Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juni 2013

Kupret ( Kumpulan Cerita Predy yang terlena )



PREDY FEATURING AGNES MONICA
===========================
 
Predy : eh penyanyi pop melayu, wes sarapan durung?

agnes monica : eh ora yow,, jangan asal ngomong dong kang, musikku bukan pop melayu, tapi R&B, dan hip-hop, dimana aretha franklin, jill scott, angie stone, madonna, michael jackson, fantasia, dan beyoncé sebagai pengaruh besar dalam bermusik aku ,,!!

Predy : oalah nduk, lambemu,, aku ngomong opo malah koe njawab opo,, aku ki takon wes sarapan durung,, lah malah dijawab waton!

agnes monica : lho sampean ngomong aku penyanyi pop melayu kok!!

Predy : ayu ayu kok goblok tho,, aku ulangi wes sarapan durung dul ???

agnes monica : wah payah nih ngomong sama orang gila!!

Predy : yang gila iku sopo nduk ?? aseem eh aku gak tau yow... pamer udel ndek tipi, pamer ketek, pamer paha, aku iki wong waras,, wegah aku kentir ngono iko koyo sampean nduk!!

agnes monica : hahaha,,, kui tuntutan profesionalitas sayangku!!

Predy : apahh ?? kau panggil aku sayang?? ihh jijay dech jijay,,, mang sapa elo sapa gue,, hanya mitha yang boleh manggil aku sayang,, kepepetnya bufatin gakpapa deh

##mitha langsung keluar dari balik pohon pisang,, datang berlari hendak memeluk predy, gerakan slow motion,, hmmm co cwiiittt

dua sejoli itu bertatapan mesra, selayaknya debt colector dan sang korban..

agnes monica : waaaa,,, monster X kumatt!! gimana nih mau dijawab enggak aku udah sarapan pa belum?? B|

Predy : ah dah gak penting!! ilfil gua ma elu! ......ayok mitha, kita ke laut aja, jangan diurus penyanyi melayu satu ini 3:)

^__^

**sekedar catatan tambahan : agnes monica adalah penyanyi melayu yang terkenal dengan lagunya yang berjudul anggur merah :p
 
==============================================================================================================================================================

Makan Malam Predy di Warung Dunkin
========================

barusan setengah jam tadi Predy masuk ke warung Dunkin Donuts, tanpa permisi, dia minta dua potong Donuts, pepsi dan coffe capucino. ( maklum perutnya nyayi keroncongan setelah jadi bintang tamu X-Factor tanpa di kasih makan ) #muka melas.....

setelah disiapkan oleh pelayan , si predy langsung pergi, tidak membayar...

spontan, security menghentikan sang cetar membahana badai ini, bukan cetar membahana namanya jika tidak bisa tetap santai,,,

"mas, kenapa anda tidak bayar?" tanya si security

"ndak punya uang saya pak!" jawab si Predy

"gila kamu ya, enggak punya uang kenapa kamu masuk?" timpal si security.

"bapak yang gila kalii, ini restoran punya siapa? pemilik merek dagangnya orang amerika bukan? lha kita asli jawa, dia cari duit semaunya, tanah,, ya tanah moyang kita.. mosok minta sekali aja gak boleh,, lha bapak iki dengan saudara sesuku ya tega,, padahal gajinya cuma cukup untuk masuk kakus kan? so, biarin saja pak, sesekali ada anak negeri yang kelaparan, minta makan di sini,

bapak juga silahkan lho kalau mau, sekali lagi ini tanah moyang kita, jangan mau terlalu jadi babu pak!!"

"oh,, gitu ya nak muda,, wah cerdas kamu ya,, okelah saya tak ke dapur, minta nasi rendang aja!!" jawab si security

LIMA MENIT KEMUDIAN PREDY KEMBALI......

"nih pak tak kembalikan, baru tak gigit sedikit, ra doyan aku,, panganan aneh koyo iki kok di di jual !! sempal iki restoran!!" umpat Predy ke pak security.

"ho oh mas,, aku ke belakang juga ndak ada nasi rendang,, kere tenan kiye warunge!! yo golek sego kucing wae,, tak traktir wess,,!!

"wah,, apik tenan bapak iki.. mesti anak gadis sampean ayu yo pak!!" mirip bu Fatin alfatihin yang baru menang tadi yo pak...

"jelas,, tapi ndak akan saya kenalkan dengan anak muda yang cerdas tapi kere kayak kamu!! catet itu!!" celetuk pak security
==============================================================================================================================================================

Minggu, 17 Maret 2013

Layanan Gratis Sms Bangun Subuh GUBRAK!!!

Ini adalah program gratis dari GUBRAK dimana anda akan mendapatkan servis berupa Sms Sangun Subuh setiap hari sepanjang tahun tanpa perlu mengeluarkan biaya sedikitpun. Program ini mulai mengudara pada tanggal 13 Maret 2010 hingga sekarang dan menyasar 700 lebih pengguna ponsel seantero Indonesia.
Layanan ini di gawangi oleh relawan relawan terbaik Gubrak.
Dengan bergabung di program SBS, anda berkesempatan untuk menambah pengetahuan tentang ke Indonesiaan melalui sms sms yang kami kirim ke HP anda.
Selain itu, anda juga berkesempatan untuk membangun korespondensi sesama Gubraker (sebutan anggota GUBRAK) melalui program tukar nomer HP, tukar email facebook dan lain lain.
Sms subuh makin seru dengan sisipan sisipan sms LUCU terkini yang sudah pasti membuat anda ngakak...
Ketik : SBS/Nama Akun FB (email)/Tanggal Lahir/Domisili/Nomer HP
Contoh : SBS/Komandan Gubrak(gubrakkomandan@rocketmail.com)/20-09-79/Jakarta/08123456789

Untuk mendaftakan teman agar dapat layanan Sms Bangun Subuh
Ketik : Akunmu/SBS/Email (akun FB teman)/Tanggal Lahir Teman/Domisili Teman/Nomer HP Teman
Contoh :Komandan Gubrak/SBS/Paijo88@yahoo.com (Paijo Stres)/19-07-87/Aceh/08181818XXX

Kirim ke :
085776412809 
(Hafidz)
085645049578 
(Lestari)
* untuk pengguna Indosat
081946850869 
(Harun)
081913443080 
(Imam)
* untuk pengguna XL
085203071071
(Yuyun)
* untuk pengguna Telkomsel

083899037416
(Komandan Gubrak)
* untuk pengguna Axis, Esia, Fren dll

*Hanya yang sudah terdaftar sebagai Gubraker yang boleh mendaftarkan temannya
*Khusus bulan Ramadhan, sms di kirim sesuai jadwal sahur anda
Selamat bergabung....

Kamis, 27 Desember 2012

IBUKU JANDA, MASALAH BUAT LOE ???

Ratih mengayuh  pedal sepedanya kuat kuat. Mesin angin itu kemudian melesat cepat meninggalkan warung makan milik mbok Sri yang terletak di pinggiran desa. Menyusuri  jalanan tak beraspal, berdebu dan di penuhi bebatuan sungai yang licin lagi berbahaya. Beberapa kali remaja tanggung berpakaian seragam sekolah dengan tas ransel butut tergantung di punggung itu nyaris tergelincir manakala ban sepedanya menubruk bebatuan besar lagi tajam yang tersebar di sepanjang jalan menuju rumahnya. Matanya terlihat sembab berurai butiran bening, nafasnya tersengal memburu, sementara dari pori pori kulitnya, peluh berlomba lomba keluar membasahi sekujur tubuh. Pun demikian, tak ada tanda tanda dari gadis yang masih duduk di kelas III SMA ini bakal mengendurkan laju sepedanya. Bahkan ketika sampai di tikungan dan makin dekat dengan tempat tinggalnya, Ratih malah kian kesetanan memutar sepasang pedal di kakinya.
 Pict : kloter2000.blogspot.com


Seorang lelaki tanggung berumur belasan tahun dan lebih muda dari Ratih yang sedang sibuk mencangkul di kebun samping rumah buru buru meninggalkan pekerjaannya dan berlari menyongsong kedatangan Ratih.

“Kamu makan sendiri aja, Ga!” kata Ratih sembari mengulurkan dua bungkus nasi dari balik tas ranselnya.

“Loh, mbak nggak lapar ?” remaja tanggung bernama Galih yang merupakan adik Ratih satu satunya itu bertanya.

“Nggak!”.

“Kenapa ?. Khan ini ada dua ?” heran.

