Rabu, 13 Maret 2013

POLLING : GERINDRA MENANGKAN PEMILU, DEMOKRAT JEBLOK

Setidaknya itu yang tergambar dalam polling yang di selenggarakan Team Polling Gubrak (Tampoll Gubrak) yang di mulai 6 Februari – 12 Maret 2013. Polling yang menggunakan metode pertanyaan melalui pesan pendek jejaring sosial (Facebook) ini menjangkau seluruh provinsi di Pulau Jawa dan Bali dengan melibatkan 1.335 pengguna jejaring sosial. Pertanyaan yang kami ajukan adalah : 
 

Jika Pemilu Legislatif di gelar sekarang, Partai Politik mana yang akan anda pilih ?

(Pic : viva.co.id)

Kami memberikan 10 pilihan nama nama Partai Politik yang telah di sahkan KPU untuk mengikuti Pemilu serta pilihan ke 11 bagi responden yang belum menentukan pilihan atau menyatakan golput. Metode pengambilan samplenya kami lakukan secara acak, proporsional dan tentu saja hampir sebagian besar (kurang lebih 80-90%) belum berteman dengan relawan survey kami. Dan untuk lebih menjaga independensi, kami juga berusaha untuk tidak mengirim pertanyaan kepada responden yang memiliki mutual friend banyak. Walaupun responden itu sendiri belum berteman dengan relawan kita.



Gerindra Rebut DKI Jakarta dan Meraih Suara Signifikan di Hampir Semua Provinsi



(Pict : pppic.com)

Dalam polling sebelumnya, yakni polling  menggunakan metode mengirimkan pesan pendek melalui nomer ponsel anggota Gubrak se Indonesia beberapa bulan lalu, popularitas partai besutan mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto ini sebenarnya sudah mulai terbaca. Setidaknya Gerindra lebih banyak di minati Gubraker di banding partai gajah lainnya semacam Golkar, PDI Perjuangan dan Demokrat. Survey itu tentu saja mengejutkan bagi kami. Apalagi kita ketahui, walaupun banyak lembaga survey memprediksi Gerindra akan mengalami peningkatan pesat di Pemilu 2014, akan tetapi angkanya tidak sampai mengungguli Golkar maupun PDI Perjuangan. Bahkan beberapa lembaga survey hanya menempatkan Gerindra di bawah Partai Demokrat.

Ini pula yang melecut Tampoll Gubrak untuk menggelar polling susulan dengan menggunakan media lain (jejaring sosial) untuk menguji apakah suara Gubraker itu benar benar linier dengan keinginan masyarakat lain. Walaupun area yang kami ambil lebih sempit, yaitu Pulau Jawa dan Bali, akan tetapi secara kualitas dan kuantitas polling kami kali ini jauh lebih baik. Apalagi seperti kita tahu, pemilih yang berada di Jawa-Bali setidaknya mewakili separuh dari total pemilih Indonesia. Jadi bisa di bilang kawasan ini menjadi barometer seluruh wilayah Indonesia.

Lalu daerah mana saja yang berpotensi menjadi lumbung suara Partai Gerindra ?

Setidaknya kami mencatat ada dua daerah dimana Gerindra mendapat perolehan suara besar. Yaitu DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Di ibukota, partai yang baru sekali ikut pemilu dan hanya mendapatkan suara sedikit di atas ambang batas di 2009 ini terlihat superior. Di pilih oleh 17,92% responden, jauh di atas para pesaingnya yang rata rata memperoleh dukungan di bawah 7%. Suara signifikan juga di peroleh di Jawa Tengah, 13,46%. Unggul atas PKB di peringkat dua yang mendapatkan poin 11,26% dan PDI Perjuangan di posisi ketiga dengan dukungan 6,59%.

Selain di kedua wilayah itu, dukungan responden terhadap Gerindra di tempat lain juga cukup besar. Partai berlambang kepala burung garuda ini selalu masuk 3 besar di setiap provinsi di Jawa – Bali. D Jawa Timur misalnya, kendati masih berada di bawah PKB (15,13%) dan PDI Perjuangan (8,30%), suara Partai Gerindra juga cukup besar. Yakni 7,41%. Tingkat penyebarannyapun cukup merata di hampir setiap kabupaten/kota. Bahkan di Surabaya, Gerindra di perkirakan unggul.

Kita bergeser ke Jawa Barat di mana PKS dan Golkar masih cukup kuat menancapkan dominasinya. Di wilayah ini Gerindra bercokol di posisi 3 dengan raihan sebesar  9%. Hampir sama dengan daerah lain, tingkat penyebaran pemilih Gerindra juga cukup merata. Tak pelak, ini menjadikan Gerindra sebagai kuda hitam di Jawa Barat. Dan jika trendnya terus positif, bukan tidak mungkin partai dengan nomor urut 6 ini mengkudeta Golkar dan PKS yang menduduki peringkat pertama dan kedua dengan torehan angka sama sama 11,75%.

Alasan responden memilih Gerindra sebenarnya sederhana, mereka lebih banyak melihat figur Prabowo Subianto. Dan hampir kebanyakan pemilih Gerindra adalah mereka yang menginginkan Prabowo menjadi Presiden RI di 2014 nanti. Artinya, tesis bahwa elektabilitas Prabowo yang jauh meninggalkan partainya terpatahkan sudah. Mereka yang menginginkan Prabowo menjadi Presiden RI sebagian besar akhirnya juga melabuhkan pilihannya pada Gerindra.



Demokrat Hancur di Semua Tempat

Pada tahun 2009 lalu, Partai Demokrat menjadi jawara di hampir semua provinsi di Jawa. Merebut Jawa Timur dari tangan PKB, mendapatkan dukungan besar di Jawa Tengah, menang di Jawa Barat dan paling prestisius adalah memegang kendali di DKI Jakarta. Namun untuk pemilu 2014, Partai Demokrat sepertinya tak akan mampu lagi mengulang sejarah. Tidak satupun daerah di Pulau Jawa, Madura dan Bali yang sanggup di menangkan Demokrat. Bukan saja gagal mengulang sejarah, bahkan untuk memperoleh suara yang sama di pemilu 2004 (sekitar 7%) pun rasanya sangat berat bagi partai yang di besut Susilo Bambang Yudhoyono ini. Alih alih mempertahankan suaranya di awal ikut pemilu, Demokrat justru terjerembab di papan bawah dengan dukungan rata rata 2,5% di setiap provinsi dan hanya unggul tipis dari Nasdem, PAN dan Partai Hanura yang menduduki peringkat terbawah.

Dan lagi lagi biang keladinya adalah kasus kasus korupsi yang menimpa kader kadernya. Angka 2,5% sudah pasti menjadi kabar buruk bagi Demokrat. Jika tidak segera di cari formula yang tepat, boleh jadi partai yang sempat fenomenal di 2009 ini bakal tinggal kenangan.
(Pict : berdikarionline.com)



Tak Ada Pilihan Lain, Nahdliyin Balik Kandang ke PKB

Selain fenomena kemenangan Gerindra, dukungan luar biasa responden terhadap PKB juga menjadi bagian dari kejutan tersendiri yang mungkin akan terjadi di 2014. Partai yang di deklarasikan ulama ulama besar semisal, KH Abdurahman Wahid, KH Musthofa Bisri, KH Ilyas Ruchiyat dan lain lain ini di prediksikan akan mengalami banyak kemajuan di 2014. Merebut kembali dominasinya di Jawa Timur, berpotensi menang di Jawa Tengah serta Yogyakarta dan moncer di DKI maupun Banten.

Di Jawa Timur misalnya, PKB di perkirakan akan kembali merebut daerah daerah yang dulu sempat menjadi lumbung suaranya di Pemilu 1999 dan 2004. Seperti di wilayah Tapal Kuda, Pantura (Gresik, Lamongan,Tuban) dan Jawa Timur bagian tengah. PKB juga berpotensi meraih suara signifikan di wilayah Mataraman.

Di Jawa Tengah, kekuatan PKB terlihat jelas di pesisir utara. Membentang dari Rembang hingga Brebes. Tidak hanya di utara saja, di wilayah eks karesidenan Magelang, PKB juga tampil eksis dan berpeluang merebut beberapa kabupaten. Begitu pula dengan kawasan Banyumasan. Suara PKB di kawasan ini di perkirakan akan mengalami peningkatan. Satu satunya daerah yang sulit di tembus PKB hanyalah Solo Raya

Lantas, alasan apa gerangan yang membuat PKB begitu mengejutkan ?.

Pertama ideologi. Kendati tidak secara jelas menyatakan sebagai partai NU, akan tetapi akar sejarah PKB tidak bisa di lepaskan dari faktor NU. Tentu, ada partai lain selain PKB yang sama sama berangkat dari basis Islam tradisional. Akan tetapi PKB tentu berbeda. Jika PPP lahir akibat fusi dari beberapa partai Islam, PKB murni di bentuk oleh tokoh tokoh NU. Ini yang menjadikan PKB lebih berwarna NU daripada partai manapun.

Kedua, minimnya pilihan. Keputusan KPU yang hanya meloloskan 10 parpol nasional tak pelak menjadi berkah tersendiri bagi PKB. Setelah sekian pemilu harus berkompetisi dengan banyak partai berbasis massa sama, kini PKB cukup berlega hati karena nyaris hanya PPP yang menjadi kompetitornya. Banyak responden yang mengatakan kepada kami bahwa mereka tak punya pilihan lain selain memilih PKB. Terlepas ketidaksetujuan mereka terhadap kepemimpinan Muhaimin. PKB, oleh sebagian warga Nahdliyin masih di anggap sebagai representasi politik NU.

Ketiga, kasus kasus korupsi yang melanda partai sekuler. Tentu saja ini masih menjadi tanda tanya. Sebab, kasus kasus korupsi tidak hanya melibatkan partai partai nasionalis, tapi juga partai berbasis agama. Namun demikian, persepsi masyarakat bisa jadi berbeda. Dalam pandangan masyarakat, biang korupsinya tentu saja adalah pemegang tampuk kekuasaan. Di mana di sana di dominasi oleh partai partai sekuler, baik di kekuasaan legislatif maupun eksekutif. Sementara partai partai berbasis agama hanya berperan sebagai pelengkap. Jadi kalau di ukur dosanya, tentu partai sekuler lebih banyak berlumuran dosa di banding partai berbasis agama.

Keempat, menguatnya semangat sektarian. Setuju atau tidak, sektarianisme yang melanda  umat Islam secara tidak langsung berpengaruh positif terhadap popularitas partai agama. Di Indonesia, kita mengenal adanya dua varian besar umat Islam. Tradisional dan modernis. Tradisional di wakili oleh NU, sementara modernis di wakili oleh Muhammadiyah. Tentu saja pembagian ini tidak seluruhnya benar. Akan tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Walaupun keduanya sama sama mengklaim diri muslim, akan tetapi faktanya terdapat banyak perbedaan. Dalam hal pilihan politik maupun amaliah keagamaan. Dalam politik, kaum tradisional cenderung memilih partai berbasis NU maupun partai tengah yang mengakomodir kepentingan mereka. Sementara kaum modernis lebih suka melabuhkan pilihannya pada partai yang secara genetika sama. Misalnya PAN maupun PKS.

Di akar rumput, kedua varian ini juga tidak sepenuhnya bisa di damaikan. Perdebatan perdebatan klasik mengenai amaliah keagamaan hingga periode ini masih menggejala di kalangan masyarakat dan seolah tak pernah ada habisnya. Di jejaring sosial misalnya, banyak sekali kita temukan komunitas komunitas maupun individu yang mengangkat tema tema klasik semacam tahlil, ziarah kubur, maulid dan lain lain. Perdebatan lain soal apakah agama harus menjadi bagian dari politik atau tidak juga terus di dengungkan. Akibatnya, secara tidak sadar masyarakat terkristalisasi dan terkonsolidasi ke dalam dua kubu. Dan bisa di tebak, permasalahan itu juga terseret ke ranah  politik. Mereka akan berlomba lomba mencari penopang politik untuk memperkuat posisinya. Kaum tradisional akan berusaha sekuat mungkin mencegah partai di mana banyak kaum modernis bernaung di bawahnya, menang. Sementara kaum modernis juga tak mau ketinggalan untuk mengulang kembali kisah pemilu 2009 dimana partai mereka bisa mengungguli partai milik kaum tradisional.

Dan apa yang tergambar di dalam polling Gubrak kali ini mengindikasikan demikian. Ketika di satu sisi PKB mengalami peningkatan luar biasa, di saat yang bersamaan PKS juga di prediksikan mengalami penguatan. Setidaknya, untuk sementara waktu elektabilitas partai bulan sabit kembar ini mampu bercokol di posisi 4 dengan torehan angka sebesar 6,29%. Kasus kasus korupsi yang menimpa elite PKS maupun PKB seolah tak memiliki pengaruh signifikan.
(Pict : indonesiarayanews.com)



PDI Perjuangan dan Golkar kemana ?

Polling Gubrak kali ini juga menyajikan kejutan lain. Di mana Golkar dan PDI Perjuangan sudah tidak di anggap lagi sebagai kekuatan politik yang menakutkan. PDI Perjuangan walaupun dalam polling masih cukup populer, akan tetapi tidak terlihat mengalami peningkatan. Mereka hanya mampu mempertahankan dominasinya secara pasti di pulau Bali dan terlihat kuat di Banten, tapi melemah di tempat lain. Setali tiga uang, Golkar juga mengalami nasib serupa. Partai beringin di prediksi hanya mampu unggul di Jawa Barat, tapi tidak terlalu populer di tempat lain.

Penyebab utamanya sudah pasti figur pemimpin kedua partai yang tidak memiliki nilai tambah untuk menarik dukungan lebih luas dari masyarakat. Megawati di anggap representasi kaum tua dan di ragukan mampu tampil prima memimpin Indonesia. Sementara keberadaan Aburizal Bakrie yang elektabilitasnya lebih rendah dari partai Golkar justru menjadi persoalan tersendiri. Alih alih pencalonan dirinya sebagai capres bisa menaikkan elektabilitas partai, justru yang terjadi elektabilitas Partai Golkar berpotensi terjun bebas seiring rendahnya dukungan masyarakat terhadap Aburizal Bakrie.

Baik PDI Perjuangan maupun Partai Golkar seharusnya berpikir realistis. PDI Perjuangan misalnya, harus berani mewacanakan figur figur baru yang layak di jual dan berpotensi menambah suara partai. Sementara Golkar, ada baiknya melakukan koreksi atas pencalonan ARB. Golkar harus belajar pengalamannya di masa silam ketika membuka kran lebar lebar bagi masuknya kandidat di luar partai melalui mekanisme konvensi. Kendati pemenang konvensi gagal meraih kursi presiden, namun secara organisasi, Golkar di apresiasi masyarakat.

Namun demikian, ini semua hanya sebatas polling. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi angka responden yang belum menentukan cukup tinggi. Yaitu di kisaran angka 47%. Belum lagi polling ini hanya menyasar responden di pulau Jawa, Madura dan Bali. Kami belum mengetahui persis, bagaimana situasi di luar Jawa. Akan tetapi, jika kita belajar dari pemilu ke pemilu, apa yang terjadi di pulau Jawa biasanya juga akan berimbas ke luar Jawa.


Di bawah ini adalah hasil Polling

Area : Pulau Jawa, Madura dan Bali

Populasi : 60% dari total penduduk Indonesia

Kursi DPR RI : 315 (56,25%) dari 560 Kursi DPR RI 

Jumlah Responden : 1335


Rincian

1. Partai Nasional Demokrat : 3,52%

2. Partai Kebangkitan Bangsa : 9,36%

3. Partai Keadilan Sejahtera : 6,29%

4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan : 7,41%

5. Partai Golongan Karya : 5,69%

6. Partai Gerakan Indonesia Raya : 10,48%

7. Partai Demokrat : 2,54%

8. Partai Amanat Nasional : 2,47%

9. Partai Persatuan Pembangunan : 3,59%

10. Partai Hati Nurani : 1,42%

11. ABSTAIN : 47,94%

TOTAL SAMPLE : 1335



Relawan Tampoll Gubrak

Dhan Gubrack
Sabar
Subhan
Dyah
Dewi

Minggu, 03 Maret 2013

PACAR KONTRAK



“Gue minta, loe jauhi dia”.

Suaranya terdengar pelan. Tapi cukup jelas di telinga Dhea.

“Loe tahu khan siapa dia ?” Ianjut lelaki berkepala botak bernama Irwan itu setengah mengancam. Matanya yang sipit dengan guratan warna merah saga tak jua mau beranjak dari mangsanya. Sementara empat orang  remaja yang terdiri dari dua laki laki dan dua perempuan di sebelah kiri dan kanannya yang sejak tadi hanya diam, kini bergerak mengerubungi Dhea.

“Harusnya loe mikir Dhe” timpal Hans dengan nada sedikit emosi.

“Bukankah loe tahu, bangsat itu yang bikin pacar loe harus mendekam di penjara ?. Trus kenapa sekarang malah loe pacarin dia ?. Pake otak, pake otak !!!” tekannya.

“Udah gitu ketemunya di wilayah kita, apa bukan penghinaan ini namanya ?” seloroh Sophia nyinyir.

Dhea tak segera menjawab. Sorot matanya kini menyapu satu persatu orang orang yang sebenarnya masih satu sekolah dengannya.

“Kenapa sih, loe semua repot repot mencampuri urusan gue ?” Dhea membela diri.

“Mencampuri kata loe ?” sahut Hans.

“Kalau bangsat itu dan begundal begundalnya nggak menyerbu wilayah kita, mana mungkin polisi datang lalu mengacak acak barang barang kita, dan menemukan barang itu dari tas Aang pacar loe ?”.

“Oooh, jadi karena itu kalian nyalahin gue ?” Dhea sengit, “kenapa kalian nggak coba instropeksi dan mencari tahu siapa yang menaruh barang terlarang itu di tas Aang ?”

“Gue kenal Aang. Dia nggak mungkin menyimpan barang barang itu. Gue pacarnya, pacarnya…”.

“Pacar ?” sahut Sophia seraya melempar senyum masam.

“Masak iya sih, pacarnya di penjara, trus loe malah jalan berdua dengan musuhnya. Nggak salah loe ?”.

“Tutup mulut loe, Shop!!!”.

“Elo yang harusnya diem!” bentak Sophia sembari mengangkat tangan kanannya.

“Apa ?. Mau nampar ?. Ayo…!!!” Dhea bangkit dari kursinya.

“Loe pikir gue takut ngehajar loe ?” sambut Shopia kalap. Tangan kirinya bergerak cepat mencengkeram kerah baju Dhea, sementara tangan kanannya bersiap melayang menghajar muka Dhea.

“Ayo, tampar !!!” tantang Dhea.

“Eehhh..sudah sudah” si kurus Luthfi yang awalnya hanya menjadi penonton merangsek memisahkan keduanya.

“Kenapa kita malah berantem sendiri sih ?” lanjutnya menengahi.

“Loe mau membela dia ?” sembur Shopia.

“Yaelah, bukan gitu kali Shop. Gue hanya pengen kita fokus ke masalah. Dhea bukan musuh kita. Catet itu. Musuh kita adalah anak anak 69. Dan si Gathar brengsek itu salah satu pimpinan di sana. Jangan karena dia yang mempecundangi Dhea, lantas kita malah menyalahkan Dhea. Dan bukan mencari cara agar brengsek itu nggak lagi memasuki wilayah kita!” ucap Luthfi berusaha mendudukkan masalah.

“Lagak loe kayak ustadz aja, krink?” Hans.

“Bukan begitu, Hans. Gue cuman nggak ingin ada perpecahan di antara kita. Itu aja…”.

“Ah, bilang aja loe naksir ama Dhea. Muna loe!”.

“Busyet dah, emang tampang gue tipe perebut property temen apa ya?. Sory bro, itu bukan tipe gue” bantah Luthfi setengah berkelakar.

“Kalian semua, basi !!!” Dhea meraih tas punggungnya dari atas meja lalu bergegas melangkahkan kakinya.

“Eit, mau kemana ?” Irwan menahan pundah Dhea.

“Bukan urusan loe” Dhea mendorong tubuh besar Irwan dan secepat mungkin kabur dari tempat itu.

“Dengerin Dhea” teriak Irwan dengan suara keras, “kalau esok lusa gue lihat bangsat itu menemui loe lagi di wilayah kita, jangan salahkan kalau kita habisi dia!!!”.

Dhea menghentikan langkah, menoleh sebentar pada kelima kawan satu gengnya di sekolah lalu kembali mengayunkan kakinya. Hatinya benar benar dongkol dengan sikap kawan kawannya yang tanpa mengerti duduk persoalan, tiba tiba memaksa Dhea untuk menjauhi Gathar. Teman baiknya waktu dulu masih duduk di bangku SMP.
                                                               
                                                                ****************

“Gue nggak bisa, Gath” tulis Dhea dalam pesan chatnya menanggapi saran Gathar untuk mengikuti saja kemauan teman teman di sekolahnya.

“Bukannya gue takut sama mereka, Dhe. Tapi gue hanya khawatir mereka akan terus terusan mengintimidasi loe” balas Gathar.

“Iya, gue tahu. Mereka teman gue. Teman satu geng. Musuh bebuyutan sekolah loe. Tapi mereka nggak pernah mengerti keadaan gue. Mereka nggak pernah mau tahu, gimana pedihnya hati gue menerima kenyataan cowok yang gue sayangi di penjara. Nggak mau tahu, Ghat. Mereka masa bodoh” keluh Dhea.

“Loe khan bisa jelasin baik baik ?”.

“Sudah”.

“Trus ?”.

“Ya mereka emang pengecut!”.

“Maksud loe ?”.

“Boro boro mereka solider ke gue. Sama cowok gue aja sekarang seperti nggak kenal. Mana pernah mereka ada kemauan buat sekedar membesuk Aang. Bayangin, Ghat…!. Cowok gue yang kalau tawuran sama anak anak sekolah loe paling depan, segitunya di campakkan. Apalagi gue ?” cerocos Dhea melampiaskan segala uneg unegnya.

“Maafin gue, Dhe…”.

Dhea menarik nafas panjang. Menyeka beberapa helai rambut jatuh di keningnya.

“Loe nggak salah, Gath”.

“Gue yang bikin cowok loe tertangkap” Gathar.

“Bukan itu yang gue sesali, Gath”.

“Lalu ?”.

“Yang gue sedihin, kenapa bisa ada narkoba di tas Aang. Padahal setahu gue dia nggak make. Ngerokok aja nggak. Gimana mau make ?”.

“Tapi waktu kemarin gue antar loe besuk dia…?” Gathar mengingatkan.

“Loe khan hanya di luar dan nggak ikut ketemu dia. Emang sih, Aang ngakuin itu punya dia. Tapi dari gelagat yang gue baca dari wajahnya, kayaknya dia terpaksa melakukan itu. Gue yakin dia cuman di korbanin”.

“Loe nuduh Irwan dan kawan kawan loe sendiri, Dhe ?” tanya Gathar.       

“Siapa lagi…”.

“Mmmm….apa perlu gue bantu loe buat menculik Irwan. Trus kita paksa dia mengaku ?” Gathar menyodorkan tawaran.

Dhea menggelengkan kepala. Menghempaskan tubuhnya di ke dinding kursi putar yang ia duduki. Pikirannya melayang jauh mengenang kembali kisah unik persahabatannya dengan Gathar. Jauh hari sebelum ia mengenal Aang, Gathar adalah salah satu pria yang pernah dekat dengan Dhea. Walaupun belum sampai pada tahap pacaran, karena waktu itu pikiran mereka masih terbilang hijau untuk mengenal istilah itu, namun sejujurnya ada ketertarikan tersendiri bagi Dhea pada sahabatnya itu.

Gathar tak sekedar sahabat biasa. Tapi juga kakak yang selalu menyediakan diri untuk mendengar segenap keluh kesah Dhea. Dan itu di jalani Gathar dengan tulus tanpa meminta balasan apapun. Dia bukan tipe cowok yang suka mengambil kesempatan layaknya cowok cowok lain. Pura pura baik, tapi ujungnya ada niat lain. Dan itu di buktikan Gathar bukan hanya pada Dhea, tapi juga pada yang lain.

“Pacar ?. What ?. Ha ha ha….” kelakar Gathar menertawakan.

“Bukan gue nggak nafsu ama cewek, Dhe. Gue cuman mikir aja, apa sih istimewanya pacaran ?. Jalan bareng ?, saling tuker puisi ?, nonton bareng ?”.

“Belajar berkomitmen, Ga…”.

“Komitmen ?” seloroh Gathar dengan gaya santai, “emangnya komitmen nggak bisa di bangun atas dasar persahabatan ?”.

Bukan hanya ketika masih sama sama duduk di bangku SMP, hingga sekarangpun Gathar tak pernah ketahuan punya pacar. Padahal dengan penampilan Gathar yang lumayan ganteng dan juga perilakunya yang sangat dewasa, tidak sulit baginya untuk mendapatkan kekasih hati tambatan jiwa. Justru Dhealah yang sejatinya geregetan dengan kelakuan Gathar.

“Semua cowok berlomba ingin menjadi pacar gue, kecuali Gathar”.

Ya. Bahkan semua sinyal yang di butuhkan sudah Dhea lancarkan demi membuat Gathar menyerah. Tapi hingga masa SMP berlalu, Gathar tetap menjadi seorang Gathar. Baik hati, solider, tak punya pamrih dan berkomitmen penuh dalam persahabatan. Sikap itu tak jua berubah manakala Dhea berterus terang pada Gathar bahwa dirinya sudah punya pacar.

“Selamat ya, Dhe. Gue ikut seneng kalau loe udah nemuin cowok yang bisa bikin hidup loe lebih bahagia”.

“Makasih ya, Gath. Loe orang pertama yang ngucapin selamat ama gue. Tapi kita tetap bersahabat khan ?” tanya Dhea ingin memastikan.

“Pastinya. Bahkan, demi loe, gue pribadi berjanji nggak akan menyentuh dia kalau suatu saat terjadi bentrokan antara geng sekolah gue dan geng sekolah kalian”.

Apa yang di ucapkan Gathar memang di buktikan benar. Berkali kali terjadi tawuran antar sekolah, Aang selalu menjadi musuh yang paling di hindari Gathar. Itu juga yang terjadi ketika terakhir kali mereka tawuran. Irwan dan kawan kawannya yang kalah jumlah berhasil di pukul mundur oleh anak anak SMA 69. Sementara Aang yang ketika itu bertugas membawa tas ransel berisi berbagai macam property tawuran semacam, batu, obeng, pisau dan sebagainya tercecer paling belakang. Dan jika Gathar tidak segera mengenali Aang, mungkin cowok Dhea ini sudah menjadi bulan bulanan anak anak 69. Tapi sayangnya, lepas dari keroyokan musuh musuhnya, Aang malah tertangkap polisi yang menggerebek lokasi. Bersama Aang, sembilan pelajar dari kedua kubu juga di tangkap. Setelah melalui proses interogasi, sembilan pelajar di kenakan wajib lapor. Kecuali Aang. Polisi menemukan narkoba di tas Aang.

Hancur hati Dhea menerima kenyataan pahit itu. Bukan saja karena ia tak bisa lagi bebas bertemu kekasihnya, tapi juga harus menghadapi murka dari kedua orangtuanya yang tahu anaknya berpacaran dengan tersangka narkoba. Ayah Dhea malahan mengancam akan menyekolahkan Dhea ke kota lain jika mengetahui Dhea masih berhubungan dengan Aang. Tidak sampai di situ, teman teman sekolah Dhea juga mulai bersikap merendahkan. Dan yang paling membuat Dhea sakit hati tentu saja adalah sikap Irwan dan kawan kawan yang sama sekali tak peduli dengan nasib Aang.

“Gue hancur, Gath. Gue nggak tahu mesti berbuat apa. Orangtua gue melarang gue berpacaran lagi sama Aang. Gue bisa terima itu. Tapi gue kasihan sama Aang. Nggak ada yang peduli sama dia” keluh Dhea sesenggukan.

“Loe khan bisa tengokin dia kalau ada waktu besuk ?” saran Gathar.

“Nggak bisa, Gath. Kalau teman teman gue tahu, trus mereka lapor ke bokap gue ?. Gue bakalan di tuduh masih berhubungan sama dia. Dan gue mesti siap siap pindah sekolah di kota lain”.

“Loe bisa jelasin khan, Dhe. Kalau kapasitas loe hanya sekedar berteman ?”.

“Bokap gue nggak bakalan percaya!” tegas Dhea menundukkan wajah.

“Gue punya akal, Dhe” ucap Gathar tiba tiba.

“Maksud loe ?” Dhea mendongak.

“Kita pacaran…”.

“What ???” tak percaya.

“Mmmm…maksud gue…” Gathar sedikit grogi bagaimana harus menjelaskan.

“Maksud gue, kita pura pura pacaran”.

“Pura pura ?”.

“I..iii..yaa…!. Biar ortu loe percaya kalau loe udah nggak pacaran lagi sama Aang. Dengan begitu gue bisa anterin loe ke tahanan buat nengokin Aang. Gue yakin kalau ortu loe tahu kita pacaran, mereka nggak akan curiga”.

“Tapi teman teman gue ?. Mereka khan nggak bakalan percaya kita pacaran. Mereka bisa saja mengadu ke ortu kalau gue masih berhubungan sama Aang” Dhea masih sangsi.

“Ah, itu gampang. Sering sering aja kita nge date di wilayah mereka. Biar mereka yakin kalau kita pacaran. Gimana ?”.

Dhea mengerutkan keningnya. Pura pura pacaran. Sebuah tawaran yang aneh.

“Kok pura pura ?. Nggak lucu kali, Gath ?”.

“Kita nggak punya cara lain, Dhe” sahut Gathar.

“Trus gimana caranya ?”.

“Ya seperti orang pacaran. Gimana sih ?”.

“Jalan bareng ?”.

“Ya!”.

“Gandengan ?”.

“Mmmm…kalau perlu”.

“Ciuman juga ?”.

Gathar menggaruk garuk kepalanya. Seperti kebingungan menjawab.

“Mmmm….kalau loe nya nggak keberatan” jawab Gathar sedapatnya.

“Tapi tanpa cinta ?”.

Gathar terdiam.

“Itu gila, Gath. Mana bisa gue ngerelain diri di cium oleh cowok yang nggak gue cintai dan dia nggak mencintai gue ?”.

“Mmmm..oke..oke!. Gini aja. Kita buat aturan main yang sama sama kita sepakati. Yang penting loe bisa bebas besuk Aang”.

“Apa ?” penasaran.

“Pertama, status kita hanya pacar sementara. Istilahnya kontrak”.

“Kontrak ?” geli juga Dhea mendengar ide tak biasa itu.

“Iya, sampai loe menemukan kekash hati yang loe idam idamkan”.

Gila!!!.

“Lanjut!!” diam diam Dhea tertarik juga dengan gagasan Gathar.

“Selama pacaran, boleh jalan bareng tapi nggak boleh minta lebih. Misalnya, ciuman dan lain lain” terang Gathar.

Dhea mengangguk.

“Boleh merayu, tapi nggak boleh di anggap serius”.

“Mana bisa ?” protes Dhea.

“Harus bisa. Khan pura pura…?”.

Manyun juga Dhea.

“Lanjut deh…!”.

“Boleh cemburu, tapi nggak boleh sampai dendam”.

“Capek dehh…” komentar Dhea seraya menepuk jidatnya.

“Terusin nggak nih ?” Gathar menunggu reaksi Dhea.

“Hem…”.

“Terakhir. Selama masa kontrak, nggak boleh menghalangi pasangannya untuk berpacaran dengan pacar yang resmi”.

Kali ini Dhea mengangkat matanya, ada yang menyentak di pikirannya mendengar kalimat itu.

“Itu namanya selingkuh kali, Gath ?”.

“Kebalikannya kali, Dhe”.

“Maksud loe ?”.

“Justru yang di bilang selingkuh itu yang nggak resmi. Loe ama gue khan pura pura, Dhe ?”.

Dhea berpikir sejenak.

“Iya..ya..!” akhirnya.

“Ada pertanyaan lain, nggak ?. Atau punya syarat lain ?” tanya Gathar menunggu.

“Mmmm…apa ya. Kayaknya udah cukup deh…”.

“Eiitt…tunggu tunggu…”sela Dhea.

“Apa ?”.

“Biar pacar kontrak, kalau valentine atau pas ultah gitu, dapet kado nggak ?” Dhea menggerakkan alis kirinya seakan memberi isyarat agar permintaannya di penuhi.

“Mmmmm…” garuk garuk kepala.

“Kalau keberatan, nggak ada juga nggak papa…” seloroh Dhea menyunggingkan senyum tipis.

“Boleh….!. Tapi kalau ada aja. Kalau nggak ada jangan di paksa” jawab Gathar agak berat.

“Oke!. Gue setuju” sahut Dhea.

“Deal ?” Gathar.

“He’em…”.


                                                                   ****************




"Heh, ngapain loe kemari ?" hardik Aang begitu tahu kedatangan Dhea di sertai oleh seorang pria yang sangat di kenalnya.

"Puas loe ya ?. Puas ??" telunjuknya menuding tepat di depan hidung Gathar.

"Setelah loe bikin gue masuk penjara, sekarang loe coba pura pura baik di depan pacar gue. Maksud loe apa ?. Hehh...?. Biar gue ampunin loe ?. Cuihh...!. Najis..." Aang penuh kebencian.

"Jaga bicaramu, bro" sambut Gathar berusaha menahan diri.

"Apa apaan sih kalian ?" Dhea menengahi.

"Gue yang ajak dia, Aang. Sabar dikit napa sih".

"Tapi khan nggak harus ngajak bangsat ini ?".

"Salah ?".

"Jelas dong!".

"Trus gue mesti ngajak siapa ?" tohok Dhea.

"Teman teman loe ?. Yang sekarang sama sekali tak peduli nasib loe itu ?"

Aang terdiam.

"Dhe..." Gathar menyela.

"Kayaknya lebih baik gue keluar deh..".

Dhea mengalihkan pandangannya pada Gathar.

"Nggak perlu, Ghat" cegah Dhea.

"Tapi...".

"Udahlah, ntar gue yang jelasin".

Sebenarnya Dhea tidak tega juga mengajak Gathar menemui Aang di penjara. Selain akan memancing kecemburuan Aang, keduanya juga terlibat permusuhan antar kelompok yang sulit sekali di damaikan. Namun kali ini Dhea terpaksa membawa Gathar. Setidaknya, pacar kontrak Dhea ini memiliki beberapa informasi mengenai kasus yang kini menimpa Aang.

"Gue terpaksa melakukan ini, Dhe" ujar Gathar empat hari yang lalu.

"Gue sangat yakin kalau Aang hanya menjadi korban. Makanya gue mengambil inisiatif untuk menculik si cungkring untuk kepentingan penyelidikan. Dan loe dengar sendiri khan dari dia, kalau pemilik barang haram itu Shopia".

"Trus, gimana selanjutnya ?" Dhea.

"Kita sewa pengacara".

"Emang kita punya duit ?" Dhea mengerutkan dahinya.

"Ah, itu gampang" jawab Gathar tenang.

"Gampang gimana ?".

"Gue kerahin anak anak 69" Gathar menerangkan, "gue punya anggota yang cukup banyak untuk di ajak menghimpun dana buat bayar pengacara".

"Apa mereka mau ?" Dhea menggaruk garuk kepalanya. Ada sedikit keraguan menggelayut di benaknya. Apa mungkin anak anak 69 yang bertahun tahun bermusuhan dengan siswa sekolahnya bersedia melakukan itu ?.

"Gue jaminannya" tegas Gathar menjawab keraguan Dhea.

Dan untuk kesekian kalinya Gathar membuktikan diri sebagai sosok yang layak untuk di kagumi. Bukan saja berhasil meyakinkan teman temannya untuk membantu persoalan yang menimpa musuh mereka, akan tetapi juga memberikan pelajaran yang luar biasa tentang bagaimana bersikap adil dan obyektif terhadap musuh.

"Jangan loe pikir kita ini sekumpulan pelajar yang brutal dan nggak ngerti soal moralitas" kata Gathar berapi api.

"Geng ini punya aturan main yang belum tentu ada di tempat lain".

"Aturan gimana, Ghat ?".

"Kalau pacar kontrak aja ada komitmen yang harus di sepakati, komunitas harusnya juga ada".

"Misalnya...?".

"Anggota geng nggak boleh pakai obat obatan terlarang. Kalau melanggar, kita sendiri yang akan menyeretnya ke polisi".

"Wah..." melongo.

"Kita juga menerapkan aturan, nggak boleh menenggak minuman keras. Kalau nekat, kita hukum".

"Trus soal tawuran ?".

Gathar menarik nafas dalam dalam, berpikir sejenak untuk merangkai kata.

"Bagi kami solidaritas itu penting. Nggak bisa di tawar tawar lagi. Kalau ada yang mengganggu salah satu di antara kita, maka itu artinya ia sudah mencari masalah dengan semuanya".

"Tapi khan bisa di selesaikan dengan baik baik dan nggak perlu tawuran, Gath ?" sanggah Dhea.

"Itu hanya satu cara saja. Dan nggak semua masalah kita selesaikan dengan tawuran. Ya tergantung, apakah pihak lawan bisa di ajak bicara atau nggak. Kalau nggak mau kompromi, ya mau apalagi ?".

"Oooh".

Dhea mengangguk paham. Pikirannya kini melayang ke suasana di sekolahnya. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di SMA 69. Tidak ada aturan main, tidak ada komitmen untuk saling mengerti satu sama lain. Sesuatu yang selalu dan selalu di jejalkan pada anggota baru adalah senioritas. Hanya mereka yang duduk di kelas terataslah yang menjadi tuannya. Sementara adik adik kelasnya tak lebih hanya budak pesuruh yang mesti taat dan patuh terhadap apapun yang di perintahkan seniornya.


                                                                      ***************


"Gue sama dia" menoleh ke arah Gathar, "kemari untuk menawarkan sesuatu ke loe, Aang".

"Apalagi ?. Mau membujuk gue agar gue mau buka suara kalau benda itu bukan milik gue ?" cegat Aang seperti tahu apa yang akan di utarakan Dhea.

"Nggak bisa, Dhe. Nggak bisa...".

"Kita udah sewa pengacara, Aang..." Dhea meyakinkan.

"Gimana ?".

Aang menggeleng.

"Apa susahnya ?. Apa susahnya loe buka aja masalah yang sebenarnya ?" bujuk Dhea.

"Nggak bisa, Dhe..." tetap menggelengkan kepala.

"Loe nggak mau hidup bebas di luar sana ?. Hehh ?. Loe....?" Dhea tak melanjutkan kalimatnya.

Suasana tiba tiba hening. Ketiga tampak sibuk dengan pikiran masing masing. Ini sudah kedua kalinya Dhea berusaha membujuk Aang untuk mau bekerja sama. Tapi lagi lagi, Aang seperti tak mau di ajak kompromi.

"Boleh gue ngomong ?" tiba tiba Gathar berdiri memecah kebuntuan.

Dhea memandang ke arah Gathar, sementara Aang hanya melirik sebentar kemudian memalingkan wajah.

"Gue tahu, loe benci banget sama gue" kata Gathar pada Aang.

"Gue tahu, apapun yang gue katakan, salah. Nggak apa apa. Loe boleh nggak ngehargain gue, tapi gue minta loe menghargai perasaan Dhea" ucap Gathar dengan nada serius.

"Maksud loe apa ?" sahut Aang dengan tatapan berkilat.

"Maksud gue ?" setengah bertanya, "gue mau loe buka semuanya. Bukan demi gue, bukan demi kelompok gue, bukan demi apa apa. Tapi demi Dhea...".

"Loe tahu apa sih ?" Aang ngotot.

"Gue tahu semuanya" sambar Gathar mulai menunjukkan ketidaksabarannya.

"Gue tahu, kalau loe melakukan ini semua karena loe takut sama Irwan. Loe takut dia akan ngebunuh loe kalau loe coba coba menyeret pacarnya, si Shopia itu ke dalam kasus ini. Gitu khan ?".

Aang terdiam.

"Gini aja deh" kata Gathar, "gue kasih dua pilihan. Loe bekerjasama dan mengakui bahwa barang itu milik Shopia dan gue lindungin loe. Atau...".

"Apa ?".

"Atau loe tutup mulut dan gue kirim pasukan untuk paksa mereka mengaku".

"Ngancem loe ?".

"Apa boleh buat" sahut Gathar tanpa kompromi.

Sejenak Aang berpikir.

"Baik" akhirnya Aang lumer juga.

"Gue terima saran loe, tapi gue minta loe jangan ingkar janji".

Gathar mengulurkan tangannya, mengajak Aang berjabat tangan.

"Dhea saksinya..." kata Gathar.

                                                                  *****************

Setelah melalui beberapa proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran, polisi akhirnya membebaskan Aang dari tuduhan kepemilikan narkoba. Dan sebagai tindak lanjut dari pengakuan Aang, pihak berwenang kemudian menangkap Shopia, pemilik sebenarnya barang haram itu. Selain itu, pihak berwenang juga menangkap Irwan, pacar Shopia sekaligus ketua geng SMA 03. Remaja bertubuh gempal dan berkelapa plontos itu di tuduh melindungi Shopia.

"Gue nggak tahu mesti ngomong apa ke loe, Gath" kata Dhea seraya menyodorkan segelas minuman soda pada Gathar.

"Eits...! nggak usah basa basi gitu lah, Dhe. Gimanapun loe khan pacar gue..." goda Gathar.

"Sayangnya pacar kontrak" sahut Dhea lirih tak bertenaga.

"Emang kenapa ?. Toh loe juga merasa nyaman" lalu asyik menikmati susu soda kesukaannya.

"Nyaman ?".

Entah mengapa Dhea merasa ada sesuatu di balik kata itu. Satu kata yang seiring berjalannya waktu makin sulit untuk di definisikan.

"Benarkah selama ini aku merasa nyaman ?" tanya Dhea dalam hati.

Sekilas mungkin iya. Akan tetapi jika di renungkan dalam dalam, kehadiran Gathar yang seolah tak pernah henti menjadi pahlawan baginya justru menghadirkan siksaan tersendiri.

Aku tak mengerti
Apakah ini yang di sebut bahagia
Atau malah duka nestapa

Aku tak paham
Kenapa ragaku ini tak jua bersedia menerima kenyataan
Bahwa engkau hanyalah penghibur semata
Dan bukan hamparan taman bunga
Di mana sang kupu terbang riang di kelopaknya

Aku tak tahu
Apakah hadirmu telah memberi warna
Yang harus ku kenang hingga ujung usia
Ataukah hanya menyisakan tanda tanya
Yang mengantarku pada kesepian tiada hingga

Kring...kring...kring...

"Sebentar" kata Gathar meraih sebuah ponsel dari balik sakunya.

"Hallo Run, ada apa ?" panggil Gathar pada seseorang di ujung sana.

Entah apa yang sedang Gathar bicarakan, yang jelas mimiknya terlihat sangat tegang.

"Serius loe Run ?"

Mengalihkan pandangan pada Dhea.

"Berapa orang ?....... Hah...cuma segitu ?....Ya sudah, loe cepat cepat kemari!......apa ???. Nggak perlu".

Setelah itu Gathar menutup ponselnya.

"Ada apa Gath ?" tanya Dhea curiga.

"Nggak ada apa apa" jawab Gathar seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

"Tapi kayak ada masalah deh..." tak percaya.

"Mmm...bukan. Eh, ada kawan bisnis yang mau kemari...mmm...???. Penting sih...tapi...".

"Gue ngeganggu ?" menaikkan alisnya.

"Mmmm..gimana ya ?" menekan ujung telunjuknya ke jidat.

"Ya, nggak papa kalau itu penting..." Dhea tahu diri.

"Bukan gitu, loe bisa ngobrol dulu ama Harun di mobil, ntar gue nyusul. Tuh dia datang...".

Seorang remaja seumuran Gathar bertubuh sedang, berkulit putih dengan rambut pendek berlari tergesa gesa menuju ke tempat di mana keduanya berada.

"Sorry Dhe, nggak lama kok...".

"Run, temenin dia ya. Awas kalau loe macem macem ama pacar gue...." kata Gathar setengah bercanda.

"Siap...!" sahut Harun.

"Kalau ada perlu, call me aja. Ntar gue siapin semuanya..." lanjutnya segera mengajak Dhea menjauh dari tempat itu.

Setelah kedua orang itu tak terlihat lagi bayangannya, Gathar kembali ke tempat duduknya. Meraih gelas soda di hadapannya lalu meminumnya perlahan.

"Maafin gue, Dhe...." ucapnya berat.

"Gue yang salah udah mengambil keuntungan dengan memacari loe di saat Aang sedang ada masalah".

"Iya, emang itu hanya pura pura. Tapi asal loe tahu, gue sebenarnya cinta banget sama loe. Itu kenapa gue bersedia ngelakuin apa aja agar loe bahagia. Gue tahu loe nggak bakalan menghianati Aang. Makanya loe sedih banget liat Aang di fitnah temen temennya. Dan sebagai orang yang mencintai loe lahir batin, gue siap untuk tidak memiliki loe, asal loe bisa bahagia...".

Dari arah pintu depan tiba tiba muncul lima laki laki tanggung dengan wajah garang dan langkah terburu berhamburan menuju ke meja Gathar. Seorang pelayan wanita yang bermaksud menanyakan apa keperluan mereka malah di dorong hingga hampir terjengkang.

"Anjing loe, bangsat!!!" seru salah satu dari kelimanya.

Aang...

"Begini cara loe ?. Pura pura baik sama gue, tapi di belakang itu, loe berniat merebut pacar gue...!!!" cecar pria yang ternyata adalah Aang itu tanpa basa basi.

"Emang kalau gue suka ama pacar loe, kenapa ?" Gathar menyingsingkan kedua lengan bajunya.

"Brengsek!!!" maki Aang kalap.

"Hajar dia !".

Begitu aba aba Aang berbunyi, ke empat temannya langsung mengepung Gathar dari berbagai penjuru. Suasana mendadak gaduh. Beberapa pengunjung dan pelayan yang melihat kejadian itu sama sekali tak bisa berbuat banyak. Bahkan beberapanya malah memilih kabur keluar.

Perkelahian yang tidak seimbang, tapi itu sama sekali tak membuat Gathar ciut nyali. Pemimpin geng SMA 69 itu tetap tenang menghadapi keroyokan ke lima lawannya. Beberapa kali ia terlihat keteteran menghadapi serangan bertubi tubi dari Aang dan kawan kawannya. Bahkan di sebuah kesempatan, secara membabi buta Aang meraih botol minuman dan mengayunkan benda itu tepat mengenai kepala Gathar.

Pyarrr!!!

Botol itu pecah berkeping keping begitu membentur tengkorak kepala Gathar. Pacar kontrak Dhea yang sebenarnya ahli beladiri ini sontak limbung dan terhuyung ke belakang. Belum puas hingga di situ, salah satu penyerang kemudian merengkuh sebuah kursi terbuat dari besi lalu menghantamkannya ke dada Gathar.

Brakkk!!!

Kali ini Gathar terpental ke belakang dan ambruk mencium tanah.

Belum puas melihat musuhnya terkapar, Aang mencabut sebuah pisau dari balik bajunya. Dan dengan raut muka penuh kebencian ia melompat mendekati Gathar lalu menyarangkan pisau itu ke perut Gathar.

Jusss!!!

"Ahhhh..." lenguh Gathar memegangi perutnya.

"Ini pelajaran buat perebut cewek orang macem loe. Dan gue peringatin ke loe, jangan deketin Dhea lagi, atau gue dan loe sama sama masuk penjara!!".

"Kawan kawan!. Kita cabut!!!".

Kelimanya kemudian bergegas keluar dari kafe. Meninggalkan Gathar yang terluka parah dengan kepala dan perut banyak mengucurkan darah. Pemuda yang begitu di takuti oleh banyak orang itu kini terlihat lunglai dan tak berdaya.

"Run, tolong anterin Dhea pulang. Bilang sama dia, gue terpaksa nggak bisa temui dia lagi. Soalnya ada urusan di tempat yang jauh. Trus, sampein juga ke anak anak. Jaga baik baik Dhea. Dan juga jangan balas dendam sama Aang. Ini bukan soal permusuhan antara kita dan mereka, tapi karena gue nggak ingin Dhea kehilangan kekasihnya untuk yang kedua kalinya"

Harun terkesiap melihat sms yang baru saja masuk di handphone nya.

"Sesuatu telah terjadi".


Jakarta, Maret 2013
Dhan Gubrack

Jumat, 01 Maret 2013

Tehnologi Hancurkan Bakat Menulis Generasi Muda ?

Membaca surat cinta, yang tuan tuliskan
Ingat kisah cinta Siti Nurbaya
Merangkaikan pujian berperibahasa
Ku tahu maksudnya menyanjung diriku
Pandainya tuan pula membuat bahagia
Pada yang pertama mengenal cinta
Tak pernah sekalipun aku melupakan
Membaca suratmu, surat tanda cinta
Wajah cantik dan ayu siapa yang punya
Mata lentik dan sayu siapa yang punya
Ku yang bangga bahagia siapa yang punya
Kalau bukan tuan kekasih hati


Ada yang ingat lagu ini ?
Bagi yang hidup di era 80 - 90an, lagu ini tentu sangat akrab di telinga. Lagu yang di bawakan Nur Afni Oktavia ini dahulu di masa jayanya merupakan lagu favorit muda mudi kala itu. Bukan hanya suara biduannya yang enak di dengar, akan tetapi syairnya juga sangat indah.

Seperti yang tertulis dalam lirik di atas, dahulu kala sebelum ada tehnologi handphone, para remaja menggunakan media tulisan manual alias di atas kertas untuk sekedar berkirim kabar, menyatakan cinta, menulis puisi dan merayu pujaan hatinya. Mungkin bagi remaja sekarang, menulis surat untuk kekasihnya dengan metode itu sudah di anggap ketinggalan jaman. Selain proses untuk sampai tujuannya terlalu lama, tentu saja juga biayanya lebih mahal daripada kalau kita menulis pesan melalui handphone, jejaring sosial, BBM dan lain sebagainya.

Lalu, apa hubungannya narasi di atas dengan penurunan bakat menulis para remaja ?. Bukankah bakat menulis juga bisa di asah dengan menggunakan fasilitas tehnologi yang ada ?. Bukankah bertukar puisi, merayu pasangan dan merangkai kata kata indah juga bisa di lakukan di era modern ini ?. Bahkan dengan varian yang lebih luas. Melalui ponsel, melalui jejaring sosial, blog dan sebagainya.

Betul !!!. Tidak dapat di pungkiri, bahwa tehnologi yang sekarang ada masih sangat memungkinkan seseorang untuk mengasah kemampuannya dalam menulis. Bahkan segalanya menjadi lebih praktis dan simple.

Namun demikian menurut hemat penulis, tehnologi yang sekarang ada secara tidak sadar sebenarnya berpotensi mengikis bakat menulis generasi masa kini. Tehnologi mendorong manusia untuk melakukan segala aktifitasnya serba cepat dan terkadang tanpa melalui pemikiran yang matang dan terukur. Yang simple saja, remaja jaman dahulu untuk sekedar melakukan pedekate saja membutuhkan waktu yang relatif lama. Terutama bagi mereka yang pujaan hatinya berada nun jauh dari tempat tinggalnya. Berbeda dengan sekarang, karena tehnologi serba canggih, komunikasi serba cepat, untuk melakukan itupun tidak memerlukan waktu yang lama. Cukup pencet nomer, ngomong langsung dan rayu dia. Kalaupun tidak tersedia biaya, bisa di lakukan dengan cara mengirim pesan pendek. Praktis bukan ?.

Dari segi kepraktisan tentu saja iya. Akan tetapi dari segi kualitas belum tentu bisa di setarakan. Kenapa ?.

Bagi remaja jaman dulu, menulis surat bukan hanya wahana untuk sekedar mengungkapkan isi hati. Akan tetapi juga cara mengolah citarasa seni dalam dirinya. Tak heran, seseorang bisa berlama lama di depan secarik kertas, berfikir tentang apa yang layak dan tidak layak untuk di tulis, berupaya untuk meng indahkan guratan penanya serta berusaha sebisa mungkin apa yang ada di atas kertas itu bisa mewakili dirinya. Unsur seninya lebih variatif. Keindahan bahasa, keindahan tulisan, keindahan kertasnya dan lain sebagainya. Sesuatu yang nantinya akan di nilai oleh si penerima.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, tak jarang seseorang berulang ulang membuang tulisannya ke tong sampah, mengambil kertas baru, menulis lagi dan lagi.....!. Hingga di rasa sempurna. Tentu saja terlalu bertele tele. Akan tetapi jika kita kaji lebih mendalam, sebenarnya kegiatan kegiatan itu secara tidak langsung telah mengolah bakat kita sebagai seorang penulis.

Berbeda dengan era sekarang. Kita tak perlu berlama lama untuk berpikir. Cukup memulainya dengan menanyakan 'apa kabar, sudah makan belum, ada waktu luang atau tidak ?' dan lalu semuanya mengalir begitu saja dengan tempo cepat dan tanpa berfikir soal seni keindahan dalam menulis. Pedekatenya cepat, nembaknya cepat dan kalaupun putus juga berlangsung dengan cepat pula.

Maka, jangan heran jika manusia modern jaman sekarang lebih jarang yang memiliki kemampuan menulis. Bukan saja menulis panjang sudah tergantikan dengan pesan pendek, tapi juga pada akhirnya pesan pendekpun semakin terkikis dengan metode komunikasi langsung melalui suara. Yang terjadi kemudian adalah gejala makin banyaknya orang yang pandai berbicara tapi tidak bisa menulis. Karena memang dari awal sudah terbiasa dengan metode yang serba cepat seperti itu.

Menulis memang belum tentu lebih baik daripada berbicara. Karena yang terpenting adalah idenya tersampaikan dengan baik. Dengan menulis ataupun berbicara. Akan tetapi kita sering lupa, bahwa menulis memiliki keunggulan tersendiri di banding bicara. Yaitu mengenai keabadian dan kelangsungan sebuah ide. Tulisan lebih mudah di simpan dan di kenang dalam jangka waktu yang lama. Karena ada material yang bisa di simpan. Berbeda dengan berbicara. Hari ini kita bicara, mengemukakan pendapat maupun ide, namun ketika si pendengarnya berlalu dari hadapan kita, belum tentu ia akan terus bisa mengingat ucapan kita secara tepat dan sesuai dengan aslinya. Kalaupun ia adalah penghafal yang sangat cerdas, toh pesan itu hanya mampu bertahan di memori otaknya dalam waktu terbatas. Ketika ia meninggal atau memasuki masa pikun, pesan akan terkikis perlahan kemudian hilang.

Tapi tulisan masih terus bisa bertahan. Bisa di wariskan, di daur ulang sesuai dengan aslinya atau mungkin di modifikasi.

So, kalau anda ingin di kenang sepanjang masa, menulislah....!!!.