Minggu, 01 September 2013
Internet Gratis Indosat PC September 2013
Trik Internet Gratis Indosat PC September 2013
Trik Internet Gratis Indosat ISPCE Ultrasurf
Trik Internet Gratis Indosat GappProxy
lihat disini
Trik Internet Gratis Indosat ISPCE Ultrasurf
Trik Internet Gratis Indosat GappProxy
lihat disini
Internet Gratis Smart PC September 2013
Trik Internet Gratis Smart via PC September 2013 akhirnya ada juga yang ngebagiin di forum. Dan tak pake banyak bacot gan, sedot langsung settingan ispce dan esteh dimari.
Jumat, 30 Agustus 2013
Penantang Itu Bernama Assad
Pict : uncyclopedia.wikia.com
Oleh : Komandan Gubrak
Umurnya baru 48 tahun. Usia yang relatif cukup muda bagi seorang pemimpin negara. Tapi prestasi yang di torehkan Assad dalam upaya melindungi negaranya dari anasir anasir dukungan asing tak di ragukan lagi. Banyak orang termasuk saya mengira setelah pecah revolusi Suriah, nasib Assad tak akan jauh beda dengan Muammar Khadafi, Mubarak, Ben Ali dan lain sebagainya. Apalagi seperti kita ketahui, revolusi Arab yang selama ini berlangsung nyatanya juga melibatkan kekuatan kekuatan besar dunia. Maka, apalah artinya Assad di banding dengan desakan publik yang luar biasa besar.
Namun rupanya saya harus sedikit menahan nafas menyaksikan kealotan putra Hafidz Assad ini. Kendati baru beberapa tahun semenjak ia mengambil alih tongkat kepemimpinan Suriah dari mendiang ayahnya, kemampuan dan kematangan Assad dalam menghadapi badai revolusi patut di acungi jempol. Memang, pemberontakan yang terjadi di Suriah tidak melibatkan secara langsung tentara reguler negara negara barat layaknya di Libya, akan tetapi keberadaan para jendral barat di belakang pemberontak di mana perannya adalah pelatih strategi sekaligus pemasok senjata tentu tak bisa di anggap enteng begitu saja.
Mari kita kembalikan ingatan pada peristiwa tahun 80an di mana Afghanistan mengalami pergolakan luar biasa. Di sana CIA memiliki peran penting dalam mengendalikan apa yang di sebut sebagai pemberontakan terhadap dominasi Soviet. CIA terlibat dalam pembinaan, pelatihan dan pengiriman jihadis jihadis asing ke Afghanistan. Operasi pinjam tangan ini nyatanya berakhir dengan kesuksesan dan menghasilkan kerugian tak terkira bagi Uni Soviet.
Apa yang di lakukan barat dan sekutunya pada Suriah kurang lebih sama dengan apa yang mereka lakukan di Afghanistan dulu. Mereka mengkoordinir, melatih dan mempersenjatai pemberontak untuk melawan rezim Bashar Assad. Yang membedakan adalah hasil akhir. Jika strategi yang di lakukan barat di Afghanistan berakhir dengan jatuhnya rezim tanpa perlu tentara amerika melibatkan diri secara langsung, nasib berbeda terjadi di Suriah. Kendati sudah mendapatkan dukungan penuh dari negara barat dan sekutu Arabnya, hingga lewat tempo 2,5 tahun kubu pemberontak tak juga mampu menjungkalkan Assad. Yang terjadi justru sebaliknya, Bashar Assad secara perlahan mulai menemukan celah menuju kemenangan.
Satu persatu daerah daerah yang dahulu di kuasai oposisi berhasil di rebut tentara Suriah. Di Provinsi Damaskus, tentara Suriah dengan gagahnya mengontrol hampir seluruh wilayah. Begitu juga dengan daerah yang berbatasan dengan Lebanon, Israel dan Yordania, balatentara Assad menampilkan kegagahannya dengan menutup akses yang bisa di manfaatkan oleh oposisi dalam menggalang dukungan dari luar. Di wilayah tengah, terutama di Homs, sebuah kawasan yang oleh pemberontak di juluki kota revolusi, setapak demi setapak mulai di kuasai tentara Assad. Terakhir distrik Khaldiyah yang merupakan benteng utama pemberontak jatuh pula ke tangan kubu pemerintah.
Ini rupanya yang membuat barat dan sekutunya mulai frustasi. Bukan saja Assad sukses memperkuat posisinya, tapi kubu koalisi oposisipun makin hari makin tak bisa di andalkan. Maka tak heran jika akhirnya Amerika Serikat sebagai dalang utama kerusuhan di Suriah memutuskan untuk membuka opsi intervensi militer.
Dalih yang di pakai adalah kasus tuduhan penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah. Akan tetapi menurut penulis, ini hanya alasan belaka. Faktanya, jauh hari sebelum terjadinya kasus itu, Amerika Serikat sudah mempersiapkan diri untuk berperang secara terbuka dengan Assad. Amerika secara kontinyu mulai mengirim kontingen militer ke negara negara tetangga Suriah. Di Yordania, keberadaan ribuan tentara Amerika tak terbantahkan lagi. Belakangan juga berhembus kabar Amerika telah mengirim kapal perangnya menuju laut Mediterania. Tak ketinggalan pemerintah Inggris, yang walaupun parlemennya menolak opsi militer ke Suriah, namun pemimpin negara itu tetap nekad menempatkan armada udaranya di pulau Siprus.
Bagi pemimpin lain, mungkin provokasi barat ini akan membuat mereka ciut nyali. Apalagi seperti yang kita tahu, hampir semua medan tempur di mana tentara Amerika terlibat, selalu berakhir dengan jatuhnya rezim. Kita bisa saksikan bagaimana nasib Saddam Husein yang dahulu di anggap paling kuat di Timur Tengah. Nyatanya invasi Amerika dan sekutunya tak bisa membuatnya bertahan. Begitu pula dengan Muammar Khadafi di Libya.
Penulis yakin, Bashar sangat paham resiko yang akan ia tanggung jika Amerika benar benar menyerang Suriah. Dari segi apapun, tentara Suriah bukan tandingan pasukan paman Sam. Walaupun nantinya Suriah, Iran dan China terjun langsung bahu membahu membela Assad, rasanya belum tentu mampu melawan kedigdayaan tentara sekutu.
Lalu apa yang membuat Assad seolah tak menunjukkan rasa gentar sedikitpun terhadap ancaman invasi itu ?. Bahkan dengan entengnya dia sesumbar akan membuat Suriah menjadi Vietnam bagi Amerika. Di kesempatan lain Assad seperti di kutip Islam Times menyemangati para petinggi seniornya dengan kalimat 'sejak lama kita menunggu musuh sejati Suriah'. Retorika ini menunjukkan bahwa Assad tidak bisa di gertak dan di takut takuti.
Orang bijak mengatakan, perang yang tanpa tujuan tidak akan menghasilkan kemenangan. Di sini Bashar secara cerdas memanfaatkan situasi. Sebesar apapun invasi yang akan di lakukan Amerika nanti, jika di lihat dari segi tujuan, maka Amerika nyaris tak memiliki tujuan pasti. Dalam bahasa sederhana, Amerika sendiri masih galau mau di apakan Suriah jika nantinya Bashar jatuh.
Peta politik Suriah menunjukkan bahwa kekuatan dominan di kubu pemberontak justru berada di tangan kelompok kelompok garis keras yang selama ini getol memusuhi Amerika. Maka kalaupun Amerika berhasil menggusur Assad, ia akan di hadapkan pada sebuah masalah yang tak kalah peliknya. Yaitu jatuhnya Suriah ke tangan orang orang fundamentalis. Jika ini terjadi, maka itu sama saja Amerika melahirkan lawan baru bagi Israel yang tak kalah garangnya dengan militan Hizbullah.
Itu kalau Amerika berhasil menghabisi Assad. Kalau Amerika gagal mengeksekusi Assad, problem lain yang tak kalah pelik juga akan menimpa Amerika. Kegagalan Amerika mengintervensi langsung Suriah bisa jadi akan memicu gelombang perlawanan lain terhadap hegemoni Amerika di Timur Tengah.
Kartu truf lain yang di miliki Assad adalah situasi regional yang cukup menguntungkan dia. Faktanya Assad di kelilingi oleh negara negara dengan dominasi syiah yang cukup kuat. Mereka adalah sekutu potensial yang sewaktu waktu bisa di ajak Assad untuk berperang di pihaknya. Jalinan ini nyatanya sudah lama di rajut Assad. Konon ribuan gerilyawan Syiah baik dari Lebanon maupun Irak dan Iran secara aktif ikut terlibat membantu Assad. Invasi Amerika ke Suriah, mau tidak mau akan berakibat perang merembet kemana mana. Tidak hanya di Suriah, tapi juga di Irak, Lebanon dan tentu saja Israel. Lihat saja statemen Hizbullah baru baru ini. Jika Amerika menyerang Suriah, maka Hizbullah bertekad untuk melakukan perang habis habisan dengan Israel.
Dus, agaknya Amerika Serikat perlu berfikir ulang jika ingin bertanding melawan Assad. Setidaknya negeri paman sam harus memperhitungkan untung ruginya jika perang terbuka terjadi.
Senin, 26 Agustus 2013
Menakar Kekuatan Berkah
Oleh : Hafidz Atsani
"Insya Allah Berkah menang" kataku pada seorang kawan.
"Wahh...ibu ibu Muslimat bakalan seneng" jawabnya dengan nada ceria.
"Kenapa sih, Khofifah di idolakan banget sama Muslimat ?" tanyaku lagi.
"Khan ibunya para Muslimat...".
Percakapan yang singkat. Namun mensyiratkan adanya semangat luar biasa menggebu. Apa yang di nyatakan ibu dua anak itu sepertinya mewakili hati para wanita di Jawa Timur terutama ibu ibu Muslimat. Ormas wanita terbesar di Indonesia ini mengklaim memiliki tak kurang dari 7 juta anggota di Jawa Timur. Sebuah angka yang sangat fantastis. Jumlah itu paling tidak seperempat dari jumlah pemilih Jawa Timur. Tentu, suara sebanyak itu tidak bisa di jamin 100% total mendukung Berkah. Seperti yang di katakan Lily Wahid, bahwa tidak semua Muslimat mendukung Berkah. Akan tetapi melihat fakta yang ada, penulis memprediksikan bahwa minimal Berkah akan mampu mengais suara dari kelompok ini setidaknya 3/4 atau hampir 5 juta jiwa.
Sejauh pengamatan penulis, dari sekian kelompok yang berdiri di belakang pasangan Berkah, Muslimat menjadi semacam bemper terdepan yang sangat menentukan. Mereka yang paling banyak tampil di setiap event event yang melibatkan sang ketua umum Muslimat. Tidak hanya ketika kampanye di gelar, akan tetapi sudah jauh hari. Bahkan ketika Berkah tidak di loloskan KPUD Jatim, lagi lagi yang paling gigih membela hingga rela berpanas panasan di depan kantor KPUD adalah kaum ibu Muslimat.
Jika kemudian pasangan Berkah memenangkan Pilgub Jawa Timur, maka semua pihak harus mengakui bahwa Muslimatlah yang paling berdarah darah. Loyalitas mereka kepada sang ketua umum tak di ragukan lagi. Ini kontras sekali dengan situasi yang ada di barisan partai pendukung Berkah semisal PKB. Bukan hanya ketika Berkah di nyatakan tidak lolos, akan tetapi pasca keputusan DKPP yang meloloskan Berkah, suara suara oposan di kubu PKB terus terdengar. KH Aziz Mansyur misalnya, pasca keputusan DKPP langsung menggelar konpress bahwa dia bersama jajaran Dewan Syuro PKB kukuh mendukung pasangan Karsa. Kita juga sempat mendengar beberapa DPC PKB Jatim bermanuver di media dengan menyatakan dukungannya terhadap Berkah. Kendati akhirnya di bantah oleh pengurus teras PKB lain, akan tetapi aroma perpecahan di tubuh PKB tetap tak bisa di sembunyikan lagi.
Muslimat menurut pengamatan kami jauh lebih solid dan tulus mendukung Berkah. Ini mesin yang paling mungkin bisa di gerakkan tanpa harus bertele tele dengan deal politik di belakangnya. Penulis sempat bertanya tanya dalam hati, terbuat dari apakah Khofifah ini ?. Hingga ia memiliki kemampuan mengorganisir kekuatan massa dalam jumlah besar.
Testimoni mantan ketua MK Mahfudz MD barangkali layak untuk di jadikan referensi. Kredibilitas, integritas dan loyalitas Khofifah tidak di ragukan lagi. Sosok kelahiran tahun 1965 ini di kenal bersih dari isu isu korupsi. Baik ketika menjabat sebagai menteri Pemberdayaan Perempuan di era Gus Dur maupun ketika memegang jabatan prestisius di Senayan sebagai wakil ketua DPR. Loyalitasnya pada NU tak di ragukan lagi. Hingga ia di percaya memimpin Muslimat selama tiga periode.
Selain itu Khofifah juga di kenal gigih dan kukuh dalam melawan apa yang di sebut politik kartel. Pengalamannya di tahun 2008, ketika harus kalah secara dramatis melawan Karsa sama sekali tak membuatnya surut untuk maju kembali di periode selanjutnya. Proses pencalonannya kali inipun tidak di lalui dengan cara mudah. Ia harus melewati upaya penjegalan dan penghancuran secara sistematis. Dan ketika ia di loloskan DKPP, mantan politisi PPP dan PKB ini di hadapkan pada situasi di mana ia hanya memiliki waktu singkat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa dirinya adalah bagian dari proses menuju Jatim 1.
Seorang kawan yang merupakan anggota team di kubu Karsa mengatakan kepada saya, "Khofifah boleh saja lolos, tapi waktu yang tersedia terlalu sempit. Tetap saja ia akan kalah, karena kompetitor lain sudah sejak dulu mensosialisasikan diri di depan masyarakat Jawa Timur".
Ucapan kawan saya ini mungkin ada benarnya. Sebelum di nyatakan gagal oleh KPUDpun popularitas Berkah masih kalah jauh di banding incumben. Kemudian setelah di nyatakan tidak lolos, sebagian publik yang merupakan pendukung Berkah perlahan melupakannya. Ini terlihat dari survey Tampoll Gubrak yang tidak menyertakan Berkah sebagai kandidat. Hasilnya 46% responden menyatakan akan memilih Karsa. Dua saingan lain yaitu Bangsa (Jempol) memperoleh 8%, sementara Eggy - Sihat hanya mendapat dukungan kurang dari 1%, sisanya belum menentukan.
Sedikitnya waktu ini bukan satu satunya masalah. Masalah lain tentu saja keterbatasan dana. Kita bisa melihat di lapangan, bagaimana pasangan Berkah ini sosialisasinya masih kalah dengan rivalnya. Serangan darat berupa pemasangan alat peraga kampanye, Berkah kalah jauh dari Karsa. Begitu juga dengan iklan di media massa. Durasi iklan Berkah masih berada di bawah rivalnya. Ibarat pepatah, orang lain sudah bicara program, Berkah masih berkutat pada masalah pengenalan diri di mata pemilih.
Satu satunya kemenangan Berkah adalah persepsi media. Sejauh ini pemberitaan media terhadap pasangan yang di usung PKB bersama empat partai gurem lain tampak lebih positif jika di banding dengan pasangan lain. Begitu juga dengan jejaring sosial. Dukungan pengguna jejaring sosial terhadap figur dengan tagline Jatim Berkah ini tampak lebih unggul. Kita bisa melihat angka angka pastinya di situs Politicawave. Sebuah lembaga pemantau jejaring sosial yang akurasinya jauh lebih baik dari lembaga survey lain.
Variabel kemenangan seorang calon memang sangat kompleks. Penggunaan dana yang besar, iklan yang jor joran serta banyaknya dukungan partai politik tidak serta merta menjadikan pasangan kandidat akan memenangkan pertarungan. Begitu juga dengan durasi waktu sosialisasi yang sempit. Kita bisa belajar dari kasus DKI di mana situasi yang melingkupi Berkah kurang lebih sama. Jokowi - Ahok di daftarkan oleh PDI Perjuangan dan Gerindra di menit menit terakhir. Dari segi sosialisasi, pasangan ini kalah dengan yang lain. Alat peraga yang di pasang di sudut sudut Jakartapun bisa di hitung dengan jari. Begitu juga iklan di media elektronik semisal televisi. Seperti halnya Berkah, satu satunya kemenangan Jokowi adalah persepsi media.
Lantas, apakah nasib Berkah akan sebaik Jokowi - Ahok ?
Dalam berbagai kesempatan, penulis menyatakan bahwa salah satu tanda kemenangan kandidat adalah keberadaan voluntair. Sukarelawan yang dengan tulus memberikan apa saja demi memenangkan jagoannya tanpa di bayar. Siapa yang memiliki dukarelawan paling militan, dia yang kemungkinan besar menang.
Ini yang terjadi pada Jokowi - Ahok. Secara kualitatif, pasangan ini lebih banyak memiliki voluntair. Mereka tidak sekedar memberi dukungan, akan tetapi rela mengeluarkan biaya sendiri untuk ikut mensosialisasikan. Soal pengadaan kostum misalnya, pendukung Jokowi tidak keberatan kalaupun harus membeli baju kotak kotak yang menjadi trend merk Jokowi. Mereka juga secara aktif membantu pasangan ini untuk mensosialisasikan di media jejaring sosial. Tercatat ratusan ribu akun berkumpul di group group pendukung Jokowi - Ahok.
Berkah kendati tidak sama dengan Jokowi - Ahok, memiliki modal yang kurang lebih sama. Penulis banyak mendengar langsung dari sumber di lapangan bahwa mereka yang datang ke arena kampanye Berkah sebagian besar tidak di ongkosi. Bahkan ibu ibu Muslimat yang merupakan tulang punggung Berkah harus rela urunan untuk datang ke lokasi demi mendukung Berkah. Antusiasme warga untuk sekedar melihat sosok Khofifah dan wakilnyapun terlihat istimewa. Ini belum termasuk budaya saweran yang seringkali terlihat dalam acara acara Berkah.
Selain dari massa pendukung, Berkah juga mendapat dukungan gratis dari pihak luar. Ahmad Dani dan Rhoma Irama adalah dua contoh di mana mereka rela tidak di bayar demi memenangkan pasangan Berkah. Intinya, dukungan voluntair di kubu Berkah menurut penulis jauh lebih banyak dari apa yang ada di kubu lawannya.
Tanda tanda lain adalah situasi psikologis. Selama ini publik terlanjur mempersepsikan Berkah sebagai pihak yang di dzolimi. Terlepas benar atau tidaknya secara fakta, yang pasti kasus kasus penjegalan yang di alami Berkah cukup memantik simpati massa. Kultur masyarakat kita sangat lekat dengan budaya belas kasih. Mereka akan melakukan segala cara untuk melakukan pembelaan jika terjadi pendzoliman. Kasus Prita, kasus Bibit - Candra dan banyak lagi. Sama halnya ketika Jokowi - Ahok jadi bulan bulanan isu SARA. Bukannya dukungan masyarakat menyusut, justru pendzoliman itu di balas tuntas oleh masyarakat dengan cara memenangkan Jokowi - Ahok.
Mengenai program saya kira bukan faktor dominan. Bahasa program tidak terlalu banyak di mengerti masyarakat. Sama seperti DKI, kemenangan Jokowi - Ahok menurut kami bukan karena janji janji kampanyenya. Akan tetapi kemampuan kandidat mengaduk aduk emosional pemilih. Gaya egaliter, merakyat dan sederhana yang di tampilkanlah faktor utamanya.
Sejauh pengamatan kami, Khofifah sukses menampilkan diri sebagai figur yang egaliter. Ketika lawannya jor joran iklan di mana mana, ia dengan rendah hati meminta maaf kepada pendukungnya karena tidak bisa melakukan hal yang seperti di lakukan lawannya. Ketika lawannya menyewa helikopter untuk menyambangi pendukungnya, Khofifah menyindir dengan cara yang unik. Membeli helikopter mainan di pasar, lalu menumpang becak menuju lokasi acara. Publik juga di jejali peristiwa peristiwa mengharukan seputar Berkah. Misalnya ketika juru kampanye berceramah, belasan ibu ibu berkeliling sembari membawa kardus meminta sumbangan pada hadirin. Sumbangan itu di dedikasikan untuk membantu Berkah. Dalam kesempatan lain, foto foto maupun video yang menampilkan Khofifah merangkul ibu ibu tua juga luar biasa memantik simpati.
Pribadi yang merakyat seperti ini kiranya menjadi trend. Sesuatu yang sekilas mudah, akan tetapi sulit di praktekkan. Betapa banyak pemimpin yang berusaha tampil merakyat akan tetapi tidak di respons positif oleh masyarakat. Kenapa ?. Karena penampilannya tidak di barengi dengan ikatan batin dengan pendukungnya. Tidak ada perasaan senasib sepenanggungan antara pemimpin dan rakyat. Makanya, kemasan apapun menjadi terasa hambar.
Dari segi dukungan tokoh masyarakat lokal, kiranya antara Berkah dan Karsa memiliki pendukung yang berimbang. Kyai kyai yang ada di dua kubu sekarang ini sebagian besar adalah pendukung utama mereka di ajang sebelumnya. Di Karsa ada KH Idris Marzuki, KH Jazuli dan lain sebagainya. Mereka adalah tokoh yang 2008 lalu juga mendukung Karsa. Sementara di kubu Berkah ada KH Hasyim Muzadi, Gus Sholah dan lain lain. Pada Pilgub 2008, para kyai ini juga mendukung Khofifah.
Yang membedakan adalah gairah. Gairah warga Nahdliyin kali ini berbeda dengan yang dulu. Wacana gubernur NU terdengar sangat kuat. Ini telihat dari survey yang di lakukan ISNU (Ikatan Sarjana NU) bulan Maret silam. Bahwa warga NU menginginkan gubernur yang berasal dari NU. Ironis sekali, jika Jawa Timur yang mayoritas warganya pengikut NU akan tetapi belum pernah memiliki Gubernur yang berlatar belakang NU.
Keberadaan voluntair, profile egaliter, gairah nahdliyin dan loyalitas tanpa batas yang di pertontonkan ibu ibu Muslimat akankah sanggup mengantarkan Berkah memenangkan pilgub Jatim ?.
Waktu yang akan menjawabnya.
Minggu, 25 Agustus 2013
Polling : Berkah Berpeluang Jungkalkan Karsa
Dalam survey yang di gelar Tampoll Gubrak (Team Polling Gubrak) sejak tanggal 12 – 25 Agustus 2013, dominasi dua pasang kandidat (Karsa – Berkah) tak terbantahkan lagi. Survey yang di ikuti 771 responden jejaring sosial (facebook) dengan metode pertanyaan tertutup ini menempatkan Karsa di posisi pertama dengan torahan angka 28,79%. Di posisi kedua menyusul Berkah dengan selisih sangat tipis, yaitu 27,1%. Kandidat yang di usung PDI Perjuangan Bangsa berada di posisi ketiga dengan raihan angka 13,61%. Terakhir Eggy Sudjana – M Sihat memperoleh dukungan responden sebesar 1,16%. Sementara pemilih yang belum menentukan berjumlah 29,31%.
Dari penguasaan wilayah dengan mengacu pada sistem dapil (daerah pemilihan), Berkah di prediksikan memenangkan setidaknya 6 dapil, Karsa 5 dapil. Dua pasangan lain di ramalkan hanya menjadi penggembira saja. Tapi jika kita mengacu pada peta kabupaten/kota, pasangan Karsa masih unggul dari Berkah dengan menguasai setidaknya 15 Kabupaten/Kota. Mengalahkan Berkah yang unggul di 11 Kabupaten/Kota. Sisanya 12 Kabupaten/Kota relative seimbang.
Daerah yang mungkin di menangkan Karsa
Di wilayah tapal kuda setidaknya Karsa unggul di Bondowoso, Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan dan kabupaten Sidoarjo. Karsa juga menang di Lumajang dan Jember. Wilayah dengan jumlah penduduk besar yaitu Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu di prediksikan juga di kuasai Karsa. Daerah lain yang menjadi lumbung suara Karsa adalah Mataraman. Pasangan ini setidaknya unggul di Trenggalek, Magetan, Madiun, Kota Madiun dan Tulungagung dengan keunggulan yang berbeda beda.
Daerah yang mungkin di menangkan Berkah
Pasangan yang mengusung jargon Jatim Berkah ini di prediksikan menguasai hampir semua kabupaten di pulau Madura. Mereka juga unggul di pesisir utara Jawa Timur seperti Gresik, Lamongan dan Tuban. Sementara di area Mataraman, Berkah sukses mencuri perhatian di beberapa kabupaten/kota semisal, Pacitan, Ponorogo, Jombang, Kota dan kabupaten Mojokerto serta Blitar. Di Jombang misalnya, pasangan ini di ramalkan akan unggul mutlak. Begitu juga dengan Kota Mojokerto.
Daerah abu abu
Adalah tempat di mana antara Karsa dan Berkah bersaing ketat. Di antaranya Kabupaten Banyuwangi. Di sini 3 pasang calon (Karsa, Bangsa dan Berkah) bertarung sengit. Begitu juga dengan Kota Surabaya. Wilayah dengan jumlah penduduk besar ini juga menjadi ajang pertaruhan tiga pasangan itu. Kemudian Situbondo dan Kota Pasuruan juga di prediksikan menjadi ladang hidup mati bagi Karsa dan Berkah. Di area Mataraman, yaitu Bojonegoro, Kediri, Nganjuk dan Ngawi kemungkinan juga akan berlangsung sengit.
Hasil Polling
Periode : 12 -25 Agustus 2013
Jumah responden : 771
1. Soekarwo – Syaifullah Yusuf : 28,79%
2. Eggy Sudjana – M Sihat : 1,16%
3. Bambang DH – Said Abdullah : 13,61%
4. Khofifah – Herman : 27,1%
5. Belum Menentukan : 29,31%
2. Eggy Sudjana – M Sihat : 1,16%
3. Bambang DH – Said Abdullah : 13,61%
4. Khofifah – Herman : 27,1%
5. Belum Menentukan : 29,31%
Margin of error : 5%
Melihat peta persaingan antara Karsa dan Berkah yang sangat ketat, kemungkinan apapun bisa terjadi. Keunggulan Karsa yang hanya 1% lebih bukan tolok ukur bahwa pasangan ini bakal keluar sebagai juara. Setidaknya masih ada 29,31% responden yang belum menentukan. Pun juga bagi pasagan nomer urut tiga, Bambang DH – Said Abdullah. Peluangnya masih terbuka lebar meski tidak lebih baik dari Karsa dan Berkah. Daerah daerah yang di prediksikan akan di menangkan oleh calon tertentu juga masih mungkin berubah. Lagi lagi pemilih mengambang menjadi penentu kemenangan. Namun demikian, siapapun yang akan keluar sebagai juara nanti, kami ramalkan tidak akan menang dengan angka yang mutlak. Kecuali ada imigrasi pemilih besar besaran di detik detik terakhir.
Terimakasih kepada responden kami yang bersedia meluangkan waktunya. Terimakasih juga kepada relawan relawan Team Polling Gubrak. Semoga pilkada Jatim kali ini menghasilkan pemimpin yang benar benar di harapkan oleh rakyat Jawa Timur.
By TAMPOLL GUBRAK
By TAMPOLL GUBRAK
Langganan:
Postingan (Atom)