“Udah kenyang…” seloroh Ratih seraya tergesa gesa mengayunkan kaki menuju sebuah bilik kamar yang terletak di bagian kanan bangunan rumah.
Ruangannya tidak terlalu besar. Berukuran 2 x 2 meter dengan dinding terbuat dari anyaman bambu yang berfungsi sebagai penyekat. Perabotan di dalamnya juga sangat minim. Terdiri dari sebuah ranjang tidur terbuat dari kayu dengan alas tikar plastik di atasnya, satu lemari di pojokan dan satu set meja belajar. Di situlah Ratih kemudian menumpahkan segala kekesalan sekaligus kekecewaan yang melanda hatinya.

Sejak di tinggal mati oleh ayahnya akibat sakit parah setahun lalu, keluarga Ratih memang tak pernah lepas dari berbagai masalah. Hanya berselang seminggu semenjak ayahnya meninggal, mereka terpaksa harus menjual sawah satu satunya demi membayar hutang sisa pengobatan sang ayah. Sementara sang ibu yang di harapkan bisa menggantikan peran ayah dalam hal mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga sama sekali tak bisa berbuat banyak. Beberapa kali ibunya melamar pekerjaan di perusahaan perusahaan. Tapi karena ijazahnya hanya SD di tambah ia tidak memiliki ketrampilan, tak satupun perusahaan yang mau menampung. Terpaksa ibunya bekerja serabutan. Mulai dari buruh tani, buruh nyuci dan jenis jenis pekerjaan kasar lainnya. Itupun tidak tiap hari. Imbasnya, keluarga harus berhutang lagi demi memenuhi kebutuhan perut sekaligus membiayai sekolah Ratih dan Galih.

Kesulitan hidup keluarga Ratih makin lengkap ketika akhirnya tak ada satupun tetangga, sanak saudara dan handai taulan bersedia meminjami uang karena sudah saking banyaknya hutang. Ini pula yang menyebabkan Galih mundur teratur dari bangku sekolah dan memilih bekerja sebagai buruh demi membantu ekonomi keluarga. Ratih sendiri sempat berpikir untuk berhenti sekolah dan mengikuti ajakan tetangganya untuk bekerja sebagai TKW di luar negeri. Tapi karena ibu dan adiknya melarang dan lagi tinggal setahun lagi lulus SMA, Ratih akhirnya mengalah.

Di bulan ketiga setelah wafatnya ayah, kabar menyenangkan datang menghampiri. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil menerima ibunya sebagai karyawan di sana. Walaupun statusnya hanya karyawan kontrak, tapi itu jauh lebih baik daripada menjadi buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. Tapi sayangnya, pekerjaan itu hanya di lakoni kurang dari sebulan. Akibat kelalaian petugas instalasi listrik, pabrik tempat ibunya bekerja terbakar habis tanpa sisa.

Kandas sudah harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Bukan hanya kehilangan harapan, tapi gaji selama ibunya bekerja juga tak di bayar. Langit seolah runtuh menimpa atap rumah reot keluarga Ratih. Namun di saat kondisi rumah tangga serba sulit, ibu Ratih sepertinya tak pernah kehilangan semangat untuk terus berjuang.

Tak rela anak anaknya terlantar, ia pergi ke kota demi mencari pekerjaan. Ratih sendiri tidak tahu persis dimana ibunya bekerja dan apa yang di kerjakan di sana. Yang Ratih tahu, sang ibu pergi pagi pagi sebelum ia dan Galih terbangun dan pulang menjelang tengah malam. Itu di lakukan hampir setiap hari tanpa ada hari libur yang pasti.

Walaupun resikonya, Ratih dan adiknya menjadi jarang sekali bertemu sang ibu, akan tetapi pekerjaan baru yang di lakoni orang tua tunggalnya memberikan penghasilan yang cukup. Terbukti, selain kebutuhan dapur dan sekolah Ratih tercukupi, hutang hutang keluarga pada orang banyak, sedikit demi sedikit mulai bisa di bayar.

Malapetaka itu datang ketika  sepulang sekolah Ratih mampir di warung mbok Sri untuk membeli makanan. Tanpa di sengaja, ia menguping pembicaraan para pelanggan di warung mbok Sri.

“Yani sekarang pintar nyari duit ya…” salah seorang pengunjung  pria dengan usia kurang lebih 30an tahun membuka cerita di hadapan pengunjung lain.

Ratih yang duduk di pojokan sembari mengantri untuk di layani awalnya tak terlalu berpikir macam macam ketika nama ibunya di sebut. Bisa jadi Yani yang di maksud bukan Yani ibunya. Sebab nama itu sudah menjadi nama umum dan di pakai banyak orang.

“Yani yang mana, Sur ?” tanya pengunjung lain.

“Halah…itu loh. Jandanya kang Irwan” sahut lelaki pertama yang di panggil dengan sebutan Sur.

“Ibuku ???” guman Ratih dalam hati.

Ya, tak salah lagi. Irwan adalah nama almarhum ayah Ratih. Jika tidak salah orang, bisa di pastikan Yani yang sedang di perbincangkan pengunjung warung mbok Sri itu adalah Yani ibunya.

“Oalah…anaknya mbah Imam tho ?”.

“Tak salah lagi….” batin Ratih mulai berdebar debar.

“Darimana kamu tahu dia pintar nyari duit, Sur ?”.

“Tahulah” lelaki bernama Sur itu menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi panjang tempatnya duduk. Dengan raut muka serius dan suara sedikit di rendahkan ia berkata,

“Aku sering memergokinya di antar pulang oleh laki laki. Nggak tanggung tanggung, No “kata Sur menyebut nama penanyanya, “nganternya pakai mobil. Gila nggak ?. Trus gonta ganti loh yang ngantar. Tapi kadang ada yang ngantar pakai motor juga”.

“Beneran kamu, Sur ???” No setengah tak percaya.

“Sumpah, No. Malahan pernah yang nganter anaknya masih SMA. Tanya Arif deh kalau nggak percaya. Tuh saksinya ada” sambil menunjuk ke arah pria gemuk yang asyik menyruput kopi di pojokan.

“Betul, No” pria bernama Arif itu menyahut, “udah gitu dandanannya menor pula. Apa nggak mencurigakan tuh ?”.

“Mencurigakan gimana ?” si No belum paham apa yang di maksud kedua rekannya.

“Yaaaah…jangan jangan dia kerja nggak bener di kota. Siapa tahu…”.

“Kerja njablay maksudmu, Rif ?”.

“Yaelah Parno….Parno. Jadi orang tuh mbok yo pengalaman dikit tho” ledek Sur.

“Kalau perempuan suka pulang malam, trus di antar macem macem lelaki, berdandan menor. Apalagi kalau bukan jablay….”.

***************

Ibuku jablay ?

Ratih menghempaskan tubuhnya di atas tikar plastik yang melapisi tempat tidurnya. Obrolan para pelanggan warung mbok Sri beberapa saat lalu benar benar membuatnya terpukul. Bagaimana tidak, sejak kecil Ratih mengenal ibunya sebagai sosok wanita pendiam, lugu, penyabar, setia dan begitu mencintai ayahnya. Jangankan melakukan pekerjaan bejat seperti yang di tuduhkan para pria itu, bahkan dalam setiap obrolan dengan anak anak, ibunya tak pernah sekalipun menyinggung masalah laki laki. Bukan karena tidak ada lagi lelaki yang bersedia menikahi ibunya. Kalau masalah itu, sudah tak terhitung jumlahnya para pria lajang, duda maupun yang masih beristri mengutarakan niat melamar ibu Ratih. Bahkan ketika ibunya tidak lagi bekerja di pabrik tekstil, sempat juga anak kepala desa yang juga salah satu pejabat kabupaten berniat melamar ibunya. Tapi ibunya menolak. Padahal kalau mau, hidup keluarga Ratih sudah pasti di jamin berkecukupan.

Alasan ibu sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin mencurahkan segenap perhatian pada anak anaknya. Lagi pula dengan suaminya yang baru, belum tentu perlakuannya sama dengan almarhum suaminya.

“Jadi omong kosong kalau ibuku….”.

Ratih menangkupkan kedua tangannya ke muka. Batinnya marah, hatinya memberontak, pikirannya berusaha keras mengingkari setiap fakta yang di ceritakan para pria di warung mbok Sri. Tapi lagi lagi ia meragu. Ia tahu ibunya tidak memiliki ijazah sekolah tinggi yang memungkinkannya mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak. Paling banter  penjaga toko atau malah buruh cuci di kota. Artinya, sangat tidak mungkin bagi ibunya, berani menghambur hamburkan uang hanya untuk membayar pengantarnya yang konon memakai mobil pribadi kalau cuma penjaga toko bahkan buruh cuci.

