Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

Penantang Itu Bernama Assad


Oleh : Komandan Gubrak

Umurnya baru 48 tahun. Usia yang relatif cukup muda bagi seorang pemimpin negara. Tapi prestasi yang di torehkan Assad dalam upaya melindungi negaranya dari anasir anasir dukungan asing tak di ragukan lagi. Banyak orang termasuk saya mengira setelah pecah revolusi Suriah, nasib Assad tak akan jauh beda dengan Muammar Khadafi, Mubarak, Ben Ali dan lain sebagainya. Apalagi seperti kita ketahui, revolusi Arab yang selama ini berlangsung nyatanya juga melibatkan kekuatan kekuatan besar dunia. Maka, apalah artinya Assad di banding dengan desakan publik yang luar biasa besar.

Namun rupanya saya harus sedikit menahan nafas menyaksikan kealotan putra Hafidz Assad ini. Kendati baru beberapa tahun semenjak ia mengambil alih tongkat kepemimpinan Suriah dari mendiang ayahnya, kemampuan dan kematangan Assad dalam menghadapi badai revolusi patut di acungi jempol. Memang, pemberontakan yang terjadi di Suriah tidak melibatkan secara langsung tentara reguler negara negara barat layaknya di Libya, akan tetapi keberadaan para jendral barat di belakang pemberontak di mana perannya adalah pelatih strategi sekaligus pemasok senjata tentu tak bisa di anggap enteng begitu saja.

Mari kita kembalikan ingatan pada peristiwa tahun 80an di mana Afghanistan mengalami pergolakan luar biasa. Di sana CIA memiliki peran penting dalam mengendalikan apa yang di sebut sebagai pemberontakan terhadap dominasi Soviet. CIA terlibat dalam pembinaan, pelatihan dan pengiriman jihadis jihadis asing ke Afghanistan. Operasi pinjam tangan ini nyatanya berakhir dengan kesuksesan dan menghasilkan kerugian tak terkira bagi Uni Soviet.

Apa yang di lakukan barat dan sekutunya pada Suriah kurang lebih sama dengan apa yang mereka lakukan di Afghanistan dulu. Mereka mengkoordinir, melatih dan mempersenjatai pemberontak untuk melawan rezim Bashar Assad. Yang membedakan adalah hasil akhir. Jika strategi yang di lakukan barat di Afghanistan berakhir dengan jatuhnya rezim tanpa perlu tentara amerika melibatkan diri secara langsung, nasib berbeda terjadi di Suriah. Kendati sudah mendapatkan dukungan penuh dari negara barat dan sekutu Arabnya, hingga lewat tempo 2,5 tahun kubu pemberontak tak juga mampu menjungkalkan Assad. Yang terjadi justru sebaliknya, Bashar Assad secara perlahan mulai menemukan celah menuju kemenangan.

Satu persatu daerah daerah yang dahulu di kuasai oposisi berhasil di rebut tentara Suriah. Di Provinsi Damaskus, tentara Suriah dengan gagahnya mengontrol hampir seluruh wilayah. Begitu juga dengan daerah yang berbatasan dengan Lebanon, Israel dan Yordania, balatentara Assad menampilkan kegagahannya dengan menutup akses yang bisa di manfaatkan oleh oposisi dalam menggalang dukungan dari luar. Di wilayah tengah, terutama di Homs, sebuah kawasan yang oleh pemberontak di juluki kota revolusi, setapak demi setapak mulai di kuasai tentara Assad. Terakhir distrik Khaldiyah yang merupakan benteng utama pemberontak jatuh pula ke tangan kubu pemerintah.

Ini rupanya yang membuat barat dan sekutunya mulai frustasi. Bukan saja Assad sukses memperkuat posisinya, tapi kubu koalisi oposisipun makin hari makin tak bisa di andalkan. Maka tak heran jika akhirnya Amerika Serikat sebagai dalang utama kerusuhan di Suriah memutuskan untuk membuka opsi intervensi militer.

Dalih yang di pakai adalah kasus tuduhan penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah. Akan tetapi menurut penulis, ini hanya alasan belaka. Faktanya, jauh hari sebelum terjadinya kasus itu, Amerika Serikat sudah mempersiapkan diri untuk berperang secara terbuka dengan Assad. Amerika secara kontinyu mulai mengirim kontingen militer ke negara negara tetangga Suriah. Di Yordania, keberadaan ribuan tentara Amerika tak terbantahkan lagi. Belakangan juga berhembus kabar Amerika telah mengirim kapal perangnya menuju laut Mediterania. Tak ketinggalan pemerintah Inggris, yang walaupun parlemennya menolak opsi militer ke Suriah, namun pemimpin negara itu tetap nekad menempatkan armada udaranya di pulau Siprus.

Bagi pemimpin lain, mungkin provokasi barat ini akan membuat mereka ciut nyali. Apalagi seperti yang kita tahu, hampir semua medan tempur di mana tentara Amerika terlibat, selalu berakhir dengan jatuhnya rezim. Kita bisa saksikan bagaimana nasib Saddam Husein yang dahulu di anggap paling kuat di Timur Tengah. Nyatanya invasi Amerika dan sekutunya tak bisa membuatnya bertahan. Begitu pula dengan Muammar Khadafi di Libya.

Penulis yakin, Bashar sangat paham resiko yang akan ia tanggung jika Amerika benar benar menyerang Suriah. Dari segi apapun, tentara Suriah bukan tandingan pasukan paman Sam. Walaupun nantinya Suriah, Iran dan China terjun langsung bahu membahu membela Assad, rasanya belum tentu mampu melawan kedigdayaan tentara sekutu.

Lalu apa yang membuat Assad seolah tak menunjukkan rasa gentar sedikitpun terhadap ancaman invasi itu ?. Bahkan dengan entengnya dia sesumbar akan membuat Suriah menjadi Vietnam bagi Amerika. Di kesempatan lain Assad seperti di kutip Islam Times menyemangati para petinggi seniornya dengan kalimat 'sejak lama kita menunggu musuh sejati Suriah'. Retorika ini menunjukkan bahwa Assad tidak bisa di gertak dan di takut takuti.

Orang bijak mengatakan, perang yang tanpa tujuan tidak akan menghasilkan kemenangan. Di sini Bashar secara cerdas memanfaatkan situasi. Sebesar apapun invasi yang akan di lakukan Amerika nanti, jika di lihat dari segi tujuan, maka Amerika nyaris tak memiliki tujuan pasti. Dalam bahasa sederhana, Amerika sendiri masih galau mau di apakan Suriah jika nantinya Bashar jatuh.

Peta politik Suriah menunjukkan bahwa kekuatan dominan di kubu pemberontak justru berada di tangan kelompok kelompok garis keras yang selama ini getol memusuhi Amerika. Maka kalaupun Amerika berhasil menggusur Assad, ia akan di hadapkan pada sebuah masalah yang tak kalah peliknya. Yaitu jatuhnya Suriah ke tangan orang orang fundamentalis. Jika ini terjadi, maka itu sama saja Amerika melahirkan lawan baru bagi Israel yang tak kalah garangnya dengan militan Hizbullah.

Itu kalau Amerika berhasil menghabisi Assad. Kalau Amerika gagal mengeksekusi Assad, problem lain yang tak kalah pelik juga akan menimpa Amerika. Kegagalan Amerika mengintervensi langsung Suriah bisa jadi akan memicu gelombang perlawanan lain terhadap hegemoni Amerika di Timur Tengah.

Kartu truf lain yang di miliki Assad adalah situasi regional yang cukup menguntungkan dia. Faktanya Assad di kelilingi oleh negara negara dengan dominasi syiah yang cukup kuat. Mereka adalah sekutu potensial yang sewaktu waktu bisa di ajak Assad untuk berperang di pihaknya. Jalinan ini nyatanya sudah lama di rajut Assad. Konon ribuan gerilyawan Syiah baik dari Lebanon maupun Irak dan Iran secara aktif ikut terlibat membantu Assad. Invasi Amerika ke Suriah, mau tidak mau akan berakibat perang merembet kemana mana. Tidak hanya di Suriah, tapi juga di Irak, Lebanon dan tentu saja Israel. Lihat saja statemen Hizbullah baru baru ini. Jika Amerika menyerang Suriah, maka Hizbullah bertekad untuk melakukan perang habis habisan dengan Israel.

Dus, agaknya Amerika Serikat perlu berfikir ulang jika ingin bertanding melawan Assad. Setidaknya negeri paman sam harus memperhitungkan untung ruginya jika perang terbuka terjadi.

Senin, 26 Agustus 2013

Menakar Kekuatan Berkah



Oleh : Hafidz Atsani

"Insya Allah Berkah menang" kataku pada seorang kawan.

"Wahh...ibu ibu Muslimat bakalan seneng" jawabnya dengan nada ceria.

"Kenapa sih, Khofifah di idolakan banget sama Muslimat ?" tanyaku lagi.

"Khan ibunya para Muslimat...".

Percakapan yang singkat. Namun mensyiratkan adanya semangat luar biasa menggebu. Apa yang di nyatakan ibu dua anak itu sepertinya mewakili hati para wanita di Jawa Timur terutama ibu ibu Muslimat. Ormas wanita terbesar di Indonesia ini mengklaim memiliki tak kurang dari 7 juta anggota di Jawa Timur. Sebuah angka yang sangat fantastis. Jumlah itu paling tidak seperempat dari jumlah pemilih Jawa Timur. Tentu, suara sebanyak itu tidak bisa di jamin 100% total mendukung Berkah. Seperti yang di katakan Lily Wahid, bahwa tidak semua Muslimat mendukung Berkah. Akan tetapi melihat fakta yang ada, penulis memprediksikan bahwa minimal Berkah akan mampu mengais suara dari kelompok ini setidaknya 3/4 atau hampir 5 juta jiwa.

Sejauh pengamatan penulis, dari sekian kelompok yang berdiri di belakang pasangan Berkah, Muslimat menjadi semacam bemper terdepan yang sangat menentukan. Mereka yang paling banyak tampil di setiap event event yang melibatkan sang ketua umum Muslimat. Tidak hanya ketika kampanye di gelar, akan tetapi sudah jauh hari. Bahkan ketika Berkah tidak di loloskan KPUD Jatim, lagi lagi yang paling gigih membela hingga rela berpanas panasan di depan kantor KPUD adalah kaum ibu Muslimat.

Jika kemudian pasangan Berkah memenangkan Pilgub Jawa Timur, maka semua pihak harus mengakui bahwa Muslimatlah yang paling berdarah darah. Loyalitas mereka kepada sang ketua umum tak di ragukan lagi. Ini kontras sekali dengan situasi yang ada di barisan partai pendukung Berkah semisal PKB. Bukan hanya ketika Berkah di nyatakan tidak lolos, akan tetapi pasca keputusan DKPP yang meloloskan Berkah, suara suara oposan di kubu PKB terus terdengar. KH Aziz Mansyur misalnya, pasca keputusan DKPP langsung menggelar konpress bahwa dia bersama jajaran Dewan Syuro PKB kukuh mendukung pasangan Karsa. Kita juga sempat mendengar beberapa DPC PKB Jatim bermanuver di media dengan menyatakan dukungannya terhadap Berkah. Kendati akhirnya di bantah oleh pengurus teras PKB lain, akan tetapi aroma perpecahan di tubuh PKB tetap tak bisa di sembunyikan lagi.

Muslimat menurut pengamatan kami jauh lebih solid dan tulus mendukung Berkah. Ini mesin yang paling mungkin bisa di gerakkan tanpa harus bertele tele dengan deal politik di belakangnya. Penulis sempat bertanya tanya dalam hati, terbuat dari apakah Khofifah ini ?. Hingga ia memiliki kemampuan mengorganisir kekuatan massa dalam jumlah besar.

Testimoni mantan ketua MK Mahfudz MD barangkali layak untuk di jadikan referensi. Kredibilitas, integritas dan loyalitas Khofifah tidak di ragukan lagi. Sosok kelahiran tahun 1965 ini di kenal bersih dari isu isu korupsi. Baik ketika menjabat sebagai menteri Pemberdayaan Perempuan di era Gus Dur maupun ketika memegang jabatan prestisius di Senayan sebagai wakil ketua DPR. Loyalitasnya pada NU tak di ragukan lagi. Hingga ia di percaya memimpin Muslimat selama tiga periode.

Selain itu Khofifah juga di kenal gigih dan kukuh dalam melawan apa yang di sebut politik kartel. Pengalamannya di tahun 2008, ketika harus kalah secara dramatis melawan Karsa sama sekali tak membuatnya surut untuk maju kembali di periode selanjutnya. Proses pencalonannya kali inipun tidak di lalui dengan cara mudah. Ia harus melewati upaya penjegalan dan penghancuran secara sistematis. Dan ketika ia di loloskan DKPP, mantan politisi PPP dan PKB ini di hadapkan pada situasi di mana ia hanya memiliki waktu singkat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa dirinya adalah bagian dari proses menuju Jatim 1.

Seorang kawan yang merupakan anggota team di kubu Karsa mengatakan kepada saya, "Khofifah boleh saja lolos, tapi waktu yang tersedia terlalu sempit. Tetap saja ia akan kalah, karena kompetitor lain sudah sejak dulu mensosialisasikan diri di depan masyarakat Jawa Timur".

Ucapan kawan saya ini mungkin ada benarnya. Sebelum di nyatakan gagal oleh KPUDpun popularitas Berkah masih kalah jauh di banding incumben. Kemudian setelah di nyatakan tidak lolos, sebagian publik yang merupakan pendukung Berkah perlahan melupakannya. Ini terlihat dari survey Tampoll Gubrak yang tidak menyertakan Berkah sebagai kandidat. Hasilnya 46% responden menyatakan akan memilih Karsa. Dua saingan lain yaitu Bangsa (Jempol) memperoleh 8%, sementara Eggy - Sihat hanya mendapat dukungan kurang dari 1%, sisanya belum menentukan.

Sedikitnya waktu ini bukan satu satunya masalah. Masalah lain tentu saja keterbatasan dana. Kita bisa melihat di lapangan, bagaimana pasangan Berkah ini sosialisasinya masih kalah dengan rivalnya. Serangan darat berupa pemasangan alat peraga kampanye, Berkah kalah jauh dari Karsa. Begitu juga dengan iklan di media massa. Durasi iklan Berkah masih berada di bawah rivalnya. Ibarat pepatah, orang lain sudah bicara program, Berkah masih berkutat pada masalah pengenalan diri di mata pemilih.

Satu satunya kemenangan Berkah adalah persepsi media. Sejauh ini pemberitaan media terhadap pasangan yang di usung PKB bersama empat partai gurem lain tampak lebih positif jika di banding dengan pasangan lain. Begitu juga dengan jejaring sosial. Dukungan pengguna jejaring sosial terhadap figur dengan tagline Jatim Berkah ini tampak lebih unggul. Kita bisa melihat angka angka pastinya di situs Politicawave. Sebuah lembaga pemantau jejaring sosial yang akurasinya jauh lebih baik dari lembaga survey lain.

Variabel kemenangan seorang calon memang sangat kompleks. Penggunaan dana yang besar, iklan yang jor joran serta banyaknya dukungan partai politik tidak serta merta menjadikan pasangan kandidat akan memenangkan pertarungan. Begitu juga dengan durasi waktu sosialisasi yang sempit. Kita bisa belajar dari kasus DKI di mana situasi yang melingkupi Berkah kurang lebih sama. Jokowi - Ahok di daftarkan oleh PDI Perjuangan dan Gerindra di menit menit terakhir. Dari segi sosialisasi, pasangan ini kalah dengan yang lain. Alat peraga yang di pasang di sudut sudut Jakartapun bisa di hitung dengan jari. Begitu juga iklan di media elektronik semisal televisi. Seperti halnya Berkah, satu satunya kemenangan Jokowi adalah persepsi media.

Lantas, apakah nasib Berkah akan sebaik Jokowi - Ahok ?

Dalam berbagai kesempatan, penulis menyatakan bahwa salah satu tanda kemenangan kandidat adalah keberadaan voluntair. Sukarelawan yang dengan tulus memberikan apa saja demi memenangkan jagoannya tanpa di bayar. Siapa yang memiliki dukarelawan paling militan, dia yang kemungkinan besar menang.

Ini yang terjadi pada Jokowi - Ahok. Secara kualitatif, pasangan ini lebih banyak memiliki voluntair. Mereka tidak sekedar memberi dukungan, akan tetapi rela mengeluarkan biaya sendiri untuk ikut mensosialisasikan. Soal pengadaan kostum misalnya, pendukung Jokowi tidak keberatan kalaupun harus membeli baju kotak kotak yang menjadi trend merk Jokowi. Mereka juga secara aktif membantu pasangan ini untuk mensosialisasikan di media jejaring sosial. Tercatat ratusan ribu akun berkumpul di group group pendukung Jokowi - Ahok.

Berkah kendati tidak sama dengan Jokowi - Ahok, memiliki modal yang kurang lebih sama. Penulis banyak mendengar langsung dari sumber di lapangan bahwa mereka yang datang ke arena kampanye Berkah sebagian besar tidak di ongkosi. Bahkan ibu ibu Muslimat yang merupakan tulang punggung Berkah harus rela urunan untuk datang ke lokasi demi mendukung Berkah. Antusiasme warga untuk sekedar melihat sosok Khofifah dan wakilnyapun terlihat istimewa. Ini belum termasuk budaya saweran yang seringkali terlihat dalam acara acara Berkah.

Selain dari massa pendukung, Berkah juga mendapat dukungan gratis dari pihak luar. Ahmad Dani dan Rhoma Irama adalah dua contoh di mana mereka rela tidak di bayar demi memenangkan pasangan Berkah. Intinya, dukungan voluntair di kubu Berkah menurut penulis jauh lebih banyak dari apa yang ada di kubu lawannya.

Tanda tanda lain adalah situasi psikologis. Selama ini publik terlanjur mempersepsikan Berkah sebagai pihak yang di dzolimi. Terlepas benar atau tidaknya secara fakta, yang pasti kasus kasus penjegalan yang di alami Berkah cukup memantik simpati massa. Kultur masyarakat kita sangat lekat dengan budaya belas kasih. Mereka akan melakukan segala cara untuk melakukan pembelaan jika terjadi pendzoliman. Kasus Prita, kasus Bibit - Candra dan banyak lagi. Sama halnya ketika Jokowi - Ahok jadi bulan bulanan isu SARA. Bukannya dukungan masyarakat menyusut, justru pendzoliman itu di balas tuntas oleh masyarakat dengan cara memenangkan Jokowi - Ahok.

Mengenai program saya kira bukan faktor dominan. Bahasa program tidak terlalu banyak di mengerti masyarakat. Sama seperti DKI, kemenangan Jokowi - Ahok menurut kami bukan karena janji janji kampanyenya. Akan tetapi kemampuan kandidat mengaduk aduk emosional pemilih. Gaya egaliter, merakyat dan sederhana yang di tampilkanlah faktor utamanya.

Sejauh pengamatan kami, Khofifah sukses menampilkan diri sebagai figur yang egaliter. Ketika lawannya jor joran iklan di mana mana, ia dengan rendah hati meminta maaf kepada pendukungnya karena tidak bisa melakukan hal yang seperti di lakukan lawannya. Ketika lawannya menyewa helikopter untuk menyambangi pendukungnya, Khofifah menyindir dengan cara yang unik. Membeli helikopter mainan di pasar, lalu menumpang becak menuju lokasi acara. Publik juga di jejali peristiwa peristiwa mengharukan seputar Berkah. Misalnya ketika juru kampanye berceramah, belasan ibu ibu berkeliling sembari membawa kardus meminta sumbangan pada hadirin. Sumbangan itu di dedikasikan untuk membantu Berkah. Dalam kesempatan lain, foto foto maupun video yang menampilkan Khofifah merangkul ibu ibu tua juga luar biasa memantik simpati.

Pribadi yang merakyat seperti ini kiranya menjadi trend. Sesuatu yang sekilas mudah, akan tetapi sulit di praktekkan. Betapa banyak pemimpin yang berusaha tampil merakyat akan tetapi tidak di respons positif oleh masyarakat. Kenapa ?. Karena penampilannya tidak di barengi dengan ikatan batin dengan pendukungnya. Tidak ada perasaan senasib sepenanggungan antara pemimpin dan rakyat. Makanya, kemasan apapun menjadi terasa hambar.

Dari segi dukungan tokoh masyarakat lokal, kiranya antara Berkah dan Karsa memiliki pendukung yang berimbang. Kyai kyai yang ada di dua kubu sekarang ini sebagian besar adalah pendukung utama mereka di ajang sebelumnya. Di Karsa ada KH Idris Marzuki, KH Jazuli dan lain sebagainya. Mereka adalah tokoh yang 2008 lalu juga mendukung Karsa. Sementara di kubu Berkah ada KH Hasyim Muzadi, Gus Sholah dan lain lain. Pada Pilgub 2008, para kyai ini juga mendukung Khofifah.

Yang membedakan adalah gairah. Gairah warga Nahdliyin kali ini berbeda dengan yang dulu. Wacana gubernur NU terdengar sangat kuat. Ini telihat dari survey yang di lakukan ISNU (Ikatan Sarjana NU) bulan Maret silam. Bahwa warga NU menginginkan gubernur yang berasal dari NU. Ironis sekali, jika Jawa Timur yang mayoritas warganya pengikut NU akan tetapi  belum pernah memiliki Gubernur yang berlatar belakang NU.

Keberadaan voluntair, profile egaliter, gairah nahdliyin dan loyalitas tanpa batas yang di pertontonkan ibu ibu Muslimat akankah sanggup mengantarkan Berkah memenangkan pilgub Jatim ?.

Waktu yang akan menjawabnya.

Kamis, 22 Agustus 2013

Tribuana Tunggadewi, Sang Penakhluk dari Kahuripan


Penulis tergelitik dengan statemen salah satu responden Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak) yang mengatakan bahwa Jawa Timur adalah wilayah santri. Dalam Islam, tidak selayaknya perempuan jadi pemimpin. Adalagi responden yang dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa Jawa Timur tidak akan maju kalau di pimpin perempuan. Selain itu bertentangan dengan aturan agama, juga bertentangan dengan kodrat wanita sebagai makhluk yang lemah.

Pernyataan pernyataan ini menurut penulis sangat tidak berdasar. Di samping NU sendiri pernah mengeluarkan fatwa kebolehan wanita menjadi gubernur, Jawa Timur di masa silampun faktanya pernah memiliki pemimpin perempuan. Bukan sekedar gubernur atau bupati. Tapi pucuk pimpinan tertinggi. Dialah Tribuana Tunggadewi. Raja Majapahit ketiga.

Nama aslinya adalah Tribuana Wijayatunggadewi. Anak dari pendiri Kerajaan Majapahit Raden Wijaya dari hasil perkawinannya dengan putri Kertanegara, Gayatri. Tahtanya berada di Kahuripan. Sebuah kawasan yang terletak di sekitar Sidoarjo dan merupakan wilayah bawahan Majapahit. Oleh karena itu, Tribuana Tunggadewi seringkali di sebut Bhre Kahuripan.




Cerita tentang tokoh sejarah yang satu ini memang jarang sekali di ketahui oleh khalayak. Masyarakat lebih mengenal kiprah Hayam Wuruk, Gajah Mada maupun pendiri Majapahit sendiri di banding mengenal sepak terjang istri dari Bhre Tumapel (Cakradara) ini. Padahal jika teliti mencerna sejarah, sejatinya peranan Tribuana Tunggadewi dalam merintis Majapahit menuju masa keemasan sangatlah besar.

Tribuana Tunggadewi adalah sosok di balik kesuksesan Gajah Mada. Sejak menjadi anggota bayangkara Majapahit, Tribuana sudah mengetahui kemampuan luar biasa yang di miliki abdinya ini. Maka ketika Tribuana di angkat sebagai ratu di Kahuripan, Gajah Mada di usulkan menjadi patih Kahuripan. Begitupun pasca meninggalnya Jayanegara akibat penyakit misterius yang kemudian di gantikan posisinya oleh Tribuana Tunggadewi, Gajah Madapun naik posisinya sebagai Mahapatih Majapahit.

Di bidang politik, prestasi raja ketiga dengan julukan Tribuanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani ini sangatlah menarik. Dia otak di balik padamnya pemberontakan Keta dan Sadeng. Bahkan dalam kasus Sadeng, raja perempuan pertama Majapahit ini bertindak sebagai panglima perang. Tidak hanya di situ, Tribuana juga terlibat sebagai pengarah di susunnya rencana besar yang di galang Gajah Mada melalui apa yang di sebut sebagai Sumpah Palapa.

Di bawah pemerintahan Tribuana, Majapahit sukses menakhlukkan Pejeng, Dalem Bedahulu (kerajaan yang terletak di Pulau Bali) dan seluruh wilayah Bali. Tidak cukup sampai di situ, Tribuana juga sukses menakhlukkan Kerajaan Melayu, Sumatera.

Prestasi moncer Bhre Kahuripan inilah yang kemudian di teruskan oleh putranya, Hayam Wuruk. Setelah di gantikan oleh Hayam Wuruk, peranan Tribuana di bidang politik tidak serta merta surut. Dia tetap menjadi pengarah cita cita agung Majapahit. Tugasnya adalah memberi masukan pada Hayam Wuruk dan seluruh nayakapraja Majapahit dalam mengatur tata kelola pemerintahan.

Dari tulisan di atas, kiranya alasan menolak kepemimpinan perempuan karena di anggap lemah sangat tidak masuk akal. Kalau perempuan Jawa Timur di anggap lemah, barangkali Tribuana Tunggadewi tidak akan pernah sanggup mengukir kesuksesan seperti yang kami kemukakan di atas. Dan barangkali Indonesia belum tentu seluas dan sehebat sekarang. Kata Bung Karno 'Jas Merah', jangan sekali kali melupakan sejarah.

Selamat berpesta demokrasi untuk warga Jawa Timur !!!

Sabtu, 03 Agustus 2013

Kalau bisa Gubernur, Kenapa harus Wagub ???

Sebuah survey yang di selenggarakan ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) pada Maret 2013 menyebutkan bahwa populasi warga Nahdliyin di Jawa Timur mencapai 60% dari total jumlah penduduk. Sebuah angka yang luar biasa besar sekaligus mempertegas Jawa Timur sebagai basis utama NU. Namun ironisnya, kekuatan massa yang demikian besar tidak menjadikan NU atau kader NU memimpin di tanahnya sendiri. Terbukti tidak satupun gubernur Jawa Timur yang berasal dari NU. Bahkan ketika PKB memenangkan pemilu legislatif di Jawa Timur 1999 dan 2004, kader NU tetap gagal merebut posisi Jatim 1.

Pict : suryaonline

Prestasi terbesar NU baru pada posisi wakil gubernur. Adalah Syaifullah Yusuf yang mendampingi Soekarwo sukses merebut posisi itu pada ajang pilgub Jatim 2008. Pasangan ini secara dramatis mengalahkan calon lain yang juga berasal dari NU, Khofifah Indar Parawansa. Yang membedakan, di kubu Karsa, kader NU nya berposisi sebagai cawagub, sementara di kubu Kaji kader NUnya berposisi sebagai Cagub.

Kasus yang sama kini terulang. Dengan aktor yang kurang lebih sama. Karsa vs Berkah. Cagub NU vs Wagub NU. Soekarwo - Syaifullah Yusuf (NU) berhadapan dengan Khofifah (NU) - Sumawiredja. Kejadian ini seolah pengulangan 2008 di mana kedua kubu terlibat pertarungan sengit. Kemenangan Karsa tidak bisa di tempuh dengan cara mudah. Mesti melalui pilkada ulangan bahkan harus pula maju ke meja MK. Selisih suara keduanyapun terpaut sangat tipis, yakni sekitar 60 ribuan.


Lantas, apakah ajang kali ini Karsa akan kembali menang ???

Survey yang di lakukan Tampoll Gubrak beberapa waktu lalu menunjukkan betapa pasangan Karsa sangat mendominasi bila pilgub tanpa menyertakan Khofifah. Angka yang di bukukan mencapai 46%. Jauh meninggalkan Bambang - Said 8% dan Eggy - Sihat di bawah 1%. Sekali lagi itu dengan catatan Khofifah tidak ikut serta dalam kompetisi. Ketika DKPP memutuskan pasangan Khofifah - Sumawiredja berhak mengikuti pilgub, maka petanya sudah pasti akan berubah.

Apalagi angka 46% yang di peroleh Karsa sebagian besar bukanlah berasal dari pendukung fanatik Karsa. Yaitu pendukung yang akan tetap memilih Karsa dalam keadaan apapun. Faktanya sebagian pemilih Karsa adalah pendukung Khofifah. Para pendukung Khofifah ini lebih memilih Karsa dengan pertimbangan yang cukup sederhana. Yaitu faktor kedekatan kultural di mana pasangan Karsa lebih mewakili NU daripada pasangan lain. Memang tidak secara jelas berapa persen pendukung Khofifah yang menyeberang ke kubu Karwo, akan tetapi angkanya cukup signifikan.

Masuknya Khofifah - Sumawiredja (Berkah) sudah pasti akan menggerogoti dukungan terhadap Karsa. Keikutsertaan pasangan yang di usung PKB dan beberapa partai gurem ini di prediksikan juga akan mengurangi jumlah pemilih golput yang dalam polling kemarin sekitar 46%. Belajar dari ajang pilkada lain, jumlah suara golput yang wajar biasanya sekitar 30-35% dari total pemilih. Artinya 10-16% responden abstain kemungkinan akan menggunakan hak pilihnya. Lalu kemana arah suara mereka ?

Dari wawancara pendalaman kami terhadap responden, sebagian responden yang memilih untuk golput di antaranya di sebabkan karena tidak masuknya Khofifah dalam kompetisi. Sebagian lagi mengatakan ingin melihat visi misinya dulu, dan sebagian lain adalah responden apatis yang tidak akan memilih siapapun.

Faktor NU memang menjadi daya magnet tersendiri. Bayangkan saja, ketika KPUD menggagalkan Khofifah dan sebagian orang menduga bahwa biang keladinya adalah incumben, akar rumput ternyata merespons berbeda. Sebagian besar pemilih Khofifah justru mengalihkan dukungan ke Karsa. Bukan calon lain yang sebenarnya tidak terlibat dalam aksi penjegalan Khofifah. Yang penting NU. Begitulah yang ada di benak warga Nahdliyin. Walaupun hanya wakil gubernur.

Bagaimana jika ada kader NU yang tidak sekedar mencalonkan diri sebagai wakil gubernur, tapi maju sebagai gubernur ?

Survey yang di adakan ISNU pada bulan Maret 2013 menyebut bahwa sebagian besar warga NU lebih menginginkan gubernur berasal dari kalangan NU. Pembaca bisa membuka link ini : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,43062-lang,id-c,nasional-t,Nahdliyin+Jatim+Inginkan+Gubernur+NU-.phpx

Jika hasil survey ISNU ini merepresentasikan sikap warga NU, maka kemungkinan Karsa kalah terbuka lebar. Ini belum kita bicara soal fakta politik di banyak pilgub dimana calon calon yang di usung oleh Partai Demokrat bertumbangan satu persatu. Di pulau Jawa saja, tak satupun pilgub yang sudah di gelar bisa di menangkan calon dari Demokrat. Padahal secara umum partai ini adalah pemenang di pulau Jawa bahkan Indonesia. Partai Demokrat seolah menjadi publik enemy. Siapapun yang di usung Demokrat dan berhadapan dengan figur manapun, calon Demokrat tetap tidak di pilih rakyat.

Ada pepatah, pilkada itu lebih di tentukan oleh figur. Bukan partai. Tapi bagi Demokrat sepertinya tidak berlaku. Kemenangan calon lebih di tentukan oleh Partai. Maka sekuat apapun figur, kalau ia di usung Demokrat, ia akan kalah. Figur Foke kurang populer bagaimana ?. Dia Ketua PWNU DKI, putra Betawi, birokrat yang sudah lama berkecimpung di Jakarta. Dede Yusuf siapa yang meragukan kepopulerannya. Dia figur yang bersih dan jauh dari isu miring. Bibit Waluyo juga begitu. Tokoh yang satu ini relatif bersih dan mengakar di Jawa Tengah. Tapi semua tumbang. Bahkan beberapa di antaranya kalah dengan calon yang berdomisili di luar daerah.

Saran kami, Timses Karsa yang terdiri dari 30 parpol lebih seyogyanya lebih berhati hati dalam menjalankan strategi. Kandidat ini menghadapi dua persoalan pelik. Fanatisme warga NU dan kutukan Partai Demokrat.

Penulis : Gubraker Semprul

Rabu, 31 Juli 2013

Gus Dur : Negara dan Kepemimpinan Dalam Islam

Oleh : Abdurrahman Wahid

Sebenarnya, terdapat hubungan sangat erat antara kepemimpinan dan konsep negara dalam pandangan Islam. Penulis pernah mengemukakan sebuah sumber tertulis (dalil naqli) dalam pandangan Islam. Adagium itu adalah “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan” (La Islama Illa bi Jama’ah wala Jama’ata Illa bi Imarah wala Imarata Illa Bi Tha’ah). Di sini tampak jelas, arti seorang pemimpin bagi Islam, ia adalah pejabat yang bertanggung jawab tentang penegakan perintah­perintah Islam dan pencegah larangan­larangan­Nya (amar ma’rûf nahi munkar). Karenanya, pemimpin dilengkapi dengan kekuasaan efektif, yang jelas kekuasaan efektif inilah yang oleh Munas Ulama tahun 1957 di Medan, dinyatakan sebagai “wewenang kekuasaan efektif “ (syaukah).

Karena itulah, Munas tersebut mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia adalah “penguasa pemerintahan untuk sementara, dengan kekuasaan efektif (walîyyu al-amri li dharûri bi al-syaukah).” Maksud dari kata “untuk sementara”, karena ia adalah pengganti Imam yang dalam hal ini Kepala Pemerintahan. Namun wewenang yang dimilikinya sebagai pengganti Imam tidak berdasarkan sumber tertulis (dalil naqli), melainkan karena pertimbangan rasional ( dalil aqli), yang tidak mengurangi keabsahan kekuasaan itu sendiri. Kemudian kata “sementara”, artinya sebelum datangnya hari kiamat. Keputusan Munas di atas, dinyatakan berlaku bagi semua Presiden Republik Indonesia, namun oleh mereka yang “dibius” oleh konsep Negara Islam, dinyatakan hanya berlaku untuk Kepresidenan Bung Karno saja.

Karena itu diandaikan, di dalam bukan negara Islam tidak ada konsep Islam tentang kepemimpinan, dan dengan demikian konsep itu tidak memiliki keabsahan dalam pandangan Islam. Ternyata setelah berjalan puluhan tahun lamanya, kini kita mengetahui kenyataan sebenarnya, yaitu bahwa kelangkaan konsep Islam tentang negara, tidak berarti agama tersebut tidak memiliki pandangan tentang kepemimpinan. Pandangan ini melihat kepemimpinan menurut Islam berlaku untuk kepemimpinan negara (kepemimpinan formal) maupun kepemimpinan dalam masyarakat (kepemimpinan non­formal). Dalam tulisan ini akan ditinjau orientasi minimalnya, karena hal­hal lain diserahkan kepada akal kita untuk merumuskannya. 

Dalam pandangan Islam: “orientasi seorang pemimpinan terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpin”. Ini berarti, Islam tidak membeda­bedakan antara kepemimpinan negara dengan kepemimpinan masyarakat, juga mengenai bentuk dan batas waktunya. Serta tidak memikirkan format kenegaraan atau kemasyarakatan yang melatarbelakangi kepemimpinan itu, apakah itu imperium dunia, republik negara bangsa atau negara kota. Maka dari itu, sia­sia juga jika kita kaitkan langsung kepemimpinan di “Negara Islam” yang ada dengan proses demokratisasi. Karenanya, kita lihat sekarang ini kepemimpinan dalam “Negara Islam”ada yang bersifat otoriter atau demokratis, dengan sistem pemerintahan Raja atau Amir, kepemimpinan ulama maupun kepemimpinan para sesepuh masyarakat (community leaders). Selama kepemimpinan itu mendatangkan kesejahtera­ an langsung pada masyarakat, selama itu pula kepemimpinan yang ada memiliki legitimasi dalam pandangan umat Islam.

Namun di sinilah kita sering terjebak, yaitu dalam anggapan kesejahteraan di atas hanya menyangkut kenyataan­kenyataan lahiriah dan angka statistik belaka, seperti kepemilikan benda, usia hidup rata­rata dan sebagainya. Sering dilupakan, masalah kesejahteraan juga menyangkut kemerdekaan berbicara dan berpendapat, kedaulatan hukum dan persamaan perlakuan bagi semua warga negara di hadapan undang­undang. Hal­hal itu nantinya akan menyangkut kebebasan berorganisasi, kebebasan rakyat dalam menentukan bentuk negara yang mereka ingini dan beberapa aspek kehidupan agar tercipta rasa keadilan. 

Proses peralihan (transisi) kepemimpinan dunia, negara dan masyarakat seperti kita lihat dewasa ini, masih menimbulkan keresahan. Keresahan ini seperti yang menghinggapi negara dengan mayoritas warganya yang beragama Islam, akibat dari gagalnya upaya­upaya terorisme dengan mengatasnamakan Islam yang terjadi di mana­mana. Seharusnya, para pakar masyarakat muslim di seluruh dunia, harus mensosialisasikan pengenalan dan identifikasi sebab-sebab utama munculnya terorisme itu. Dan bukannya diselesaikan dengan penyerangan dan pengeboman seperti yang terjadi di Afghanistan dan Irak. Pengeboman itu sendiri secara tidak jujur dikemukakan Presiden Amerika Serikat (AS) Geogre W. Bush Jr. sebagai upaya menurunkan diktaktor Saddam Husein dari jabatan kepresidenan di Irak. Padahal, pertimbangan­pertimbangan geopolitik internasional yang membuat Amerika mengambil tindakan terhadap Irak. Yaitu, karena Saudi Arabia telah “menyimpang” dari politik luar negeri AS, pa­ dahal ia adalah penghasil minyak bumi (BBM) nomor satu di dunia, maka harus dicarikan kekuatan pengimbang terhadapnya. Pilihan itu jatuh kepada Irak, karena ia adalah penghasil minyak bumi kedua terbesar saat ini. Karena Irak di bawah kepresidenan Saddam tidak akan mungkin mengikuti politik luar negeri AS maka ia harus diganti secepatnya. Kalau Saddam dianggap sebagai “kekuatan jahat” (evil force), mengapakah hal itu tidak dikenakan atas para pemimpin Saudi Arabia? Negara yang telah menghukum mati sekitar dua ribu orang yang dianggap “kaum oposan”? Standar moral ganda (double morality) seperti inilah yang digunakan para pemimpin seperti Bush saat ini, yang membuat istilah “politik” dicitrakan sangat buruk. Padahal oleh mendiang Presiden AS John F. Kennedy, politik sebagai “karya termulya”, karena menyangkut kesejahteraan (lahir dan batin) rakyat.

Kembali pada kepemimpinan Islam. Dalam Islam kepemimpinan haruslah berorientasi kepada pencapaian kesejahteraan orang banyak. Sebuah adagium terkenal dari hukum Islam adalah “kebijakan dan tindakan seorang pemimpin haruslah terkait langsung kepada kesejahteraan rakyat yang dipimpin (tasharruf al-imâm ‘alâ al-ra’iyyah manûthun bi al-mashlahah).” Jelaslah dengan demikian kepemimpinan yang tidak berorientasi kepada hal itu, melainkan hanya sibuk dengan mengurusi kelangsungan kekuasaan saja, bertentangan dengan pandangan Islam. Karenanya, dalam menilai kepemimpinan dalam sebuah gerakan, selalu diutamakan pembicaraan mengenai kesejahteraan itu, yang dalam bahasa Arab dinamakan al-mashlahah al-âmmah (secara harfiyah, dalam bahasa Indonesia berarti: kepentingan umum). 

Selain itu, Islam tidak mempunyai konsep yang pasti (baku) tentang bagaimana sang pemimpin ditetapkan. Kepemimpinan sebuah organisasi Islam, ada yang ditetapkan melalui pemilihan dalam kongres atau muktamar, tetapi masih tampak betapa kuatnya faktor keturunan dalam hal ini, seperti dialami penulis sendiri. Baiknya sistem ini, jika orang itu membentuk kehidupannya sesuai dengan konsep kemaslahatan umat. Buruknya, jika pemimpin berdasarkan garis keturunan itu tidak memahami tugas dan kewajibannya, melainkan hanya asyik dengan kekuasaan dan kemudahan­kemudahan yang diperolehnya, maka akan menjadi lemahlah kepemimpinan tersebut. Apalagi jika kepemimpinan itu di tangan seorang penakut, yaitu pemimpin yang takut kepada tekanan­tekanan dari luar dirinya. Memang kedengarannya mudah mengembangkan kepemimpinan dalam kehidupan, tetapi sebenarnya sulit juga, bukan?

Kamis, 30 Mei 2013

Polling : Jokowi, Calon Presiden Terkuat 2014 !!!


Pict : kompasiana.com

Jokowi memang benar benar fenomenal. Kendati di serang bertubi tubi baik oleh media maupun rival politiknya di legislatif DKI Jakarta terkait program KJS (Kartu Jakarta Sehat)nya, namun popularitas mantan walikota Solo ini tak juga meredup. Setidaknya itu tergambar dalam polling terkini Tampoll Gubrak yang di gelar bersamaan dengan survey Pilgub Bali, Jawa Tengah dan Sumsel. Polling dengan tema ‘Siapakah Tokoh Yang Layak Memimpin Indonesia 2014-2019’ menempatkan sang Gubernur DKI Joko Widodo sebagai figur paling banyak di favoritkan sebagai  calon pemimpin Indonesia mendatang. Setidaknya 39,68% dari 640 responden menyebut Jokowi sebagai kandidat pilihan mereka. Nama Jokowi bersaing ketat dengan ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menempati ranking kedua dengan dukungan 38,12%.

Di posisi ketiga, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di favoritkan oleh 11,87% responden, di susul mantan Ketua MK Mahfudz MD yang di gadang gadang oleh 11,25% responden. Selanjutnya, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie di pilih oleh 6,25% responden atau unggul tipis atas JK (5,93%), Rhoma Irama (5,62%) dan Dahlan Iskan (5,31%). Sementara itu tokoh tokoh lain semisal Hatta Radjasa, Anis Matta, SBY, Yusril Ihza Mahendra dan lain lain hanya memperoleh dukungan di bawah 5%.

Dalam survey ini kami meminta kepada responden untuk mengusulkan 1-3 nama figur capres pilihannya secara bebas tanpa di batasi oleh ketentuan apapun semisal, harus ketua Partai, tokoh populer dan lain sebagainya. Sebagian memang bersedia menyebut nama, walaupun hanya satu nama. Tapi sebagian lagi menyatakan belum memiliki pandangan mengenai siapa tokoh yang layak memimpin Indonesia 2014-2019. Oleh sebab itu, angka angka yang tertera di atas bukan berarti satu figure hanya di pilih oleh satu responden, akan tetapi bisa jadi 2 atau 3 figur sekaligus di pilih oleh responden.

Berikut 18 tokoh yang paling di favoritka untuk memimpin Indonesia mendatang :

1. Jokowi : 39,68%
2. Prabowo : 38,12%
3. Megawati : 11,87%
4. Mahfudz MD : 11,25%
5. Bakrie : 6,25%
6. JK : 5,93%
7. Rhoma : 5,62%
8. Dahlan : 5,31%
9. Hatta Radjasa : 3,78%
10. Anis Matta : 3,36%
11. SBY :  2,1%
12. Sultan :  1,68%
13. Yusril :  1,68%
14. Hary Tanoe : 1,68%
15. Hidayat Nur :  0,93%
16. Amien Rais :  0.84%
17. Anis Baswedan :  0.84%
18. Wiranto :  0.84%

Total Responden : 640
Area Polling : Jawa Tengah, Bali dan Sumatera Selatan
Periode Polling : 17 April - 29 Mei 2013


Pilgub Sumsel : Herman Deru - Maphilinda Penantang Serius Incumben

Kendati terdapat  empat pasang calon yang berlaga di ajang Pilgub Sumatera  Selatan yang akan di gelar minggu pertama bulan Juni nanti, namun persaingan dalam perhelatan kali ini kemungkinan besar hanya akan di ramaikan oleh dua kandidat saja. Yaitu pasangan Herman Deru – Maphilinda Syahrial Oesman dan pasangan incumbent Alex Noerdin  - Ishak Mekki.

Dalam polling yang hanya di ikuti 58 responden dari berbagai Kabupaten di Sumatera Selatan ini kandidat nomer urut 3 mendapat dukungan sekitar 25,86% dan menjadi salah satu kandidat yang paling berpotensi merebut tahta Sumsel 1. Sementara pasangan nomer urut 4 Alex Noerdin - Ishak Mekki yang di dukung oleh koalisi Partai Golkar, Partai Demokrat dan PDS mendapat dukungan tertinggi dengan angka 32,75%.

Polling ini memang harus di akui kurang representatif. Pertama karena memang sampelnya sangat minim (58 sampel). Kedua, pengambilan sampel di lakukan secara acak dan tidak memperhatikan sebaran penduduk yang ada di setiap kabupaten/kota di provinsi Sumsel. Namun demikian, untuk sekedar tebak tebakan, polling ini boleh di jadikan pertimbangan.

Berikut hasil polling Pilgub Sumsel yang kami tutup pada tanggal 29 Mei 2013 :

Jumlah responden : 58
Margin Error : 5%

1. Eddy Santana Putra-Wiwit Tatung :  3,44%
2. Iskandar Hasan-Hafisz Tohir : 10,34%
3. Herman Deru-Maphilinda Syahrial Oesman : 25,86%
4. Alex Noerdin-Ishak Mekki :  32,75%
5. Belum Menentukan : 27,58%

by Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak)

Rabu, 22 Mei 2013

PKS, Wanita dan Kekuasaan

Beberapa saat sebelum Pemilihan Raya ke 13 (Pru 13), publik Malaysia di gemparkan dengan munculnya video berdurasi 25 detik yang berisi adegan seronok seorang pria yang di duga sebagai salah satu pimpinan parpol oposisi dengan seorang wanita. Kasus ini sempat menjadi buah bibir warga Malaysia bukan karena semata muncul menjelang pemilu, akan tetapi figur yang ada dalam video itu di duga merupakan salah satu kader penting sebuah partai berhaluan Islam (PAS, Pan Islamic Malaysian Party). Seperti yang banyak di ketahui publik, PAS adalah partai berhaluan Islam yang cukup memiliki pengaruh kuat di Malaysia dan merupakan salah satu tulang punggung oposisi Malaysia. Dan entah karena pengaruh munculnya skandal sex yang di duga melibatkan petinggi PAS atau tidak, nyatanya di ajang pemiluraya 13 silam partai pimpinan Datuk Seri Hadi Awang ini harus kehilangan 2 kursi parlemen. Sebuah hasil yang cukup kontras, mengingat dua partai oposisi lain, yaitu PKR dan DAP justru mengalami peningkatan pesat.

Pada tahun 2000an publik Amerika Serikat juga di hebohkan dengan sebuah skandal sex yang melibatkan pucuk pimpinan negeri adidaya tersebut, Presiden Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Tak lama setelah muncul drama skandal itu, Partai Demokrat akhirnya gagal merebut kembali kursi gedung putih setelah dua periode sukses mereka genggam. Di Italia, kita juga menyaksikan bagaimana Berlusconi harus mundur teratur dari kursi Perdana Menteri akibat terlibat skandal seks dengan PSK di bawah umur. Michael Palmer, Ketua Parlemen Singapura dan merupakan kader dari partai berkuasa (Partai Aksi Rakyat) terpaksa harus mundur dari jabatannya karena terlibat skandal seks dengan wanita bukan pasangan sahnya. Dan masih banyak lagi cerita skandal seperti di atas yang akhirnya mengubah segalanya.
Darin Mumtazah (Pict : putracenter.blogspot.com)

Baru baru ini publik Indonesia juga di suguhi cerita menarik dari salah satu mantan petinggi partai yang juga terkait dengan persolan wanita wanita di sekelilingnya. Walaupun sebenarnya kisah kisah semacam ini bukan pertama kalinya menyangkut moralitas para pemimpin kita, akan tetapi kisah paling mutakhir ini rupanya cukup menyita perhatian khalayak.

Adalah Luthfi Hasan Ishaq, Presiden Partai Keadilan Sejahtera. Namanya akhir akhir ini selalu menghiasi pemberitaan di media. Baik media massa, media elektronik hingga menjadi buah bibir di jejaring sosial. Kasus yang di awali operasi tangkap tangan KPK dengan dugaan terlibat kasus korupsi impor daging sapi ini kemudian berubah menjadi bola liar yang tidak saja menghancurkan karir LHI, akan tetapi juga berpotensi menghancurkan struktur PKS yang selama ini oleh banyak pihak di anggap sebagai partai dengan sistem pengkaderan rapi.

Kasus yang menimpa pria kelahiran Malang itu nyatanya tidak saja terkait dengan korupsi semata, akan tetapi juga menyangkut keberadaan para wanita wanita di sekitar LHI. Penulis sengaja tidak akan membahas sepak terjang orang dekat LHI, Ahmad Fathanah. Walaupun peranan pria yang konon pernah satu almamater dengan LHI ini di nilai cukup besar, namun penulis menganggap ia hanyalah komandan lapangan berpangkat biasa dan di belakangnya masih ada sederet nama yang secara wewenang dan kekuasaan jauh lebih besar dari dirinya.

Pada bulan Maret 2011, salah satu pendiri PKS Yusuf Supendi melansir tudingan bahwa di internal PKS setidaknya ada 3 elite yang telah melakukan poligami. Tifatul Sembiring, Mahfudz Shidiq dan Luthfi Hasan Ishaq. Dalam laporan itu Yusuf Supendi mengatakan bahwa poligami yang di lakukan oleh ketiga petinggi PKS itu di anggap bertentangan dengan syariah. Luthfi Hasan Ishaq misalnya, di tuding telah menikah lagi tanpa mendapat persetujuan terlebih dulu dari istri pertamanya. Oleh sebab itu dewan syariah selaku pengawas dan penjaga moral politisi PKS akhirnya memutuskan untuk tidak merestui poligami LHI.

Informasi awal yang di sampaikan KH Yusuf Supendi ini bagi penulis adalah petunjuk dasar bagaimana mengenali karakter sosok yang kemudian di daulat sebagai Presiden PKS itu. Kata pepatah, awal yang salah akan menghasilkan akhir yang salah pula. Nabi Muhammad bilang, segala sesuatu itu di mulai dari niat. Maka dalam hal ini kami menganggap apa yang di lakukan oleh LHI kala itu adalah cerminan niat dan awal yang salah. Pria yang berpoligami dengan niat baik tidaklah mungkin berani mengorbankan kepentingan yang lebih besar, yaitu keluarga dari istri pertamanya. Kenekatan LHI yang menikah tanpa memperhatikan persetujuan istri pertama dan tanpa memandang hasil sidang dewan syariah partai adalah bukti bahwa pria ini memang hanya peduli dengan kesenangan dirinya.

Kendati apa yang di lansir Yusuf Supendi kala itu di anggap angin lalu, baik oleh LHI sendiri maupun petinggi PKS lainnya, namun seiring perjalanan waktu sepak terjang LHI dengan wanita wanita cantik perlahan terkuak. Nama Darin Mumtazah, siswa kelas XII SMA yang sebentar lagi akan lulus sekolah muncul dalam daftar saksi kasus korupsi daging impor. Perempuan belia dengan body seksi ini konon merupakan salah satu wanita yang dekat dengan LHI. Ada yang mengatakan Darin istri siri, ada yang mengatakan wanita simpanan, atau justru hanya wanita yang sekedar di bayar untuk di tiduri. Beberapa saksi yang tinggal di sekitar kediaman DM mengatakan bahwa LHI sering berkunjung ke rumah DM. Mereka juga mengatakan bahwa LHI oleh orang tua DM di kenalkan sebagai suami dari DM.

Bagi kader kader PKS yang secara struktur tidak melarang poligami mungkin saja adalah sesuatu yang biasa dan tidak perlu di besar besarkan. Akan tetapi masyarakat luas sudah pasti memiliki persepsi lain. Apalagi sebelumnya masyarakat juga di suguhi tingkah polah orang kepercayaan LHI, Ahmad Fathanah yang doyan perempuan. Dalam pikiran masyarakat, LHI pun kemungkinan juga memiliki kebiasaan buruk yang sama.


Seorang kawan bijak mengatakan, "lelaki itu makin berkuasa cenderung makin nakal, sementara wanita makin nakal makin berkuasa". Memang tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Banyak contoh yang mengisyaratkan demikian. Di gedung DPR misalnya, konon petugas kebersihan seringkali menemukan adanya kondom yang berasal dari tempat sampah di ruangan para legislator. Begitu juga ketika ada pejabat yang berkunjung ke daerah maupun plesir ke luar negeri, aroma mesum seringkali muncul mengiringi tingkah laku mereka. Itu belum termasuk kasus lain yang menyangkut moralitas para pemimpin semisal penggunaaan narkoba, judi dan lain sebagainya.

Sebaliknya, wanita semakin nakal semakin berkuasa. Di balik kemolekan tubuhnya, Monica Lewinsky sukses menghancurkan karir Bill Clinton dan juga mengakhiri dominasi Partainya di gedung putih. Di balik suara merdu penjaja cinta, perdana menteri Italia sekaligus presiden AC Milan tersungkur dari kursinya. Dan banyak lagi. Wanita terbukti tidak sekedar makhluk lemah yang mudah di tindas, tapi ada kalanya wanita tak ubahnya seperti Tuhan. Dia bisa menentukan kapan kekuasaan pria harus terus di pertahankan, dan kapan harus di akhiri.


ARJUNA, PLAYBOY SUKSES

Berbeda dengan nasib banyak politisi yang akhirnya hancur berkeping keping karena di dera masalah perempuan, tokoh pewayangan yang satu ini di anggap sebagi playboy yang sukses. Kisah hidup tokoh Pandawa ini dari awal hingga akhir nyatanya tidak pernah sepi dari isu perempuan perempuan di sekitarnya. Bahkan kalau di bandingkan dengan LHI, kenakalan Arjuna masih jauh di atas. Siapa saja wanita yang pernah dekat dengan LHI masih bisa di telusuri, tetapi Arjuna ?. Bahkan dalangpun tidak ada kata sepakat berapa jumlah wanita yang pernah dekat dengan titisan Wisnu itu. Karena saking banyaknya.

Lalu kenapa nasib Arjuna lebih mujur dari LHI  ?

Pertama, soal kejujuran. Dalam dunia wayang, Arjuna di anggap sebagai sosok ksatria yang jujur. Baik dalam hal keperwiraan maupun dalam kehidupan sosial. Oleh sebab itu ia di juluki Whibatsu, yang artinya petarung yang jujur. Bukti kejujuran Arjuna yang lain juga bisa kita tengok dari nama nama panggilan yang di sematkan oleh orang lain kepada Arjuna dan itu di terima sang pemanah terbaik dunia wayang ini tanpa banyak protes atau tersinggung. Dia tidak marah ketika orang menyebutnya sebagai Janaka. Yang artinya pria yang memiliki banyak istri. Ini berbeda dengan politisi kita yang sudah jelas ketahuan memiliki banyak istri tapi masih saja membantah kalau ia berpoligami. Arjuna juga seringkali di ledek dengan sebutan Danasmara, yang artinya perayu ulung. Tapi tidak pernah Arjuna protes dengan sebutan itu. Karena memang itu fakta sebenarnya. Ini berbeda dengan politisi kita yang di depan orang banyak bicara moral, di belakang dia jatuh terjerembab dalam pelukan wanita. Sifat jujur ini yang tidak di miliki LHI. Jangankan kepada masyarakat luas, kepada istrinya dan keluarganya saja tidak jujur.

Kedua, kemampuan spiritual. Dalam hal ini boleh jadi Arjuna bukan tandingan LHI. Walaupun Arjuna di kenal sebagai figur penggila wanita, akan tetapi ia memiliki pengalaman spiritual yang jauh lebih kuat. Arjuna oleh banyak dalang di sebut sebagai tokoh yang hoby bertapa. Senang bermeditasi dari satu tempat ke tempat lain. Dari hutan satu ke hutan yang lain, dari gunung satu ke gunung yang lain demi melatih mental spiritualnya. Ia sanggup bertahun tahun jauh dari keramaian dan publistas. Ia sanggup bertahun tahun menjadi manusia buangan yang terusir dari negerinya. Ia sanggup tidak makan berhari hari bahkan konon bertahun tahun. Ini berbeda dengan para politisi kita yang penggemblengan spiritualnya sebagian besar hanya berkisar masalah teori, jargon keagamaan dan lain sebagainya. Tanpa di iringi lelaku prihatin. Bayangkan saja, seorang tokoh menyerukan kepada pengikutnya untuk bertaubat, tapi di sisi lain ia sendiri hidup dengan fasilitas mewah dan kehidupan yang serba hedonis. Ibarat bertarung, belum menang saja sudah foya foya.

Ketiga, kemandirian. Kendati Arjuna memiliki banyak istri dan simpanan, tapi ia adalah pribadi yang mandiri. Ia bukan pria yang mudah di kendalikan oleh wanita. Pikirannya tetap fokus pada tujuan awal. Yaitu memenangkan pertarungannya dengan Kurawa. Dan itu di genggamnya erat erat. Bagi Arjuna, wanita hanyalah alat, dan bukan tujuan. Oleh sebab itu tidak heran ketika pecah Baratayuda, istri istri dan anak anak Arjuna berdiri tegak di bekalang Arjuna. Srikandhi di daulat sebagai panglima perang, Larasati bertugas sebagai kepala keamanan Madukara, Wara Sembadra mengurusi logistik. Bahkan Banowati (istri Suyudana) yang merupakan selingkuhan Arjunapun ikut ambil bagian dalam memasok informasi demi kepentingan kubu Pandawa. Apakah hal ini juga terjadi pada para politisi kita ?


Saran penulis untuk PKS, sebaiknya elite elite PKS belajar dari tokoh pewayangan seperti Arjuna. Jangan hanya menggelar wayang kulit semalam suntuk saja tanpa mau belajar bagaimana seorang tokoh menjalani kehidupannya. Kalau memang ada yang suka berpoligami, jujur saja. Kalau memang kasus itu melibatkan banyak elite partai, sebaiknya secara jujur di akui saja. Untuk jangka pendek memang menyakitkan, akan tetapi untuk jangka panjang itu bermanfaat besar dalam mencapai cita cita.

Selain itu, elite elite PKS dan juga elite politik lainnya, teruslah melatih kemampuan spiritual. Banyak prihatin. Berlakulah sederhana, merakyat dan apa adanya. Hindari hal hal berbau kemewahan yang itu membuat rakyat merasa di dholimi. Ketika banyak rakyat susah payah mencari sesuap dua suap nasi, politisi kita justru seenaknya menghamburkan uang negara. Kebiasaan ini tidak akan mencetak kader bangsa yang handal. Sampai kapanpun.

Terakhir, para calon pemimpin mesti bisa mandiri. Kalau memang partai dananya sedikit, jalankan saja sebatas kemampuannya. Jangan berlebihan, apalagi sampai mengorbankan uang rakyat. Terkadang pertarungan memang butuh waktu yang panjang, lama dan berdarah darah. Tapi kemandirian dari sebuah institusilah yang di akhir cerita menjadi kunci dari sebuah kemenangan.


Quote : Ketika ternyata dalam sebuah permainan, Pandawa mengalami kekalahan, mereka dengan serta merta mengakui itu dan meningalkan negaranya kemudian hidup bertapa di hutan belantara untuk kembali memupuk semangat dan kemampuan daya juangnya. Maka, tidak ada salahnya kalau kader kader PKS sepakat meninggalkan partainya atau kalau perlu bubarkan saja, lalu kembali ke habitat awal sebagai gerakan dakwah sembari mempersiapkan diri untuk kompetisi jangka panjang.


Oleh : Komandan Gubrak

Minggu, 05 Mei 2013

Menanti Tuah Megawati Di Pilgub Bali

Sempat memenangkan Pilgub DKI, lalu berturut turut jagonya kandas di beberapa ajang pilkada (semisal Jawa Barat dan Sumatera Utara) sepertinya tak membuat Megawati merasa jera untuk terus memasang calon calon kepala daerah yang berasal dari kader internal. Hingga hari ini,Megawati tak henti hentinya mempertontonkan akrobat politik yang terkadang di mata banyak orang di anggap kurang kalkulatif dan gegabah. Pilgub Jawa Barat adalah salah satu contoh, di mana ‘kengototan’ Megawati dalam mengusung kader internal dan tanpa partner koalisi pula akhirnya berujung pada kekalahan jago PDI Perjuangan. Yang lebih tragis lagi, perolehan suara cagub – cawagub usungan PDI Perjuangan hanya terpaut beberapa persen dari pemenang pilkada.

Saya sendiri membayangkan, andaikata Megawati bersedia kompromi dengan kekuatan politik lain semisal Gerindra saja, situasinya bisa jadi akan berbeda. Rieke Dyah Pitaloka dan pasangannya berpeluang besar untuk menang. Apalagi seperti kita tahu, sejak awal Prabowo sangat bernafsu mengusung Teten Masduki. Belajar dari pilkada DKI, kehadiran Gerindra sebagai partner PDI Perjuangan nyatanya menghasilkan sebuah kolaborasi yang begitu dahsyat dan secara luar biasa membalikkan prediksi banyak kalangan.

Tapi nyatanya fakta berkata lain. Entah karena trauma dengan kejadian di DKI, dimana PDI Perjuangan merasa di ‘tipu’ oleh Gerindra ataukah ada visi lain yang jauh lebih besar, yang jelas pada even even selanjutnya, Megawati sebagai pemimpin tertinggi partai tampak makin ngotot untuk mengusung kadernya sendiri. Terlepas apakah hasilnya memuaskan atau mengecewakan.

Lalu apa kira kira yang melatar belakangi langkah langkah taktis PDI Perjuangan dan Megawati di ajang ajang pilkada itu ?
Megawati Soekarnoputri (shnews.co)

Pertama, Megawati sepertinya ingin membuat garis batas yang tegas antara dia dan lawan lawan politiknya. Ini penting untuk melindungi partai dari pengaruh dan intervensi kekuatan politik lain yang mungkin saja masuk dan mengambil keuntungan. Megawati tak ubahnya Achilles dalam film Troy yang walaupun ikut serta menyerbu kota Troya, tapi menolak unit militernya di kooptasi oleh penguasa di atasnya. Ia dan pasukannya memilih diam ketika ribuan tentara Yunani lainnya menggedor benteng Troya. Tapi ketika situasi memungkinkan, ia bergerak sendiri tanpa harus menunggu komando atasannya. Petarung sejati semacam ini yang saya pikir jarang kita temukan di negeri ini. Sebagian politisi hanya mengedepankan oportonity. Dalam bahasa lain, hanya mementingkan kemenangan semata.


Kedua, Megawati ingin menguji kekuatan dan kesiapannya untuk merebut kembali kemenangan yang pernah di raihnya di tahun 1999. Pilkada bagi semua partai politik di anggap sebagai ajang pemanasan dalam merebut supremasi sebagai kampium pemilu. Maka prestasi prestasi di tingkat lokal bisa di katakan sebagai indikasi awal bagaimana sesungguhnya peluang sebuah partai di kancah nasional. Megawati tampaknya sangat serius menggarap even even lokal seperti ini. Berbeda dengan Partai Demokrat yang walaupun merupakan pemenang pemilu dan pemilik kursi terbanyak di legislatif pusat hingga daerah, tapi dalam banyak ajang nyatanya kurang percaya diri. PDI Perjuangan cukup unik. Dia hanya bersedia koalisi jika kursi di DPRD tidak memungkinkan untuk mengusung sendiri, tapi kalau di rasa cukup, PDI Perjuangan lebih memilih melaju sendirian. Tidak ada rasa takut sedikitpun, walau akhirnya harus di keroyok oleh gabungan partai partai politik.

Ketiga, Megawati ingin memberikan pelajaran berharga bagi perpolitikan tanah air. Sejelek apapun, sekorup apapun, partai politik tetaplah merupakan wadah utama bagi proses kaderisasi calon calon pemimpin bangsa. Dari partai politik inilah masa depan sebuah bangsa di tentukan. Negara yang kuat haruslah di topang oleh partai politik yang kuat, solid, terstruktur dan di kelola dengan baik. Partai yang buruk secara organisasi, mustahil akan melahirkan calon pemimpin yang handal. Apa yang di lakukan oleh Megawati, adalah pelajaran yang sangat berharga. Dalam politik, opportunity kadang menguntungkan, minimal untuk jangka pendek. Tapi menina bobokan dalam jangka panjang. Mereka yang di didik melalui proses berjenjang dalam sebuah organisasi tentu berbeda dengan calon pemimpin yang tiba tiba masuk lalu menduduki posisi penting. Kemelut di partai Demokrat saya pikir bisa di jadikan referensi bagi kita semua. Partai yang di bangun tanpa melalui proses kaderisasi yang baik, nyatanya dalam sekejap bisa hancur lebur di landa konflik. Ibarat sebuah tim sepakbola, taburan bintang ternyata tidak selamanya menjamin kemenangan jika pengorganisasiannya di lakukan secara buruk.


Pilgub Bali, Pembuktian Kapasitas Megawati ?

Setelah kekalahan PDI Perjuangan di Jawa Barat dan Sumut, partai yang komandani Presiden ke 5 RI ini kembali mengusung sendirian jagonya di ajang pilgub Bali. Adalah Anak Agung Puspayoga – Sukrawan, yang merupakan kader internal PDI Perjuangan yang di gadang gadang bisa menjungkalkan sang petahana Made Mangku Pastika – Ketut Sudikerta. Hampir semua partai politik yang memiliki kursi di DPRD I Bali berada di kubu Pasti Kerta (Pastika – Sudikerta), sementara pasangan Puspayoga (wagub Bali sekarang) dan Sukrawan hanya di usung sendirian oleh PDI Perjuangan.

Secara matematis, pasangan Puspayoga – Sukrawan (PAS) memiliki modal 43,63%. Itu jika di lihat dari perolehan kursi DPRD I PDI Perjuangan pada pemilu 2009 silam. Sementara lawannya, Pastika – Sudikerta  di usung hampir semua partai pemilik kursi DPRD I (Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional , Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Nasional Benteng Kerakyatan, Partai Karya Perjuangan, Partai Karya Peduli Bangsa, dan Partai Pakar Pangan) memiliki kursi DPRD I Bali sejumlah 30 kursi (54,5%). Mengacu pada perimbangan kursi di legislatif, tentu kubu Pasti Kerta lebih unggul. Akan tetapi seperti halnya pilkada di tempat lain, faktor partai bukanlah satu satunya penentu kemenangan. Figur kandidat biasanya juga menjadi acuan penting bagi kemenangan calon.

Secara kecil kecilan kami mengadakan survey melalui jejaring sosial (facebook) untuk mengukur elektabilitas calon. Responden kami ambil secara acak. Sebagian adalah responden yang berteman dengan akun kami, sebagian lagi tidak. Jumlah responden tidak banyak. Hanya 51 responden. Ini di karenakan ajang Pilgub Bali tidak termasuk dalam rencana kerja utama Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak). Pun demikian, hasil polling ini semoga saja bisa menjadi gambaran bagaimana sesungguhnya pertarungan antar dua calon di Bali.

Berikut Hasil Polling yang di lakukan Team Polling Gubrak pada tanggal 22 April – 4 Mei 2013



1. Ngurah Puspayoga - Sukrawan : 25 atau 49,01%

Afiliasi Politik Responden
1. PDIP : 15 (60%)
2. Gerindra : 2 (8%)
3. Hanura : 1 (4%)
4. Tidak Tahu : 7 (28%)

2. Mangku Pastika –Sudikerta : 15 atau 29,41%

Afiliasi Politik Responden
1. Golkar : 6 (40%)
2. PDIP : 2 (13,33%)
3. Gerindra : 2 (13,33%)
4. Hanura : 1 (6,66%)
5. Demokrat : 1 (6,66%)
6. PKPI : 1 (6,66%)
7. Tidak Tahu : 2 (13,33%)

3. Belum Menentukan : 11 atau 21,56%

Total : 51
Margin Error : 5 %

Dari survey yang walaupun jumlahnya belum bisa di katakan memenuhi syarat, akan tetapi ada yang menarik bagi kami. Yaitu pertempuran antara PDI Perjuangan dan Partai Golkar. 60% pemilih pasangan PAS adalah pendukung PDI Perjuangan, sementara 40% pemilih pasangan Pasti Kerta adalah simpatisan Partai Golkar. Rivalitas ini kemungkinan akan berlanjut di pemilu 2014. Dimana Golkar tetap menjadi rival terdekat bagi PDI Perjuangan dalam berebut pengaruh di Bali. Namun demikian, ini hanya sekedar polling. Bukan hasil resmi. Segala sesuatunya bisa saja berubah di detik detik terakhir.

Bagi Megawati, Bali adalah salah satu lumbung strategis dan basis tradisional PDI Perjuangan. Di tempat ini PDI Perjuangan selalu menang. Bali boleh di bilang sebagai tempat yang pas untuk menguji kemampuan mesin PDI Perjuangan dalam mengamankan basisnya. Pilkada kali ini juga menjadi pintu masuk bagi perhelatan selanjutnya di tempat lain semisal Jawa Tengah. Di mana PDI Perjuangan juga mengusung calonnya tanpa koalisi. Kalau PDI Perjuangan sukses mengunci Bali, boleh jadi partai ini juga memiliki peluang mengunci Jawa Tengah. Tap jika gagal, kans Ganjar Pranowo – Heru Sudjatmoko di Jateng kemungkinan juga terancam. Dan imbas lainnya bisa jadi juga akan mengancam peluang calon usungan PDI Perjuangan di Jawa Timur.


Oleh : Dhan Gubrack, analis Politik Gubrak dan Direktur Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak)