Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Islam dalam Mengenalkan Neraka dan Antisipasi Siksaannya


Judul          : Kabar Buruk Dari Malaikat Malik
Penulis       : Jamal Ma’mur Asmani
Penerbit     : Najah
Cetakan     : II, 2012
Tebal         : 196 Halaman
Peresensi   : Junaidi*

Pada dasarnya manusia tidak mengetahui datangnya hari yang telah ditentukan itu (Kiamat). Namun setiap saat, hari tersebut berpeluang datang. Hari tersebut dirahasiakan agar manusia bersiap siaga sepanjang hidupnya. Manusia tidak bisa memilih dengan berbuat seenaknya sendiri. Lalu menjelang datangnya hari kiamat ia baru mau bertobat, memohon ampunan, memperbanyak amal saleh, dan lain sebagainya.
Itulah salah satu hikmah di balik dirahasiakannya kedatangan hari kiamat. Manusia menjadi sadar bahwa hari tersebut selalu mengintai saat kehidupan yang dilaluinya di dunia ini. Celakalah seorang manusia ketika hari tersebut datang ia sedang melakukan perbuatan durhaka dan maksiat. Atau ia hanya memiliki pahala amal saleh yang sedikit.

Dalam buku ini kita akan dibawa ke alam yang seutuhnya kita tidak mengetahuinya secara pasti, hanya menerka-nerka saja. Namun kemunculan dan keberadaan alam tersebut nyata dan benar-benar ada meskipun tidak tampak oleh pandangan mata, itu hanya tampak oleh pandangan mata sorotan iman yang kita miliki. Kita akan melewati berbagai macam kehidupan untuk mencapai antara dua alam yang seutuhnya kekal abadi, yaitu antara surga atau neraka. Dua pilihan itulah yang akan menjadi tempat terakhir bagi kita untuk menajani hidup.

Di dunia ini kita hanya hidup sebentar untuk mengumpulkan amal-amal kebaikan agar kelak mendapat kehidupan yang tenteram di akhirat. Kadang manusia tidak sadar dan tidak ingat bahwa mereka akan menemui kematian. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka cari akan binasa. Seluruh kemegahan dan gemerlapnya dunia yang dikejar dengan menghalalkan segala cara akan hilang seketika saat datangnya hari yang telah ditentukan tersebut. Akhirnya kehidupannya yang penuh dengan kepuasan yang mereka raih akan menjadi sebuah penyesalan hidup karena beratnya siksaan yang dideritanya.

Di alam kahirat nanti manusia akan mengalami sesuatu yang baru dan mendebarkan. Berbagai ketentuan Allah Swt. akan menghampirinya. Mereka akan dibangkitkan dari alam kubur dalam keadaan yang tidak sama dengan keadaan dan kondisi di dunia. Mereka akan dikumpulkan di padang mahsyar.

Hanya hamba Allah Swt. yang bertakwa sepanjang hidupnya akan mendapat anugerah dan pertolongan sehingga mampu melintasi jembatan yang misterius itu. Namun bagi orang yang tidak beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., maka siksa neraka yang akan menjadi teman kekekalannya di akhirat. Betapa sangat pedih siksa neraka jika kita rasakan. Ada yang meriwayatkan bahwa jika orang yang disiksa di neraka dan sejenak dikemabalikan ke dunia dan dimasukkan ke dalam api dunia, maka ia akan tidur beribu-ribu tahun lamanya dari saking tidak panasnya api di dunia jika dibanding dengan api neraka di akhirat.

Seperti apakah siksa neraka itu? Apakah seperti tragedi pembunhan massal yang dilakukan oleh mantan presiden Bosnia Herzegovina, Slobodan Milosevic, atau kesadisan Mussolini dan Hitler, atau seperti kebengisan PKI yang membantai orang-orang yang tidak bersalah secara sadis dan memilukan? Tentu jauh sekali bandingannya. Kebengisan, kekejaman, dan kebiadaban manusia di dunia tidak ada bandingannya di neraka nanti.

Manusia tidak akan mampu untuk membayangkan kepedihan dan keangkeran neraka. Jika manusia mengetahuinya dan mau merenungkannya, niscaya ia akan insaf, segera bertobat memohon ampunan dan kasih sayang dari Allah Swt. dan segera menabur karya-karya kehidupan yang bermanfaat dan lebih berguna bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain untuk menjalani kehidupan di dunia agar mencapai hidup yang bahagia di akhirat nanti.

Dikisahkan bahwa ada seseorang yang bermimpi melihat neraka di dalam tidurnya. Alangkah terkejutnya setelah dia terbangun dari tidurnya, dia mendapati kulit-kulitnya terkelupas dan mersakan sakit sebagaimana mestinya orang terkena luka bakar. Dengan melihat kejadian seacam ini sudah dipastikan bahwa siksa neraka sangatlah menyakitkan. Orang tersebut hanya bermimpi melihat neraka sudah mendapati kulitnya terkelupas oleh luka bakar, apalagi kalau sudah menjumpai nereka secara langsung di akhirat sudah pasti tidak dapat dibayangkan seperti apa keadaannya.

Siapa yang tidak kenal neraka, sebuah tempat pesakitan bagi orang-orang yang menentang Tuhan, tempta yang digambarkan penuh siksaan da ndrita bagi yang tiada batasnya? jangankan merasakannya, membayangkannya saja sungguh hati terasa bergidik.
Sejatinya, kabar tentang neraka hanya Allah sajalah yang mengetahui. Meskipun demikian, Allah telah mengutus malaikat untuk memberikan kabar kepada rasul-Nya, kemudian disampaikan kepada umatnya.
Tentu saja agar umat benar-benar waspada dan berusaha untuk tidak terjerumus ke dalamnya.

Seperti apa kabar buruk yang dibawa malaikat kepada Rasulullah Saw.? Siapa malaikat Malik itu? Siapa saja calon penghuni neraka? Bagamana kondisi para penghuni neraka? Seberapa pedihnya siksa dan derita neraka? Dan, apa yang ahrus dilakukan agar terhindar dari dahsyatnya siksa api neraka? Adakah doa-doa yang dapat menjauhkan seseorang dari masuk neraka?

Buku ini akan menjawab semuanya, segala keingintahuan yang kita tanya-tanyakan tentang hari kiamat dan kehidupan di akhirat nanti. Buku ini ditulis berdasarkan Alquran dan Alhadits yang kemudian diperkuat oleh keterangan-keterangan para ulama yang kealiman dan keahlinannya tidak diragukan lagi.


Junaidi Khab


* Peresensi adalah mahasiswa Sastra Inggris, dan aktivis HMI  fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.
E-Mail         : john_gapura@yahoo.com

Sabtu, 03 November 2012

Sabda Palon : Kisah Nusantara yang Disembunyikan


THE MOST CONTROVERSIAL BOOK OF THE YEAR!

Buku Pertama
Pada tahun 1445 Masehi, atas permintaan Bhre Kêrtabumi, Syekh Ibrahim Al-Akbar berlayar dari Champa menuju Jawa, diiringi Sayyid Ali Murtadlo dan tiga belas santrinya. Mengingat pertumbuhan kaum muslim yang pesat di pesisir Jawa, syekh keturunan Samarqand itu didaulat untuk menjadi petinggi agama Islam di Keraton Majapahit. Tetapi jung Syekh Ibrahim diamuk badai hingga terdampar di pantai Kamboja. Mereka ditangkap prajurit-prajurit Kamboja dan dipenjara oleh rajanya. Kabar perihal nasib rombongan Champa itu akhirnya sampai di Jawa. Dipimpin Raden Arya Bangah, tujuh jung tempur Majapahit, lengkap dengan meriam Jawa dan manjanik, segera meluncur ke Kamboja untuk membebaskan mereka. Pertempuran sengit pun meletus di Prey Nokor.