“Lalu darimana ibu mendapatkan begitu banyak fasilitas dan uang…???.

“Jangan jangan apa yang di katakan orang orang di warung mbok Sri benar adanya ?”.

Pertanyaan demi pertanyaan terus menyiksa pikiran Ratih. Pelan tapi pasti, kepercayaan pada sang ibu mulai tergoyahkan. Sosok ibu yang sekian lama sudah ia anggap sebagai perwujudan Tuhan di muka bumi. Yang kasih sayangnya tak pernah lekan di makan zaman, yang keteladanannya menjadi contoh bagi anak anaknya, dan kesetiaannya tiada bandingan, kini perlahan terkikis oleh prasangka. Bahwa ibunya ternyata tak lebih dari seorang perempuan murahan yang rela melakukan hal hal yang di larang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebagai seorang anak yang sejak kecil di didik soal moralitas, agama dan etika, tentu keadaan itu bagi Ratih tak ubahnya seperti noktah hitam yang melekat kuat di mukanya. Yang harus ia sandang kemanapun ia pergi.

Ratih makan dari hasil kerja haram

Ratih sekolah dari hasil ibunya menjual diri

Ratih anak jablay…

Ratih….

“Gila!!!!” raung Ratih di bilik kamar nan sempit itu.

Kemarahan dan kekecewaannya pada sang ibu makin lama makin tak bisa ia bendung. Hatinya berontak, pikirannya kacau, batinnya merana. Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya, mengumpulkan segenap kekuatannya lalu berlari mencari adik tercintanya.

“Ikut aku!” kata Ratih dengan nada setengah memaksa.

“Kemana ?” tanya Galih yang masih asyik menikmati makanannya.

“Ke tempat kerja ibu!”.

“Ngapain ?. Khan nanti juga pulang ??” sanggah Galih dengan mulut masih di penuhi nasi.

“Udah, nggak usah bayak tanya !!!” bentak Ratih tak ingin berlama lama.

Sejenak Galih meletakkan bungkusan di tangannya. Berjalan gontai mendekati Ratih.

“Ambil sepedanya, cepeeettt….”.

“Iiiiya…iya….!”.

Tanpa berani membantah lagi, Galih segera mengambil sepeda butut satu satunya yang tiap hari di pakai Ratih ke sekolah itu. Kedua kakak beradik itu tak lama kemudian berboncengan menyusuri jalan berbatu desa Randu, melewati warung mbok Sri, memotong jalan dengan menaiki perbukitan kecil di sebelah barat desa Randu, menyeberangi sungai besar dengan menaikki perahu rakit, dan terus mengayuh sepedanya ke selatan.

Rute yang sulit memang. Tapi Ratih tak punya pilihan lain. Sebab, jika melewati jalanan yang biasa di lalui angkutan umum ia harus menempuh jarak lebih panjang dan memutar. Waktu yang di tempuh sudah pasti akan lebih lama. Mau naik angkutan umumpun sia sia, karena angkutan yang menghubungkan desanya ke kota hanya beroperasi sampai siang hari.

Walaupun persisnya Ratih tidak tahu, tapi dulu ia pernah mendengar ibunya mengatakan kalau ia bekerja tak jauh dari pasar raya. Ibu Ratih juga sempat bilang kalau ia di kenal oleh beberapa satpam yang bertugas di pasar itu.

“Berhenti dulu, Ga!” kata Ratih sembari melompat turun.

Kedua bersaudara itu kemudian memarkir sepedanya di trotoar, mencari tempat duduk di bawah pohon palem yang berada di pinggir jalan dan melepas lelah sejenak setelah hampir dua jam duduk di atas sepeda.

“Pasarnya ramai ya, mbak ?” kata Galih terkagum.

Seumur hidup, inilah pertama kalinya Ratih dan Galih datang ke kota. Ada rasa senang, karena suasananya jauh berbeda dengan kampung halaman mereka. Kendaraan yang lalu lalang tanpa henti keluar masuk, gedung pasar yang  megah, pelayan pelayan yang cantik cantik lagi berbusana elok. Sebuah pemandangan manusia yang sangat kontras, jika di bandingkan dengan Ratih dan Galih. Yang satu masih mengenakan seragam sekolah, satunya lagi berpakaian dekil dan lebih mirip pemulung.

“Kita tanya satpam dulu, Ga” Ratih menarik tangan adiknya dan berjalan tergesa ke sebuah pos satpam yang terletak di pintu masuk pasar.

“Pak, mau numpang nanya nih” kata Ratih memberanikan diri.

“Kenapa, dik ?” seorang pria berkumis dengan badan tegap bertanya.

“Bapak kenal Bu Yani nggak ?”.

“Yani siapa ?” masih belum mengerti.

“Rambutnya panjang lurus, badannya ramping, ada tahi lalat di dagunya, pak. Kami anaknya bu Yani” Ratih menerangkan.

Satpam pasar itu berpikir sejenak.

“Oooohhhh…Yani Suryani maksud adik?”.

“Betul, pak!” Ratih kegirangan.

“Kalau jam segini dia sudah nggak di sini dik”.

“Loh, emangnya ibuku sering di pasar ini ?” Ratih heran.

“Iya, Yani kalau pagi hingga siang kerja cleaning service di pasar ini. Tapi kalau siang, nggak di sini”.

“Cleaning service ?. Tukang sapu ?” batin Ratih.

“Trus, sekarang kemana pak ?”.

“Mmmmm…kalau siang dia ke sana tuh!” kata si satpam sambil menunjuk ke sebuah gedung di seberang jalan.

“Ngapain di sana pak ?” Ratih penasaran.

Di lihat jauh, gedung itu lebih mirip rumah biasa. Tapi dari aktifitasnya, ada yang sedikit aneh. Di halaman depan terdapat taman, pepohonan rindang lengkap dengan tempat tempat duduk untuk bersantai. Beberapa mobil terparkir di sisi kiri. Dan yang paling mencengangkan, di sana terdapat belasan wanita wanita cantik dengan pakaian seksi sedang duduk mengobrol satu dengan yang lain.

“Aneh” pikir Ratih.

“Mereka jualan” sahut pak satpam.

“Jualan?” kata Ratih terperanjat.

“Iya, jualan. Cepetan cari ibu kalian kesana. Semoga saja belum berangkat jualan…” kata sang satpam enteng.

Edan!!!. Otak Ratih makin tak karuan. Pembicaraan para pelanggan warung mbok Sri kembali terngiang di telinga Ratih. Apa yang ia lihat di rumah besar dengan belasan wanita cantik di sana makin menguatkan dugaan dan kecurigaan Ratih. Bahwa ibunya memang ‘jualan’ diri.

“Ayo kesana, Ga!”.

Tanpa mengucapkan terima kasih pada satpam pasar yang memberitahunya, Ratih sekonyong konyong menarik tangan adiknya dan melangkah buru buru menyeberangi jalan raya. Begitu sampai di trotoar depan rumah besar itu, mata Ratih segera mencari cari.

“Itu ibu…” teriaknya ketika melihat sosok wanita yang sangat ia kenal sedang mengobrol dengan seorang pria muda di samping sebuah mobil warna hitam yang terparkir di sisi kiri rumah.

“Ngapain ibu sama laki laki itu ?” kata Galih mengerutkan keningnya.

“Mungkin itu langganan ibu!” kata Ratih kecut.

“Sudah, kita temui saja!”.

Segeralah ia dan adiknya berjalan mendekati sosok wanita berpakaian seksi, berdandan menor yang tampak terkaget begitu mengetahui kedatangan anak anaknya.

“Ratih….Galih….??” sambut Yani tak percaya.

“Ratih mau bicara…” ucap Ratih dengan raut muka masam.

“Sebentar ya, mas”.

Ketiganya kemudian berjalan ke luar halaman, menuju sebuah tempat yang relatif sepi.

“Kenapa kalian….”.

“Nggak usah banyak ngomong deh” potong Ratih sambil melotot tajam ke arah ibunya.

“Ibu jualan khan ???” todongnya tanpa basa basi.

“Maksud kamu apa sih, sayang ?” Yani kebingungan dengan tingkah anak sulungnya yang tak bersahabat.

“Ibu dandan seksi seperti ini, mau jualan khan ?” Ratih lebih keras.

Yani makin tak habis pikir kenapa anaknya mendadak bersikap tidak ramah terhadap dirinya.

“Iya, ibu jualan. Emang kenapa ?” mencoba menenangkan.

“Pantasss…..” desis Ratih dengan senyum sinis penuh kebencian.

“Pantas gimana, Ratih ?”.

“Jangan pura pura bodoh gitu deh” sungut Ratih makin menjadi jadi.

“Ratih nggak nyangka. Ibu ternyata selama ini menafkahi anak anaknya dengan duit haram. Dari hasil pekerjaan yang menjijikkan…!”.

“Ratih…..????”.

“Ratih nggak mau punya ibu pelacur!”.

“Apa kamu bilang Ratih ?” janda beranak dua yang umurnya sekitar 35 tahun itu terperanjat kaget. Apa yang baru saja ia dengar dari mulut anak tercintanya benar benar membuat Yani tak habis pikir.

“Darimana kamu dengar berita fitnah itu ?” sergap Yani.

“Semua orang sudah tahu, bu…” sahut Ratih garang.

“Itu fitnah!!!”.

“Aku lihat sendiri…” tak mau kalah.

“Orang orang kampung juga banyak yang tahu ibu pulang di antar laki laki hidung belang…”.

“Ratih….?”.

“Kamu salah, sayang…” kata Yani segera tahu apa yang menjadi pangkal sebab salah paham Ratih terhadap dirinya.

“Ibu yang salah!” Ratih terus melawan.

“Dengar dulu penjelasan ibu, sayang…”.

Kali ini Yani menggamit pundak Ratih. Tapi secepat kilat Ratih menepis kedua tangan ibunya.

“Cuihh!!!”.

“Hehhhh…!. Kalian bisa diam dan dengarkan cerita ibu tidak ??. Heh ?” Yani yang tak mau kesalah pahaman itu terus berlarut larut membentak keras seraya berkacak pinggang. Kedua bola matanya melotot tajam setengah mengancam.

Gentar juga Ratih melihat reaksi ibunya yang begitu keras . Remaja kelas III SMA itu terdiam.

“Dengar penjelasan ibu” kata Yani menurunkan nada suaranya.

“Apa yang kalian sangkakan kepada ibu itu salah besar. Kamu lihat papan nama itu…” Yani menunjuk sebuah papan nama yang terpampang di depan rumah besar tempat berkumpulnya para wanita cantik di sana.

MESS SALES PROMOTION GIRL “LESTARI”

“Ibu bekerja di sini. Sebagai sales. Kerjaannya mempromosikan produk produk perusahaan ke pasar, kantor, bazaar bazaar dan event event. Ini kerjaan freelance. Gajinya sih nggak seberapa. Tapi cukup untuk menambah penghasilan sebagai tukang sapu di pasar” terang Yani.

Ratih bengong.

“Ibu sebenarnya nggak suka bekerja dengan memakai pakaian begini. Tapi ibu terpaksa, Ratih. Nggak ada kerjaan lain. Hutang kita banyak. Kebutuhan kalian juga besar”.

Ada rasa sesal menggelayut di benak Ratih. Apa yang selama ini ada di otaknya mengenai sang ibu ternyata jauh dari kenyataan.

“Soal ibu di antar pulang oleh laki laki, itu karyawan di sini juga. Nggak Cuma ibu. Para sales di sini di antar rame rame kok ke rumah masing masing. Jadi nggak perlu berpikir macam macamlah”.

“Tapi kenapa nganternya nggak sampai depan rumah, bu ?” kali ini suara Ratih jauh lebih bersahabat.

“Ibu, nggak ingin tetangga tahu, trus nanti berpikiran yang nggak nggak. Itu saja”.

Ratih mengangguk dan mulai mengerti. Di raihnya pinggang sang ibu, lalu ia rebahkan kepalanya di atas dada Yani.

Ibuku memang luar biasa…

Ketika semua orang ragu

Dia tetap berlari tanpa jemu

Ketika semua orang menganggapnya lemah

Ia terus membuktikan dan tak kenal lelah

Ketika semua orang putus asa

Ia hadir membalut luka


Oleh : Komandan Gubrak

(Cerita pendek ini kami persembahkan untuk para ibu yang selama ini bertarung sendirian menghadapi hidup. Untuk anak anak yang di tinggalkan ayahnya dan untuk semua orang yang menyanyangi ibunya)

Rabu, 22 Agustus 2012

Banowati Selingkuh (Part 14)

“Anakku…” tutur Prabu Kurandageni kepada Herawati tatkala putri Salya itu tiba di istana Tirtakandasan dengan di iringi kekasih tercintanya Kartawiyaga.

“Aku menerimamu di sini bukan berarti aku berniat menghina orang tuamu. Jika bukan karena kalian sudah saling mencinta, manalah berani orang tua sepertiku mengganggu ketenangan ayahmu Prabu Salya” lanjut Kurandageni merendahkan suara untuk mengambil hati sang calon menantu.

“Saya mengerti, paman” kata Herawati, “saya justru berterima kasih atas sambutan paman yang luar biasa ini. Jika bukan kepada paman, kemana lagi saya harus berlindung?”.

Kurandageni mengangguk.

“Pamanmu ini tidak habis pikir anakku. Bukankah menjadi permaisuri Hastinapura adalah impian semua wanita ?. Tapi kenapa justru kamu memilih Kartawiyaga yang statusnya hanya bangsa rendahan dan tak punya apa apa ?” pancingnya.

“Paman, setiap wanita di karuniai dua pilihan yang sama sama baik. Pertama menikah di saat yang tepat atau menikah dengan pria yang tepat. Dan saya memilih yang kedua” tegas Herawati yang di sambut dengan senyum mengembang sang Kurandageni.

“Dan kamu tahu resikonya ?”.

“Tentu, paman. Tapi saya berjanji tidak ingin merepotkan keluarga Tirtakandasan”.

“Oh, bukan begitu maksud paman” berhenti sejenak,” paman hanya ingin segala sesuatunya berjalan sesuai norma yang ada. Kalau bisa di upayakan dengan cara yang baik, kenapa dengan cara yang kurang baik?”.

Kali ini Herawati tertunduk. Ungkapan Kurandageni itu bagi Herawati terdengar seperti penolakan yang di perhalus.

“Ayahanda orangnya sangat keras hati. Sekali ia bilang tidak, susah sekali mengubahnya” keluh Herawati pasrah.

“Kalau ayah tidak bersedia menerima kami, biarkan Kartawiyaga membawa lari dinda Herawati kemana saja asal tidak mengganggu kenyamanan Tirtakandasan!” sela Kartawiyaga sedikit kecewa dengan sikap ayahnya.

“Ha ha ha…!” tertawa lepas.

“Karta…Karta…!. Apa ayahmu ini sudah kamu anggap benda mati sehingga kamu seenaknya saja berkata begitu ?. He…?”.

“Dengar!” ucap Kurandageni dengan nada tinggi.

“Yang ayah inginkan, kamu mengatakan secara jantan pada pamanmu Salya bahwa kamu menginginkan putrinya. Itu saja!”.

“Ah, mana mungkin ?” bantah Kartawiyaga.

“Kamu sudah mencobanya ?”.

“Paman Salya sudah pasti akan membunuhku”.

“Menurutmu begitu…”.

Kartawiyaga menatap penuh tanda tanya pada sang ayah.

“Selama Herawati di sini, tidak akan berani pamanmu Salya menyakitimu”.

Deg. Benar juga apa yang ayahnya katakan. Prabu Salya tak mungkin akan menyakiti dirinya kalau ia tahu bahwa putrinya berada di Tirtakandasan.

“Tapi bagaimana kalau paman Salya tetap tidak mau merestui kami, ayah ?” masih ragu ragu.

“Itu urusan nanti. Yang penting kamu harus menunjukkan dulu niat baikmu”.

Kartawiyaga berpaling ke arah Herawati yang duduk bersimpuh di sampingnya. Putri sulung Salya ini terlihat menggelengkan kepala seolah tidak percaya bahwa ayahnya akan begitu saja merelakan dirinya bersanding dengan Kartawiyaga.

“Ayah…?” protes Kartawiyaga, namun tatapan nanar sang ayah serta merta membuatnya terpaksa harus diam mendengarkan petuah lebih lanjut.

“Kamu anakku satu satunya. Jika memang apa yang sudah menjadi ketetapan hati kalian, ayahmu ini sama sekali tidak merasa keberatan untuk menghadapi resikonya. Mungkin ayah bukan tandingan pamanmu Salya, akan tetapi demi kau anakku. Demi kebahagiaan kalian, kematian bukan hal yang perlu di takuti!”.

Terlecut hati sang Kartawiyaga mendengar ucapan ayahnya yang begitu tulus tanpa pamrih. Makin tergugah hati Kartawiyaga untuk memenuhi keinginan ayahnya.

“Baiklah. Jika memang ayah menghendaki begitu, hari ini juga Kartawiyaga akan segera kembali ke Mandaraka. Titip dinda Herawati, ayah”.

Setelah berpamitan kepada ayahnya dan Herawati, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi putra mahkota Tirtakandasan itu segera bersiap berangkat kembali ke Mandaraka.


Hampir setengah hari Basukarna terlihat mondar mandir di sekitar gubuk di mana ia meletakkan tawanan istimewanya, Surtikanthi. Sesekali ia melongok ke dalam gubuk guna memastikan anak Salya yang ia anggap sebagai Banowati itu masih ada di tempat. Otaknya berpikir keras, mau di apakan wanita cantik yang sekarang berada di tangannya itu ?. Tidak mungkin ia membiarkan terus menerus tawanannya itu dalam keadaan tidak sadar akibat kena totoknya. Jika menjelang sore ia tidak segera melepaskan Surtikanthi dari pengaruh ilmu totoknya, bisa jadi justru akan membahayakan keselamatan yang bersangkutan. Dia tetap harus melepaskan Surtikanthi. Tapi bagaimana menghadapi putri Salya itu ketika telah tersadar, itu yang masih membuat Basukarna ragu ragu. Tentu Surtikanthi akan segera mengenalnya. Dan apa jadinya jika di awal ia sudah terlanjur mengaku sebagai Permadi, nyatanya justru bukan ?. Padahal niat awalnya ia ingin membuat nama Permadi tercemar.

Basukarna melangkah ke dalam gubuk dimana Surtikanthi masih tergolek lemas di atas pembaringan. Di pandanginya tubuh berbalut pakaian berwarna kuning keemasan itu dengan nafas tertahan. Untuk kesekian kalinya jantung Basukarna berdetak kencang manakala matanya menumbuk pada wajah ayu Surtikanthi. Ada rasa aneh yang terus menerus menggugah hatinya. Entah mengapa sejak melihat wajah Surtikanthi, timbul rasa suka dalam diri Basukarna ?. Berkali kali ia berusaha menepis, tapi berkali kali pula ia gagal meredam gemuruh perasaannya.

Tanpa sadar Basukarna beringsut mendekat pada Surtikanthi. Di sentuhnya perlahan tubuh montok di hadapannya. Debar jantungnya tak henti hentinya berpacu manakala jari jemari Basukarna menyentuh setiap lekuk tubuh Surtikanthi. Dan ketika pandangannya tertuju pada wajah cantik Surtikanthi, semakin tak terbendung keinginan adipati Awangga itu untuk menyentuh wajah nan ayu Surtikanthi.

“Bangun Banowati…” ucap Basukarna lirih.

Dan entah sadar atau tidak, tangan Basukarna tiba tiba bergerak mengetuk beberapa saraf Surtikanthi yang pada akhirnya membuka kesadarannya.

Perlahan tubuh yang tadinya lemah mulai menunjukkan tanda tanda kesadaran. Di awali dengan gerakan jari jarinya, merembet ke tangan, lalu sekujur tubuhnya dan kemudian matanya yang tertutup rapat perlahan terbuka. Tak ada reaksi dari sang Basukarna. Justru sepertinya pemuda Awangga ini malah menunggu tawanannya tersadar.

“Di mana aku ?” ucap Surtikanthi begitu tersadar. Beberapa kali ia mengucek ucek matanya, lalu menatap liar ke sekeliling. Dan begitu mendapati sosok asing di dekatnya, sontak ia bangkit dan beringsut menjauh.

“Siapa kamu ?” tanya Surtikanthi gelagapan. Tangannya refleks meraba raba pinggang. Berharap ada senjata yang terselip di sana. Tapi nihil.

“Tenang nona…tenang!” Basukarna bangkit dan berusaha mendekat.

“Jangan mendekat….jangan mendekat!” ancam Surtikanthi dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Aku tidak bermaksud jahat, nona…”.

“Jangan bohong!” Surtikanthi tak percaya.

“Kamu yang menculikku dari keputren Mandaraka, bukan ?”.

“Oohh…” Basukarna tampak sedikit kebingungan.

“Bukan…bukan…!”.

“Bohong!” bantah Surtikanthi, “kembalikan aku ke Mandaraka…kembalikan!” lengkingnya marah. Di raihnya sebatang bambu sepanjang setengah meter yang berada di pojok ruangan. Serta merta ia menyerbu ke arah Basukarna, dan…

Brakk!!!

Batang bambu itu di hantamkannya ke dada Basukarna. Tak ada perlawanan sedikitpun bahkan tak terdengar teriakan kesakitan dari mulut Basukarna. Dan sepertinya Basukarna sengaja memberikan tubuhnya untuk jadi bahan pelampiasan kemarahan Surtikanthi. Makin jengkel Surtikanthi melihat keangkuhan pria di hadapannya, makin keras ia hantamkan bambu itu ke tubuh Basukarna. Namun bukan luka yang ia lihat, tapi batang bambu di tangannya justru hancur berkeping keping setelah berkali kali menghantam tubuh pria di depannya.

“Tenang nona, aku bukan penculik yang kamu maksud” ucap Basukarna berbohong.

“Aku…aku….Karna!”.

Surtikanthi melongo mendengar jawaban itu. Dia ingat betul bahwa penculiknya mengaku bernama Permadi, yang ia tahu nama itu adalah nama dari salah satu anggota Pandawa. Tapi pria di hadapannya ini mengaku bernama Karna.

“Bohong!. Penculiknya berbaju hitam seperti yang kamu pakai. Ayo ngaku !” todong Surtikanthi mulai berani.

Mati aku!. Gerutu Basukarna dalam hati. Kenapa ia lupa mengganti pakaiannya ?.

“Oh…ini kebetulan saja” jawab Basukarna sekenanya.

“Nggak percaya!. Kamu Permadi bukan ?”.

“Bukan…bukan..!. Aku Basukarna. Adipati Awangga. Orang kepercayaan Prabu Suyudana”.

Mendengar nama Suyudana di sebut, Surtikanthi mendadak berubah. Walaupun belum pernah berbicara langsung, tapi Surtikanthi telah mengenal raja Hastina itu ketika ia dan keluarganya menerima rombongan Hastinapura di istana Mandaraka dalam rangka melamar kakaknya Herawati.

“Kalau nona tidak percaya, aku bisa bawa kamu ke Hastina untuk menghadap gusti Suyudana” Basukarna meyakinkan.

Surtikanthi menatap dalam dalam ke wajah Basukarna. Sepertinya pria ini jujur. Pikir Surtikanthi.

“Tapi yang menculikku..”.

“Iya..iya…!. Ketika aku sedang menuju Mandaraka menyusul paman patih Sengkuni, aku mendapati Permadi sedang berlari membawamu. Aku lalu menghadangnya. Kami bertarung dan akhirnya aku bisa kalahkan dia” Basukarna mengarang cerita.

“Jadi….” Surtikanthi mulai percaya,” jadi tuan yang menyelamatkan Surtikanthi…?”.

Surtikanthi ?.

“Jadi namamu Surtikanthi ?. Bukan Banowati ?” Basukarna penasaran.

“Iya. Aku Surtikanthi. Banowati itu adikku. Kamu kenal dia ?”.

Ya Tuhan. Jadi selama ini aku salah orang. Dia bukan Banowati yang kata Aswatama sempat hendak di culik Permadi.

“Tidak. Aku tidak kenal Banowati. Hanya saja…”.

“Kenapa ?”.

“Hanya saja aku sempat mendengar cerita bahwa Permadi pernah hendak membawa lari adikmu Banowati. Untunglah tuan Aswatama berhasil menggagalkannya”.

“Apa ?. Kapan ?” Surtikanthi penasaran dengan cerita Basukarna.

“Loh…bukannya nona sudah tahu ?”.

Surtikanthi menggeleng. Pikiranya kini kembali mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu ketika ketika dua kali ia tidak menemukan Banowati di kediamannya. Entah peristiwa itu terjadi yang pertama atau yang kedua, yang jelas keterangan lelaki di depannya ini sungguh membuatnya mulai mengerti masalah yang sebenarnya.

“Oh..pantas saja Banowati sering tidak ada di tempat…”.

“Bisa jadi “potong Basukarna makin percaya diri.

“Bisa jadi itu ulah panengah Pandawa itu. Buktinya, nona juga hendak di bawanya lari ?”.

Surtikanthi menganggukkan kepala.

“Kita harus segera laporkan ini kepada ayahanda…” kata Surtikanthi seraya mengajak Basukarna keluar dari gubuk itu.

“Tunggu dulu nona!” Basukarna menahan.

“Kenapa ?”.

“Biar aku yang menghadap ayahandamu” saran Karna.

Bagaimanapun untuk sementara waktu ia harus menahan Surtikanthi agar tidak kembali ke Mandaraka sebelum usaha patih Sengkuni dan Aswatama membujuk Prabu Salya guna menghukum Permadi berhasil.

“Sangat berbahaya jika nona kembali ke Mandaraka”.

Surtikanthi tertegun tak mengerti maksud Basukarna.

“Permadi begitu berhasrat menculik nona, aku takut ia akan kembali menyakiti nona kalau tahu nona ada di Mandaraka”.

“Hemm…” dehem Surtikanthi. “Masuk akal. Tapi kalau tuan ke sana, bagaimana denganku ?”.

“Itu gampang. Nona bisa istirahat di Awangga. Biar orang orangku nanti yang menjaga nona. Aku jamin Permadi tidak akan berani menginjakkan kaki di Awangga”.

“Benarkah ?”.

Basukarna mengangguk.

Akhirnya dengan mengendarai kuda sakti kyai Gagak Rimang pemberian Dewa Surya, Basukarna membawa Surtikanthi pergi ke Awangga. Sesampai di Awangga, Surtikanthi di tempatkan di kediaman Basukarna dengan mendapatkan pelayanan istimewa. Basukarna yang mulai tertarik dengan Surtikanthi sepertinya tak mau kehilangan kesempatan untuk menjerat hati Surtikanthi. Segala fasilitas mewah di berikan pada tamu istimewanya ini. Makanan yang melimpah, pelayan yang ramah dan beraneka hiburan yang membuat Surtikanthi makin merasa betah di Awangga.

Bersambung...

oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak

Rabu, 15 Agustus 2012

Banowati Selingkuh (Part 13)

“Ohh….ehmmm…”.

Gugup, marah, bingung bercampur malu sang Dananjaya. Apalagi di dekatnya ada Banowati, gadis cantik yang begitu ia kagumi. Sejak pertama kali bertemu dengan Banowati di pantai Mandaraka, sedikitpun ia tak pernah menyinggung statusnya yang sudah memiliki istri. Bukan bermaksud ingin menyembunyikan jati diri, akan tetapi ia membutuhkan saat yang tepat untuk mengatakan itu semua. Pun juga ia harus memastikan bahwa rasa cintanya pada putri prabu Salya itu tidak bertepuk sebelah tangan.

Apa yang di ucapkan Wasi Jaladara barusan benar benar membuat Permadi seolah mati gaya di depan Banowati. Mau berkata bohong, ada kakak sepupunya yang sudah pasti tahu banyak kartunya. Tapi mengatakan apa adanya, ia mesti bersiap menghadapi kemarahan Banowati yan mungkin saja merasa kecewa dengan ketidakjujurannya.

Sejenak mata Permadi melirik ke arah Banowati yang hanya beberapa sentimeter dari tempatnya duduk. Dara Mandaraka itu hanya membalas tatapan Permadi sekilas lalu menundukkan wajah tanpa memberikan isyarat apapun kepada Permadi.

“Sebentar…” ucap Permadi tiba tiba.

Ksatria Madukara ini lantas bangkit dari duduknya, menggamit tangan Banowati lalu membawanya keluar dari gubuk kecil itu. Burisrawa yang tidak mau terjadi apa apa dengan kakaknya, berusaha menguntit dari belakang. Tapi sebuah isyarat dari Banowati memaksanya untuk duduk kembali dan membiarkan Permadi membawa keluar sang kakak.

“Aku bisa jelaskan..!!” kata Permadi begitu telah berada agak jauh dari gubuk.

“Aku bisa ceritakan semuanya….” ulangnya sembari mencengkeram kedua pundak Banowati. Sementara kedua bola matanya tak pernah lepas memandangi wajah Banowati.

“Apaan sih…” sahut Banowati sembari menepis kedua tangan Permadi.

“Dengar aku, Bano…, dengar….!. Aku memang menikahi Larasati, tapi….”.

“Aaah…sudah sudah…!” seperti tak menggubris rengekkan Permadi, Banowati malah membalikkan badan dan berlalu begitu saja menjauhi Permadi.

“Eeeh….dengar dulu Bano…” kejar Permadi.

“Aku menikahinya karena terpaksa…”.

“Apa urusanku?” Banowati cuek.

“Aku memenangkan sayembara…”.

“Hebat dong…”.

“Tapi niatku cuma ingin mengalahkan Udawa. Nggak ada yang lain…”.

“Semua lelaki akan bilang begitu kali…” Banowati mempercepat langkah.

“Aku jujur, Bano…”

“Bodo!!!” sahut Banowati memonyongkan bibirnya.

“Tapi aku tak mencintainya…”.

Kali ini Banowati menghentikan langkah. Menoleh ke arah Permadi, tapi sedetik kemudian ia kembali melangkah cepat menuju gubuk.


Tirtakandasan. Begitu pulau terpencil di tengah lautan itu di sebut. Orang orang Mandaraka seringkali menyebut Tirtakandasan sebagai pulau buangan. Tempat di mana para penjahat kriminal  menjalani masa hukuman atas perbuatan yang pernah mereka lakukan. Ada sekitar 500an orang yang menghuni pulau kecil yang terletak sekitar 750 km dari pantai Mandaraka ini. Kebanyakan adalah orang orang yang menjalani hukuman. Mulai dari pelaku kejahatan kecil hingga kejahatan besar seperti pembunuhan, perampokan dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, Tirtakandasan juga menjadi tempat bagi mereka yang pernah di cap pemberontak oleh kerajaan Mandaraka. Ada belasan penjahat politik yang juga menghuni kawasan ini. Dan salah satunya adalah kerabat Prabu Salya bernama Kurandageni. Kurandageni di buang ke Tirtakandasan beserta keluarganya  atas tuduhan hendak melakukan kudeta pada raja sebelumnya, Prabu Mandrapati.

Sebelum di buang ke Tirtakandasan, Kurandageni adalah seorang senapati perang Mandaraka berpangkat Laksamana. Memimpin angkatan laut Mandaraka dan bertugas menjaga keamanan kerajaan dari gangguan kerajaan kerajaan kecil di perairan timur. Prestasinya tidak terlalu mengecewakan. Di bawah kendali Kurandageni, perairan timur yang dahulu kala di kenal tempat paling menakutkan bagi para nelayan dan pelaut, berubah menjadi wilayah aman yang bebas di lalui oleh siapa saja. Kurandageni tidak hanya sukses menjamin keamanan perairan timur, tapi ia juga berhasil menakhlukkan kerajaan kerajaan kecil yang banyak bertebaran di tengah lautan timur.

Namun sayang, sebuah intrik licik yang di lancarkan oleh para pejabat yang tidak menyukainya, memaksa sang laksamana harus menghabiskan masa hidupnya di pengasingan. Petaka bagi Kurandageni yang juga merupakan murid sekaligus menantu begawan Bargawa (adik Bagaspati/mertua Salya) muncul ketika Mandaraka mengalami krisis politik di mana Prabu Mandrapati menderita sakit yang cukup parah. Keadaan ini bertambah runyam manakala putra mahkota Mandraka yaitu Salyapati yang di gadang gadang bisa menggantikan posisi raja dalam mengelola pemerintahan justru pergi mengembara entah kemana. Karena merasa ikut bertanggung jawab atas jalannya pemerintahan Mandaraka akhirnya Kurandageni mengambil inisiatif untuk mengangkat diri sebagai raja sementara Mandaraka sampai di ketemukannya sang putra mahkota. Usaha ini sebenarnya mendapat dukungan penuh dari negara negara bawahan Mandaraka, terutama negara negara kecil yang pernah di tundukkan Kurandageni. Namun tidak bagi para pejabat istana Mandaraka yang sudah sejak lama merasa iri dengan sepak terjangnya. Para penentang Kurandageni  kemudian menyusun rencana menyingkirkan raja baru ini melalui pemalsuan perintah Prabu Mandrapati. Dalam surat perintah palsu ini, Kurandageni tidak hanya di copot dari jabatannya sebagai penguasa sementara Mandaraka, tapi juga di tuduh telah melakukan kudeta yang akhirnya di hukum buang ke Tirtakandasan beserta keluarganya.

Di tempat pengasingannya, Kurandageni yang merasa sakit hati atas perlakuan musuh musuh politiknya di lingkaran pemerintahan Mandaraka kemudian menyusun kekuatan guna melakukan pembalasan. Di kumpulkannya semua pengikutnya yang rata rata adalah para narapidana untuk di latih dalam seni keprajuritan. Tidak itu saja, Kurandageni juga menghubungi raja raja kecil di perairan timur yang dulu pernah ia takhlukkan untuk bekerja sama. Dan upaya ini di sambut dengan tangan terbuka oleh raja raja kecil di kepulauan timur. Mereka sepakat berikrar  bahwa sejak itu tidak lagi berada di bawah kendali Mandaraka. Dan sebagai gantinya mereka mengangkat Kurandageni sebagai pemimpin dan di daulat sebagai raja diraja dengan Tirtakandasan sebagai pusat pemerintahan.

Salyapati yang pulang dari pengembaraan dan mengetahui kekisruhan yang melanda Mandaraka akibat upaya kudeta Kurandageni marah bukan main. Apalagi setelah ia tahu bahwa Kurandageni justru menyusun kekuatan dari tempat pengasingan dan berencana menyerbu Mandaraka.Putra mahkota Mandaraka ini lalu berangkat ke Tirtakandasan seorang diri dengan maksud mengajak perang tanding Kurandageni. Tantangan ini di sambut gembira oleh Kurandageni. Pertaruhannya tidak main main, jika Kurandageni kalah, maka ia harus tunduk pada Mandaraka. Namun jika Salya yang kalah, maka ia merelakan posisi sebagai putra mahkota untuk di serahkan kepada Kurandageni.

Pertarungan antara murid dua begawan bersaudara, Bargawa dan Bagaspati ini berlangsung tiga hari tiga malam. Dan akhirnya perang tanding ini di menangkan oleh Salyapati. Sesuai perjanjian, akhirnya Kurandageni harus tunduk di bawah kekuasaan Mandaraka.

Namun demikian, kekalahan pahit yang di terima Kurandageni ini tidak sepenuhnya membuat dia lupa akan perlakuan Mandaraka. Kurandageni masih tetap menyimpan asa untuk melakukan pembalasan dan kalau perlu merebut kekuasaan Mandaraka. Akan tetapi niat itu tidak ia wujudkan dalam bentuk pemberontakan, karena ia tahu bahwa Salya sulit di kalahkan jika menggunakan kekuatan fisik.

Adalah Kartawiyaga, putra satu satunya Kurandageni hasil perkawinannya dengan putri Resi Bargawa yang kemudian di gadang gadang menjadi alat untuk mewujudkan ambisinya. Seperti halnya Kurandageni yang termasyhur sakti mandraguna, Kartawiyaga juga di kenal sebagai jawara pilih tanding. Di negara negara laut timur, Kartawiyaga sangat di segani. Dia juga terkenal sebagai pimpinan bajak laut yang seringkali beroperasi di perairan timur. Kemampuan Kartawiyaga menguasai dunia kelautan ini tak pelak adalah  bakat warisan yang di turunkan oleh ayahandanya yang dahulu kala adalah seorang laksamana tangguh.

Seperti yang pernah kita singgung di awal cerita, bahwa pelaku penculikan Dewi Herawati tak lain dan tak bukan adalah raden Kartawiyaga. Putra Prabu Kurandageni yang berasal dari klan yaksa atau raksasa. Bagi Kurandageni, bersatunya dua manusia yang saling mencintai antara putranya dan Herawati adalah kemenangan psikologis yang bisa jadi melapangkan jalannya untuk menguasai Mandaraka atau setidaknya ia punya kesempatan untuk kembali ke Mandaraka. Sesuatu yang telah ia tunggu selama bertahun tahun. Walaupun ia sudah menjadi raja di perairan timur, akan tetapi kedudukan itu belumlah memuaskan Kurandageni. Ia butuh sesuatu yang lebih dari sekedar raja perairan timur, kawasan yang oleh kebanyakan orang di anggap sebagai sarang para penjahat dan tempat bangsa yaksa yang terkutuk. Maka, kembalinya Kurandageni beserta keturunannya ke Mandaraka secara otomatis juga berarti pulihnya nama baik Kurandageni.

Bersambung...!

Kamis, 26 Juli 2012

Banowati Selingkuh (Part 12)

Sayang sekali lengan Permadi hanya mengenai ruang kosong. Resi muda itu entah bagaimana caranya sudah tidak ada di tempat.

“Ho ho ho…”

Suara itu terdengar dari arah belakang. Persis di belakang Permadi. Lirih tapi seperti sengaja mengejek kemampuan ksatria Madukara itu. Putra Pandu itu segera membalikkan badan sembari memutar kakinya, dan..

Wusss!!!

Lagi lagi hanya suara desiran angin yang di hasilkan dari gerakan kaki Permadi tanpa sedikitpun mengenai sasarannya.

“Hanya begini kemampuan jawara kebanggaan Pandawa ?” lagi lagi terdengar kata kata ejekan pada Permadi. Makin marah sang Dananjaya, makin beringas terjangan panengah Pandawa itu.

“Jumawa !” teriak Permadi kemudian di iringi pukulan, tendangan, sikut dan bahkan tandukan bertubi tubi ke arah pendeta misterius itu. Suasana berubah menjadi gaduh. Serangan serangan Permadi yang tak mengenai sasaran, beberapa di antaranya malah menghantam benda apa saja di ruangan itu. Hingga nyaris tak tersisa satu bendapun yang utuh, Permadi masih saja belum mampu melumpuhkan musuhnya. Jangankan melumpuhkan, bahkan menyentuhnyapun tidak. Resi muda itu tetap bergerak lincah dan terus mengucapkan kata kata bernada mengejek.

“Ilmu silat seperti ini mau mengalahkan Kurawa ?” ledeknya, “memalukan…!”.

Mendidih darah Permadi, belum pernah ia mendapat ejekan menyakitkan seperti ini. Belum pernah ia begitu di permainkan dalam adu kedigdayaan kecuali kali ini.

“Jangan salahkan Permadi kalau berbuat kasar” gertak Permadi seraya beringsut mundur. Tangan kirinya bergerak meraih busur panah di pinggang, sementara tangan kanan terangkat ke atas. Sebuah anak panah sepajang setengah meter kini berada di genggamannya dan siap untuk di muntahkan. Inilah salah satu panah andalan Permadi. Kyai Pasopati. Panah ajaib yang jika di satukan dengan busur saktinya kyai Gendewa, akan menghasilkan serentetan tembakan mata panah yang tiada habis habisnya. Kemampuan panah ini sudah teruji di berbagai medan. Bahkan hanya dengan senjata ini, Permadi sanggup melumpuhkan seribu musuh dalam tempo sekali tarikan nafas.

“Ha ha ha….”.

“Lucu sekali tingkahmu, Permadi. Untuk menghadapi musuh yang tak bersenjatapun, harus mengeluarkan senjata andalan…”.

“Tutup mulutmu!” teriak Permadi segera menarik busur panahnya.

Suiiiittttt……!!!!

Suara desiran panah segera menyalak. Belasan anak panah berhamburan dari busur kyai Gendewa laksana lebah yang keluar dari sarangnya. Suara ledakan terjadi di sana sini manakala mata panah itu menghantam dinding gubuk, atap, pintu, jendela dan sebagainya. Dan seperti yang sudah sudah, resi muda itu hanya melompat kesana kemari. Hanya bedanya, kali ini gerakannya jauh lebih cepat dan gesit. Hingga yang tampak hanyalah banyangan putih yang melayang ke sana kemari menghindari amukan sang Pasopati.

“Bedebah!” Permadi mengeluh dalam hati. Entah sudah berapa banyak anak panah yang ia muntahkan dari busur kyai Gendewa. Tak satupun yang mengenai sasaran. Bahkan yang terjadi malah kerusakan yang sangat parah di setiap sudut bangunan tempat ia berdiri. Dan jika ini terus berlanjut, gubuk itu bakal roboh berkeping keping.

“Bagaimana kamu bisa menang jika kamu bertarung dengan emosi, dan bukan menggunakan rasa …?”.

Permadi terkejut, apa yang di ucapkan resi muda itu seolah hendak mengajarinya bagaimana bertarung dengan baik.

“Fokuskan pikiranmu jika kamu ingin menang, adikku..”.

Belum sempat Permadi menarik kembali busur panahnya, resi muda itu tiba tiba sudah berada di sampingnya dengan senyum tersungging dari bibirnya.

“Simpan senjatamu dan perhatikan siapa aku…” ucap sang resi seraya menepuk pundak Permadi.

Dan seperti terhipnotis, Permadi perlahan menurunkan busur dan menyimpan kembali di pinggangnya. Matanya kini tertuju pada sosok berpakaian putih di sampingnya. Begitu dalam ia menelusuri setiap lekuk wajah dan tubuh sang resi, dan berusaha keras untuk mengingat ingat sesuatu.

“Kakang….Kakrasana…?” Permadi setengah tidak percaya siapa yang ada di dekatnya.

Sang resi mengangguk.

“Panggil aku Wasi Jaladara” ucap resi muda itu.

“Oh….” Permadi kini yakin bahwa lelaki di depannya adalah putra mahkota Kerajaan Mandura.

“Maafkan kecerobohan saya, kakang…” Permadi segera bersimpuh di kaki Wasi Jaladara.

“Sudahlah” Wasi Jaladara mengangkat pundak Permadi.

“Jadi yang menyelamatkan saya…”.

“Sudah…sudah…!” potong Wasi Jaladara sambil mempersilahkan Permadi duduk di atas anyaman daun kelapa yang tampak kusut akibat pertempuran tadi.

Antara keluarga Pandawa dan keluarga Mandura memang sudah lama saling kenal. Bahkan mereka masih terhitung kerabat. Ibu Pandawa, Dewi Kunti adalah adik dari Prabu Basudewa, ayah Kakrasana. Dulu sewaktu kecil, Permadi dan saudara saudaranya sering di ajak oleh ibu mereka bertandang ke Mandura. Tak jarang keluarga Mandura yang mengunjungi mereka ketika dulu masih tinggal di Hastina bersama keluarga Kurawa. Dengan adik Kakrasana, yaitu Narayana, Permadi malah lebih akrab. Bahkan ketika dulu ia mengalahkan raja Paranggelung, juga berkat bantuan Narayana.

“Bagaimana kabar uwa Basudewa, kakang ?” Permadi memulai pembicaraan.

Wasi Jaladara tampak menghela nafas. Seperti ada beban di pikirannya.

“Kenapa kakang memilih menjadi resi seperti ini, bukankah kakang adalah pewaris uwa Basudewa ?”.

Wasi Jaladara menatap Permadi dalam dalam.

“Maafkan kelancangan saya, kakang…” Permadi salah tingkah.

“Ha ha ha ha…” tawa renyah keluar dari bibir Jaladara.

“Kekuasaan tak perlu di cari, buat apa ?. Hah ?. Buat apa mengejar sesuatu yang belum tentu menjadi takdir kita”.

Kali ini Permadi jadi malu sendiri.

“Saya…saya…” ragu.

“Kenapa ?” sela Jaladara mendekatkan mukanya pada Permadi.

“Urusan perempuan lagi ?” tebaknya yang di sambut muka merah Permadi.

“Anak anak Prabu Salya telah memikat hatimu ?. Dan kamu mau pulang ke Widarakandang untuk memberitahu Larasati ?”.

Permadi benar benar tak bisa berkutik. Batinnya menggerutu, darimana kakak sepupunya itu tahu kalau ia sudah punya istri ?.

“Kamu kira, aku tidak tahu kelakuanmu, Permadi ?” tohok Jaladara.

Pasti ketiga pembantunya yang memberitahu. Pikir Permadi kesal. Tapi, bukankah ia belum memberitahukan niatnya ke Widarakandang pada ketiga pelayannya. Aneh. Atau jangan jangan memang saudara sepupunya ini pintar membaca pikiran orang ?.

“Kalian yang di luar, masuklah!!!” tiba tiba Wasi Jaladara seperti memanggil seseorang yang berada di luar gubuk.

Pasti ketiga pelayannya.

Perlahan pintu terbuka, satu persatu sosok manusia memasuki pintu kecil yang sudah rusak akibat terjangan anak panahnya tadi.

“Banowati !” Permadi terkejut bukan main melihat siapa yang hadir di hadapannya.

Banowati dengan di iring tiga pelayannya dan satu orang pria bertubuh besar dan berwajah buruk yang belum pernah ia kenal.

“Salam sembah saya, Resi…” Banowati memberi hormat pada Wasi Jaladara kemudian di ikuti pria bertubuh besar yang ternyata adalah adiknya, Burisrawa.

“Duduk…duduk” perintah Jaladara yang segera di kelilingi oleh tamu tamu istimewanya itu.

Pantas saja kakak sepupunya tahu banyak masalah pribadinya. Banowati ada di sini ternyata.

“Waktu kita tidak banyak. Segera utarakan, kenapa kalian bisa sampai di sini ?” ucap Jaladara tak ingin bertele tele.

Mereka saling pandang. Seperti kebingungan tentang apa yang mau di omongkan.

“Ya sudah, mungkin kalian ingin berbicara berdua saja”.

Sadar antara Banowati dan Permadi sama sama tak ingin melibatkan dirinya, Jaladara berdiri dan hendak meninggalkan tempat.

“Mohon tidak meninggalkan kami, Resi…” pinta Banowati menahan langkah Jaladara.

Sejak tadi, walaupun tidak melihat langsung jalannya pertarungan, Banowati bisa menebak bahwa pria berjubah putih ini bukan orang yang lemah. Apalagi dari kejauhan dia melihat dengan jelas panah panah Permadi melesat keluar gubuk dengan jumlah tak terhingga, tapi sama sekali tak membuat sang Jaladara terluka. Jadi apa salahnya ia juga menceritakan persoalan yang menimpa dirinya dan keluarganya pada resi sakti ini.

“Bener, kalian tidak masalah kalau aku mengganggu ?” Jaladara meminta kejelasan.

Banowati melirik ke arah Permadi. Dan anggukkan lirih pria pujaannya ini makin memantabkan Banowati untuk memulai cerita.

“Mohon ijin, Resi..”

“Silahkan…”.

“Sebenarnya kami malu menceritakan masalah keluarga kami pada orang lain. Tapi kami juga merasa kebingungan bagaimana memecahkan masalah ini”.

“Lanjutkan…” Jaladara mempersilahkan.

“Kakak kami, Herawati beberapa waktu lalu hilang di culik dari istana. Kami sudah berusaha mencari. Bahkan ayahanda juga meminta bantuan pada gusti Suyudana untuk membantu mencari keberadaan kangmbok Herawati. Tapi hingga saat ini tak ada hasil yang menggembirakan”.

“Dan kamu mau meminta Permadi untuk membantu mencarikan kangmbokmu ?” terka Jaladara.

Takjub juga Banowati menyaksikan kehebatan sang Wasi Jaladara dalam membaca pikirannya.

Ah…kenapa tidak sekalian minta bantuan resi ini.

“Harapan saya, resi juga bersedia membantu kami” rayu Banowati tak melewatkan kesempatan.

“Ha ha ha ha….” tawa khas Jaladara kembali meledak.

 “Maafkan saya, resi…” Banowati.

Wasi Jaladara mengibaskan tangan kanannya, pertanda ia sudah tanggap dengan apa yang di inginkan putri Salya itu.

“Permadi!”.

“Saya kakang..”.

“Apa kamu nggak malu dengan musibah yang menimpa keluarga Mandaraka?” sekali lagi Jaladara menyindir habis habisan adik sepupunya itu.

“Mandaraka baru saja mendapat musibah, tapi kamu malah memikirkan kepentinganmu sendiri”.

“Maafkan kekhilafan saya, kakang..” sahut Permadi berat.

“Hem…” Wasi Jaladara menghela nafas. Seperti tidak puas dengan jawaban basa basi sepupunya itu.

“Saya siap kembali ke Mandaraka!” imbuh Permadi membulatkan tekad.

Jaladara menganggukkan kepala.

“Trus, Larasati ?”.



Bersambung

oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak