di area Mataraman, Berkah sukses mencuri perhatian di beberapa kabupaten/kota semisal, Pacitan, Ponorogo, Jombang, Kota dan kabupaten Mojokerto serta Blitar. Di Jombang misalnya, pasangan ini di ramalkan akan unggul mutlak. Begitu juga dengan Kota Mojokerto. 

Daerah abu abu

Adalah tempat di mana antara Karsa dan Berkah bersaing ketat. Di antaranya Kabupaten Banyuwangi. Di sini 3 pasang calon (Karsa, Bangsa dan Berkah) bertarung sengit. Begitu juga dengan Kota Surabaya. Wilayah dengan jumlah penduduk besar ini juga menjadi ajang pertaruhan tiga pasangan itu. Kemudian Situbondo dan Kota Pasuruan juga di prediksikan menjadi ladang hidup mati bagi Karsa dan Berkah. Di area Mataraman, yaitu Bojonegoro, Kediri, Nganjuk dan Ngawi kemungkinan juga akan berlangsung sengit.

Hasil Polling

Periode : 12 -25 Agustus 2013
Jumah responden : 771


1. Soekarwo – Syaifullah Yusuf : 28,79%
2. Eggy Sudjana – M Sihat : 1,16%
3. Bambang DH – Said Abdullah : 13,61%
4. Khofifah – Herman : 27,1%
5. Belum Menentukan : 29,31%

Margin of error  : 5%

Melihat peta persaingan antara Karsa dan Berkah yang sangat ketat, kemungkinan apapun bisa terjadi. Keunggulan Karsa yang hanya 1% lebih bukan tolok ukur bahwa pasangan ini bakal keluar sebagai juara. Setidaknya masih ada 29,31% responden yang belum menentukan. Pun juga bagi pasagan nomer urut tiga, Bambang DH – Said Abdullah. Peluangnya masih terbuka lebar meski tidak lebih baik dari Karsa dan Berkah. Daerah daerah yang di prediksikan akan di menangkan oleh calon tertentu juga masih mungkin berubah. Lagi lagi pemilih mengambang menjadi penentu kemenangan. Namun demikian, siapapun yang akan keluar sebagai juara nanti, kami ramalkan tidak akan menang dengan angka yang mutlak. Kecuali ada imigrasi pemilih besar besaran di detik detik terakhir.

Terimakasih kepada responden kami yang bersedia meluangkan waktunya. Terimakasih juga kepada relawan relawan Team Polling Gubrak. Semoga pilkada Jatim kali ini menghasilkan pemimpin yang benar benar di harapkan oleh rakyat Jawa Timur.

By TAMPOLL GUBRAK


By TAMPOLL GUBRAK

Jumat, 23 Agustus 2013

Dilema Pemilih Mengambang

Oleh : Putri Banowati

Sejauh pengamatan saya, ada semacam rasa was was atau tepatnya keraguan bagi responden yg sebenarnya memilih Berk4h. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengatakan "Belum Menentukan". Sebagian besar mereka adalah kaum perempuan, pemilih pemula dan pemilih dengan pendidikan minim.Situasi ini mirip sekali dengan kejadian di DKI. Yang akhirnya membuat prediksi hampir semua lembaga survey meleset.Ada beberapa hal yang membuat situasi seolah olah mengintimidasi.

1. Banyaknya partai pendukung pesaing.

Pada musim kampanye DKI lalu, situasi serupa terjadi. Dimana nyaris semua partai kecuali PDI Perjuangan dan Gerindra bersatu di belakang Foke - Nara. Setidaknya koalisi ini memiliki 80% lebih kursi DPRD. Sebuah kekuatan yang tentu saja cukup menggetarkan siapa saja yang menjadi lawan mereka. Apalagi jika mereka keluar rumah dan menyaksikan situasi di jalan jalan. Bendera, spanduk, baliho dari berbagai macam partai politik terpampang jelas dengan tema dukungan kepada incumben. Mereka yang kurang melek politik, walaupun mendukung Jokowi sekalipun kalau di tanya siapa yang akan memenangkan pilgub ?. Maka kemungkinan besar mereka menjawab incumben yg menang. Dan kalau di tanya, mana calon yang akan anda pilih ?. Mereka akan melihat dulu siapa yang bertanya. Mereka mesti memastikan dulu penanya adalah orang yang satu kubu, baru mereka jawab. Kalau tidak, mereka biasanya tidak bersedia menjawab.

2. Iklan yang jor joran.

Musim kampanye DKI, pasangan Foke - Nara merupakan kandidat yang paling banyak beriklan. Baik itu di televisi, melalui spanduk maupun media lainnya. Di setiap sudut kota Jakarta, tanda gambar pasangan ini begitu kentara mendominasi. Ini tidak sebanding dengan iklan Jokowi. Perbandingannya bagai langit dan bumi. Satu spanduk Jokowi - Ahok berbanding seratus spanduk Foke - Nara. Penulis yang kebetulan merupakan penduduk DKI saja di buat terheran heran. Jangankan alat peraga yang besar besar, bahkan untuk mencari stiker bergambar Jokowi - Ahok di teras teras rumah pendudukpun susahnya minta ampun. Bagi pemilih pemula, kaum perempuan dan kaum dengan pendidikan rendah, situasi ini tak ubahnya dunia mau kiamat. Mereka bersimpati dan berencana untuk memilih Jokowi - Ahok, akan tetapi mereka tidak punya keberanian untuk mengatakan itu kepada orang lain.

3. Isu SARA

Penulis ingat betul waktu itu bulan puasa. Timses Foke - Nara mengerahkan para dai, ulama dan habaib demi memberi pencerahan pada pemilih. Mereka di terjunkan ke masjid, mushola dan majlis majlis taklim. Dan mulailah di gencarkan isu SARA. Wakil Jokowi yang merupakan keturunan Tionghoa dan beragama Kristen jadi bulan bulanan. Kasus Rhoma Irama hanya percikan kecil. Di akar rumput, provokasi ini jauh lebih dahsyat lagi. Bukan hanya melalui ceramah ceramah, akan tetapi juga memasang spanduk berukuran 2x3 meter di berbagai sudut kota. Yang isinya bertuliskan himbauan agar umat Islam memilih kandidat yang seiman dan seagama.

4. Hasil polling lembaga survey

Pembaca bisa bayangkan, hampir semua lembaga survey kala itu dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa Foke - Nara akan menang. Di antara mereka adalah lembaga lembaga survey kawakan yang sudah malang melintang di dunia survey. Misalnya LSI, Puskaptis, Indobarometer dan lain sebagainya. Bukan sekedar menang, akan sebagian malah memprediksi bahwa Foke - Nara akan tetapi menang satu putaran. Tragisnya lagi hasil survey yang menyatakan Foke - Nara ini akan menang dalam satu putaran di umumkan melalui spanduk spanduk dan di berbagai media. Di televisi misalnya, pemilik LSI Denny JA dengan sangat percaya diri mengatakan pilkada DKI berlangsung satu putaran.

Tentu Jakarta berbeda dengan Jawa Timur. Akan tetapi jika situasinya benar benar memenuhi unsur seperti yang penulis kemukakan, kemungkinan adanya kejutan di ajang lima tahunan kali ini terbuka lebar. Kemenangan Jokowi - Ahok adalah satu bukti bahwa rakyat sudah sangat cerdas. Serangan boleh gencar dan bertubi tubi, tapi mereka tetap kukuh. Kalau ada orang datang dan menawarkan sesuatu, mereka mengiyakan saja. Mereka juga mengangguk ketika para pemuka agama menasehatinya untuk memilih pemimpin yang seiman. Bahkan ketika lembaga survey menanyai siapa kandidat yang akan di pilih, mereka lebih suka menjawab tidak tahu, belum menentukan atau kalau perlu bilang golput.

So, apakah ini juga terjadi di Jawa Timur ?

Anda yang paling tahu...



Kamis, 22 Agustus 2013

Tribuana Tunggadewi, Sang Penakhluk dari Kahuripan


Penulis tergelitik dengan statemen salah satu responden Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak) yang mengatakan bahwa Jawa Timur adalah wilayah santri. Dalam Islam, tidak selayaknya perempuan jadi pemimpin. Adalagi responden yang dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa Jawa Timur tidak akan maju kalau di pimpin perempuan. Selain itu bertentangan dengan aturan agama, juga bertentangan dengan kodrat wanita sebagai makhluk yang lemah.

Pernyataan pernyataan ini menurut penulis sangat tidak berdasar. Di samping NU sendiri pernah mengeluarkan fatwa kebolehan wanita menjadi gubernur, Jawa Timur di masa silampun faktanya pernah memiliki pemimpin perempuan. Bukan sekedar gubernur atau bupati. Tapi pucuk pimpinan tertinggi. Dialah Tribuana Tunggadewi. Raja Majapahit ketiga.

Nama aslinya adalah Tribuana Wijayatunggadewi. Anak dari pendiri Kerajaan Majapahit Raden Wijaya dari hasil perkawinannya dengan putri Kertanegara, Gayatri. Tahtanya berada di Kahuripan. Sebuah kawasan yang terletak di sekitar Sidoarjo dan merupakan wilayah bawahan Majapahit. Oleh karena itu, Tribuana Tunggadewi seringkali di sebut Bhre Kahuripan.




Cerita tentang tokoh sejarah yang satu ini memang jarang sekali di ketahui oleh khalayak. Masyarakat lebih mengenal kiprah Hayam Wuruk, Gajah Mada maupun pendiri Majapahit sendiri di banding mengenal sepak terjang istri dari Bhre Tumapel (Cakradara) ini. Padahal jika teliti mencerna sejarah, sejatinya peranan Tribuana Tunggadewi dalam merintis Majapahit menuju masa keemasan sangatlah besar.

Tribuana Tunggadewi adalah sosok di balik kesuksesan Gajah Mada. Sejak menjadi anggota bayangkara Majapahit, Tribuana sudah mengetahui kemampuan luar biasa yang di miliki abdinya ini. Maka ketika Tribuana di angkat sebagai ratu di Kahuripan, Gajah Mada di usulkan menjadi patih Kahuripan. Begitupun pasca meninggalnya Jayanegara akibat penyakit misterius yang kemudian di gantikan posisinya oleh Tribuana Tunggadewi, Gajah Madapun naik posisinya sebagai Mahapatih Majapahit.

Di bidang politik, prestasi raja ketiga dengan julukan Tribuanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani ini sangatlah menarik. Dia otak di balik padamnya pemberontakan Keta dan Sadeng. Bahkan dalam kasus Sadeng, raja perempuan pertama Majapahit ini bertindak sebagai panglima perang. Tidak hanya di situ, Tribuana juga terlibat sebagai pengarah di susunnya rencana besar yang di galang Gajah Mada melalui apa yang di sebut sebagai Sumpah Palapa.

Di bawah pemerintahan Tribuana, Majapahit sukses menakhlukkan Pejeng, Dalem Bedahulu (kerajaan yang terletak di Pulau Bali) dan seluruh wilayah Bali. Tidak cukup sampai di situ, Tribuana juga sukses menakhlukkan Kerajaan Melayu, Sumatera.

Prestasi moncer Bhre Kahuripan inilah yang kemudian di teruskan oleh putranya, Hayam Wuruk. Setelah di gantikan oleh Hayam Wuruk, peranan Tribuana di bidang politik tidak serta merta surut. Dia tetap menjadi pengarah cita cita agung Majapahit. Tugasnya adalah memberi masukan pada Hayam Wuruk dan seluruh nayakapraja Majapahit dalam mengatur tata kelola pemerintahan.

Dari tulisan di atas, kiranya alasan menolak kepemimpinan perempuan karena di anggap lemah sangat tidak masuk akal. Kalau perempuan Jawa Timur di anggap lemah, barangkali Tribuana Tunggadewi tidak akan pernah sanggup mengukir kesuksesan seperti yang kami kemukakan di atas. Dan barangkali Indonesia belum tentu seluas dan sehebat sekarang. Kata Bung Karno 'Jas Merah', jangan sekali kali melupakan sejarah.

Selamat berpesta demokrasi untuk warga Jawa Timur !!!

Sabtu, 03 Agustus 2013

Kalau bisa Gubernur, Kenapa harus Wagub ???

Sebuah survey yang di selenggarakan ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) pada Maret 2013 menyebutkan bahwa populasi warga Nahdliyin di Jawa Timur mencapai 60% dari total jumlah penduduk. Sebuah angka yang luar biasa besar sekaligus mempertegas Jawa Timur sebagai basis utama NU. Namun ironisnya, kekuatan massa yang demikian besar tidak menjadikan NU atau kader NU memimpin di tanahnya sendiri. Terbukti tidak satupun gubernur Jawa Timur yang berasal dari NU. Bahkan ketika PKB memenangkan pemilu legislatif di Jawa Timur 1999 dan 2004, kader NU tetap gagal merebut posisi Jatim 1.

Pict : suryaonline

Prestasi terbesar NU baru pada posisi wakil gubernur. Adalah Syaifullah Yusuf yang mendampingi Soekarwo sukses merebut posisi itu pada ajang pilgub Jatim 2008. Pasangan ini secara dramatis mengalahkan calon lain yang juga berasal dari NU, Khofifah Indar Parawansa. Yang membedakan, di kubu Karsa, kader NU nya berposisi sebagai cawagub, sementara di kubu Kaji kader NUnya berposisi sebagai Cagub.

Kasus yang sama kini terulang. Dengan aktor yang kurang lebih sama. Karsa vs Berkah. Cagub NU vs Wagub NU. Soekarwo - Syaifullah Yusuf (NU) berhadapan dengan Khofifah (NU) - Sumawiredja. Kejadian ini seolah pengulangan 2008 di mana kedua kubu terlibat pertarungan sengit. Kemenangan Karsa tidak bisa di tempuh dengan cara mudah. Mesti melalui pilkada ulangan bahkan harus pula maju ke meja MK. Selisih suara keduanyapun terpaut sangat tipis, yakni sekitar 60 ribuan.


Lantas, apakah ajang kali ini Karsa akan kembali menang ???

Survey yang di lakukan Tampoll Gubrak beberapa waktu lalu menunjukkan betapa pasangan Karsa sangat mendominasi bila pilgub tanpa menyertakan Khofifah. Angka yang di bukukan mencapai 46%. Jauh meninggalkan Bambang - Said 8% dan Eggy - Sihat di bawah 1%. Sekali lagi itu dengan catatan Khofifah tidak ikut serta dalam kompetisi. Ketika DKPP memutuskan pasangan Khofifah - Sumawiredja berhak mengikuti pilgub, maka petanya sudah pasti akan berubah.

Apalagi angka 46% yang di peroleh Karsa sebagian besar bukanlah berasal dari pendukung fanatik Karsa. Yaitu pendukung yang akan tetap memilih Karsa dalam keadaan apapun. Faktanya sebagian pemilih Karsa adalah pendukung Khofifah. Para pendukung Khofifah ini lebih memilih Karsa dengan pertimbangan yang cukup sederhana. Yaitu faktor kedekatan kultural di mana pasangan Karsa lebih mewakili NU daripada pasangan lain. Memang tidak secara jelas berapa persen pendukung Khofifah yang menyeberang ke kubu Karwo, akan tetapi angkanya cukup signifikan.

Masuknya Khofifah - Sumawiredja (Berkah) sudah pasti akan menggerogoti dukungan terhadap Karsa. Keikutsertaan pasangan yang di usung PKB dan beberapa partai gurem ini di prediksikan juga akan mengurangi jumlah pemilih golput yang dalam polling kemarin sekitar 46%. Belajar dari ajang pilkada lain, jumlah suara golput yang wajar biasanya sekitar 30-35% dari total pemilih. Artinya 10-16% responden abstain kemungkinan akan menggunakan hak pilihnya. Lalu kemana arah suara mereka ?

Dari wawancara pendalaman kami terhadap responden, sebagian responden yang memilih untuk golput di antaranya di sebabkan karena tidak masuknya Khofifah dalam kompetisi. Sebagian lagi mengatakan ingin melihat visi misinya dulu, dan sebagian lain adalah responden apatis yang tidak akan memilih siapapun.

Faktor NU memang menjadi daya magnet tersendiri. Bayangkan saja, ketika KPUD menggagalkan Khofifah dan sebagian orang menduga bahwa biang keladinya adalah incumben, akar rumput ternyata merespons berbeda. Sebagian besar pemilih Khofifah justru mengalihkan dukungan ke Karsa. Bukan calon lain yang sebenarnya tidak terlibat dalam aksi penjegalan Khofifah. Yang penting NU. Begitulah yang ada di benak warga Nahdliyin. Walaupun hanya wakil gubernur.

Bagaimana jika ada kader NU yang tidak sekedar mencalonkan diri sebagai wakil gubernur, tapi maju sebagai gubernur ?

Survey yang di adakan ISNU pada bulan Maret 2013 menyebut bahwa sebagian besar warga NU lebih menginginkan gubernur berasal dari kalangan NU. Pembaca bisa membuka link ini : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,43062-lang,id-c,nasional-t,Nahdliyin+Jatim+Inginkan+Gubernur+NU-.phpx

Jika hasil survey ISNU ini merepresentasikan sikap warga NU, maka kemungkinan Karsa kalah terbuka lebar. Ini belum kita bicara soal fakta politik di banyak pilgub dimana calon calon yang di usung oleh Partai Demokrat bertumbangan satu persatu. Di pulau Jawa saja, tak satupun pilgub yang sudah di gelar bisa di menangkan calon dari Demokrat. Padahal secara umum partai ini adalah pemenang di pulau Jawa bahkan Indonesia. Partai Demokrat seolah menjadi publik enemy. Siapapun yang di usung Demokrat dan berhadapan dengan figur manapun, calon Demokrat tetap tidak di pilih rakyat.

Ada pepatah, pilkada itu lebih di tentukan oleh figur. Bukan partai. Tapi bagi Demokrat sepertinya tidak berlaku. Kemenangan calon lebih di tentukan oleh Partai. Maka sekuat apapun figur, kalau ia di usung Demokrat, ia akan kalah. Figur Foke kurang populer bagaimana ?. Dia Ketua PWNU DKI, putra Betawi, birokrat yang sudah lama berkecimpung di Jakarta. Dede Yusuf siapa yang meragukan kepopulerannya. Dia figur yang bersih dan jauh dari isu miring. Bibit Waluyo juga begitu. Tokoh yang satu ini relatif bersih dan mengakar di Jawa Tengah. Tapi semua tumbang. Bahkan beberapa di antaranya kalah dengan calon yang berdomisili di luar daerah.

Saran kami, Timses Karsa yang terdiri dari 30 parpol lebih seyogyanya lebih berhati hati dalam menjalankan strategi. Kandidat ini menghadapi dua persoalan pelik. Fanatisme warga NU dan kutukan Partai Demokrat.

Penulis : Gubraker Semprul

Rabu, 31 Juli 2013

POLLING : TANPA KHOFIFAH, KARSA MENANG TELAK !!!

Tidak di loloskannya pasangan Berkah (Khofifah – Sumawiredja) oleh KPUD Jatim memberi keuntungan tersendiri bagi pasangan nomer urut satu yang juga masih berposisi sebagai incumben. Polling yng di gelar Tampoll Gubrak (Team Polling Gubrak) pada tanggal 17 – 30 Juli 2013 menunjukkan bahwa tanpa Khofifah, dominasi Soekarwo – Syaifullah Yusuf nyaris tak terbendung. 

Tidak tanggung tanggung, pasangan yang di usung oleh lebih dari 30 parpol ini sanggup mengumpulkan dukungan responden sekitar 45,69%. Jauh di atas pasangan dari PDI Perjuangan, Bambang DH – Said Abdullah yang hanya mengumpulkan dukungan sekitar 8,35% dan pasangan independen Eggy Sudjana – M Sihat dengan perolehan 0,26%. Pesaing utama Karsa justru adalah mereka yang belum menentukan pilihan alias pemilih abstain yang angkanya relative setara, yaitu 45,69%.

Materi polling : “Siapakah pasangan yang layak memimpin Jawa Timur 2013 – 2018 ?”

1. Soekarwo – Syaifullah Yusuf
2. Eggy Sudjana – M Sihat
3. Bambang DH – Said Abdullah
4. Belum Menentukan 

Hasil polling sebagai berikut :

1. Soekarwo – Syaifullah Yusuf : 45,69%
2. Eggy Sudjana – M Sihat : 0,26%
3. Bambang DH – Said Abdullah : 8,35%
4. Belum Menentukan : 45,69%
Total : 383 Responden
Margin of error : 5%

Bambang DH – Said Abdullah yang digadang – gadang mampu memberi perlawanan serius pada pasangan incumben rupanya tak mampu berbuat banyak. Dukungan responden pada pasangan ini malah lebih rendah di banding modal suara partainya di parlemen DPRD Jatim yang mencapai 17%. Pasangan yang merupakan kader PDI Perjuangan ini juga terbukti gagal menggaet suara pendukung Khofifah. Dari pantauan team kami, sebagian besar pendukung Khofifah menyatakan tidak akan menggunakan hak pilih jika Berkah tidak lolos. Sebagian lain menyatakan akan mengalihkan dukungannya pada pasangan nomer urut satu. Hanya sedikit sekali yang mengatakan kepada kami bahwa mereka akan mengalihkan dukungannya pada lawan lawan Karsa. 

Kami memang tidak secara jelas menghitung berapa pemilih Khofifah yang mengalihkan dukungan pada Karsa dan berapa suara pendukung Berkah yang memilih untuk golput. Karena memang itu tidak menjadi fokus pertanyaan kami terhadap responden. Akan tetapi jika merujuk polling sebelumnya (akhir Januari 2013) di mana kami membuat simulasi pilgub Jatim yang hanya mempertemukan Karwo dan Khofifah, maka jelas sekali dukungan masyarakat Jawa Timur pada Khofifah masih sangat besar. Berikut data polling yang kami lakukan melalui sms pada akhir Januari 2013 dengan pertanyaan sederhana : 

Pilih siapa ?

A. Soekarwo
B. Khofifah
C. Tidak Tahu


Dari polling itu kami mendapatkan jawaban, 34,61% responden menyatakan memilih Khofifah. 23,07% mendukung Soekarwo dan 42,3% menyatakan tidak tahu.  

 
DKPP Loloskan Khofifah, Peta Berubah

Keputusan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang mengabulkan gugatan pasangan Berkah sepertinya akan mengubah peta persaingan. Kendati keikutsertaan Berkah belum di putuskan secara definitif oleh KPUD Jawa Timur, akan tetapi jika benar pasangan ini lolos, pihak yang paling terancam sudah pasti adalah pasangan incumben. Mengingat, kemenangan Karsa sedikit banyak karena limpahan suara dari para pendukung Berkah. Maka, hasil polling terakhir kami yang menyatakan Karsa menang dengan angka 45,69% bisa tidak berarti apa apa.

Oleh sebab itu, Tampoll Gubrak dalam waktu dekat akan segera menggelar polling susulan untuk mengukur elektabilitas setiap pasangan yang akan bertarung dalam pilkada Jawa Timur. Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi kemudian.

by Tampoll Gubrak

Selasa, 23 Juli 2013

Polling : 82% Gubraker Setuju FPI Di Bubarkan

Pict : Rimanews.com


Wacana pembubaran FPI kembali mencuat. Pemicunya tak lain adalah aksi sweeping yang di lakukan oleh anggota ormas pimpinan Rizieq Sihab terhadap sebuah tempat yang di duga sebagai sarang prostitusi di Sukorejo Kendal. Aksi yang melibatkan anggota FPI dari luar Kendal ini secara tak di duga mendapat perlawanan sengit dari warga Sukorejo. Tercatat satu warga masyarakat meninggal dunia akibat di lindas mobil yang di tumpangi anggota FPI. Selain itu, lima orang terluka. Termasuk salah satunya adalah anggota kepolisian. 

Insiden ini tak ayal makin menambah daftar panjang kekerasan yang pernah di lakukan FPI. Kecaman demi kecaman muncul. Tak kurang, Presiden SBY pun angkat bicara. Dalam sebuah acara buka bersama, presiden menegaskan akan segera memerintahkan jajaran bawahannya untuk menindak tegas perilaku main hakim sendiri yang di lakukan oleh sebagian kelompok masyarakat. Beberapa anggota FPI yang terlibat aksi sweeping kemudian di tangkap polisi. Polisi juga menangkap beberapa anggota masyarakat yang di duga ikut melakukan penyerangan terhadap kelompok FPI.

Kejadian di Sukorejo rupanya bukan pertama kali, dimana sebagian masyarakat mengungkapkan ketidak setujuannya dengan tingkah laku Front Pembela ‘Islam’. Publik masih ingat betul bagaimana masyarakat adat Kalteng ramai ramai menolak keberadaan FPI di tanah mereka. Kedatangan beberapa tokoh FPI ke Kalteng di sambut demonstrasi besar besaran yang di galang masyarakat Kalteng. Mereka bahkan mengancam akan mengusir FPI jika kelompok ini nekad mendirikan cabang di sana. 

Perlawanan berujung bentrokan juga pernah terjadi di Bogor. Kawanan FPI yang berniat membubarkan aksi balap liar justru mendapat perlawanan. Salah satu pimpinan lokal FPI tewas di sabet senjata tajam oleh kawanan balap liar. Keberanian masyarakat terhadap FPI juga di pertontonkan warga di Pamulang. Di mana Munarman, Panglima  Laskar Pembela ‘Islam’ (sayap FPI) secara mengenaskan di keroyok sekawanan pemuda di sana. 

Kendati sudah seringkali mendapat kecaman dan perlawanan dari warga, sepertinya belum akan membuat organisasi ini jera. Bahkan ancaman pembubaran oleh pemerintah justru di anggap angin lalu. Rizieq Shihab dalam statemennya yang di unggah di youtube malah mencibir SBY sebagai pemimpin pengecut. 


Mayoritas Gubraker Setuju FPI Di Bubarkan

Wacana pembubaran FPI rupanya mendapat dukungan mayoritas anggota Gubrak se Indonesia. Dalam jajak pendapat yang kami gelar hari ini (23 Juli 2013) dan melibatkan responden dari berbagai wilayah di tanah air, suara suara yang menginginkan FPI di bubarkan kian lantang. Tercatat 82% responden internal Gubrak Indonesia (Gubraker) menyatakan setuju FPI di bubarkan. Sementara sisanya menyatakan tidak setuju.

Alasan yang di ajukan Gubraker sangat variatif. Berikut beberapa petikan komentar yang di kirim gubraker pada relawan Tampoll Gubrak (Team Polling Gubrak) :

“Kalau dilihat dari sisi manfaaat dan mudhorotnya,  lebih banyak mudhorotnya.  Jadi saya setuju kalau FPI dibubarkan” (Gubraker Tangerang)

“FPI adalah salah satu contoh ke aroganan ormas yang (sering) memicu pecahnya kerukunan antar umat beragama di Nusantara. So, bubarkan !!!” (Gubraker Lampung)

“Saya setuju FPI di bubarkan. Yang jadi pertanyaan, apakah pemerintah berani untuk membubarkan?. Sampai saat ini, aparatpun pura pura buta melihat aksi kebrutalan FPI” (Gubraker DKI)

“Kenapa itu baru ditanyakan?. Dari pertama dulu ada, saya nggak setuju FPI. Dengan alasan tidak merubah keadaan (maksiat). Kemaksiatan hilang, itu bukan karena FPI. (Lihat saja) di dekat markas FPI ada tempat prostitusi Bongkaran yang masih tegak (tak tersentuh FPI). Ini kan tidak sesuai dengan ‘ashlih nafsaka, yuslih laka annas’ “ (Gubraker DKI)

“Sangat setuju. Karena tidak mencerminkn ajaran islam yang damai & toleran. FPI terkesan seperti preman berkedok islam” (Gubraker Blitar)

“Setuju.  Alasannya, pertama untuk tatanan Islam. Kedua demi Kewibawaan Negara” (Gubraker Malang)
“Setuju. Bikin ribut aja. Bikin malu. Tidak punya etika. Di agama lain nggak ada kayak gitu. Katanya Islam mengajarkan kedamaian ?. Kok kayak gitu ?” (Gubraker Tegal)

“Sangat setuju!!!. Karna FPI hanya mencoreng Islam. Fpi merusak Islam dari dalam” (Gubraker Cirebon)

“Sangat setuju. Karena, (1) Islam adalah sebuah agama, tidak menuntut pembelaan. (2) Umat Islam di Indonesia sama sekali tidak sedang terancam oleh agama yg lain. (3) FPI nyata nyata memperburuk toleransi antar agama di Indonesia. (4)  FPI  hanya sekumpulan preman yang mengatasnamakan agama Islam” (Gubraker Bali)

“Setuju. Karena nggak ada peran untuk bangsa. Kehadiran FPI hanya menambah jumlah preman di Indonesia” (Gubraker Surabaya)

“Bubarkan saja....!!. Amar Ma'ruf Nahi Munkar  nggak harus dengan Pentungan dan Emosi” (Gubraker Bojonegoro)

Walaupun sebagian besar Gubraker setuju FPI di bubarkan, ada pula yang menyatakan ketidaksetujuannya jika FPI di bubarkan. Berikut penjelasan dari sahabat Gubrak yang menyatakan ketidaksetujuannya jika FPI di bubarkan :

“Jangan dibubarkan. Nabi saja punya shahabat,  Asidda-u 'Alal Kuffar,Ruhama-u Bainahum ,Tarohum Rukka'an Sujjada, Yabtaguna Fadhlaminallahi Waridhwana. Kalau memang ada yang kurang baik, ya di perbaiki. Jangan di bubarkan. Pepatah mengatakan “bila kamu bercermin, tiba tiba mukamu cemong, Jangan kau banting cermin itu.  Tapi mukamulah yang harus dibersihkan. Bagaimanapun, satu sisi kita butuh mereka (FPI)” (Gubraker DKI)

“Tidak setuju. Lebih baik di bina saja. Kalau di bubarkan bisa aja ganti nama/logo.  Tapi kelakuannya sama aja” (Gubraker Depok)

“Tidak setuju. Karena FPI salah satu wujud gerakan persatuan. Dari sana nilai nilai Islam mencoba di tegakkan dan di kembangkan sesuai visi misi keagamaan” (Gubraker Sumsel)

Terlepas dari pro kontra apakah FPI perlu di bubarkan atau tidak, agaknya masyarakat Indonesia memiliki PR yang cukup pelik dan harus di tangani dengan baik. Mengenai moralitas, perilaku anarkhis dan tentu saja kemauan penyelenggara negara untuk membina ketertiban masyarakat. 

Terimakasih kepada semua responden yang sudah ikut menyumbangkan pemikirannya. Baik yang setuju maupun yang tidak setuju. Dalam Gubrak Indonesia, mari kita wujudkan masa depan negeri ini lebih baik.

                                                         
by Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak)