Tampilkan postingan dengan label Gubrak the series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gubrak the series. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2012

Kembalinya Garuda Buntung (seri 3)

Tekad bulat telah menggumpal di dada. Berat memang. Butuh pengorbanan yang tidak sedikit, seperti yang pernah ustadz Alay sampaikan. Bahwa skenarionya mungkin tidak sesimple yang kita pikirkan. Bisa saja uang itu tidak hanya berputar  ke satu dua tangan, tapi bisa belasan, puluhan dan ratusan kali transaksi. Kemungkinan juga, uang itu tak sekedar beredar di seputaran Jakarta, tapi boleh jadi telah keluar kota, mendaki gunung, melintasi samudra, merambah hutan dan tersesat di pulau pulau terpencil. Bisa jadi…

Paijo membuka dompetnya. Sebuah cincin perak bermahkotakan batu mulia berwarna hijau menyembul di antara puluhan uang pecahan seribu rupiah.

“Ane kaga punya ape ape, Jo” ucap ustadz Alay sembari meloloskan sebuah cincin dari jari kelingkingnya, “ ini warisan dari guru ane waktu di pesantren, ente pegang aje Jo”.
“Jimat, tadz ?”

Ustadz Alay mengangguk anggukkan kepala, entah mengiyakan atau tidak.

“Khan ini bid’ah, tadz ?” Paijo ragu ragu.

“Udeh, kaga usah banyak protes, ntar juga ketemu jawabannya” timpal ustadz Alay tak mau berpolemik.

Paijo kembali melipat dompetnya, meletakkannya di saku celana sebelah kanan. Sementara cincin batu itu kini melekat erat di jari kirinya.

Bodoh amat dengan bid’ah. Pikir Paijo. Yang jelas keberadaan cincin itu bagi Paijo selain menambah rasa kepercayaan diri Paijo, juga menjadi wakil dari ustadz Alay di sepanjang perjalanannya nanti. Apalagi kata ustadz Alay, cincin itu warisan dari gurunya. Tentu bukanlah sembarang cincin. Bisa jadi ada jinnya…!!!!

Ha ha ha ha…..

Seringai Paijo menepuk jok sepeda bututnya. Sejurus kemudian mesin angin itu perlahan melesat menjauhi gubuk Paijo.

Era baru dimulai. Era yang barangkali penuh onak berduri. Era di mana Paijo harus menunjukkan kepada dunia bahwa ia masih punya harga diri. Masih punya cita cita mulia untuk ia perjuangkan. Selembar uang pecahan seribu dengan cacat buntung di bagian sayap garudanya kini di mata Paijo tidak lagi setara dengan nilai dua gorengan atau dua gelas air mineral. Ia telah menjelma tak ubahnya intan berlian peninggalan Raja Raja dahulu yang tak bisa di nilai dengan materi. Ia telah menjadi bagian dari sejarah yang tertulis dalam tinta emas dan harus di jaga dengan keringat dan kalau perlu darah. Tak peduli berapa jarak yang mesti ia tempuh. Tak peduli berapa banyak manusia yang harus ia cari dan ia mintai keterangan perihal aliran uang itu, tak peduli ia harus menerima cibiran orang orang yang tak mengerti masalah, Paijo telah membuat ketetapan. Ia harus mencari jawabannya. Ya…jawaban…!

Paijo menggeber sepeda bututnya tergesa gesa. Menuju pinggiran kota dimana dulu uang itu ia serahkan kepada seorang penjaga parkir berseragam ormas. Hanya butuh kurang dari satu jam Paijo telah mencapai lokasi. Sebuah kebun kosong dengan tanaman ilalang tersaji di depan mata. Paijo nyaris tak percaya, apakah ini lokasi yang kemarin pernah ia temui ?. Jangan jangan ia salah alamat ?.

Oh tidak!. Pohon besar dimana ia pernah memarkir sepedanya masih berdiri kokoh di kebun itu. Jalanan setapak yang walau sudah di tumbuhi rumput rumput liar masih jelas terlihat bekasnya. Pintu masuk Pasar Malam yang terbuat dari bambu juga masih teronggok di situ, walau beberapa bagiannya telah lapuk. Tidak salah. Inilah tempatnya…

Tapi, dimana pria berseragam ormas yang sempat menghardiknya itu ?

Paijo terbengong bengong. Matanya menyapu ke semua area sembari berharap ada orang yang bisa ia mintai keterangan. Sejenak Paijo memutar otak. Tak mungkin ia terus terusan diam di tempat yang sekarang berubah menjadi sepi sesunyi kuburan itu. Iya kalau ada yang bisa ia temui, kalau tidak ?. Tidak mungkin ia menggelar tenda dan menunggu ada orang yang dating kesitu hingga esok hari.

Oh….!!! Tak jauh dari tempat ini ada sebuah kampung padat penduduk yang mungkin bisa membantu menemukan buronannya. Dan tanpa pikir panjang Paijo segera bergerak menuju perkampungan yang terpaut beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri. Sepuluh menit kemudian ia telah sampai di tempat yang di tuju. Sebuah gapura kecil bertuliskan nama kampung  tertera di bagian atas berwarna kuning kusam. Perkampungan yang cukup padat, walaupun rata rata terdiri dari bangunan bangunan sederhana, kecil dan terkesan kumuh. Tapi Paijo sangat yakin bahwa penduduk di situ pasti banyak yang tahu kalau dua bulan lalu ada even pasar malam di kebun kosong di luar kampungnya.

“Dik….!” panggil Paijo pada 3 anak kecil berusia 9 tahunan yang sedang asyik main gundu di pinggir jalan.

Seorang darinya kemudian menoleh dan mendatangi Paijo.

“Rumahnya pak RT dimana ya ?” tanya Paijo.

Bocah itu tak segera menjawab. Matanya menatap heran ke arah Paijo penuh selidik. Tapi sebentar kemudian ia menjawab, “tuh, rumah warna orange di ujung jalan” telunjuknya mengarahkan Paijo.

“Makasih ya dik” Paijo menaiki sepedanya, dan bergegas.

“Hati hati bang, pak RT abis ribut semalam”

“Ribut ?” Paijo menurunkan kakinya.

“Ribut gimana dik ?” tanya Paijo penasaran.

“Biasa bang….!. Bininya di bawa kabur bang Jeki…”

“Bang Jeki siapa ?”

“Preman kampung ini bang…”

“Yang mana ?” Paijo makin penasaran.

“Yang pegang kawasan Pasar Malam di sono tuh…!” telunjuk bocah itu menunjuk ke arah luar desa. Searah dengan lokasi di mana tadi Paijo berhenti.

“Kebun kosong itu ?”

“Ya!!”

Paijo mengerutkan dahinya. Jangan jangan…

“Bang Jeki tuh yang rambutnya cepak, badannya besar, trus  tahi lalatnya di deket alis itu ya ?” Paijo berusaha mengingat tampang pria yang pernah memerasnya tempo silam.

“Kok abang kenal ?”

“Adik tahu rumahnya gak ?” cecar Paijo tanpa mempedulikan pertanyaan bocah SD itu.

“Tahu, tapi orangnya udah kabur bang….”.

“Apa ?????” Paijo terkesiap. Rona kecewa menggelayuti air mukanya. Berita buruk bagi misinya jika ia gagal menemukan Jeki preman pasar malam.

“Kabur kemana ?” desak Paijo.

Bocah itu menggaruk garuk kepala.

“Kemana ?” setengah membentak.

“Nggak tahu, bang. Tanya pak RT aja…”. Sejurus kemudian bocah itu dengan acuh meninggalkan Paijo.

Ingin rasanya Paijo menginvestigasi bocah itu lebih jauh, tapi ia urungkan. Anak kecil mana paham urusan orang dewasa. Dengan langkah gontai, Paijo mengayuh sepeda anginnya menuju rumah berwarna orange di ujung jalan. Selembar bendera warna merah putih yang terpasang di sebatang bilahan bambu di belakang jok sepedanya berkibar kibar mengiringi perjalanan Paijo.

“Si Jeki bangsat itu telah menghancurkan kehidupan bapak”

Pria tua dengan rambut yang semuanya hampir memutih itu tampak muram. Bibirnya yang kering tak henti hentinya menghembuskan asap rokok berbau kemenyan. Paijo hanya bisa diam menyimak segala keluh kesah yang keluar dari mulut ketua RT kampung itu. Jika bukan karena ia hendak mencari pria bernama Jeki itu, tentu Paijo malas mendengarkan curhat sang Ketua RT.

“Dulu, bapak yang menolong dia. Mempekerjakan dia sebagai keamanan di kampung ini “tutur pak RT bergetar menahan pilu.

“Semua orang menganggapnya sampah pengangguran yang tak punya masa depan. Bapak yang ngangkat harkatnya. Bapak yang mengeluarkan dia dari comberan…!”

“Tapi apa yang bapak dapat ? apa ?” pria itu setengah melengking.

“Bajingan!!!!”

Brakk!!!

Serapahnya sembari menggebrak meja.

“Maaf, pak “ Paijo menyela,” menurut Paijo, barangkali ada masalah lain yang membuat istri bapak berhianat ?”

Pak RT tertegun. Matanya yang sipit melotot seolah hendak menelanjangi Paijo.

“Maaf…” Paijo jadi serba salah. Ada rasa sesal karena ia telah terlalu jauh menanggapi curhat sang RT.

Sejenak keduanya terdiam dalam pikirannya masing masing. Ada sesuatu yang hendak Paijo katakan, tapi ia takut justru akan memperparah penderitaan tuan rumah. Dalam pandangan Paijo, secara ekonomi pria di depannya ini cukup mapan. Apalagi kalau di banding dengan Jeki preman pasar malam itu. Kalau nggak lebih mapan, mana mungkin dia mau bekerja di rumah pak RT. Sebagai keamanan rumah dan juga keamanan kampung. Bagaimanapun, faktor ekonomi adalah salah satu yang utama dalam membina rumah tangga. Apalagi perempuan jaman sekarang, cinta nomer sekian….! Nomer satu sudah barang tentu materi. Itu pula yang membuat Paijo hingga saat ini belum mendapatkan tambatan hati pujaan jiwa. Kemiskinan.

Dari segi penampilan, biar sudah uzur tapi orang tua di depan Paijo itu sepertinya tidak kalah tampan dengan Jeki. Cara berpakaiannya lebih rapi dan setidaknya reputasinya di masyarakat lebih terhormat. Namun jika itu masih saja tidak mampu membuat istrinya bertahan untuk setia, sudah pasti ada faktor X yang fundamental dalam mempengaruhi kehidupan rumah tangga.

Mungkinkah ???.

Paijo seolah menemukan jawaban. Otaknya melayang mengingat sesuatu. Ya…!. Sebuah penelitian kesehatan. Ya….!.Setidaknya menurut survey, 6 dari 10 pria mengalami masalah disfungsi ereksi.

Waduhhhh….! Paijo tercengang.

“Ya…!” pak RT tiba tiba memecah keheningan. Lelaki tua ini seolah tahu apa yang ada di pikiran Paijo.

“Bapak memang tidak mampu menjalankan fungsi sebagai seorang pria sejati”

“Bukan itu maksud….” Paijo terbata bata berusaha mengelak.

“Tenang, Jo” pak RT berusaha menghapus rasa was was Paijo.

“Trus, apa yang mau bapak lakukan ?.

Apa yang bisa Paijo Bantu ?.

Mencari istri bapak ?” tanya Paijo masih sedikit grogi.

Pria tua dengan rambut hampir seluruhnya memutih itu menghela nafas. Memandang lekat lekat ke arah Paijo. Tatapannya terasa sejuk tapi sama sekali tak bisa menutupi kegalauan hatinya.

“Paijo bisa Bantu bapak ?”.

“Ehmmmm….tapi…”

“Soal akomodasi gampang “ janji pak RT meyakinkan Paijo.

“Bantu apa pak ?. Mencari bang Jeki ?” Paijo sumringah. Jangankan di janjikan akomodasi, nggak ada akomodasipun Paijo akan dengan sukarela mencari preman pembawa kabur bini orang itu. Sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali mencari bang Jeki, satu dua masalah terselesaikan.

“Siap !!!!” tegas Paijo berapi api.

“Ha ha ha ha ha…” Pak RT tertawa lebar. Air mukanya mendadak berseri seri. Lelaki itu kemudian berdiri menghampiri Paijo. Menepuk pundak Paijo berkali kali dengan terus menghamburkan tawa penuh kegirangan. Sementara Paijo yang merasa akan mendapatkan tambahan energi dalam upaya penyelidikan Garuda Buntung tak henti henti mengumbar senyum.

“Paijo siap. Paijo akan Bantu bapak. Tenang pak…! Semua akan segera selesai. Istri bapak akan segera kembali…!” sumbar Paijo berlagak pahlawan.

“Bukan….bukan itu maksud bapak” tiba tiba pak RT memotong.

“Lalu ?” Paijo tak mengerti.

Perlahan pak RT mendekat ke telinga Paijo.

“Bantu bapak cariin obat biar meriam bapak pulih lagi “bisik pak RT ke Paijo.

“Whatttt ????”


Bersambung

Oleh : Dainx Komandan Gubrak

Kamis, 26 April 2012

Kembalinya Garuda Buntung (seri 2)

“Bentar coy…! ancam Paijo masih pada sang Garuda buntung di depannya.

“Awas…! Jangan kemana mana, urusan kita belum kelar…”.

Paijo beringsut mengarahkan pandangannya pada layar tivi hitam putih pemberian Koh Ponky setahun yang lalu. Sesekali ia matanya masih melirik sinis ke arah kertas buntung di belakangnya, tak ubahnya seorang sipir penjara yang bengis lagi diktator. Pemuda berkulit kelam ini rupanya tak mau kehilangan momentum untuk melampiaskan kekesalannya akan peristiwa konyol yang menerpanya, sehingga kendati sebuah berita menarik yang tersaji di layar tivi terus menggoda pikiran Paijo.

‘Sebuah forum keagamaan mendesak pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah’

Begitu kira kira isi beritanya, yang kemudian diselingi gambar berupa aksi ratusan laskar merusak sebuah bangunan ibadah milik Ahmadiyah. Gema takbir mengiringi aksi barbar itu. Massa tampak begitu beringas dan tak terkendali. Beberapa polisi yang tampaknya berjumlah lebih sedikit hanya diam melongo menyaksikan kemarahan laskar anti Ahmadiyah itu meluluh lantakkan bangunan masjid berukuran 100m persegi itu. Tidak cukup dengan tindakan brutal, di segmen lain seorang pria berpakaian serba putih tampak berpidato di depan jamaahnya dengan nada berapi api.

Ahmadiyah telah menistakan agama kita. Mereka mengakui nabi setelah nabi kita Muhammad. Ini tantangan pada keyakinan kita. Jangan berpangku tangan. Kejar terus musuh mush Allah, hancurkan…!. Buru mereka hingga ke liang lahat !!!!

“Byuuuhhh….segitunya…” Paijo heran.

Sebagai muslim, walaupun  bukan tipe muslim yang taat ibadah, Paijo merasa ada yang aneh dengan tindakan ratusan orang yang barusan ia lihat di tivi. Paijo mungkin tidak begitu memahami apa itu Ahmadiyah, apa itu sesat dan kenapa sepertinya harus di hancurkan ?. Paijo merasa aneh saja, bagaimana bisa para pelaku kekerasan itu mendapat legitimasi, bahkan oleh orang orang yang mengaku sebagai pemimpin agama ?. Bagaimana mungkin mereka bisa dengan begitu yakin bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah bagian dari pembelaan terhadap Tuhan ?.

Sejenak Paijo teringat nasehat ustadz Al Amin Yasmin (biasa Paijo menyebutnya Ustadz Alay), takmir sebuah mushola kecil di kampungnya.

“Islam itu agama damai ?” begitu kata Ustadz Alay. Maka mendakwahkannya harus dengan cara yang damai. Tidak boleh berdakwah dengan cara kekerasan. La ikraaha fi addin. Tidak ada paksaan dalam beragama”

“Lantas kenapa harus ada kekerasan atas nama agama ?” tanya Paijo berusaha kritis.

“Melakukan konfrontasi fisik itu boleh, Jo. Jihad itu namanya. Tapi mesti melalui mekanisme yang di bolehkan menurut agama”

“Maksudnya?”

“Misalnya, jika kamu di usir dari kampung halamanmu, atau hartamu di rampok oleh mereka yang tak punya hak atasnya. Maka kamu boleh berjihad. Boleh melakukan pembelaan diri”

Paijo menggaruk garuk kepala. Apa yang pernah di katakan ustadz Alay sungguh berbeda 180’ dari yang ia saksikan di tivi. Mereka yang melakukan perusakan sama sekali tak memenuhi syarat kebolehan berjihad. Tidak ada yang di usir oleh Ahmadiyah. Tidak ada harta benda yang di ambil oleh Ahmadiyah. Yang terjadi justru malah sebaliknya. Warga Ahmadiyahlah yang terusir dari kampung halamannya, warga Ahmadiyahlah yang dirusak harta bendanya. Jadi….???

Kenapa melakukan kekerasan ?

Kenapa berdalih itu adalah bentuk pembelaan terhadap agama ?

Bahkan tak sedikit yang meyakini bahwa tindakan itu akan membuat mereka masuk surga ?

Surga ?

Gubrak!!!!

Paijo tiba tiba terhenyak dengan kata itu.

Surga. Ganjaran bagi mereka yang berbuat baik. Pahala bagi mereka yang taat kepada Tuhannya. Tempat yang indah, yang semua penduduknya terjamin jiwa dan raga. Tidak ada kesedihan, kekurangan, dan kehinaan. Semuanya serba ada, susu, arak, bahkan bidadari bidadari yang senantiasa perawan.

Surga ?

Benarkah adanya ?

Lantas dimana ?

Dengan cara apa menggapainya ?

Sederetan pertanyaan ini sontak di ajukan Paijo di depan ustadz Alay selepas sembahyang Isya’.

“Surga itu janji Tuhan, Jo. Itu kepastian yang akan di berikan kepada hamba Allah yang taat, yang senantiasa berbuat kebajikan dengan  niat yang tulus dan penuh keyakinan”.

“Trus, dimana Surga itu ?. Apakah ustadz pernah kesana ?” serbu Paijo setengah membantah.

Ustadz Alay tersenyum tipis. Merasa seperti di pojokkan oleh jamaahnya yang satu ini.

“Ustadz pernah kesana ?” Paijo mengulanginya lagi.

Ha haa haa haa ha….

Derail tawa penuh teka teki meledak dari bibir ustadz Alay.

“Aku boleh tanya ke kamu ? ustadz Alay balik menodong.

“Tanya apa ?” bengong. “Boleh…boleh…”..

“Kamu ingat nggak, dulu ibumu pernah bilang bahwa orang yang rajin itu pangkal kaya ?” tanya ustadz Alay.

“Ya!. Kalau Paijo rajin bekerja, nanti bakalan kaya. Bakalan tercapai apa yang Paijo cita citakan?” jawab Paijo.

“Yakin bakal kaya ?”

“Yakin lah, tadz”

“Walaupun sampai sekarang kamu belum kaya ?”

“Ya!!!. Harus yakin !!!” tegas Paijo berapi api.

“Nah itu dia surga….”

“Maksudnya ?” Paijo bingung.

“Orang yang taat kepada Tuhannya, yang berbuat kebajikan dan yang bersungguh sungguh, adalah mereka yang meyakini adanya kenikmatan, adanya kebahagiaaan dan adanya surga setelahnya”

“Dan kenikmatan, kebahagiaan maupun surga itu tidak bisa di kalkulasikan dengan matematika, tidak bisa di logikakan dengan nalar. Modalnya Cuma satu. Yakin. Seperti yang kamu ucapkan tadi”.

Paijo mengangguk. Tapi sepertinya masih bingung jika di kaitkan dengan berita penyerbuan Masjid Ahmadiyah di tivi.

“Bagaimana dengan  mereka yang melakukan kekerasan terhadap aliran lain ?. Apakah mereka benar benar akan masuk surga ?”

Kali ini ustadz Alay geleng geleng kepala. Bukan hendak berkata tidak, tapi sedikit gondok aja melihat Paijo terus menerus menghakiminya. Dan dengan nada sedikit senewen, ustadz Alay berseloroh.

“Mereka sama sepertimu. Yakin!!!”

Gubrak!!!!

Yakin ?. Guman Paijo berusaha untuk mencerna apa yang sudah di sampaikan ustadz Alay.

Keyakinan. Ya..., tidak ada yang lebih aneh dari keyakinan. Hanya karena yakin, setiap orang rela berbuat di luar nalar kewajaran. Hanya karena yakin, setiap manusia berusaha sekuat tenaga untuk menggapai apa apa yang telah di janjikan oleh keyakinannya. Seorang pria yang begitu mencintai pujaan hatinya rela menempuh ratusan kilometer, menyeberangi lautan, mendaki gunung, menjual harta bendanya dan mungkin menjual harga dirinya. Dengan keyakinan, ia rela berjalan kaki mengais sisa sisa sampah dengan  harapan bisa menjadi orang kaya kelak. Dan karena keyakinan pula, ia rela melakukan semua cara agar si garuda buntung terusir dari saku celananya.

Ha ha ha ha….

Keyakinan telah membutakan semua orang. Yang keras di anggap mulia, yang lembek di cap sampah. Yang kecil bisa jadi masalah besar, yang besar bisa di kecilkan oleh, hanya sebuah keyakinan..

Keyakinan…

Ya….!!!!. Paijo menarik nafas dalam dalam. Mengheningkan cipta, memupuk tekad, menyemai keyakinan.

Jika hanya karena iming iming surga, orang rela menyakiti dirinya bahkan menyakiti orang lain, maka apa salahnya ia memiliki keyakinan untuk segera menyelesaikan riwayat si garuda buntung dengan caranya sendiri.

Bagi Paijo, kasus kembalinya uang pecahan seribu rupiah cacat adalah persoalan yang selama ini begitu mengganggu pikirannya. Dan ini tidak bisa di terima dengan begitu saja. Ia harus berbuat, bukan saja mengusir kembali sang garuda buntung dari hadapannya, tapi yang menyebabkan uang itu kembali ke tangannya harus di selidiki total. Harus…!.

Kemana uang itu di belanjakan oleh anggota ormas di pasar malam 2 bulan lalu ?

Darimana Haji Makmur  mendapatkan uang itu dan memberikan kepadanya ?

Siapa saja yang menjadi tuan dari uang itu selama 2 bulan terkahir ?

Semua harus di selidiki. Harus !!!.

Kalau orang lain yang merusak tempat ibadah saja begitu percaya diri bahwa perbuatan itu akan membahagiaakannya, kenapa Paijo harus malu di anggaap gila demi garuda buntung ?

Ini jihad, bro…!!!!

Teriak Paijo menepuk dada.



(bersambung)

Penulis : Dainx Komandan Gubrak

Senin, 23 April 2012

Kembalinya Garuda Buntung (seri 1)

Fok yuuuu!!!!

Serapah Paijo dengan logat bahasa asing yang tak sesuai aslinya. Matanya  yang belok sebesar biji salak seolah hendak meloncat keluar dari kelopaknya. Selembar uang pecahan seribu rupiah dengan ujung robek 1,5 cm hingga menghilangkan separuh sayap sang Garuda tergeletak di atas lantai. Benda itu tampak kumal, kusut dan kotor. Berkali kali Paijo memaki maki ke arah lembaran bergambar Pahlawan Patimura itu, membanting, menginjak injak bahkan nyaris Paijo meludahinya.


 Ini Jakarta. Paijo membela diri. Bukan di pedalaman hutan yang untuk bertemu seorang manusiapun harus menempuh jarak berkilo kilo meter. Ini juga bukan jaman batu yang orang jarang sekali bertransaksi menggunakan mata uang. Ini ibukota dengan penduduk 9 juta jiwa. Sebuah kota padat yang perputaran uangnya paling besar dibumi nusantara. Bahkan konon 50% uang RI beredar di Jakarta.

Tapi, apa yang Paijo alami sungguh tak bisa di cerna akal sehat bahkan orang pintarpun belum tentu sanggup menjelaskan. Persoalan sepele mungkin. Namun bagi Paijo, ini adalah pertaruhan kredibilitas, harga diri dan tantangan serius bagi Paijo. 2 bulan lalu melalui serangkaian peristiwa dramatis, Paijo sukses membelanjakan uang rusak itu. Bukan pada penjual rokok ketengan di warung dekat perempatan kampung, bukan pula pada  tukang siomay keliling yang biasa lewat di depan gubuk deritanya. Tapi uang itu ia belanjakan nun jauh dari rumahnya. Di pinggiran kota Jakarta yang jaraknya 15 km lebih dari rumahnya. Di keramaian yang bahkan tak satupun orang di situ mengenalnya.

Jadi kalau hari ini Paijo kembali mendapati uang pecahan selembar yang sobek di bagian sayap garudanya itu, sungguh sesuatu yang masuk akal. Tentu, bisa saja itu uang yang berbeda. Toh begitu banyak kasus uang sobek semacam itu. Ya…! Bisa saja. Tapi satu hal yang sudah pasti sulit terbantahkan bahwa uang itu adalah uang Paijo. Sebuah tanda tangan Paijo di bawah gambar Kapiten Patimura.

Paijo menghela nafas dalam dalam. Sorot mata penuh tanda tanya tak jua mau beranjak dari benaknya. Paijo layak penasaran. Layak marah, layak sedih dan layak protes terhadap kejadian ini. Uang itu bagi Paijo seolah mimpi buruk yang datang lagi menghantui pikirannya. Hanya seribu rupiah, tapi membawa sejarah yang Paijo sendiri tak sudi mengenangnya.

Dua bulan lalu sepulang menjual hasil ia memulung ke Haji Makmur, ia mengantongi 25 lembar uang pecahan seribu rupiah yang semuanya masih mulus. Masih baru dan tanpa cela sedikitpun.20 lembar ia belanjakan untuk membeli nasi bungkus dan beberapa keperluan lainnya, sisanya rencana mau ia simpan di bawah kasurnya bersama tabungan uangnya yang lain. Namun karena ada acara menarik di layar tv yang merupakan favorit Paijo, ia menunda menaruh sisa uangnya di bawah kasur. Sengaja ia letakkan di atas tv dengan harapan ketika ia mematikan tivi ia tidak lupa menyimpannya. Hingga suara sms dari Komunitas Gubrak yang tiap pagi biasa masuk ke hape Paijo membangunkan tidur lelap nya.

TIDAK PENTING PUNYA PEKERJAAN TETAP
YANG PENTING TETAP BEKERJA

Begitu tulisan yang tertera di layar HP Paijo.

Uangku…!!!

Guman Paijo teringat pada 5 lembar harta karunnya yang  tadi sore ia letakkan di atas tv yang masih menyala di depannya. Sontak ia melompat ke arah mesin elektronik bergambar hidup itu tanpa mematikannya terlebih dahulu.

Mana uangku ?

Paijo terkejut bukan main ketika ia tak mendapati uangnya di tempat di mana ia menaruh. Matanya menyapu ke sisi kanan kiri dan lantai di mana ia berpijak sembari berharap uangnya terjatuh tak jauh dari situ. Tapi sial, ia tak mendapati selembarpun benda itu.

Ah, mungkin aku sudah menyimpannya di bawah kasur…

Bergegas ia berlari terburu ke arah ranjang butut yang hanya berjarak 5 meter. Dan tanpa berpikir panjang ia bongkar kasurnya, mencomot segepok uang yang rata rata merupakan pecahan seribuan lalu menghitungnya berkali kali untuk memastikan.

Jumlahnya masih tetap…

Guman Paijo kecewa. Berarti ia memang belum menyimpan uang sisa kemarin. Sejenak Paijo terdiam. Otaknya bekerja cepat mencari penyebab hilangnya uang itu.

Jangan jangan ada maling…?

Tebak Paijo yang lantas menghambur ke arah pintu rumah, ke jendela bahkan ke semua sisi rumah untuk memastikan bahwa uangnya memang benar benar di curi orang. Tapi hasilnya nihil. Semua pintu masuk telah ia kunci rapat rapat. Kondisi sekitar rumah juga masih seperti sedia kala. Jadi mustahil ada maling yang mengambil uangnya.

Ooohhhh…

Tiba tiba Paijo teringat sesuatu. Pria kurus berkulit hitam itu berlari kea rah lemari yang letaknya tak jauh dari ranjang tidurnya. Di gesernya benda berbahan kayu itu beberapa senti dari tempat asalnya. Bau tak sedap langsung menerpa hidung Paijo. 3 ekor tikur berukuran sedang berhamburan mencari tempat aman begitu sarangnya di obrak abrik Paijo. Dengan hati hati Paijo mengais sampah remahan bercampur kotoran tikus di bawah lemari dengan harapan bisa menemukan lagi uangnya yang hilang. Dan usahanya tak lama kemudian menemui hasil. Selembar uang pecahan seribu rupiah teronggok di antara sampah sampah lain. Kondisinya masih lumayan utuh. Hanya tercabik bagian ujungnya. Masih lumayan kendati tak bisa di selamatkan semua. Dan yang pasti Paijo tak perlu lagi pusing pusing mencari siapa pencuri yang mengambil uangnya.

Tapi mau di apakan uang ini ?

Pikir Paijo memutar otak.

Siapa yang mau menerima uang rusak ini….?. Apalagi nilainya hanya seribu rupiah.

Mau di belanjakan kemana ?.

Paijo menghela nafas perlahan sambil mencari akal bagaimana tidak menyia nyiakan rejeki ini. Tak mungkin bagi Paijo membuang percuma uang itu. Itu hasil kerja yang untuk mendapatkanya butuh pengorbanan yang luar biasa berat. Harus berjalan berkilo kilo meter demi mendapatkannya. Harus membuang rasa malu jauh jauh demi menggapainya. Jadi kalau ia harus membuang uang itu, Paijo merasa seperti manusia yang tak pandai bersyukur.

Di belanjakan…!!

Tapi dimana ?

Dimana saja asal tidak di buang percuma.

Ya….

Sore hari sepulang memulung, Paijo mematangkan rencana. Hitung hitung buang sial. Ibarat orang kalah, Paijo tidak harus menderita kekalahan yang telak. Ia sudah berkorban 4000 rupiah, kalau masih ada peluang menyelamatkan sisanya, kenapa harus di buang ?.

Dan ini adalah sebuah misi suci yang bagi Paijo sangat penting. Seperti pesan emaknya almarhum, jangan menyia nyiakan rejeki. Dan uang itu walau seribu, ia adalah anugrah dari yang maha kuasa. Maka membelanjakannya dengan sukses adalah pekerjaan yang mulia.

Paijo kemudian mengambil sebuah ballpoint berwarna hitam, meletakkan uangnya ke atas meja, memberikan tanda tangan di bawah gambar Kapitan Patimura lalu melipatnya dengan bagian yang rusak berada di sisi terdalam sembari komat kamit : “Tuhan, selamatkan uang yang sudah aku tanda tangani ini, dan jangan pernah lagi Engkau beri aku uang seperti ini lagi. Amien…”.

Selepas maghrib, Paijo mengayuh sepeda ontelnya menyusuri jalanan kota Jakarta. Dengan harapan bisa menyelamatkan uangnya melalui sebuah transaksi elegan tanpa membuat ia merasa kalah. Di sepanjang jalan, mata Paijo tak pernah berhenti mengamati tempat tempat transaksi. Warung makan, toko mainan, konter pulsa dan sebagainya sembari terus berdoa bisa menemukan produk yang bisa ia beli dengan uang seribu rupiah, plus tanpa ketahuan bahwa ia membelinya dengan uang yang sudah rusak.

Hampir satu jam Paijo mengayuh. Hampir 15 km Paijo menggenjot sepeda anginnya. Tapi hingga sejauh itu tak satupun Paijo temukan produk seharga seribu. Sampai suatu ketika di pinggiran kota Jakarta, Paijo menemukan sebuah area Pasar Malam yang ramai pedagang dan pengunjung.

Paijo tersenyum lega. Jalan lapang seolah terpampang di depan mata. Di tempat itu pilihan transaksi jauh lebih banyak. Dari sekian banyak produk yang di jual, kemungkinan besar ada yang bisa ia beli dengan uang seribu. Dan kalaupun tak ada, ia masih bisa berharap menemukan lapak judi koprok yang kadang suka di gelar di Pasar malam. Ha ha ha…

Dengan rasa penuh percaya diri Paijo menuntun sepedanya memasuki area keramaian malam. Sebait lagu berjudul ‘Iwak Peyek’ tiba tiba meluncur perlahan dari bibir Paijo. Matanya yang bulat menyapu satu persatu dagangan yang banyak di gelar di kanan kiri jalan. Tapi lagi lagi keberuntungan sepertinya tak mau mendatangi Paijo. Sudah ¾ area telah Paijo susuri. Namun tak satupun ia menemukan produk seribuan.

Bangsat !!!

Paijo memaki dalam hati. Bagaimana bisa, bahkan di pasar saja tak satupun pedagang yang menjual barang senilai seribu ???. Apakah sudah sedemikian rendahnya nilai dari seribu rupiah hingga tak ada yang sudi menerimanya sebagai pembeli ?.

Kemana tukang gorengan ?

Kemana tukang air mineral ?

Kemana penjuan permen ?

Dan kemana pula bandar judi koprok yang bisa menyelamatkanku ?

Hati Paijo menjerit tak karuan. Dadanya di sesaki rasa marah, kalut dan sedih.

Haruskah aku kembali menelan sebuah kekalahan tragis setelah aku di klahkan oleh tikus tikus jahanam itu ?

Keluh Paijo tragis.

Dengan langkah gontai Paijo memutar haluan. Tidak ada gunanya ia berlama lama berada di tempat yang  tak ramah ini. Boro boro dapat barang senilai seribu rupiah, bahkan di sedekahkanpun belum tentu di tempat ini ada yang mau. Ya…!!!. Mending keluar saja dari tempat ini. Pikir Paijo geram.

Sesampainya di pintu keluar, Paijo melambatkan sepedanya. Situasi sedikit macet karena banyak kendaraan yang juga mau keluar area. Sesampainya di pintu masuk, dua orang dengan pakaian ormas kepemudaan menghadangnya.

“Keamanan, mas !!” ucap salah satunya sambil menghentikan sepeda Paijo.

“Keamanan ?” tanya Paijo tak mengerti.

“Iya!!”

Paijo yang sudah kadung pening kepala sontak emosi.

“Ehhh…bang” Paijo naik darah.

“Masa’ abang tega sama orang kayak saya. Kalau pakai motor sih wajar dimintai uang. Tapi masak pengendara ontel di embat juga ?” lanjut Paijo sedikit menggurui.

Seolah tak mau di rendahkan oleh pemuda lusuh seperti Paijo, pria berkaos ormas itu mendekat ke arah Paijo. Tangan kanannya yang kekar meraih kerah baju Paijo, sementara matanya melotot mengintimidasi Paijo.

“Loe mau cari masalah ??” gertak si penjaga dengan mimik serius.

Kontan saja ciut nyali Paijo. Dengan sedikit gemetar Paijo berkata : “Maaf  bang, saya nggak berani..”

“Ya udah, bayar !!! bentak pemuda itu lagi.

“Berapa ?”

“Kalau motor dua ribu. Berhubung kamu pakai ontel, seribu aja…” jawab pemuda itu sambil melepaskan cengkeramannya di baju Paijo.

Oohhhh…! Cuma seribu…

Paijo mendadak sumringah.

“Nehhh…!!!” Paijo secepat kilat mencabut uang seribu rupiah yang sudah ia persiapkan sejak lama, menyerahkannya pada pemuda itu dan bergegas meluncur bersama sepeda bututnya.

Di kejauhan Paijo berteriak mengejek,

Makan tuh GARUDA BUNTUNG !!!!!

 
(Bersambung)
Penulis : Dainx Komandan Gubrak