Dalam pada itu, Sabda Palon dan Naya Genggong, dua punakawan Bhre Kêrtabumi, melihat dengan mata batinnya bahwa trah Majapahit akan lumpuh. Selama lima ratus tahun awan hitam akan menaungi Nusantara seiring datangnya para pengusung keyakinan baru yang bakal mengakhiri kekuasaan Majapahit. Demi menjaga keutuhan Nusantara, Sabda Palon menasihati Kêrtabumi agar mengambil selir dari Kepulauan Wandhan. Keturunan darinyalah yang akan membangkitkan kejayaan trah Majapahit dua ratus tahun kemudian. Raja muda itu pun mengawini Bondrit Cêmara, seorang emban dari Wandhan. Dewi Amaravati, putri Champa permaisuri Kêrtabumi, dilanda cemburu tak tertanggungkan hingga ia berencana membunuh Bondrit Cêmara berikut janin yang tengah dikandungnya.

Melalui narasi-narasi memukau nyaris pada setiap babak, novel ini tak hanya mampu menyatukan keping-keping sejarah masa akhir kejayaan Majapahit yang tercecer dan terpendam, tetapi juga bakal menyihir Anda untuk memasuki Nusantara masa silam. Tidaklah mudah membawa pembaca abad 21 kembali ke abad 15, yang berjejal aroma dupa, kemegahan pura, dan gadis-gadis yang masih bertelanjang dada. Tetapi Damar Shashangka mampu melakukan itu dengan mempesona.

--------------------------------------------------
Penyunting: Salahuddien Gz, Dita Sylvana
Penyelaras Bahasa: Khrisna Pabichara
Penggambar Sampul: Yudi Irawan
ISBN: 978-979-16110-5-3
Penerbit: Dolphin
Harga: Rp 75.000,- (450 Hlm. Bookpaper)

 
THE BEST NOVEL OF THE YEAR!

Buku Kedua
Sejak Dinasti Ming melarang armadanya berlayar ke luar Cina, ditambah rentannya Majapahit setelah Rani Suhita mangkat pada tahun 1447, perjanjian antara Tiongkok dan Majapahit selepas Perang Paregreg—yang memberikan jaminan keamanan kepada warga keturunan Cina di Majapahit—pun mulai goyah. Haji Gan Eng Cu, pejabat Dinasti Ming untuk kawasan Asia Tenggara yang berkedudukan di Lasêm, berencana menggalang kekuatan prajurit demi keamanan warga keturunan Cina. Bong Swi Hoo alias Sayyid Ali Rahmad diperintahnya untuk menempati daerah Bangêr. Dari sana dia diharapkan bisa menjadi penghubung warga Cina yang tinggal di Jawa sebelah timur dengan Lasêm.

Di sisi lain, Tuban yang semakin makmur menimbulkan kecemasan sejumlah pejabat pribumi Majapahit. Kemakmuran Tuban salah satunya disebabkan oleh kebijakan Adipati Arya Adikara yang memberikan kesempatan kepada orang-orang Atas Angin untuk masuk ke jajaran pemerintahan, termasuk mengangkat Gan Eng Wan, adik Haji Gan Eng Cu, sebagai patih Tuban. Lalu tersingkaplah sebuah desas-desus tentang rencana penyerbuan atas Tuban yang digerakkan oleh beberapa pejabat Majapahit. Namun Adipati Tuban tidak mempercayainya. Tumenggung Wilwatikta meminta tolong kakaknya di Lasêm, Pangeran Wirabraja, untuk menyelisik kebenaran desas-desus itu. Kerusuhan besar pun membayang-bayangi Tuban.

Dalam pada itu, Bhre Kêrtabumi, didampingi dua punakawannya, Sabda Palon dan Naya Genggong, mulai mendapat petunjuk dari sosok misterius yang dipercaya sebagai Roh Nusantara. Petunjuk itu menggiringnya pada pengetahuan tentang hakikat tanah Nusantara, yang dalam penglihatan batinnya pernah menjadi pusat peradaban dunia, dikenal sebagai Ataladwipa. Begitu pula Sayyid Ali Rahmad. Dia memperoleh penampakan gaib yang mahadahsyat. Tanda-tanda perubahan zaman mulai terlihat. Jawa akan berganti wajah. Agama lama bakal sirna digantikan agama baru. Dan Bhre Kêrtabumi dan Sayyid Ali Rahmad adalah dua orang yang terpilih sebagai pengawal perubahan mahabesar yang bakal mengubah wajah dunia.

CATATAN: Novel ini adalah kelanjutan dari novel bestseller Sabda Palon 1 (Kisah Nusantara yang Disembunyikan)
--------------------------------------------------
Penyunting: Salahuddien Gz
Pemindai Aksara: Webri Veliana
Penggambar Sampul: Yudi Irawan
ISBN: 978-979-17998-2-9
Harga: Rp 75.000,- (485 Hlm. Bookpaper)
Penerbit: Dolphin

Sumber : http://www.liputanwinda.com/2012/04/novel-sabda-palon-kisah-nusantara-yang.html

Minggu, 26 Agustus 2012

Kiprah Gus Dur Membela Tionghoa

Oleh: Munawir Aziz*

Judul Buku     : Bapak Tionghoa Indonesia
Penulis            : MN Ibad dan Akhmad Fikri AF
Penerbit         : LKIS, Yogyakarta
Cetakan          : I, 2012 
Tebal              : x + 170 hal.

Sudah lebih dari dua tahun KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat, namun karya-karya yang membahasnya masih terus bermunculan. Gus Dur-dalam bahasa Ulil Abshar Abdalla-merupakan "teks yang seksi". Kiprah dan kebijakan Gus Dur semasa hidupnya banyak memberi inspirasi bagi warga lintas etnis, agama dan golongan. Dari sudut pandang itulah, buku "Bapak Tionghoa Indonesia" ini ditulis. Buku anggitan MN Ibad dan Akhmad Fikri AF ini secara spesifik menelaah pikiran dan kebijakan Gus Dur dalam relasinya dengan etnis Tionghoa.

Kiprah Gus Dur sangat dirasakan oleh warga Tionghoa di Indonesia. Ketika menjabat sebagai presiden, Gus Dur mengeluarkan PP. No 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres no. 14 tahun 1967. Kebijakan Gus Dur membuka kran kebebasan budaya dan agama bagi masyarakat Tionghoa Indonesia, yang sebelumnya terkekang oleh represi penguasa Orde Baru. Peran Gus Dur ini mengembalikan eksistensi warga Tionghoa di Indonesia. Tradisi, kepercayaan, dan pandangan hidup warga Tionghoa di Indonesia kembali terangkat. Kebijakan Gus Dur ini menjadi bagian dari politik identitas, untuk mencipta harmoni keindonesiaan.

Bapak Tionghoa

Atas sumbangsih Gus Dur, pada 10 Maret 2004, kelompok keturunan Tionghoa di Semarang, klenteng Tay Kek Sie mengangkat dan menahbiskan mantan presiden RI tersebut sebagai "Bapak Tionghoa Indonesia". Secara garis besar, alasan penobatan Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa Indonesia, dapat diteropong dari empat sudut pandang; perjuangan Gus Dur dari sisi kewarganegaraan kelompok keturunan Tionghoa, keteladanan Gus Dur dalam memperlakukan kelompok keturunan Tionghoa, serta sisi pelengkap yang masih berupa kontroversi, yaitu pengakuan Gus Dur sebagai keturunan Tionghoa, dari marga Tan (hal. 123).

Penahbisan Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa memang menjadi perdebatan, ada yang mendukung, namun juga ada yang mencibir bahwa Gus Dur hanya mencari popularitas. Apalagi, jejaring komunitas dan ekonomi Tionghoa menjadi sangat penting di Indonesia, khususnya sebagai pendukung politik. Pendapat yang terakhir ini dapat dipatahkan, sebab pada kenyataannya, Gus Dur tak hanya memihak pada kelompok Tionghoa semata. Namun, secara luas berpihak pada kaum lemah (mustadh'afin) dan pihak-pihak yang selama ini mengalami perlakuan marginal, lintas budaya dan agama.

Jika ditelusuri lebih detail, Gus Dur sebenarnya mendasarkan keyakinan perjuangan untuk membantu warga yang lemah dan margnial, bersumber pada keyakinan teologis.

Gus Dur berpijak pada pandangan universal tentang kedamaian dan humanisme universal.


Humanisme universal

Pandangan Gus Dur dalam mendasari nilai universalismenya, yang membuat berbeda dengan para pemikir dan pemimpin umat Islam kebanyakan adalah dalam memahami ayat, "udkhuluha fi as-silmi kaffah" (QS al-Baqarah [2:208]). Berbeda dengan tokoh lain yang menganggap as-silmi sebagai "Islam", Gus Dur dalam hal ini memandang as-silmi kaffah sebagai kedamaian secara penuh, yang membawa pada keberadaan universal dan tidak perlu diterjemahkan pada sistem-sistem tertentu, termasuk kepada Islam. Karena ayat tersebut mengajak kepada kedamaian umat manusia (hal. 94-5).

Lebih lanjut, Gus Dur (dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006: 4) dalam memandang keislaman lebih menekankan pada prinsip-prinsip dasar untuk menjadi ‘muslim yang baik'. Sebagaimana diajarkan dalam ayat-ayat al-Qur'an bahwa ada lima syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi muslim yang baik: yaitu menerima prinsip-prinsip keimanan, menjalankan ajaran (rukun) Islam secara utuh, menolong mereka yang memerlukan pertolongan (sanak saudara, anak yatim, kaum miskin), menegakkan profesionalisme, dan bersikap sabar ketika menghadapi cobaan dan kesusahan.

Dari perspektif inilah, keberpihakan Gus Dur pada warga Tionghoa dapat dicari raison d'etre-nya. Buku "Bapak Tionghoa Indonesia" ini penting sebagai referensi yang mengulas relasi Gus Dur dengan warga Tionghoa, bahkan secara luas membuka kajian tentang relasi pesantren dan Islam dengan etnis Tionghoa. Namun, ada beberapa kesalahan kecil, yang menandaskan buku ini terbit tergesa, semisal salah ketik di beberapa halaman (semisal hal. 111, 117), tak menyebutkan sumber, dan mengulang keterangan (hal. 120). Namun, beberapa kesalahan itu tak mengurangi bobot buku ini. Buku ini menjadi referensi penting lintas pembaca.

Munawir Aziz, Mahasiswa Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta.  santri di pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Sumber : http://wahidinstitute.org

Jumat, 27 Juli 2012

Koruptor Itu Kafir

 Koruptor Itu Kafir
Oleh Azyumardi Azra

Semua warga bangsa tahu belaka, korupsi di Indonesia merupakan semacam penyakit endemis yang sampai sekarang masih merajalela dan sulit tersembuhkan. Penyakit bangsa ini bahkan terlihat kian meruyak. Orang mengatakan, kalau zaman Orba dulu, korupsi terutama terjadi di pusat; kini dengan penerapan otonomi daerah selama enam tahun terakhir, korupsi juga mengalami 'desentralisasi' meruyak ke daerah. Dengan begitu, korupsi kini ada di mana-mana, sejak dari tingkat pusat sampai ke daerah.

Jelas ada upaya untuk memerangi korupsi. Kejaksaan membuat target bagi penyelidikan dan pengadilan mereka yang (diduga) terlibat korupsi. Kepolisian juga seolah tidak mau kalah. Meski kedua lembaga ini mencapai hasil tertentu dalam usaha memerangi korupsi, masyarakat umumnya skeptis, karena terdapat oknum jaksa dan Polri yang juga (diduga) terlibat korupsi. Bahkan, tidak jarang kedua lembaga penegak hukum ini terlibat dalam konflik kepentingan melindungi bagian korps masing-masing. Dengan demikian, pemberantasan korupsi di dalam diri mereka sendiri tidak berjalan sebagaimana diharapkan publik.

Lalu, ada lagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang khusus dibentuk untuk memberantas korupsi. Tetapi, KPK yang semula memberikan cukup banyak harapan, kemudian dipandang kalangan tertentu sebagai 'superbody' yang selanjutnya melakukan upaya cukup 'sistematis' untuk melemahkan KPK, sehingga hanya dapat mengusut kasus korupsi kelas 'teri', tetapi mentok dalam membongkar kasus korupsi kelas superkakap, semacam skandal Bank Century.

Agaknya, realitas pemberantasan korupsi semacam itulah yang membuat koruptor seolah tidak pernah kehilangan nyali dan cara untuk tetap melakukan berbagai bentuk korupsi. Meski jumlah mantan pejabat atau bahkan yang masih aktif sejak dari mantan menteri, gubernur, bupati/wali kota yang terlibat korupsi cukup signifikan, tetap belum ada tanda-tanda meyakinkan korupsi bakal berkurang di negeri ini; apalagi untuk lenyap sepenuhnya.

Berbagai pendekatan dan upaya pemberantasan korupsi kelihatan tidak berhasil. Mulai dari penegakan hukum, adanya KPK, perbaikan gaji, dan pemberian remunerasi tidak mampu mengurangi korupsi. Koruptor tetap saja merajalela. Lalu, pendekatan dan cara apa lagi?

Pendekatan teologis dan agama. Inilah salah satu pendekatan yang boleh jadi dapat membantu pemberantasan korupsi. Dua organisasi Islam terbesar di negeri ini, Muhammadiyah dan NU mencoba melakukan pendekatan teologis ini dengan melakukan telaahan dan rumusan fikih korupsi bekerja sama dengan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (di Indonesia). Hasilnya adalah sebuah buku dengan judul yang bisa membuat orang tersentak: Korupsi itu Kafir (Bandung: Mizan, 2010).

Istilah 'kafir' secara konvensional lazimnya digunakan untuk menyebut mereka yang menolak dan mengingkari kebenaran Islam, baik di masa silam maupun sekarang. Istilah ini dalam kenyataannya kurang berkenan bagi mereka yang tidak menerima kebenaran Islam, tegasnya kaum non-Muslim. Bagi mereka, sebutan 'kafir' terhadap mereka dalam perasaan mereka bernada merendahkan. Apalagi kalau yang disebut 'kafir' itu adalah orang Muslim karena yang bersangkutan ternyata adalah koruptor.

Mengapa koruptor itu kafir? Banyak dalil Alquran dan hadis yang diajukan Muhammadiyah dan NU, yang kemudian melakukan pendekatan yang lazim dalam Ushul al-Fiqh, seperti qiyas dan mashalih al-mursalah. Intinya, koruptor itu kafir-termasuk yang beragama Islam-karena mereka mengabaikan larangan berbagai ajaran Islam tentang tidak bolehnya melakukan korupsi. Menurut kajian NU dan Muhammadiyah, secara fiqhiyah, korupsi dapat mengambil bentuk sejak dari ghulul (pencurian aset publik), hirabah (perampokan harta orang lain), risywah (suap), khiyanat (khianat), mukabarah/ghasab (pemindahan aset secara tidak sah), sariqah (pencurian), intikhab (pengutilan aset), sampai aklu suht (memakan barang haram).

Dengan landasan fiqhiyah dan metodologi Ushul Fiqh yang cukup kuat, menyebut koruptor sebagai kafir menjadi valid. Menyebut koruptor sebagai 'kafir' bisa menimbulkan dampak psikologis-keagamaan tertentu. Apalagi, Muhammadiyah dan NU dalam kajian fikihnya juga menyimpulkan: jika 'koruptor' itu beragama Islam, yang ketika ia meninggal dunia kelak, jenazahnya tidak perlu dishalatkan para pimpinan agama seperti ustaz, kiai, atau ulama umumnya. Koruptor yang kafir itu pun disebut terjauh dari surga dan, sebaliknya, bakal tenggelam ke dalam neraka. Na'udzu billah min dzalik.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika, Kamis, 2 September 2010

 

Kamis, 14 Juni 2012

Tips Menulis Ala Gubraker

Tidak ada yang istimewa dalam menulis. Kata Nasrudin, sobat Gubraker asal Yogyakarta yang juga seorang editor penerbit terkenal Jalasutra. Menulis sama saja dengan berbicara. Bedanya, ucapan itu disampaikan tidak dengan menggunakan lisan dan tampil dalam bentuk citra audio, melainkan dengan abjad yang ditata sedemikian rupa dan sampai kepada audiens dalam bentuk citra visual.

Cukup sederhana,bukan ?
Menurut penulis buku Fikih for Teens ini ada beberapa tips ringan yang insya Allah membantu anda menjadi seorang yang penulis berbakat.

Silahkan, di simak...!


#1

Mas, artikel atau tulisan yang baik itu seperti apa sih?

Pengen tahu?. Sederhana saja caranya. Berikan tulisan itu kepada kawanmu. Lalu, tanyakan pada kawanmu itu, “Tulisan ini berkata tentang apa?” Jika kawanmu itu bisa menjawabnya dengan cepat; jawabannya tidak lebih dari satu kalimat; jawaban itu juga sesuai dengan maksudmu membuat tulisan itu; maka tulisan itu cukup layak untuk disebut sebagai tulisan.


#2

Apa yang istimewa dari kegiatan menulis?

Tidak ada. Menulis tak ubahnya berbicara. Bedanya, ucapan itu disampaikan tidak dengan menggunakan lisan dan tampil dalam bentuk citra audio, melainkan dengan abjad yang ditata sedemikian rupa dan sampai kepada audiens dalam bentuk citra visual. Sesederhana itu. Jika demikian, masih ada alasan bahwa menulis itu sulit?

 
#3

“Mas, gimana memulai membuat tulisan? Awalnya sih banyak yang pengen dituliskan, tapi pas di depan komputer kok jadi susah begini ya?”, tanya seorang sahabat.

Hal semacam ini banyak dijumpai oleh kawan-kawan, baik yang baru belajar menulis, maupun yang cukup senior.

Ada tips sederhana untuk mengatasinya. Sebagai langkah awal, tanyakan pada diri Anda, “Saya mau menulis tentang apa?” Nah, segera tuliskan jawaban yang pertama kali muncul dari pikiran Anda. Selepas itu, selesaikan tulisan Anda. Kurang puas dengan hasil tulisan yang masih kacau? Edit saja sesukanya. Gampang ‘kan?



#4

"Mas, cara nulis artikel tentang politik, budaya, dst, gimana? 'Kan beda sama tulisan fiksi?" seorang sahabat bertanya.

Begitu ya? Menulis nonfiksi itu cukup mudah.
Pertama, tanya diri Anda, “Saya mau nulis apa?”.
Kedua, “Apa yang belum Anda ketahui tentang tema yang akan Anda tulis?”
Ketiga, kumpulkan informasi sebanyaknya, pahami, catat hal-hal penting.
Terakhir, menulislah.

Gampang, 'kan? karena yang Anda tulis ada dalam realita.



#5

Semalam saya nimbrung di area diskusi SPS (Studio Pertunjukan Sastra [Taman Budaya Yogyakarta), dalam rangka peluncuran Dokumentasi 70 Puisi Hary Leo AER, Menggambar Angin. Pembicaranya Prof. Suminto A. Suyuti, penyair yang juga guru besar FBS UNY.

Saya tanya, bagaimana menulis puisi yang baik. Kata Suminto, menulis puisi itu merumahkan kata. Tidak semua hal bisa masuk rumah, juga kata. Tidak semua perabot bisa dipajang di ruang tamu, juga kata. Tidak semua hal asyik jika ditaruh di kamar tidur, juga kata. Begitulah puisi.

#6

Tempo waktu kita belajar menulis dengan teori “nulis saja”. Setelah menulis, sekarang belajar mengedit. Hal terpenting dalam mengedit adalah: pisahkan diri Anda dari teks yang Anda edit. Anggap saja itu karya orang lain yang entah siapa.

Sekarang, Anda adalah hakim yang adil atas tulisan itu. Nah, ketika menemukan logika yang kacau, segera perbaiki. Ada kalimat yang bertele-tele, pangkas saja. Mendapati kata rancu, ganti yang pas. Lihat keseleo ketik, langsung koreksi. Harus tegas.

Oya, ini satu tips langka.

Sebuah artikel biasanya akan lebih efektif ketika paragraf pertama atau terakhirnya dibuang. Mengapa? Pada paragraf pertama, penulis sedang pemanasan. Dan di paragraf akhir, biasanya penulis sudah kehabisan energi. Tegasnya, pada dua titik itu biasanya penulis lengah. Jika begini, pangkas saja kepala dan ekor tulisan. Sisakan yang kuat dan efektif.



#7

Tulislah apa yang paling engkau tahu, yang paling dekat, dan --terutama-- yang paling engkau sukai. Engkau akan total dan menikmati dalam menulis. Dalam diam, tulisan itu akan menuntunmu untuk bereksplorasi semakin dalam pada topik yang engkau sukai. Diam-diam tulisan itu akan membuatmu "menjadi" dalam skill menulis sekaligus penguasaan akan topik tersebut.



#8

Melanjutkan Tips Menulis #7, maka memaksakan diri untuk menulis hal yang jauh, asing, dan tak diketahui adalah sia-sia belaka. Tulisan adalah representasi pengetahuan-diri, bagaimana mungkin seseorang bisa mengekspresi-representasikan sesuatu yang tak ia ketahui. Karena bahkan imaji fiktif sekalipun perlu pengetahuan agar ia bisa mengada, agar 'tampak' benar-benar real, agar masuk akal, agar setidaknya enak dibaca.


Fiksi dan nonfiksi memiliki satu kesamaan dalam efeknya pada pembaca, sepanjang keduanya logis-masuk akal. Menghadapi keduanya, nalar pembaca akan mengekstraksi segala pengetahuan yang dibacanya itu, baik fiksi maupun nonfiksi untuk diinternalisasikan ke dalam dirinya, tentu, dengan kapasitas yang berbeda pada setiap personnya.

Dalam fiksi, orang cenderung bersikap terbuka dan menurunkan derajat kritisnya. Berbeda misalnya, ketika seorang pembaca disodori teks nonfiksi, dimana pembaca cenderung kritis. Kita akan banyak bertanya: Apa betul ini pernah terjadi? Seberapa akurat datanya? dan seterusnya.

Namun di sisi lain, banyak teks fiksi yang dengan bangga memasang tagline "Diangkat dari Kisah Nyata" atau "Berdasarkan Kisah Nyata". Dan para pembaca cenderung terpikat dengan tagline tersebut. Apakah para pembaca tertarik pada buku semacam ini hanya untuk memenuhi hasrat penasaran mereka? Ataukah para pembaca sengaja menumpulkan kritisismenya pada teks tersebut, dan cenderung bergeser menjadi semata-mata penikmat? Atau ?.

Selasa, 15 Mei 2012

Belajar Kehidupan dari Moral dalam Novel

Judul          : Syuga Sonyaruri Memerahkan Kesunyian Malam

Penulis       : Nurul Ibad, MS

Penerbit     : LKiS

Cetakan     : I, 2011

Tebal         : xii + 272 halaman, 13x 20,5

Peresensi   : Junaidi*

“Mengapa Tuhan menghukumku dengan kecantikan yang tak abadi, sementara aku hanya bisa hidup dengan kecantikan ini” (Hal. ix). Ibad dalam buku novel ini menjadi sosok penasehat bagi berlangsunganya kehidupan kaum hawa. Diakui atau tidak, bahwa kaum hawa merupakan identik dengan kecantikan dan selalu bersolek dalam kesehariannya. Ini dengan tujuan menambah daya tariknya terhadap lawan jenisnya.

Sangatlah wajar dan pantas dalam menjalani kehidupan ini jika seorang perempuan selalu bersolek dan memperindah diri. Karena perempuan hanya menunggu laki-laki yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak. Sebagai seorang laki-laki hanya akan memilih dan menilai mana perempuan yang cocok untuk menjadi pasangan hidupnya agar mencapai keluarga yang harmonis dan penuh dengan cinta.

Sebenarnya jika kita melihat isi penjelasan Ibad melalui seluk beluk tulisannya ini, bahwa kecantikan bukanlah ukuran utama dalam menjalani kehidupa ini. Kecantikan hanya akan mendatangkan fitnah dan petaka dalam kehidupan. Memilih seorang gadis untuk menjadi pendamping hidup tidaklah harus dari kecantikannya, akan tetapi saling setia demi mencapai keharmonisan keluarga.

Dampak Nikah Paksa

Apapun yang dipaksakan dalam pelaksanaannya, tentu akan ada dampak yang tidak enak dari buah hasil pelaksanaan pemaksaan tersebut. Dalam ajaran agama Islam saja memaksa tidaklah dibenarkan. Namun tak kalah penting dengan adat pernikahan di belahan dunia ini, kawin paksa sering kita dengar dan dampaknya cukup tidak baik bagi salah satu pasangan suami istri (Pasutri) tersebut, katakanlah Siti Nurbaya tidak akan pernah sirna dari kehidupan ini.

Ibad dalam kaitannya dengan kawin paksa melukisakan dampaknya tersebut melalui kata-kata yang begitu lugas dalam novel ini. Dalam kawin paksa itu tentu ada ketegangan yang terjadi jika peristiwa itu berlanjut dan tidak sesuai dengan keinginan orang yang akan menjalani kehidupan berkeluarga tersebut. Memang, meskipun berjalan begitu mulus pelaksanaannya, akan tetapi jika ada salah satu jiwa Pasutri itu masih merasa tertekan, suatu saat akan melakukan pemberontakan.

Tulisan Ibad ini akan menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menghadapi pernikahan yang dipaksakan. Hal-hal yang dipaksakan tidaklah bernilai baik, berupa apupun itu alasannya, meskipun toh alasannya baik dan diterima oleh Pasutri, di kemudian hari akan sudah tentu ada keregangan keluarga, bisa jadi perceraian yang terjadi. Padahal, dalam ajaran agama Islam tujuan nikah adalah keharmonisan dan kebahagiaan yang harus berlanjut.

Mengapa dalam ajaran Islam mengawinkan perempuan yang masih gadis itu masih boleh dipaksakan oleh orang tua? Ini yang menjadi pertanyaan besar bagi kita saat ini. Ya, memang kadang benar pilihan orang tua, kadang juga seorang Gus dalam memilihkan jodoh, akan tetapi jika orang tersebut bukan pilihan kita dan kita tidak mau, kita sendiri yang akan menanggung akibatnya.

Kebahagiaan, kesengsaraan, pertengkaran, kesusahan, dan tanggung jawab hidup kelak dalam perjalanan hidup bukan kembali pada comblang, tetapi kembali pada yang menjalani. Apakah dalam hal demikian tidak haram dan berdosa bagi Ortu atau seorang Gus menyiksa batin seseorang dengan kekeramatannya? Orang tua memang bertujuan membahagiakan anaknya dengan pilihannya pula, jika anak itu merasa bahagia, maka orang tuanya pun akan ikut dalam kebahagiaan tersebut.

Ibad menggambarkan sosok orang yang dipaksakan dalam menikah. Melalui tulisannya ini bahwa mereka yang yang dipaksa menikah dengan orang yang bukan pilihannya dengan alasan apapun (layaknya Siti Nurbaya) kerukunan dan keluarga yang sakinah sangat sulit untuk digapai dalam kehidupannya. Paling tidak novel ini menjadi sebuah bacaan dan pelajaran bagi kita semua dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia.

Minyikapi Pangkat

“Berbaur dan bergaullah dengan masyarakat luas dengan penuh cinta kasih karena merekalah kelak yang akan menjadi bimbinganmun. Bersikaplah terbuka untuk siapa saja dan jangan menutupi diri. Posisi Gus bukanlah kedudukan yang pantas dibanggakan, bukanlah status yang harus dipuja dan disegani. Jadikanlah posisi Gus sebagaimana pengusaha, petani, pengemis, gelandangan, dan lain sebagainya. Hapuslah jarak antara Gus dengan masyarakat kebanyakan. Status Gus adalah untuk memberikan pelayanan dan bukan untuk mendapat pelayanan. Dekatilah umat sebelum mendekatimu. Rangkullah umat dengan penuh kemesraan sebelum mereka merangkulmu. Buatlah mereka bahagia dengan pelayananmu. Dengan demikian mereka akan menjadi barisan setia dalam jemaatmu dan mau mendengarkanmu” (Hal. 62-63).

Hal yang sangat mendominasi dalam tradisi pernikahan adalah pangkat dan kedudukan. Islam saja dalam ajarannya menganjurkan hidup yang penuh bahagia dalam menentukan pilihan. Ibad dalam menggambarkan kuasa nikah ini menggunakan sesosok Gus yang memiliki kekeramatan yang sangat disegani oleh para pengikutnya, dengan kekermatannya itu segala keinginannya untuk melakukan apa saja mudah untuk dicapai dan dilakukan, khususnya dalam urusan pernikahan.

Namun, novel ini akan menjadi sebuah nasehat bagi kita sebagai pembaca dalam menyikapi pangkat dan kedudukan yang kita miliki. Bukan untuk semena-mena, apalagi sebagai seorang Gus tidaklah harus mengutamakan kepangkatannya dalam segala urusan hidup.

 

* Peresensi adalah mahsiswa jurusan Sastra Inggris fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Hp          : 087866119361      
E-Mail     : john_gapura@yahoo.com

Kamis, 05 April 2012

4 TAHUN BERSAMA PMII: Sebuah Proses Menghadirikan Kesadaran

Penulis : Syamsul Hadi
Editor : Syamsuuddin Sirah
Sambutan : Drs. H. Marinah Hardi (DPRD NTB 2009-2014)
Pengantar : Fairus Zabadi, SH (Ketua NU kota Mataram)
Pengantar : Erma Suryani, M. Ag (Ketua Kopri PC PMII Mataram 1990-2000)
Penerbit : Elhikam Press Lombok
ISBN : 978-602-19310-3-5
Ukuran : 13 Cm x 20 Cm
Cetakan 1 muharram 1433 H/Desember 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang All Right Reserved

Berita Radar Lombok Edisi senin 20/02/12
Kiprah Syamsul Hadi Senbaghai Penulis Muda NTB”
Belajar Darti Organisasi, Terinsfirasi Kondisi Guru Indonesia
Tidak banyak penulis muda yang muncul dipermukaan. Bagi syamsul hadi, sebagai penulis muda, dia ingin karya tulisya bias menggugah kesadaran diri dan lingkungan.
SYAMSUL HADI masih duduk di bangku kuliah IKIP Mataram. Meski masoih tercatat mahasiswa, sudah banyak karya tulis yang dihasilkannya. Dalam setiap karyanya, ia berusaha menuangkan buah pikirannya., meski itu masih bersifat local dengan bahasanya yang luigasdan sederhana. Namun karya tulis baginy, bisa menggugah masyarakat melalui pola piker yang disajikan lewat kalimat yang penuh dengan pesan dan nasehat.
Itulah salah satu alasannya ia menerbitkan karyanya “4 TAHUN BERSAMA PMII: Sebuah Proses Menghadirkan Kesadaran”. buku di terbitkan oleh al Hikam Press Lombok ini berisi 113 halaman yang di akhiri dengan biodata dirinya sebagai penulis buku ini.


Pria kelahiran 31 desember 1989, dusun nangker desa pandan indah kecamatan Praya Barat Daya Kabupaten Lombok Tengah. Ini mencoba mengulas sejarah kehidupan diri dan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IKIP Mataram.
Mulai dari awal keberangkatannya di sebuah gubuk yang penuh dengan tekanan otang tua yang serba mengatur langkahnya dalam bergaul. Hingga akhirnya ia mencoba menemukan titik dari secercah pengalaman di organisasi.
Seperti yang di ungkapkan anggota DPRD Prov. NTB, Drs. H. Marinah Hardi Dalam sambutannya. Bahwa tradisi menulis masih belum menjadi bagaian kegiatan masyarakat. Dimana orang lebih mengutamakan kekuatan lisan dan otak dari pada kekuatan pena.
Marinah dalam prolog buku ini mengatakan, belum banyak masyarakat NTB yang mau menuangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Sehinga kelemahan itu menjadi kemandekan bagi masyarakat NTB untuk berkembang di bidang karya tulis. Sesederhana apa tulisan itu tetap menjadi semangat bagi masyarakat pada umumnya Terutama anak muda seperti syamsul hadi.
Bagi syamsul, menulis adalah sebuah proses untuk menggugah kesadaran masyarakat. Dia tergugah menulis setelah membaca sebuah artikel yang di muat media masa tahun 2009 lalu. Dalam tulisan itu, di kupas meskinya karya guru busar di indoensai.
Dia ter insfirasi untuk bisa menghasilkan karya tulis. Syamsul mulai dengan mencoba menuangkan pengalaman yang didapatkannya dari organisasi, realitas social yang ada serta pengalaman hidupnya, “itulah yang membuat saya semangat, sebuah karya bahwa guru besar di Indonesia miskin karya”. Ucapan ketika ditemui Koran ini di tempat indekosnya di jalan pendidikan, mataram.
Baginya, sebuah karya tidak hanya lahir ketika seseorang itu sudah mateng dalam pikiran dan pengalaman. Sehinga pada taha[p penjajakan itu ia bisa menilai dirinya sampai sejauh mana buah pikirannya. Tentunya dengan mengaharpakn keritikan dari sejumlah akademisi, politisi dan elemen masyarakat lainnya yang sudah kenyang makan asam garam dalam berkarya.
Dengan demikian, kedepannya ia bisa membangun dirinya menjadi lenbih baik dengan melahirkan karya-karya yang lebih baik lagi, ketika capaian kedewasaan dalam tingkat umurnya lebih mendukung dengan pengalaman-pengalaman matang. “jika tidak dari sekarang, kapan lagi kita harus mulai”. Paparnya.
Dalam bukunya ini ia lebih banyak berbicara masalah kegiatan organisasinya di samping kehidupan social budaya dan pemerintahan. Dalam berbagai bagaian, ia mencoba menuangkan ke arifan budaya loka, social politik dan pendidikan yang ada di NTB. Sehinga di harapkannya mampui menjadi sebuah proses menuju kesadaran. Sosok pemuda sederhana itu mengakui, bahwa apa yang ditulisnya dalam bukunya ini masih sangat lemah dan belum matang. Namun hal itu akan menjadi semangatnya kedepan untuk menciptkan karya yang lebih berkualitas. Saat ini, ia tengah menggarap sebuah karya tentang Melirik Desa Dari Jauh. Dalam karya terbaru yang belum ia terbitkan ini nantinya akan berisi pembangunan di desa yang belum banyak tersentuh.
Ia mencoba mengangkat ketimpangan pembangunan di desa dengan tolak ukurnya adalah listrik, pendidikan dan fasilitas jalan. “jurusan tidak penting, tapi bagaimana kepekaan seseorang melihat realitas social. Itulah yang saya coba tuangkan dalam tuliasn itu nantinya”. Hayalannya. Sumber (DALAAH-MATARAM Radar Lombok Edisi Senin 20/02/2012)
Syamsul Hadi menunjukkan buku hasil karyanya. Meski masih duduk di bangkui kuliah, dia sudah aktiv menulis.



(Syamsul Hadi adalah Gubraker asal Lombok Nusa Tenggara Barat)

Senin, 02 April 2012

Membongkar Proyek Khilafah Ala Hizbut Tahrir Indonesia

Pada hakikatnya, konsep negara Islam khilâfah yang given dan applicated tidak menemukan pembenarannya, baik secara normatif, historis, maupun sosial. Tidak ditemukan referensi normatif, historis, maupun sosial tentang kewajiban menegakkan khilâfah dan menerapkan hukum-hukum syari’at, sekalipun itu adalah negara Madinah pada masa Nabi Muhammad Saw.

Buku ini membahas konsep negara Islam versi Hizb al-Tahrîr (khilâfah atau al-dawlah al-Islâmiyyah). Lewat buku ini, penulis mengkaji aspek epistemologis dan ideologis dari konsep khilâfah yang terdapat di dalam kitab-kitab, buku-buku, dan tulisan-tulisan yang mereka terbitkan, serta pengamatan dan keterlibatan penulis di lapangan. Lewat hasil kajian dan pengalaman keterlibatannya secara langsung, penulis mencurigai bahwa gerakan khilâfah yang diklaim sebagai kewajiban agama sebenarnya merupakan cermin dari proses komodifikasi dan politisasi agama dalam proses sosial. Dalam hal ini, Islam hanya berfungsi sebagai alat legitimasi gerakan politik semata. Sebab, pada hakikatnya, konsep negara Islam khilâfah yang given dan applicated tidak menemukan pembenarannya, baik secara normatif, historis, maupun sosial. Tidak ditemukan referensi normatif, historis, maupun sosial tentang kewajiban menegakkan khilâfah dan menerapkan hukum-hukum syari’at, sekalipun itu adalah negara Madinah pada masa Nabi Muhammad Saw. dan Khul
afa’ ar-Rasyidin, yang diklaim oleh kalangan hizbiyyin—sebutan bagi aktivis Hizb al-Tahrîr—sebagai model ideal negara Islam. Nash-nash agama, baik Al-Qur’an, hadits maupun ijma’, tidak menyebutkan secara eksplisit dan transparan tentang hal itu, selain kewajiban menegakkan amr ma’ruf nahy munkar dengan cara-cara yang damai dan toleran.

Pendek kata, khilâfah lebih merupakan produk kreativitas manusia untuk mengatur dan menyelenggarakan pemerintahan yang bersih dan akuntabel, sehingga bukan merupakan kewajiban agama yang harus ditegakkan oleh umat Islam. Jelasnya, angan-angan mendirikan khilâfah pada saat ini tak lebih dari romantisme sejarah, ahistoris, dan tidak punya landasan sosial sama sekali, lebih-lebih di Indonesia sebagai negara yang plural. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa klaim khilâfah dapat menyelesaikan semua permasalahan kebangsaan dan kemasyarakatan hanyalah pepesan kosong belaka.

HArga buku : Rp. 50 000
Untuk pemesanan hub: komandan Gubrak
Hp: 0838 9903 7416/0853 8397 9685/0818 155684

Minggu, 12 Februari 2012

Menelanjangi Wahhabi

Bukan Resensi: Cuma iseng, tapi SERIUS!!

Menelanjangi Wahhabi

“Membongkar Kekejaman Wahhabi dan Kejahatan dalam Pemalsuan Kitab Ulama Klasik”

Kata Pengantarnya ditulis oleh Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, M.A. dan ada pendapat dari KH. Ma'ruf Amin (MUI), Muhammad Arifin Ilham juga. Pas kan? heheh

Beberapa waktu lalu, penulis ‘cangkruk’ di rumah sahabat lama. Di antara meja bukunya, penulis menemukan sebuah buku yang judulnya menarik untuk dilihat, buku yang penulis lihat berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahhabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bagaimana? Berdesirkah rasa keingin-tahuan anda ketika membaca judul tersebut? J, buku-buki ini diterbitkan oleh Pustaka Pesantren, TAHUN INI. Mungkin ini karena memang banyak yang sudah “gerah” atas tindak tanduk pemahaman dan metode Wahhabi selama ini.


 MENELANJANGI WAHABI

Bukan Resensi: Cuma iseng, tapi SERIUS!!

Menelanjangi Wahhabi

“Membongkar Kekejaman Wahhabi dan Kejahatan dalam Pemalsuan Kitab Ulama Klasik”

Kata Pengantarnya ditulis oleh Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, M.A. dan ada pendapat dari KH. Ma'ruf Amin (MUI), Muhammad Arifin Ilham juga. Pas kan? heheh

Beberapa waktu lalu, penulis ‘cangkruk’ di rumah sahabat lama. Di antara meja bukunya, penulis menemukan sebuah buku yang judulnya menarik untuk dilihat, buku yang penulis lihat berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahhabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bagaimana? Berdesirkah rasa keingin-tahuan anda ketika membaca judul tersebut? J, buku-buki ini diterbitkan oleh Pustaka Pesantren, TAHUN INI. Mungkin ini karena memang banyak yang sudah “gerah” atas tindak tanduk pemahaman dan metode Wahhabi selama ini.

"Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahhabi"

Buku ini ditulis oleh Syaikh Idahram, yang menurut hemat penulis adalah nama pena. Buku tersebut merupakan bagian dari “Trilogi Data dan Fakta Penyimpangan Wahhabi”, seperti film saja memang, namun itulah kenyataannya. Tiga buku yang akan mengupas tuntas mengenai sejarah berdarah, pemalsuan kitab-kitab karya ulama klasik, dan ulama sejagad menggugat Wahhabi. Kita mulai dari Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi dengan judul kecil Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.

Buku setebal 276 halaman ini mencoba menelusur Salafi-Wahhabi, mulai dari kemunculannya, asal penamaan salafi/wahhabi, hingga tragedi berdarah yang menghilangkan ribuan nyawa. Ada lima “pintu” yang akan dilewati para pembaca. Pintu yang pertama, Syaikh Idahram (selanjutnya disebut SI) mencoba menjelaskan sejarah kemunculan salafi-wahhabi. Dan menyebutkan mulai dari nama pendirinya, ulama-ulama Wahhabi, hingga pengikutnya di belahan negara lain termasuk di Indonesia (lihat h. 23-39).

Setelah berhasil melewati pintu pertama, tentu anda akan sudah memahami siapa dan bagaimana Wahhabi itu sendiri, kemudian bersiaplah untuk memasuki pintu kedua (bab paling menyeramkan). Pada pintu kedua ini, SI mengisahkan peristiwa-peristiwa memilukan yang mengiringi eksistensi Salafi-Wahhabi di Arab. Mulai dari pembunuhan ribuan umat islam di Karbala, Thaif, Madinah dan Makkah, Uyainah, Ahsaa, Riyadh, Qashim, Quwait, serta pembunuhan-pembunuhan pada para ulama yang tidak sepakat dengan Muhammad ibnu Abdul Wahhab, termasuk pembakaran-pembakaran kitab dan bekerja sama dengan Inggris merongrong Kekhalifahan Turki Utsmani. (Lihat h. 61-135). Apakah ini hanya bualan belaka dari sang penulis (SI) untuk menyudutkan salafi-wahhabi? Untuk menjawab itu semua, SI tidak hanya menyertakan sumber-sumber dari ulama yang kontra, melainkan didominasi oleh sumber-sumber dari sejarawan Wahhabi sendiri, bahkan dari kitab ‘suci’ mereka yang ditulis oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab seperti ad-Durar as-Saniyah dan banyak lagi.

Bagaimana dengan pintu kedua? Hmm.. Setelah melewati pintu kedua itu, kesan kita pada gerakan ini mungkin akan sama, yaitu “KEJI”. Baiklah, di pintu ketiga ini, SI menjabarkan tentang hadis-hadis Rasulullah SAW yang berkaitan dengan ciri-ciri golongan ini. Begitu banyak hadits yang disertakan, serta penjabarannya menurut para ulama (bukan hanya SI). Sajian ini, dikhusukan untuk membedah kemunculan sekte Salafi-Wahhabi sesuai dengan apa yang sudah disampaikan Rasulullah jauh sebelum kemunculan salafi-Wahhabi di tanah Arab.

Langsung saja kita lanjutkan pada pintu keempat di mana SI menjelaskan tentang fatwa-fatwa dan pendapat salafi-wahhabi yang dianggap menyimpang semisal fatwa sesatnya Zikir La ilaaha illallah, keharaman ziarah ke makam Rasulullah, fatwa bahwa yang membaca Qur’an untuk si mayyit akan diazab, dan banyak lagi fatwa-fatwa yang menyimpang yang telah dikeluarkan oleh salafi-wahhabi. SI menyertakan dalil baik Qur’an maupun Hadits dari banyak kitab (dari ulama-ulama terkenal) untuk membantah fatwa menyimpang yang dikeluarkan salafi-wahhabi yang kerap menuduh umat islam selain salafi-wahhabi adalah sesat, kafir, dan musyrik.

Akhirnya, sampailah pada pintu terakhir dalam buku ini. SI mencoba mengoreksi dan mengkritik (kalau menurut saya “menelanjangi”) konsep dan manhaj salafi-wahhabi, menganggap penisbatan salafi-wahhabi sebagai sebuah kerancuan, serta menganggapnya serupa dengan khawarij (Lihat h. 201-248).

Setelah melewati kelima pintu tersebut, SI pun sudah menyiapkan tiga pintu lagi untuk mengetahui bahwa salafi-wahhabi telah memalsukan kitab-kitab karya ulama klasik. Tapi tidak saya kasih tahu dulu.. biar penasaran. Buku ini layak dibaca untuk meningkatkan pemahaman kita akan sekte salafi-wahhabi. Selain didukung dengan fakta-fakta yang (bisa dibilang) lengkap dan objektif, karena diambil dari kitab-kitab ulama wahhabi sendiri, SI juga mengutip dalil-dalil lain sebagai pembandingnya. Terkahir, saya hanya ingin berucap.. “Ah Sialan Salafi-Wahhabi ini!!”.

Kamis, 09 Februari 2012

Dakwah Salafi-Wahabi “Berselimut Kepalsuan”

Dakwah Salafi-Wahabi “Berselimut Kepalsuan”

Judul :Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik
Penulis :Syaikh Idahram
Penerbit :Pustaka Pesantren
Tebal Halaman :308 Halaman
ISBN :602-8995-01-0

Inilah buku kedua Syaikh Idahram (selanjutnya SI) yang bertemakan Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi setelah “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” yang cukup mencengangkan itu. Buku kedua SI ini menyikapi temuan-temuannya berupa pemalsuan teks atau penghilangan sebagian isi yang terdapat di banyak kitab Karya Ulama Klasik terbitan salafi-wahabi.


Lagi, Menelanjangi Wahhabi

Review Buku

Dakwah Salafi-Wahabi “Berselimut Kepalsuan”

Judul :Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik
Penulis :Syaikh Idahram
Penerbit :Pustaka Pesantren
Tebal Halaman :308 Halaman
ISBN :602-8995-01-0

Inilah buku kedua Syaikh Idahram (selanjutnya SI) yang bertemakan Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi setelah “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” yang cukup mencengangkan itu. Buku kedua SI ini menyikapi temuan-temuannya berupa pemalsuan teks atau penghilangan sebagian isi yang terdapat di banyak kitab Karya Ulama Klasik terbitan salafi-wahabi.

Pembaca akan disambut oleh dua pakar terkenal sebelum memasuki bahasan lebih jauh mengenai pemalsuan kitab, di antara yang bakal ditemui adalah Prof. DR. KH. Said Aqil Siraj, M.A., dan Prof. DR. Azyumardi Azra, M.A., PHIL., mereka turut memberikan kata pengantar dalam buku ini. Kedua tokoh penting di Indonesia tersebut, ikut andil dalam menyikapi gerakan trans-nasional salafi-wahabi di Indonesia dan Dunia pada umumnya.

Ada tiga pintu yang harus dilewati pembaca untuk memahami permasalahan yang diangkat SI dalam buki ini. Untuk Pintu pertama buku kedua ini, SI kembali mengajak pembacanya untuk mengenal apa dan bagaimana Salafi-Wahabi itu, dan mengungkapkan keanehan penyebutan salafi yang disematkan pada pengikut Muhammad ibnu Abdul Wahab (Pendiri Wahabi), di mana penggunakan istilah salaf yang semena-mena. Mungkin, yang sering mendengar nama Nashiruddin al-Al Bani akan kembali mengenalnya dalam bahasan penamaan salafi. (h. 32),

Pintu kedua buku ini mencermati tentang Bukti Autentik Pemalsuan Kitab dan Penyelewengan Teks. bermula dari rapuhnya ajaran (h. 37), perintah untuk membakar Buku-Buku dan Memalsukannya (h. 49), pemalsuan kitab al-Adzkar karya Imam Nawawi (h. 51), Syarh al-Aqidah ath-Thohawiyah (h. 58), Aqidah as-Salaf ashabu al-Hadits (h. 60), Hasyiah ash-Shawi (h. 67), Diwan Imam Syafi’i, Shahih Bukhori, Shahih Muslim, Penghapusan hadits-hadits dari Kitab Musnad Ahmad, Ruh al-Ma’ani, Majmu’ Fatawa, dan banyak lagi (h. 86 – 115)

Pintu ketiga dalam buku ini mencermati teks-teks menyimpang dalam Buku-Buku Salafi-Wahabi. Di antaranya kitab ad-Durar as-Saniyah, dll. Memusyrikkan Seluruh Umat Islam dan Ulamanya, pengkafiran-pengkafiran (takfir) ulama wahabi pada ulama-ulama lainnya, Asy’ariyah dan Mathuridiyah (NU) dianggap bukan ahlusunnah-wal jama’ah, berakidah tasybih dan tajsim, dan masih banyak lagi bahasan-bahasan mengenai penyimpangan-penyimpangan buku karya ulama-ulama Salafi-Wahabi yang terekam (h. 119 – 287)

Buku ditutup dengan kesimpulan yang terintegrasi dalam bahasan terakhir yang berisi pesan SI agar tidak mudah mengkafirkan golongan lain dan memaksa golongan lain untuk ikut dalam kelompoknya. Salafi-Wahabi seperti dikenal menjadi golongan yang kerap mengkafirkan dan menganggap sesat golongan selain dari Salafi Wahabi sendiri, sehingga konflik antar umat islam kian diperuncing dengan anggapan bahwa selain Salafi-Wahabi dianggap sesat, padahal ulama-ulama secara umum tidak mudah mengkafirkan yang lainnya (h. 295).

Mencermati bagaimana metode penulis (SI) dalam buku ini untuk menguak tabir yang menyelimuti apa dan bagaimana Salafi Wahabi yang menggunakan analisa komprehensif dari kitab-kitab terbitan ulama-ulama Salafi-Wahabi sendiri dan dikomparasi dengan kitab-kitab aslinya untuk membuktikan adanya pemalsuan dan pengurangan teks kitab asli dari ulama-ulama klasik. Ini juga membantu para pembacanya yang concern di bidang pergerakan dan aliran keagamaan yang berkembang pasca Rasulullah SAW hingga kini. Buku ini juga mempertegas asumsi awalnya, yaitu membuktikan bahwa Salafi-Wahabi memang melakukannya.

Selain berisi torehan sejarah tentang Salafi Wahabi, buku ini sangat menarik dan bernilai untuk dijadikan referensi, terutama bagi mereka yang tertarik dengan tingkah pola sekte Salafi-Wahabi yang berasal dari Nejd, Saudi Arabia ini. Buku ini juga bisa digunakan sebagai bahan diskusi dalam membandingkan dan menguak metode dakwah Salafi-Wahabi di dunia. Terakhir, semoga buku ini juga mampu memotivasi banyak kalangan muslim untuk kembali membuka-buka kitab kuning dan kembali mempelajarinya seperti sedia kala keterkenalan ‘Islam Indonesia’. Bagaimana? tertarik membeli??*

Celoteh Luthfi Harits (Wong Gendheng)
Hanya Pemerhati yang kadang Prihatin.. 
Dalam http://www.sarangpengembara.blogspot.com